Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 45


__ADS_3

"Mommy," lirih si kembar yang terisak di pelukan Amber.


Sekarang mereka sedang berada di bandara untuk mengantar mommy mereka.


Baru saja mereka bertemu kini si kembar harus berpisah lagi dengan sang mommy. Dan kali ini mommy mereka akan pergi cukup lama.


"Mommy, jangan pergi," pinta Bryan yang terisak sambil memeluk erat leher Amber.


"Maaf, sayang. Mommy janji ini yang terakhir," bujuk Amber.


"Mommy," lirih Bryana yang air matanya meleleh dengan derasnya.


"Please, kalian jangan seperti ini, mommy merasa seperti ibu tiri," ujar Amber sambil terkekeh.


"My princess," Boy mengambil alih tubuh mungil Bryana.


"Daddy, kenapa mommy harus pergi lagi," ujar Bryana dengan terisak pilu dan menyakitkan.


"Oh my princess, daddy. Sekarang diam yah sayang, daddy janji kita akan ke tempat mommy Amber," pungkas Boy yang mencoba menenangkan si kembar.


"Peri es tidak usah sedih lagi, daddy pasti membawa kita untuk menjenguk aunty," sela Gie, mencoba membantu sang daddy menenangkan si kembar.


"Sudah, yah sayang. Daddy Boy janji akan mengajak kita bertemu mommy Amber." Ruby kini berjongkok di depan Bryan yang tidak ingin lepas dari pelukan mommynya.


"Sweety," sela Ken dan ia menganggukkan kepalanya.


"Bryan, Bryana. Saatnya mommy pergi sayang. Mommy janji akan segera kembali dan ini terakhir kali mommy pergi," ujar Amber sambil mencium kening dan pipi si kembar secara bergantian.


"Mommy, pergi," pamit Amber dengan tangisan yang ia tahan.


"Mommy. Mommy, …." Teriak si kembar sambil menangis dan meronta ingin mengejar sang mommy yang sudah menjauh.


"Mommy, …." Lirih si kembar bersamaan yang masih menangis.


"Sudah yah? Sekarang kita pulang," ajak Ruby sambil mengelus sayang rambut pirang Bryan.


Sedangkan Bryana berada di gendongan daddy Boy, yang masih terdengar terisak.


"Udah yang my princess, jangan nangis lagi, nanti daddy ikut nangis," bisik daddy Boy dengan tangannya yang mengusap lembut punggung mungil Bryana.


"Peri es, diam yah, nanti kakak Gie ikut nangis," sela Gie yang tidak mau kalah dengan daddynya.


Dia yang tidak mau kalah dengan sang daddy dalam mengambil perhatian Bryana.


"Daddy, turunkan peri es Gie. Biar Gie yang memegangi tangannya," suruh Gie dengan tatapan sengit kepada sang daddy.


"No. Daddy takut my princess, daddy kelelahan," sahut daddy Boy.


"Daddy," rengek Gie.


"Hust! Diamlah, nanti dia bangun," bisik daddy Boy.


"Peri es tidur, daddy?"


"Hu'um," gumam daddy Boy yang terus berjalan keluar dari bandara.


*


*


*


"Ini, paspor dan identitas baru kamu." Ken menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Amber yang berisi berkas tentang identitas barunya.


"Sampai disana, kau akan dijemput oleh pihak dari mereka. Dan kau akan tinggal disana, di sebuah istana. Kau akan menyamar sebagai bodyguard khusus istri dan putra tunggal pangeran mahkota," imbuh Ken panjang kali lebar.


Yang disahuti oleh Amber dengan anggukan sambil mengamati isi coklat yang ada di tangannya.


"Loly,?" Amber membeo.


"Iya, nama kamu di sana Loly. Dan ingat jaga diri dan kesehatan," ucap Ken dan menarik Amber masuk kedalam pelukannya.


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu," bisik Ken.


"Hm! Tidak masalah dan kau tenanglah aku pasti baik-baik saja," jawab Amber.


"Itu harus," bisik Ken lagi dan di akhiri kecupan penuh sayang dan ketulusan di kening Amber.


Amber hanya bisa memejamkan matanya saat mendapatkan perlakuan manis dari Ken.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," bisik Ken dan kembali memeluk erat tubuh Amber.


Amber hanya mengangguk dengan diam seribu bahasa. Kata-kata cinta baginya saat ini sangatlah mengerikan dan menjijikkan.


Ken mengurai pelukannya dan membingkai wajah cantik wanita yang akan selalu ia impikan. Ken sekali lagi mengecup kening Amber dan juga bibir ranum wanita yang menjadi pemilik hatinya.


"Aku, akan selalu merindukanmu," bisik Ken didepan wajah Amber dengan kening mereka yang saling bertautan.


Amber lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum manis memperlihatkan lesung di kedua pipinya.


"OH Tuhan, kau belum pergi aku sudah sangat merindukan, sweety," bisik Ken lagi.


"Lepaskan, waktunya aku pergi," ujar Amber.


"Hm! Hati-hati," ucap Ken sambil merapikan mantel yang melekat di tubuh indah Amber.


"Kau, juga harus jaga kesehatan dan jangan terlalu sering begadang," titah Amber.


"Siap, sweety," sahut Ken.


"Baiklah, aku pergi," pamit Amber dan ia mencium pipi Ken sebelum akhirnya Amber melangkah tergesa kearah pintu menuju pesawat.


Ken membeku di tempatnya. Ini pertama kalinya Amber menciumnya terlebih dahulu. Pria itu melambaikan tangannya saat Amber melambai ke arahnya.


Ken masih menatap punggung Amber, hingga akhirnya menghilang di depannya.


Ken pun berjalan ke arah lain dan juga ke tujuan lain.


Ia memiliki misi rahasia khusus untuk, ia selesai dalam waktu satu malam.


*


*


*


Keesokan harinya di benua lain.


Sesosok pria kini sedang merapikan penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan jas berwarna navy pilihan sang istri yang begitu tulus dalam melayaninya.


Pria itu terus menyunggingkan senyum indahnya saat mengingat sikap menggemaskan istrinya yang merajuk.


Ia yang berjanji akan melakukan makan malam romantis, harus gagal karena ada suatu kendala yang sangat mendadak.


Ia harus menuruti keinginan sang istri dengan menghabiskan waktu indah sepanjang malam di atas kasur. Demi kebahagian dan kecerian Istrinya ia rela melakukannya dengan setengah hati.


Untunglah mereka tidak bisa melakukannya karena terhalang sebuah palang merah.


Bram merasa lega dan juga harus menahan rasa frustasi. Saat sudah terbawa suasana panas.


Bram menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh-jauh pikiran tentang dirinya dan sang istri semalam.


Entahlah kenapa dia ikut terbawa suasana, mungkin Bram terlalu lama menahan dan yang tadi malam ia dan istrinya lakukan adalah hal pertama bagi mereka.


Bram terkesiap saat sepasang tangan mungil memeluknya dari belakang.


Bram tersenyum sambil menatap istrinya dari cermin.


"Maaf," bisik Camelia.


Bram tersenyum samar dan ia membalikkan tubuhnya dan mendaratkan kecupan di dahi sang istri yang baru bangun.


"It's ok. Kita bisa melakukannya lain waktu, setelah aku pulang," sahut Bram.


"Kau akan pergi,?" Tanya Camelia dengan ekspresi kaget.


"Hm! Ada urusan penting," jawab Bram sambil merapikan anak rambut istrinya.


"Berapa lama,?" Tanya Camelia sambil mengalungkan kedua tangannya di ceruk leher Bram.


"Dua hari," sahut Bram dan membelai wajah Camelia.


"Aku, pasti akan merindukanmu," lirihnya.


"Hanya dua hari, sayang," balas Bram sambil terkekeh.


"Tetap saja,"


"Kau begitu menggemaskan bila merajuk," ujar Bram sambil mengecup bibir sang istri.

__ADS_1


Camelia menahan tengkuk suaminya dan memperdalam ciuman bibir mereka. Dan pasangan suami-istri itu pun saling berciuman cukup lama.


"Sudah, nanti aku ketinggalan pesawat," bisik Bram sambil mengusap bibir basah Camelia.


"Hm! Camelia menurut dan ia merapikan kembali pakaian sang suami.


"OH iya, suamiku, …" hari ini bodyguard baru untukku akan tiba," ujar Camelia sambil merapikan tas kerja Bram.


"Benarkah," Jawab Bram.


"Hm, dia dari Chicago," ujar Camelia yang sukses membuat Bram membeku.


"Chicago,?" Bram membeo.


"Hm, namanya loly,"


"Hm! Gumam Bram yang jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


"Hey. Kau tidak apa-apa,?"


"Tidak. Sekarang lebih baik aku pergi," pamit Bram dan mengecup kening dan bibir Camelia.


"Hati-hati,"


Bram hanya mengangguk dan keluar dari kamar. Ia melangkah dengan pikiran yang tiba-tiba mengingat wanita masa lalunya.


"Tuan! Sapa pengawal pribadi Bram.


"Kita berangkat sekarang," perintah Bram yang pikirannya tiba-tiba tertuju pada Amber.


"Bodyguard, Chicago,?" Batin Bram.


"Luis," panggil Bram pelan.


"Iya, tuan? Sahut Luis pengawal setia Bram.


"Aku menginginkan berkas tentang bodyguard baru, istriku," pinta Bram.


"Siap, laksana, tuan."


"Hm!


Bram pun kembali terdiam dan merenungi masa lalunya yang begitu penuh cinta dan berakhir luka yang ia perbuat sendiri.


"Maafkan aku," gumam Bram sambil memejamkan matanya.


*


*


*


Bram kini sudah tiba di bandara. Ia Pun berjalan dan diikuti beberapa pengawal pribadi dan juga para staf bandara.


Brma menunggu di ruangan khusus untuknya dengan dinding kaca yang bisa memperlihatkan suasana ramai bandara.


Bram merotasi pandangannya seisi dan setiap sudut bandara.


Matanya pun tiba-tiba membesar dan dadanya pun berdebar kencang, tubuhnya pun sekarang membeku dengan wajah yang tidak bisa di baca.


Bram menajamkan matanya ke arah lobby bandara yang ada di lantai satu, tepatnya di tempat pemeriksaan menuju pintu keluar.


Bram pun segera bangkit saat netranya menyakinkan kalau ia tidak salah mengenali sosok wanita yang begitu ia rindukan ada di hadapannya dengan tersenyum ramah. Dan wajahnya makin terlihat cantik dan mengagumkan.


Bram berlari ke arah tangga darurat sambil netranya terus berada di pintu keluar, yang masih melihat keberadaan Amber disana.


"Sayang," lirih Bram dengan Langkah setengah berlari ke arah pintu keluar.


"Sayang,!" Panggil Bram saat wanita yang ia yakini adalah Amber sudah memasuki sebuah mobil mewah dan melaju meninggalkan kawasan bandara.


"Sayang,!! Teriak Bram dan berusaha mengejar mobil yang membawa Amber.


Bram tidak memperdulikan dirinya yang menjadi pusat perhatian sekarang. Ia juga tidak mendengarkan dan menghiraukan para pengawal yang mengejarnya dari belakang.


"Sayang,!!! Teriak Bram.


"Tuan! Tegur Luis.


"Aku sangat yakin dia adalah wanitaku. Dia ada di sini, dia ada di kota ini. Dia ada di sini, Luis," racau Bram.

__ADS_1


"Aku, ingin kau mencari tahu tentang wanitaku," perintah Bram dan melangkah memasuki bandara kembali dengan langkah lesu.


"Sayang," gumamnya.


__ADS_2