Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 60


__ADS_3

"Love you too"


"Tut." Amber memandangi ponselnya setelah panggilan telepon dari seberang sana dimatikan.


Amber tersenyum manis sambil menatap ponselnya yang masih berusia di genggamannya.


"Mommy, juga merindukanmu, dear," gumam Amber.


"Aku juga merindukanmu, sayang," bisik sosok pria yang memeluk Amber dari belakang.


"Aku, bahkan lebih merindukanmu, sayang," bisik Bram lagi, dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Amber.


Amber hanya bisa membeku di tempatnya. Amber begitu terkejut dengan kedatangan Bram tiba-tiba didalam kamarnya.


Amber hanya bisa menahan nafas, dia berdoa agar Bram tidak mendengar percakapannya tadi dengan putri kecilnya.


"A-apa yang kau lakukan disini,?" Lirih Amber dengan tergugup.


"Aku, merindukanmu, sayang," bisik Bram, sambil mengecup kepala Amber.


"Bukankah, kau merindukanku tadi,?" Bisik Bram kembali yang mulutnya kini berada di telinga Amber.


"Apa yang kau katakan," ujar Amber sambil menutup mata, disaat Bram menghembuskan nafasnya di ceruk leher Amber.


"Dear! Kau memanggilku, sayang," sahut Bram dengan nada pelan dan diakhiri kecupan di tengkuk Amber.


Amber menutup mata dan bibirnya yang terkunci dengan sangat rapat.


Amber masih terkejut dengan kedatangan Bram tiba-tiba.


Amber tidak bisa memikirkan apa-apa, sejak kedatangan Bram tiba-tiba di saat dirinya melakukan panggilan telepon dengan Bryana.


"Lepaskan," pinta Amber ketika kesadarannya sudah kembali ia kuasai.


"Tidak. biarkan aku memelukmu seperti ini, sayang," bisik Bram sendu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, Amber Wilson,!? lirih Bram di telinga Amber.


"Tolong, lepaskan aku," pinta Amber.


Amber berusaha melepaskan lilitan tangan kekar Bram di perutnya.


"Lepaskan," sentak Amber.


"Please, biarkan sejenak seperti ini," bisik Bram.


"Aku mohon jangan seperti ini. kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, jadi. please lupakan semua tentang hubungan kita dulu. kau sudah memiliki keluarga kecil, aku mohon lepaskan aku, biarkan aku mendapatkan kebahagiaan ku sendiri pangeran, Griffin," pungkas Amber yang membuat perasaan Bram tertohok.


Dengan spontan Bram melepaskan lilitan tangannya di perut Amber.


Bram terdiam di tempatnya dengan perasaan begitu kecewa.


segera saja Amber melewati Bram untuk, membuka pintu kamar untuk Bram.


tiba-tiba Bram mencekal pergelangan tangan Amber dan menarik kembali ke sisinya.


tidak ingin membuang waktu, Bram mempertemukan bibir mereka.


Bram juga mengunci pergelangan tangan Amber di belakang tubuh wanita itu, sehingga Amber tidak dapat bergerak atau meronta.


Bram menggunakan tangan satunya, untuk menekan tengkuk Amber agar memperdalam ciuman di bibir wanita yang sangat ia cintai.


Bram tidak terima semua yang baru saja Amber ucapkan padanya.


Dadanya tiba-tiba, bergemuruh panas bercampur sesak.


Bram menolak, sangat menolak ucapan Amber yang menginginkan agar ia melupakan hubungan mereka di masa lalu.


tentu saja Bram menolak. karena bagaimanapun Amber, adalah wanita pertama baginya dan wanita yang membuatnya merasakan dimiliki dan memiliki.


Tangan Bram yang berada di tengkuk Amber, kini turun di pinggang wanita itu, menekan pinggang Amber, agar menempelkan lebih dalam tubuh mereka.

__ADS_1


"hentikan," pinta Amber di sela ciuman Bram yang semakin menjadi.


"Aku mohon hentikan," ucap Amber yang berusaha m lepaskan tautan bibir mereka.


"Dear, hentikan," bisik Amber.


Bram melepaskan tautan mereka, tanpa melepaskan lengan kekarnya di pinggang ramping Amber.


"Ucapkan, sekali lagi," lirih Bram di atas bibir Amber sambil, sesekali mengecup ujung bibir wanita masa lalunya.


"Sayang. ucapkan sekali lagi," mohon Bram yang kini pandangan mereka saling bertemu.


"Please," bisik Bram sambil menempelkan kening mereka.


"Dear," cicit Amber dengan raut wajah enggan.


"sekali lagi," pinta Bram.


"Dear,"


"Sekali lagi, please,"


"Dear, ... apa kau puas," pekik Amber.


"Lepaskan. dan keluarlah," perintah Amber dengan wajah jengah.


Wajah Bram tampak terlihat senang. tangannya kini terulur mengusap pipi mulus Amber. dan menarik pelan wajah Amber untuk meninggalkan jejak kecupan di kening Amber.


Amber spontan memejamkan matanya, merasakan kecupan hangat Bram di kening dan juga bibirnya.


"Aku, mencintaimu, Amber Wilson," bisik Bram.


Amber terdiam, terlalu malas menyahuti ucapan pria yang berada di hadapannya.


"Selamat malam dan selamat tidur, sayang," ucap Bram tulus.

__ADS_1


"hm" gumam Amber.


Bram hanya tersenyum dan ia kembali memberikan kecupan hangat di kening Amber, sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar tidur Amber.


__ADS_2