Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 130


__ADS_3

Sang mentari pagi pun menyapa para makhluk bumi dengan cahayanya yang begitu cerah dan hangat.


Membuat para pejuang pagi terbangun dengan wajah cerah dan berseri.


Begitupun yang dirasakan oleh Bram, yang sejak tadi tersenyum cerah dan hangat kepada sang istri tercinta yang masih tertidur pulas di sisinya.


Pria dua orang anak itu, menumpuk kepalanya menggunakan sebelah tangannya.


Jari-jari panjangnya, memainkan wajah sang istri yang terlihat begitu manis dan lucu saat tertidur.


"Wake up, honey!" Bisik Bram diikuti sebuah ciuman hangat di kening Amber.


"Honey, bangunlah!" bisik Bram kembali, kali ini Bram menggigit pelan bibir bawah istrinya.


"Honey, bangun!" Bram mencoba membangun istrinya yang masih menikmati tidurnya di bawah selimut yang menutupi tubuh polos sang istri.


Yah, Bram berhasil membalas perbuatan sang istri dengan memberikannya hukuman sampai Amber memohon kelelahan. Sedangkan dirinya yang begitu tergila-gila dengan kenikmatan sang istri, tidak memperdulikan rengek Amber, hingga pukul 2 pagi akhirnya Bram menghentikan kegiatan menghukum istrinya itu.


Bram hanya bisa tersenyum puas saat bisa menaklukkan sang istri di atas ranjang.


Ia memang tidak akan bisa mengalahkan istrinya, soal bertarung di ring tinju, tapi dia bisa mengalahkan istrinya di atas ranjang.


Hingga sang istri memohon dan merengek-rengek kepadanya.


Bram tersenyum puas, mengingat kebrutalannya tadi malam, yang membuat sang istri berkali-kali, menjerit nikmaat.


"Sayang, bangun!"

__ADS_1


"Hey, bangun, honey." Ucap Bram pelan.


"Kau tidak ingin menjenguk si kembar, hm!" Bisik Bram kembali, yang masih berusaha membangunkan sang istri.


"Honey, bangunlah," geram Bram tertahan, yang kini tangan sebelahnya meremas buah dada sang istri dengan gemesnya.


"Hg" lenguhan halus pun keluar dari mulut Amber, namun matanya masih tertutup rapat.


Lagi, Bram meremas buah dada matang istrinya, tapi kali ini, Bram mengikutsertakan mulutnya untuk menyesap salah satu buah kesayangannya.


"Hm! Dear," desah Amber dengan nada suara berat khas bangun tidur.


Bram mendongakkan dan kembali ketempatnya semula, tapi tangannya masih setia di salah satu buah gantung milik sang istri.


"Morning, honey!" Sapa Bram lembut sambil mengecup bahkan melumaat sejenak bibir bengkak Amber.


"Pagi juga, dear," balas Amber saat ia memaksa melepaskan tautan bibir mereka.


"Hm!" Gumam Bram yang kini sedang melakukan sedot menyedot di salah satu buah gantung kesukaannya.


"Stop! Dear!" Tegur Amber.


"Aku masih lelah," ujar Amber dengan diikuti ******* tertahan.


"Kau mendesaah, honey," bisik Bram di tengah buah matang sang istri.


"Tidak sekarang, sayang. Tubuhku masih terasa kaku, karena ulahmu," dengus Amber kesal.

__ADS_1


Bram mengangkat wajahnya dan menatap sang istri sambil memamerkan cengiran khasnya.


"Kau terlihat, imut dan cute!" Seru Amber dan memberikan kecupan di bibir suaminya.


"Honey, jangan menggodaku," rengek Bram.


"Aku tidak sedang menggoda mu, sayang. Kau memang terlihat begitu manis dan tampan," ucap Amber yang membelai rambut suaminya yang berada di atas dadanya.


"Aku, minta satu ronde lagi yang, honey!" Pinta Bram dengan tersenyum mesum.


"No!" Tolak Amber.


"Honey," rengek Bram yang kini terduduk di samping Amber.


"No!"


"Please, honey. Hanya sebentar saja," mohon Bram.


"Apa kau tidak kasihan, padanya?" Ujar Bram sambil membawa tangan istrinya ke arah benda keramat ajaibnya yang kini mulai kembali beraksi.


"Please, baby!" Mohon Bram yang berusaha membujuk sang istri dengan memperlihatkan wajah memelasnya.


"No! Amber menggeleng pelan.


"Aku lelah dan ingin merefleksikan tubuhku dulu," tolak Amber.


"Honey!" Pekik Bram, ketika istrinya dengan santainya berjalan ke arah kamar mandi dengan keadaan polos.

__ADS_1


Membuat sang benda keramat sakti milik Bram mengembang sempurna.


"Sh*it!" Umpat Bram frustasi.


__ADS_2