
Bram tidak mampu lagi memendam rasa marahnya dan juga rasa kecewanya, kepada orang-orang yang menyimpan rahasia dan menganggap dirinya hanya sekedar manusia bodoh.
Dengan dada yang berdegup kencang oleh rasa panas yang menguasai dirinya, ia lantas keluar dari persembunyiannya dan berteriak nyaring yang menggema di ruangan santai itu.
Tatapan semua orang kini tertuju kepada Bram yang terlihat marah.
Maniknya kini menghunus bergantian kepada ketiga orang yang saling bersitegang itu.
Amber bangkit setelah menyandarkan punggung Ken kesofa yang ada di ruangan itu.
Wanita itu menatap Bram dengan wajah kebingungan.
"Dear!" Lirihnya.
Bram yang merasa kecewa karena sikap Amber yang menutupi keberadaan si kembar yang menganggap dirinya tidak berhak menjadi daddy si kembar.
Iapun hanya bisa memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan wanitanya.
"Dear!" Tegur Amber kembali.
" Jadi, selamat ini kau yang sudah merencanakan kematian, daddy dan mommy?" Bram menghunus pertanyaan kepada ratu Rosella.
Wanita setengah baya itu hanya tersenyum miring dengan wajah pongahnya.
Wanita tua itu pun berjalan mendekati Bram.
Dan berdiri tegak dengan wajah angkuh di hadapan Bram.
"Bukan, hanya itu. Aku juga yang sudah membunuh kakak tersayang mu," bisik ratu Rosella berbohong.
"Dan malam ini adalah giliran mu, son," sarkas ratu Rosella dengan perkataannya di akhiri kekehan remeh.
"Bedebah!" Pekik Bram yang akan menyerang, ratu Rosella. Tapi gerakannya dapat terlihat oleh pengawal Martin.
"Bugh! Bram pun mendapatkan serangan telapak kaki dari pengawal Martin, yang mengenai bagian perutnya.
Bram terhempas ke belakang sambil terbatuk-batuk.
"Dear!" Pekik Amber yang segera mendekati Bram.
"Dear," seru Amber yang meraih lengan Bram dan merangkul tubuh tinggi prianya.
"Kau tidak apa-apa, dear?" Tanya Amber yang mengusap cairan merah di sudut bibir Bram.
Bram hanya menggeleng dalam diam, dia masih marah kepada wanitanya itu. Dia bahkan masih memalingkan wajahnya.
"Tatapan aku!" Pinta Amber.
"Dear!" Seru Amber dan meraih wajah tampan Bram.
"Maaf, aku janji akan menjelaskan semuanya padamu," bisik Amber di depan wajah Bram yang kini kening mereka saling menempel.
"Berhentilah berajuk, sekarang kita selesaikan mereka terlebih dahulu, setelah itu kita bertemu si kembar," bisik Amber lagi sambil mengecup bibir manis Bram.
Bram tidak menjawab namun dia menghisap sebentar bibir wanitanya dengan menahan tengkuk Amber.
"Baiklah, demi si kembar," bisik Bram dengan bibir yang masih menempel.
Amber mengangguk dan tersenyum manis kepada pria kesayangannya.
Ken hanya bisa menatap penuh rasa sakit kepada pasangan di depannya, ia harus bersiap dengan segala pertanyaan Amber, bahkan mungkin ia akan menerima kebencian Amber.
Sedangkan ratu Rosella, hanya bisa menatap sinis pada Amber dan Bram.
__ADS_1
"Apa kau yakin, kalau anak kembar itu adalah anak pangeran, Griffin?" Tanya ratu Rosella.
Bram dan Amber memalingkan wajahnya kepada ratu Rosella dan Amber menghunus tajam wanita licik di depannya.
"Apa yang anda katakan!" Geram Amber.
"Aku hanya bertanya, apa benar kedua anak kembar itu adalah keturunan kerajaan Alexander?" Tanya ratu Rosella yang berusaha membuat Bram berpikir ragu.
"Bukankah, kau sudah lama bersama dia?" Ucap ratu Rosella sambil memandang ke arah Ken.
"Bisa saja kedua anak haram itu, adalah anak dia!" Tuduh ratu Rosella dengan nada menghina.
"Tutup mulutmu, nyonya Rosella," teriak Amber.
Dia hanya seorang ibu yang tidak akan pernah terima anak-anaknya di hina.
"Why?" Ejek ratu Rosella.
"Apa kau yakin Griffin, kalau dia anak-anakmu?" Kini ratu Rosella mencoba mempengaruhi Bram.
"Kalau dia bukan darah dagingnya, terus kenapa anda berusaha melukai keduanya," sahut suara berat dari arah belakang.
Semua orang kembali berpaling ke belakang, dan mereka bisa melihat beberapa pria.
"Berani-beraninya anda menghina kedua anak kembar ku!" Pekik Boy, yang tidak terima kedua anak kembarnya di hina.
Sejak tadi telinganya sudah terasa panas mendengar wanita licik itu menghina kedua anak kembarnya.
"Ternyata anda rupanya," sinis ratu Rosella.
"Yah aku disini bersama, seorang kakak yang ingin menyelamatkan adiknya," sahut Boy dan dengan santainya ia masuk kedalam dan mendekati Amber dan Bram.
Tatapan Boy mengarah pada Ken yang sudah terluka di kedua lututnya.
"Dasar lemah!" Cibir Boy.
"Saya tuan?" Sahut Patrick sambil menunjuk kepalanya.
"Iya kau, siapa lagi pria botak licin disini," dengus Boy.
"Kemarilah!" Perintahnya.
Entahlah apa yang ada di pikiran daddy Gie ini. Di saat suasana tegang ia datang tiba-tiba dan menghina seseorang.
Ratu Rosella bahkan dibuat bingung oleh tingkah nyeleneh Boy.
"Bawa dia dan beri pertolongan!" Perintah Boy.
Yang segera dilakukan oleh pria di botak licin asisten Carlos.
"Cih!" Boy mendelik ke arah Bram yang masih tercengang dengan kedatangan sahabatnya itu.
"Dasar pangeran oon!" Ketus Boy sekenanya.
"Ja, …." Ucapan protes Bram terhenti oleh pertanyaan Amber kepada sahabat lacknat nya itu.
"Bagaimana dengan Bryan dan Bryana, tuan?" Tanya Amber khawatir.
"Tenanglah, mereka aman, dan mungkin si kembar sedang bermain dengan, kakek mereka," gumam Boy pelan dengan tersenyum miring kepada ratu Rosella.
"Apa yang anda katakan?"
"Tidak. Kau tidak perlu khawatir, mereka aman dan terkendali," seloroh Boy.
__ADS_1
"Ck! Sombong," cibir Bram.
Boy masa bodoh dengan cibiran Bram, ia kini menatap kepada ratu Rosella.
"Anda tadi mengatakan, kalau putra mahkota kerajaan Alexander yang sebenarnya sudah mati. Terus dia siapa?"
Pungkas Boy dengan mengarah pandangannya ke belakang.
Kembali semua orang menatap pada sosok laki-laki yang kini berjalan dengan menyeret seorang pria di tangannya.
"Son!" Pekik ratu Rosella.
"Katakan, yang manakah putra anda yang sebenarnya, ratu Rosella?" tanya Boy lagi.
Carlos berjalan menghampiri ratu Rosella dengan menyeret putra semata wayang wanita tersebut.
"William!" Pekik ratu Rosella.
"Brak!" Carlos melemparkan William tepat di kaki ratu Rosella.
"Itu balasan atas apa yang kau lakukan pada adikku," ujar Carlos dingin.
"Adik?" cicit Bram dan Amber.
"Jadi pangeran Carlos bukan anak ratu Rosella?" tanya Bram lirih.
"lalu siapa pria itu sebenarnya?" tanya Bram lagi.
"Dan William, itu siapa?" begitu banyak pertanyaan yang ada di otak oon Bram sekarang ini.
"Dia kakakmu, bodoh," ketus Boy sambil menepuk belakang kepala Bram.
"Kakak?" Bram dan Amber membeo.
"Yah, aku adalah kakak mu," sela Carlos.
"Dan pria ini adalah anak dari jaaalang licik ini," ujar carlos dengan geram.
"Jaga ucapan anda, pangeran!" hardik Martin.
"kenapa, aku harus menghormati, wanita murahan licik seperti dia. yang sudah mensabotase kematian ku dan juga kedua orang tua kami demi sebuah kehormatan dan kekayaan," ungkap Carlos.
"Kau dan dia akan menerima hukumnya, karena sudah berani bermain-main dengan keluarga Alexander," sarkas Boy.
"Jadi benar kau adalah kakakku? dan daddy, mommy masih hidup?" tanya Bram dengan wajah shock.
Carlos mengangkuk pelan kepada sang adik dan kembali menatap ratu Rosella.
"Di mana, ratu Agatha Christie kau sembunyikan?! ucap Carlos dingin.
Ratu Rosella yang masih menangis anaknya yang terluka parah itu, kini melihat kepada Carlos dengan manik tajam.
"Kalian, tidak akan pernah mengetahui keberadaannya, karena aku akan menghabisnya. kalian sudah berani menyakiti anakku!" amuk dan ancam ratu Rosella.
"Martin, habisi mereka semua dan utus seseorang untuk menculik kedua anak kembar itu, aku rasa pancingan kita berhasil," ujar ratu Rosella sambil terkekeh dan tak lama kemudian dia tertawa puas.
ia pun mendorong kasar tubuh yang ia peluk tadi dan meraih sebuah pisau dan menusukkannya ke dada pria tersebut.
"Maaf, dia bukan anakku,"
lagi-lagi semua orang di buat tercengang oleh aksi licik ratu Rosella, yang mensabotase keberadaan putranya sendiri.
Tapi tidak dengan Boy dan Carlos, mereka bertingkah seakan bodoh untuk mengikuti permainan licik ratu Rosella, agar keduanya mudah membawa mereka di mana ratu Agatha di sembunyikan.
__ADS_1
"Kalian, tetap saja bodoh dan mudah di tipu,"
"Asal kalian tahu anakku yang sebenarnya adalah, ...."