
Sementara Amber kini berada di sebuah desa, yang dikelilingi oleh perbukitan dan juga bebatuan. Kim menatap keluar kaca mobil dan memperlihatkan keadaan sepanjang jalan. Sudah lima jam mereka berdua menyusuri jalanan yang di kelilinginya berjejer pohon-pohon besar dan juga bukit bebatuan. Amber menghirup udara di sekitar daerah itu yang nampak segar. Ia menikmati pemandangan dalam diam. Ia berharap ini adalah langkah yang tepat ia ambil. Langkah untuk mengubah dan menata hidupnya kembali. Ia hanya menginginkan kehidupan baru pun suasana baru. Ia ingin mengobati luka hatinya yang masih menganga.
Amber memutuskan Ikin bergabung dengan kelompok pasukan pembunuh bayaran elite yang dipimpin oleh Keenan sendiri. Ia memohon bahkan merengek kepada pria yang fokus menyetir itu. Pria baik hati dan lembut itu mengiyakan keinginan Amber.
Amber bersyukur dan berterima kasih. Ia berjanji akan berlatih agar menjadi hebat seperti Ken. Amber yang melihat kehebatan dan kecerdasan Ken dalam menyembunyikan identitasnya. Ia merasa kagum. Belum lagi ia melihat keahlian ken dalam berlatih senjata api dan gerakan-gerakan bela diri Ken yang sangat memukau. Amber meminta Ken untuk mengajari dirinya untuk bisa seperti Ken.
Ken yang tidak punya pilihan lain, hanya bisa mengiyakan semua keinginan wanita yang sudah membuat hatinya bergetar itu.
"Apa kau serius, ingin ikut bergabung bersama ku.?" Ken membuka suara menghilangkan kesunyian di dalam mobil.
"Sangat. Sangat serius." Sahut Amber dengan tersenyum indah.
"Dari kecil, aku suka dengan hal seperti ini. Menyukai sebuah tantangan dan juga bahaya. Dari kecil aku sudah merasakan sakit dan luka, jadi kau tidak usah khawatir aku pasti bisa."
"Tapi tidak semudah itu, sweety! Kau harus menghadapi tantangan dan pelatihan khusus yang sangat berat,"
"Aku bisa, dan pasti bisa."
"Sweety!!!
"Tenanglah. Aku tidak akan merepotkanmu. Yang harus kau lakukan hanya mengajariku."
"Oh Tuhan."
Amber hanya terkikik melihat wajah frustasi Ken, menghadapi tingkah keras kepalanya.
"Untung aku menyayangimu, sweety.!" Gumam Ken pelan.
"Kau mengatakan sesuatu.?"
"Hm!
__ADS_1
"Apa?"
"Aku mencintaimu."
"Ck! Perkataan cinta yang sangat mengesankan." Cibir Amber.
Ken mengacak-acak rambut panjang Amber yang di ikat ekor kuda itu. Ken merasa terhibur oleh tingkah cuek Amber tapi menurutnya sikap Amber sangat menggemaskan.
*
*
*
Setelah melakukan berjalan selama tujuh jam, mobil yang dikendarai Ken dan Amber sudah memasuki sebuah desa yang sang terpencil tapi terlihat sangat asri dan sejuk. Pemandangannya pun terlihat begitu menghijaukan mata yang memandangnya.
Setelah setengah jam melewati desa terpencil itu, kini mobil Ken, memasuki sebuah hutan lebat yang di sekelilingnya ditutupi oleh pohon-pohon tinggi dan juga tanam liar. Ken menghentikan laju mobilnya tepat di depan gerbang sebuah bangunan bertingkat dua.
Kini mobil Ken berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang menyerupai castle. Ken memalingkan wajahnya ke samping. Setelah itu pria itu pun turun dari mobil dan membuka pintu mobil yang satunya. Ken yang tidak tega membangunkan Amber, terpaksa menggendong wanita yang ada di dekapan hangatnya itu.
Ken memasuki castle tua tersebut dengan, Amber yang berada di gendongannya.
"Selamat malam, ketua.!" Sapa seorang pria setengah abad sambil membungkuk. Ia menyengit saat ketua nya membawa seorang wanita di tempat bersembunyi nya. Ini hal paling langka yang pria tua itu lihat, selama bergabung dengan geng pembunuh bayaran khusus elite yang di ketua Keenan Glenn sendiri, ia tidak pernah sekalipun melihat ketuanya itu membawa seorang wanita.
"Paman! Panggil Ken.
"Ia ketua," sahut pria paruh baya tersebut yang bernama paman Lotus.
"Siapkan kamar buat wanita ku." Pinta Ken.
"S-siap, tuan." Jawab paman Lotus tergagap.
__ADS_1
"Wanita ku,?" Gumam paman Lotus, sembari berjalan menaiki lantai dua.
"Dia wanita yang kau maksud, Ken," pertanyaan yang datang dari arah belakang, mengagetkan Ken.
"Shut! Pelankan suaramu, Glenn." Geram Ken pada sahabatnya.
"Ck! Glenn berdecak dan mengamati wanita yang ada di pangkuan Ken.
"Cantik! Ujar Glenn.
"Jaga mata mu, sialan,!"
"Cih! Aku cuma bicara fakta dude, kalau dia sangat cantik. Pantas saja kau begitu menginginkannya," cibir Glenn.
"Dia memang cantik dan lucu," sahut Ken dengan pandangan kagum yang ditujukan pada wajah cantik yang ada di pangkuannya.
"Kenapa, kau membawanya kesini.?"
"Soal itu nanti kita bicara,"
"Apa, sudah kau siapkan, paman.?"
"Sudah, ketua,"
"Hm! Terimakasih,"
"Tunggu aku di ruangan ku," perintah Ken kepada Glenn.
Ken kini menaiki tangga yang berkelok-kelok itu, dengan Amber yang masih terlelap di gendongannya. Amber tidak sedikitpun terusik ataupun merasa terganggu. Ia masih terlelap dengan wajah cantik alaminya.
"Tidurlah! Bisikan Ken di telinga Amber, ketika pria tampan dan lemah lembut itu membaringkan tubuh Amber di ranjang dan menyelimuti wanita pujaannya.
__ADS_1
Ken memberikan kecupan hangat di kening Amber. Setelah itu pria itu pun keluar dari kamar yang ditempati oleh Amber.