
Ken terlihat berlari di koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa. Ia yang hampir gila mengkhawatirkan keadaan Amber yang terjebak di dalam hotel.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena kehilangan kontak dengan Amber. Ken yang ingin menyusul Amber kedalam hotel di cegah oleh Glenn.
Mereka takut ini adalah sebuah jebakan untuk mendapatkan informasi tentang anggota tim Daredevil black.
Ken hanya bisa menahan geramannya dalam hati dan merutuki dirinya sendiri.
Ken yang mendapatkan panggilan dari Ruby merasa lega, meskipun ia harus menerima amukan wanita itu. Dan disinilah sekarang Ken. Didepan ruang operasi sambil mondar-mandir.
Ia mengacuhkan tatapan tajam Ruby, yang ingin mencabik-cabik dirinya.
Sementara Boy hanya bisa merengkuh tubuh istrinya dengan posesif.
"Duduklah," seru Boy dengan tatapan tidak bersahabat.
"Kau, membuat mataku sakit," degus Boy kesal.
Ken terlalu khawatir untuk menyahuti cibiran Boy.
Ia hanya melirik sebentar dan kembali mondar-mandir.
"Ken! Sentak Ruby tiba-tiba.
Ken menarik nafasnya ia melirik Ruby yang sedang melotot padanya.
"Aku hanya mengkhawatirkannya, by," lirih Ken.
"Apa, kau katakan mengkhawatirkannya. Cih," decih Ruby emosi.
"Kau, tidak akan menyuruhnya melakukan hal berbahaya kalau kau memang mengkhawatirkannya," sarkas Ruby yang kini sudah berdiri sambil berkacak pinggang dan menghunus Ken dengan tatapan tajam.
"Aku, menyuruh dirimu untuk menjaganya, Ken. Bukan membawanya melakukan perbuatan berbahaya." Ruby tampak emosi dan menggebu-gebu
"Ini semua keinginan dia, by." Ken berusaha membela diri dari amukan sahabat lamanya ini.
"Omong kosong," hardik Ruby.
"Sayang," Boy menyela kemarahan sang istri.
"APA! bentak Ruby.
Membuat Boy terdiam seketika dan menutup rapat-rapat mulutnya.
"Jangan ikut campur, sayang. Aku ingin memberi pelajaran buat pria jelek ini," pungkas Ruby dengan dada yang terlihat naik turun.
"Apa? Aku jelek.?" Ken menunjuk wajahnya sendiri. Apa kata Ruby wajah jelek?
"Iya, kamu jelek. Dari dulu kau pria menyebalkan dan juga jelek," amuk Ruby.
"Ayolah, by. Tenangkan dirimu, ini rumah sakit," ujar Ken lesu. Jujur dari dulu ia akan kalah berdebat dengan wanita di depannya ini.
"Tidak bisa.!
"By?
"Diamlah jelek."
"Astaga! Ken terlihat mengeluh.
"Sayang duduklah," Boy menyela kembali.
Ruby yang ingin mengeluarkan amarahnya harus ia telan kembali saat, mereka mendengar pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat wanita keluar dengan membawa troli bayi dan disusul lagi seorang perawat yang sedang menggendong bayi.
"Apa ini anakku,?" Ken dengan perasaan berdebar-debar mendekati para perawat itu di ikuti oleh Ruby.
"Iya tuan. Selamat bayi anda lahir dengan selamat," sahut salah satu perawat.
__ADS_1
"Mereka lucu sekali," sela Ruby dengan antusias.
"Mereka sepasang, nona."
"Benarkah,?" Pekik Ruby tanpa sadar.
"Iya," jawab sang perawat.
"Lihatlah, sayang mereka, tampan dan cantik. Mirip, …." Ruby menggantung ucapannya saat menyadari ucapannya sendiri.
Boy mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut dan tersenyum.
"Mirip siapa,"tanya Ken.
"Apa, mereka mirip pria sialan itu," tanya Ken dengan nada dingin.
Ruby merapatkan bibirnya, ia juga sakit hati kepada Bram yang tega menyakiti sahabat baiknya itu.
"Maaf, kami akan membawa mereka ke ruang perawatan bayi." salah satu perawat menyela suasana yang menegang itu.
"Silakan." Boy yang menyahut.
Kedua perawat itu pun melangkah dengan membawa kedua bayi Amber.
Kini ketiganya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Tidak lam, pintu ruangan operasi itu kembali terbuka dan Amber keluar dengan keadaan masih tak sadarkan diri.
Ia didorong menuju kamar pasien yang berada di lantai atas.
"Bagaimana, keadaan sahabat saya, dok." Ruby bertanya kepada dokter yang menangani Amber.
"Syukurlah, keadaan bayi kembar dan ibunya baik dan sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita hanya menunggu ibu dari bayi kembar sadar," imbuh dokter wanita yang membantu Amber melahirkan.
"Syukurlah," ujar Ruby bernafas lega.
Begitu juga Ken dan Boy yang masih berdiri di sana.
"Silakan," sahut sang dokter dengan ramah.
"Terima Kasih," ucap Ruby tulus.
Dokter itu pun hanya tersenyum dan mengangguk ramah.
Ken, Ruby dan Boy berjalan mendekati lift untuk membawa mereka ke kamar rawat Amber.
Sementara bayi Amber masih berada di ruangan perawatan bayi khusus.
Boy sudah menyewa dua orang perawat untuk menjaga dan merawat bayi kembar Amber.
*
*
*
"Deg"
Bram memegangi dadanya saat merasakan jantungnya berdetak dan perasaannya begitu aneh.
"Perasaan apa ini," gumamnya.
Ia menatap kembali bayi yang baru berumur satu Minggu yang ada di pangkuannya.
Bayi yang dilahirkan oleh Camelia, seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
Bram pun merasa tersentuh atas kehadiran bayi mungil yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
Perasaannya begitu bahagia menatap bayi mungil itu hari ini. Entahlah perasaan apa yang sedang dirasakannya ini.
Tapi jauh di lubuk hatinya paling dalam ada kehampaan dan juga rasa rindu ingin segera kembali ke Chicago.
Tapi itu semua tidak akan mudah buatnya untuk kembali, ke kota wanita yang masih menempati hatinya.
"Aku, merindukanmu," lirih Bram.
Bram memainkan jari-jari mungil bayi kecil di pangkuannya dengan tersenyum. Bram membawa jari-jari mungil itu ke bibirnya dan mengecupinya dengan lembut.
"Kau, terlihat lucu sekali," bisik Bram sambil mencium jari-jari tangan mungil itu.
"Kau, tersenyum," seru Bram saat melihat sudut mulut sang bayi tertarik ke atas.
"Kau, suka dipuji rupanya," ucap Bram dengan tersenyum tampan.
Senyuman yang membuat sosok wanita terpesona yang sejak tadi menyaksikan perlakuan Bram kepada bayinya.
Hati Camelia tiba-tiba menghangat, ia mendapatkan sebuah harapan untuk membuat Bram menganggapnya ada dan ia berharap hadirnya bayi kecilnya bisa membuat Bram menjadi miliknya.
"Dia, terbangun.?" Camelia berjalan mendekati Bram da juga sang bayi.
Bram mengalihkan perhatiannya kepada ibu dari bayi yang ia pangku.
"Tidak. Dia masih terlelap," sahut Bram lembut.
Yah Bram dan Camelia bersepakat untuk saling berteman. Mereka tidak ingin terus-menerus menjalin hubungan yang tidak sehat yang bisa membuat orang-orang curiga.
Bram pun menerima kesepakatan Camelia. Tidak ada salahnya ia mencoba untuk berdamai dengan istrinya ini. Agar hatinya juga tidak begitu hampa.
Dan mereka pun menjalani hari-hari mereka dengan kehangatan layaknya sepasang suami-istri lainnya. Tapi siapa sangka hubungan mereka hanya sekedar sahabat tanpa adanya kontak fisik yang seperti pasangan suami-istri lainnya lakukan.
Camelia hanya bersabar dan mencoba mengambil hati Bram dan menjadi pemilik hati pria itu.
Tidak mengapa ia tidak disentuh secara intim oleh suaminya. Tapi setidaknya kini mereka sudah saling terbuka.
Bram juga sudah merasa nyaman dengan Camelia yang adalah seorang wanita baik hati dan lembut.
Ia juga menghargai setiap perlakuan Camelia dalam melayaninya sebagai seorang Istri.
Hati Bram sedikit demi sedikit luluh dan ia mulai bersikap lembut kepada Camelia.
Tapi tetap hatinya hanya milik wanitanya, yang tidak akan terganti oleh siapapun.
"Biar aku menidurkannya," Camelia mengulur tangannya untuk mengambil alih sang bayi.
"Tidak perlu, biar aku saja," tolak Bram, ia pun menggendong bayi mungil itu dan meletakkannya di ranjang khusus bayi.
"Tidurlah, baby," bisik Bram dan meninggalkan kecupan di sana.
Brama pun kembali ke tempatnya semula, sambil membuka anak kancing kemeja miliknya.
Camelia mendekat dan duduk di sebelah Bram, mencoba membantu Bram untuk melepaskan kemeja sang suami.
"Tidak usah, biar aku saja," tolak Bram lembut.
Camelia hanya mengangguk dan menyembunyikan wajah kecewanya dengan tersenyum.
"Kau, ingin mandi,?" Tanya Camelia.
"Hm! Gumam Bram sambil berdiri dari duduknya.
"Aku, akan menyiapkan baju gantimu," ujar Camelia.
"Terimakasih," ucap Bram lembut dan mengusap rambut Camelia.
Setelah itu dia pun berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Sementara Camelia masih menatap punggung kokoh suami yang kini sudah menghilang di balik pintu.
Camelia hanya bisa tersenyum getir atas penolakan suaminya, setiap ia ingin menyentuh tubuh sang suami.