Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 46


__ADS_3

Amber menatap bangunan megah di depannya dengan tatapan tajam dan ia merotasi setiap sudut bangunan megah tersebut.


Amber melangkah memasuki istana super mewah dengan ratusan kamar dan juga ruangan lainnya.


Amber menelisik setiap sudut ruangan yang ia lewati. Amber menghitung ada beberapa kamera tersembunyi yang ada di istana ini.


Amber diantara oleh seorang kepala pelayan istana, untuk menuju ruangan santai yang biasa tempat berkumpul para penghuni kerajaan.


Amber pun mengikuti pelayanan wanita setengah baya itu dalam diam. Dengan maniknya yang berkeliaran setiap sudut istana.


"Silahkan, nona," pinta sang pelayan istana tersebut.


"Terimakasih, nyonya," sahut Amber sambil memberikan hormat.


"Kau, tidak usah memberi hormat padaku, lakukan itu kepada putri Camelia dan para pangeran.


"Baik, nyonya." Dengan penuh keramahan dan kehormatan, Amber kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan yang sangat luas dan mewah.


Amber menatap lekat ketiga manusia yang ada di depannya.


Seorang wanita cantik nan anggun sedang menyuapi seorang anak laki-laki yang mengelayun manja pada seorang pria setengah dewasa yang memiliki wajah yang sama.


"Mungkin, dia ayahnya," batin Amber.


Ia juga melihat seorang pria muda sedang sibuk dengan ponselnya sambil mendapatkan sebuah pijatan di kaki dan tangannya.


"Kehidupan yang sangat menyenangkan," batin Amber.


"Hormat, tuan putri." Pelayan yang tadi mengantar Amber memberikan hormat dengan menundukkan badannya, yang di ikuti oleh Amber.


Camelia dan yang lainnya menoleh ke arah sang pelayan dan juga kepada sosok wanita dengan pakaian serba hitam.


"Katakan," titah Camelia dengan nada  lembut tapi terkesan tegas.


"Saya mengantarkan nona ini, yang akan menjadi bodyguard tuan putri," lapor sang pelayan dan memberikan kode kepada Amber agar memberikan hormat.


"Salam yah mulai," hormat Amber dan mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.


"Byur," minuman yang pria yang berada di samping Camelia menyemburkan minumannya yang sudah berada di dalam mulut, ketika melihat wajah cantik dan manis Amber.


Camelia pun sangat kagum pada kecantikan Amber, ada rasa iri di dalam hatinya paling dalam dan juga ketakutan kalau-kalau sang suami tergoda pada wanita cantik yang sedang berdiri di depannya.


"Itu tidak mungkin. Dia hanya seorang wanita dari kasta rendahan, mana mungkin suamiku tertarik kepadanya," batin Camelia menilai penampilan Amber yang sangat jauh lebih indah dari bentuk tubuhnya.


"Saya, Loly yang mulia. Bodyguard pribadi anda," pungkas Amber.


"Jadi kau orangnya," tanya Camelia menyakinkan.


Dia bertanya-tanya kenapa ada seorang gadis cantik menginginkan menjadi seorang bodyguard.


dia lebih cocok menjadi simpanan seorang pria kaya. batin Camelia dengan menatap Amber sinis.


"Baiklah, kau mulai berkerja besok," ujar Camelia dengan nada angkuh.


"siap yang mulai," hormat Amber dengan membungkukkan badannya.


Camelia tidak menyahuti sapaan hormat Amber. ia kembali menyuapi anaknya yang terlihat sangat manja kepada pria tampan duduk di sebelah kanan Camelia.


sementara pangeran termuda masih menatap Amber dengan air wajah yang kagum akan kecantikan Amber.


pangeran Mateo bangkit dan mendekati Amber.


ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan wanita cantik di hadapannya.


"pangeran Mateo," sentak pangeran William yang sejak tadi melihat perilaku memalukan sang adik.


"shut! diamlah kak, aku hanya ingin berkenalan dengannya," sahut pangeran Mateo.

__ADS_1


"siapa namamu, nona," tanya pangeran Mateo.


"hormat yang mulia. nama saya Loly," jawab Amber sambil membungkuk.


"Ah nama saya, Mateo," balas sang pangeran.


"permisi, yang mulia," pamit Amber yang sejak tadi menahan amarahnya mendengar ucapan menghina Camelia.


ingin rasanya Amber membidik satu persatu ke tiga orang sombong di depannya.


tanpa menunggu titah dari ketiga orang berpengaruh di istana mewah dan megah ini.


Amber keluar dari sana. ia takut akan terbawa emosi.


"dasar penguasa tamak. aku tidak akan sudih berada di sini, kalau bukan karena misi," gerutu Amber di sepanjang jalan menuju kamar khusus para pelayan.


"ini, kamar anda nona,"


"panggil aku, Loly bibi," sahut Amber.


pelayan setengah baya itupun tersenyum.


baiklah, Loly. sekarang istirahat, nanti jam makan malam kau harus ikut,"


"siap, bibi,"


"OH iya, bibi. ada berapa penghuni di bangunan megah ini.


"cuma ada tuan putri dan pangeran mahkota," ujar sang pelayan.


"kedua pangeran tadi,?"


"mereka, sepupu yang mulia."


"oh begitu yah,"


"baik bi, terima kasih,"


setelah memasuki kamarnya yang terlihat sederhana tapi terlihat sangat nyaman.


Amber merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya.


*


*


*


"Bagaimana, apa kau menemukannya.?" Bram yang berada di sebuah kamar, hotel langsung bertanya kepada pengawal pribadinya yang baru datang.


"Sudah, yang mulia," jawab Luis.


mengawal pribadi Bram pun menyerahkan sebuah benda kecil kepada Bram.


Bram menerimanya dan segera menghubungkan benda tersebut ke laptop kerja miliknya.


Bram menatap lekat wajah wanita yang sangat ia rindukan yang sedang berjalan dengan sedikit, terburu-buru keluar dari area bandara.


Bram membesarkan gambar video tersebut dan menatap rindu pada sosok wanita yang ada di dalam layar laptopnya.


"apa, yang kau dapatkan," tanya Bram tanpa memalingkan wajahnya dari laptop miliknya.


"Tidak, ada satu nama pun yang anda sebutkan tuan," lapor sang pengawal.


"apa maksudmu,?"


"tidak ada nama nona Amber yang mendarat dari kota Chicago ke kota kita, tuan."

__ADS_1


"itu tidak mungkin," Bram merebahkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"terus ini siapa, Luis." bram merasa frustasi saat jejak Amber kembali menghilang.


"mungkin hanya mirip, tuan."


"itu, tidak mungkin,"


"Aku ingin kau terus mencari tahu, tentang wanitaku," perintah Bram.


"siap laksanakan, tuan."


"hm!


"kau dimana sayang. aku sangat merindukanmu," lirih Bram sambil mengelus wajah Amber yang masih terlihat di layar laptopnya.


"kau terlihat semakin cantik dan mengagumkan," bisik Bram sambil mengecupi wajah Amber yang masih terlihat di layar laptop miliknya.


"Kapan kita bisa bertemu lagi, sayang," bisik Bram.


"Aku, sangat mencintaimu, sayang,"


"sangat, sangat. mencintaimu."


*


*


*


Di belahan benua lainnya.


"Apa kau serius,?" tanya seseorang pria tampan dan rupawan.


"iya, tuan saya melihatnya, memasuki istana pangeran Griffin," lapor sang pengawal.


"sedang apa dia di sana,?" tanya Carlos kembali.


"menjadi bodyguard, tuan putri Camelia, tuan,"


"apa? jadi wanita sialan itu menjadikan wanita ku pelayannya."


"sepertinya seperti itu tuan,"


"cih! aku tidak akan membiarkan wanitaku di jadikan pelayan di sana." gumam Carlos.


"kita kembali sekarang," perintahnya pada sang asisten.


"siap tuan,"


"Akhirnya, aku menemukanmu, sayang," gumam Carlos.


"kali ini aku berjanji, tidak akan pernah melepaskan mu," monolognya dengan senyum miring terlihat dari wajah rupawan carlos.


Carlos terlihat menyunggingkan senyum cerahnya. saat berada di depan cermin.


"Aku datang, Amber sayang," batin Carlos.


*


*


*


"kau dimana, sayang. aku harap kau masih merindukan ku juga," Lirih Bram.


sekarang Bram sedang melakukan perjalanan pulang setelah menyelesaikan urusan kerjasamanya.

__ADS_1


ia yang tidak bisa memejamkan matanya, yang pikirannya kini terisi oleh Amber.


__ADS_2