Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 92


__ADS_3

Suasana di dalam villa kini semakin memanas antara pertarungan Amber, Carlos dan para bawahannya.


Mereka masih bertarung melawan para bandit-bandit ratu Rosella yang sangat licik itu.


Amber melawan beberapa pria bertubuh tinggi besar dengan raut wajah mereka yang sangat menyeramkan.


Tanpa rasa takut Amber melawan ketiga pria yang tdai mengelilinginya.


Amber mengayunkan tangannya ke wajah salah satu lawan yang bersiap memukuli Amber.


Ayunan tangan sekeras batu milik Amber mendarat indah di wajah pria dengan wajah hitam pekat itu dan juga Amber memberinya sapaan tangan berkali-kali.


Membuat pria hitam itu tersungkur di lantai dan terakhir Amber menginjak perut pria itu tepat di ulu hatinya sangat kuat.


Membuat pria itu memuntahkan darah segar dan seketika terkapar tak berdaya.


Amber yang sejak tadi melawan tiga pria dengan begitu lincahnya dan gesitnya dalam melakukan gerakan bela diri dan juga mengelak dari serangan musuh.


Kini Amber melawan kedua pria dengan tatapan mesum ke arahnya dengan menggunakan kedua kaki jenjangnya.


Amber menendang kedua pria itu secara bergantian, terkadang Amber melakukan gerakan salto atau berkayang untuk menghindari kedua serangan musuh.


Amber mengunci leher lawannya dengan tangan kanannya dan mematahkan Leher pria bertubuh setengah gempal itu dengan sekali gerakan.


Pria satunya hanya bisa tercengang dengan mata terbelalak dan berakhir ketakutan.


Namun karena sebuah kewajiban melindungi sang ratu.


Pria itu pun dengan tubuh gemetar menyerang kembali dengan sebuah belati di tangan kirinya.


Ia berhadapan dengan Amber yang hanya memasang wajah dingin.


Pria itu mempersiapkan ancang-ancang untuk menyerang Amber di bagian organ vitalnya yang dapat membunuh dalam sekejap mata.


Dan tatapan pria itu mengarah ke dada Amber yang hanya dilapisi sebuah tanktop di atas perut yang berwarna hitam dengan dilapisi sebuah kemeja putih sutra yang sudah berlumuran darah.


Amber menajamkan manik coklatnya ke arah sang lawan.


Ia memindai gerakan pria itu dalam diam untuk membaca pergerakan pria di depannya ini.


Diam-diam Amber mengeluarkan sebuah Carter yang ia temukan tadi di atas nakas.


Amber mengeluarkan benda tajam itu dari tempat yang kini bersiap untuk melukai siapapun yang berani menantang seorang wanita yang dalam keadaan mengerikan.


"Matilah, kau, wanita murahan," teriak pria itu sambil mendekati Amber dengan langkah panjang.


Tidak lupa belati tajam yang ada di tangannya ia arahkan ke Amber.


Amber masih terdiam dengan sebuah seringai tipis muncul di bibir ranumnya.


"Jleb"


Belum juga benda tajam yang ada di genggaman pria itu mengenai dan melukai Amber.


Namun tiba-tiba sebuah benda tajam lainnya menusuk bagian vitalnya yang paling mematikan.


Amber tersenyum miring melihat ekspresi wajah pria itu yang matanya sudah membola.


"Bruk"


Amber mendorong tubuh tinggi pria itu hingga terhempas ke belakang dan mendarat cantik di atas lantai marmer.


"Cih. Menyusahkan!" Cibir Amber.


Amber pun memindai sekitarnya yang sekarang berada di ruangan tengah.

__ADS_1


Dia pun bermaksud ingin mengejar Carlos dan lainnya, untuk menangkap rombongan, ratu Rosella yang mencoba kabur.


Tapi langkah Amber terhenti, ketika pendengarannya menangkap suara teriakan dari arah belakang.


Dan suara itu sangat ia kenali, suara pria kesayangannya, yang sedang berteriak kesakitan.


Amber membalikkan badan, dengan wajah panik, Amber berlari ke arah belakang dengan tergesa-gesa.


~


"Dear!" Sentak Amber.


"Dear, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Amber dengan wajah khawatir.


Ken dan Boy terdiam dan saling menatap. Mereka masih menelisik ekspresi kesakitan Bram dan juga racauannya.


Ken yang hanya bisa terdiam dengan sebuah senjata api di tangannya, karena lututnya yang terasa begitu sakit.


Dia yang tidak mempercayai, dengan kebenaran tentang sahabatnya, yang ternyata adalah, sepupunya sendiri.


Ken hanya bisa tersenyum miris, dengan permainan licik ratu Rosella, yang selama ini sudah menjadikan dirinya sebagai mesin pembunuh.


Kalau saja kedua lutut, Ken tidak terluka. Mungkin dia tidak akan tinggal diam dengan menahan segala gejolak amarahnya.


Mungkin ia akan menghabisi, nyawa Nicko sekarang juga.


Dia mengutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan mudah dimanfaatkan oleh ratu Rosella yang licik itu.


Apa yang harus Ken lakukan, untuk menyelamatkan ibu dan adik-adiknya, kalau dirinya saat ini sedang terluka parah.


Ken hanya bisa menahan rasa ngilu pada lukanya di kedua lutut.


Akibat sebuah tembakan yang mematikan. Ken masih beruntung, karena peluru itu hanya mengenai kedua lututnya.


~


"Apa, yang terjadi dengannya tuan?" Tanya Amber dengan nada terbata khawatir.


"Tenanglah, dia hanya mencoba mengingat ingatnya," jawab Boy.


Ken tersadar dari lamunan kesedihannya, saat mendengar suara Amber.


ia menyoroti wajah cemas Amber yang diberikan kepada Bram.


pria itu hanya bisa tersenyum miris, dengan luka hati yang kembali perih.


"Ingatan?" tanya Amber bingung.


"hum, ingatannya yang sengaja di hilangkan," imbuh Boy.


"Apa itu, akan melukainya?" kembali Amber bertanya, sambil merangkul pundak kekasihnya.


"Akh! sakit, ...." teriak Bram kesakitan dengan kedua tangannya yang meremas kuat rambutnya.


"Dear! katakan, dibagian mana yang sakit?" Amber menangkup wajah pucat Bram yang sudah di banjiri keringat dingin.


"SAKIT!" teriak Bram.


"Dear, jangan membuatku takut," bisik Amber.


"Tenanglah. aku berada di sini," bisik Amber yang kini memeluk kepala Bram erat di depan dadanya.


Amber mengusap sayang Surai Bram yang berantakan dan juga menepuk-tepuk, pelan punggung lebar prianya.


"Tenanglah, dear," bisik Amber kembali.

__ADS_1


Bram pun mulai merasa tenang dengan ulusan Amber dan perlakuan manis wanita.


"sakit!" lirih Bram di tengah kesadarannya yang mulai hilang.


"Dear, dear, dear, ...."


Amber memanggil sang kekasih yang sudah pingsan.


"Kenapa, dia tidak menyahuti ku?" tanya Amber dengan wajah ketakutan.


"Biar, aku memeriksanya," sela Boy.


Amber lalu meletakkan kepala Bram di pahanya, yang sebelumnya merangkul tubuh kekasihnya erat


"Dia, tidak apa-apa. dia hanya pingsan," ujar Boy.


"Tapi, kenapa dia tidak kesakitan?" tanya Amber, yang jiwa penasaran begitu menggebu.


"Itu, Karena ingatannya masa lalu akan mulai keluar," imbuh Boy.


"Ingatan masa kecilnya, sudah di rampas paksa, oleh si ratu Rosella. demi mengamankan posisi wanita sialan itu." Boy tampak geram menceritakan, semua tindakan kejahatan ratu Rosella.


"Dasar, wanita licik!" geram Amber, yang kini mengepalkan kedua tangannya.


"Sekarang, lebih baik, kita membawa pria sialan beristirahat. dan kau!" ujar Boy, sembari menatap Ken Lekat.


"Kau juga perlu di obati!" kata Boy.


"Lebih baik, kau pulanglah dan obati lukamu!" seloroh Boy.


"Tidak, tuan. biarkan aku disini," tolak Ken.


"Tapi, lihatlah. lutut mu terluka,"


"Ini hanya luka biasa," sahut Ken bohong.


"terserah, dasar keras kepala," cetus Boy.


"Ayo! bantu aku memapah pria menyedihkan ini ke kamar," pinta daddy Gie itu.


"Tetaplah disini, aku akan kembali dan mengobati lukamu!" pesan Amber dengan wajah datar.


"hm" balas Ken dengan mengangkuk pelan.


Amber dan Carlos, kini melangkah ke arah kamar tidur yang ditempatinya semalam.


mereka kini sedang memapah tubuh tinggi, Bram masuk ke dalam kamar.


~


sedangkan di luar sana Carlos, mencoba menghalangi ratu Rosella, kabur.


"Tembak dia!" perintah Carlos yang melihat dari jauh ratu Rosella dan putranya sudah berada di kendaraan air mewah miliknya.


"Anda yakin, tuan?"


"Hm! bidik ke arah anak kesayangannya, agar dia bisa merasakan, bagaimana rasanya kesakitan ditinggal orang-orang yang kita sayangi."


"Tembak dia!"


"Baik tuan,"


"Tidak semudah, itu kau akan lolos, pengecut!"


__ADS_1


__ADS_2