
Carlos dan Amber sudah memasuki halaman luas istana ratu Rosella. Seperti biasa Carlos memperlakukan Amber begitu manis dan hangat, membuat para wanita akan berdecak itu kepada Amber.
Tapi Amber sendiri menganggap biasa dan tidak ingin terbawa perasaan.
Hatinya sudah mati yang namanya cinta, tujuannya hanya satu yaitu melancarkan misinya dan pergi jauh membawa sang anak kembarnya.
"Kakak, tidak perlu bersikap seperti ini," pinta Amber di saat Carlos terus menggenggam tangannya.
"Why?" Carlos menghentikan langkahnya dan menatap Amber dengan dahi terangkat keatas.
"Aku tidak ingin mendengar hal yang membuatku marah," ketus Amber sambil melepaskan tangannya yang berada di genggaman tangan besar Carlos.
"Aku tidak peduli," jawab Carlos yang kembali menarik tangan Amber.
"Pangeran Carlos," sentak Amber dengan bola mata membesar.
"Oh astaga, kenapa kau begitu imut sekali," ucap Carlos yang tidak terpengaruh sama sekali dengan gertakan Amber.
"Dasar pria gila culun," ketus Amber dan melangkah mendahului Carlos yang terlihat terbahak.
Dari atas balkon kamar, ratu Rosella melihat raut wajah bahagia sang putra. Baru kali ini ia melihat tawa lepas putranya itu.
Sebagai seorang ibu pastilah ia merasa ikut bahagia dengan wajah ceria anaknya.
Apalagi anaknya termasuk pria dingin yang sangat kejam.
Hanya ada kehidupan gelap di hati putranya itu.
Sekarang ia dapat melihat wajah ceria sang putra dan juga raut wajah bahagia putranya.
Ratu Rosella menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Kita kembali ke bawah," titah sang ratu.
Pelayan setia sang ratu pun mengikuti wanita paruhbaya itu menuju lantai dasar.
*
*
*
Di sepanjang jalan menuju ke dalam istana ratu, Amber dihadapkan dengan tatapan sinis dari semua penghuni istana ratu Rosella.
Cibiran tiada hentinya menyapa Indra pendengaran Amber.
Amber hanya bisa tersenyum miring. Ia Pun melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan tatapan sinis ataupun cibiran yang datang dari para pelayan istana.
"Wow! Lihatlah wanita ini. Wanita dengan derajat rendahan berani menggoda pangeran Carlos," cibir salah satu pelayan wanita yang terlihat tidak suka dengan Amber.
Amber menghentikan lagi derap langkahnya sambil berdecak kesal. " Ini semua gara-gara pria, culun itu," batin Amber.
"Hey. Kami bicara padamu," hardik pelayan lainnya. Sekarang posisi Amber sedang dikelilingi oleh para pelayan wanita yang masih muda.
"Tapi aku tidak ada waktu untuk kalian," sahut Amber dengan wajah datar.
"Cih! Dasar sombong. Ingat kau disini hanyalah seorang pelayan baru dan kami di sini adalah senior kamu," ujar pelayan wanita yang memiliki tubuh pendek.
__ADS_1
"Apakah itu penting dan memiliki aturan di istana ini,?" Tanya Amber santai.
"Dasar wanita murahan," pekik wanita yang pertama kali menghentikan langkah Amber.
Wanita itu begitu iri ketika pangeran Carlos memandangi Amber dengan binar kekaguman.
Apalagi di saat pangeran Carlos membawa Amber keluar dari istana dengan menaiki mobil mewah para pangeran.
"Kau perlu diberi pelajaran," ujar wanita itu yang memiliki usia di atas Amber.
"Benar, kita rusak saja wajah sok cantiknya itu," seru pelayan lainnya yang ikut menyetujui usulan temannya.
"Pegang dia." Wanita itu menyuruh teman-temannya untuk memegang kedua tangan Amber.
"Berikan padaku," pinta pelayan yang sok berkuasa itu. Dia meminta sebuah botol sedang yang berisi air keras yang mampu melepuh kulit dalam sekejap mata.
Amber hanya terdiam di tempatnya sambil berpangku tangan, dengan menatap sinis pada para pelayan itu yang akan mengganggunya.
"Lumayan, untuk hilangkan rasa kesalku," batin Amber, yang tersenyum remeh ke arah ke empat pelayan wanita itu.
Dua diantara pelayan itu lantas mendekati Amber dan ingin memegang tangan Amber. Tapi niat mereka sia-sia karena Amber mampu menepis tangan kasar para pelayan tersebut.
"Sialan," maki keduanya di kala Amber mendorong mereka.
Pelayan lainnya maju untuk mencekal pergelangan tangan Amber, tapi niat mereka lagi-lagi gagal. Malahan tangan mereka yang terlihat kesakitan karena Amber memelintir tangan keduanya sekaligus ke belakang.
"Krek! Bunyi tulang pergelangan tangan mereka.
"Akh! Sakit," adu kedua pelayan itu bersama dan mereka berjongkok menangis rasa sakit pada tangan keduanya.
"Apa-apa kau ini, bermain kasar pada pelayan istana," pekik wanita yang masih memegang air keras.
Kedua pelayan itu mundur pelan-pelan disaat Amber melangkah maju.
"Jangan mendekat. Menjauhlah," pekik pelayan yang memiliki dandanan yang paling mencolok.
Tubuhnya kini bergetar takut melihat wajah Amber begitu menakutkan.
"Jangan mendekat, kalau tidak aku akan menyiramkan ini di wajahmu," ancamannya dengan nada bergetar.
"Bagaimana ini Lila, dia begitu mengerikan," ujar pelayan yang memiliki tubuh pendek yang bersembunyi di belakang Lila.
"Diamlah. Ingat apa kata putri Camelia, kita harus membuat wajah cacat," bisik Lila yang merupakan ketua geng mereka.
"Jadi ini perintahnya," tanya Amber dengan senyum miring terlihat di bibirnya.
"B-bukan" sahut Lila gugup, tangan gemetarnya di bawah sana berusaha membuka tutup botol air keras tersebut.
senyum kedua pelayan itu muncul ketika Lila berhasil membuka botol yang berisi air keras.
Lila hendak mengayunkan tangannya untuk menyemburkan air keras itu ke wajah Amber, namun pergerakan Lila sudah terbaca oleh Amber.
Amber mencekal lengan Lila dan merebut paksa botol tersebut.
Amber memandangi botol itu dengan lekat dan tajam, dengan sebelah tangannya masih memegang erat lengan Lila.
"Aku ingin tau bagaimana reaksi air ini," gumam Amber yang terdengar mengerikan di telinga kedua pelayan itu.
__ADS_1
sedangkan pelayan yang lainnya sudah terkapar tak sadar diri akibat pergelangan tangan mereka yang patah.
"Kau, ingin mencobanya,?" bisik Amber.
"T-tidak," sentak Lila terbata.
"Tapi, aku penasaran," gumam Amber lagi, dengan segera Amber menyiramkan air keras itu ke wajah Lila dan juga ketiga temannya.
Amber melemparkan botol itu dan meninggalkan para pelayan istana itu dalam jeritan kesakitan dan kepanasan.
tiada orang yang bisa mendengar jerit mereka karena mereka berada di sebuah gudang kosong di bangunan tak terpakai di belakang istana.
Amber akan menghabiskan waktunya di sebuah rumah pohon yang entah milik siapa.
ia akan menunggu putri Camelia di rumah pohon sambil memantau geng Daredevil black.
"Cih. tuan putri yang mencari mati," monolog Amber.
"Tenanglah, nanti tiba saatnya kau akan mendapatkan bagian dariku," batin Amber sambil terkekeh.
"Apakah mereka mati? kenapa sunyi? padahal aku sangat suka jeritan mereka," lirih Amber dengan kekehan mengerikan keluar dari mulutnya.
"Astaga, sebenarnya ini kehidupan bangsawan macam apa,?" monolog Amber sambil menggeleng.
"Sungguh rumit dan di penuhi manusia-manusia licik dan munafik,"
*
*
*
"Kau baru pulang,?" Camelia yang melihat Bram memasuki kamar dengan wajah kusut merasa heran.
"hm! jawab Bram tidak acuh.
"Kau kenapa,?"
"Sayang. aku tanya, kau kenapa."
"Diamlah,!" hardik Bram.
"Kau membentak ku, sayang,?! ujar Camelia tidak percaya.
Bram terlalu frustasi menimpali pertanyaan Camelia yang mampu menyelut emosinya yang masih memanas.
Bram berjalan ke arah kamar mandi tanpa memperdulikan wajah sedih istrinya.
ia butuh mendinginkan pikirannya dan juga suhu tubuhnya.
"brakk! Bram menghempaskan pintu kamar mandi dengan kasar.
Camelia hanya mampu menatap tajam pada pintu kamar mandi tersebut, dengan wajah yang menahan emosi.
"akh!
"prang"
__ADS_1
Camelia berteriak dan menghamburkan semua barang berharganya yang ada di atas meja rias.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Griffin."