Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 36


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian.


Seorang wanita cantik dengan mengenakan pakaian layaknya seorang pelayan di salah satu hotel ternama di kota Chicago.


Dengan perut besarnya, wanita itu mendorong sebuah troli yang dipenuhi berbagai masakan mewah dan termahal di hotel tersebut.


"Sweety!" Panggilan seseorang terdengar di balik benda kecil yang terpasang di balik telinga wanita hamil tersebut.


"Hm," sahutnya dengan gumaman.


"Berhati-hatilah, sweety," ujar pria yang di seberang sana.


"Hm," gumam Amber kembali, lalu mematikan benda yang ada di balik telinganya.


Amber melangkah dengan hati-hati sambil mendorong troli yang lumayan berat.


Malam ini ia dan Tim lainnya sedang menjalankan sebuah misi yang sangat penting.


Target mereka malam ini adalah salah satu pejabat berpengaruh dan terkena di kota Chicago.


Amber berhenti di sebuah pintu yang paling mencolok di antara pintu kamar hotel lainnya.


Amber mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke pintu dan mengetuknya.


Amber masih menunggu dengan tangannya di bawah sana sibuk memeriksa senjata yang akan digunakan. Menyakinkan dirinya kalau semua siap dan tidak yang terlewat.


Amber juga menatap sebuah cangkir mewah yang terisi sebuah minuman herbal. Amber menyerigai tipis.


Sebelum pintu terbuka, Amber merapikan letak kacamata dan juga rambut palsu yang berwarna merah untuk mendukung rencana mereka malam ini.


"Clek!


Pintu terbuka dan muncul sosok pria setengah baya dengan penampilan setengah telanjang. Yang Amber yakin adalah target mereka kali ini.


"Cih! Amber berdecih dalam hati.


"Maaf, Mr. Yousef, makan malam pesanan anda." Amber memberi hormat layaknya seorang pelayan yang ramah.


Mr. Yousef memindai penampilan Amber dari atas kebawah dan netra mesumnya menatap perut besar Amber. Ia menukik alisnya ke atas dan tersenyum mengejek.


"Dasar pelayan jelek, rendahan," gumam Mr. Yousef sambil tersenyum sinis.


"Letakkan di dalam," perintah Mr. Yousef dingin.


"Baik, Mr," sahut Amber dan sambil tersenyum memperlihatkan gigi Amber yang terpasang pagar kawat.


"Cih! Menggelikan," cibir Mr. Yousef.


Amber hanya menyeringai tipis mendengar cibiran menghina Mr. Yousef kepadanya.


Ia mendorong troli yang berisi makan malam itu kearah meja makan yang ada di kamar suite room itu.


Sebuah kamar mewah yang di sudah dilengkapi berbagai kebutuhan disana. Kamar yang kayaknya apartemen mewah.


"Setidaknya malam ini adalah, malam terakhirmu, pria menjijikkan," batin Amber.


"Pejabat bertitel sampah masyarakat," decih Amber dalam hati.


Saat netra coklatnya mendapati dua orang wanita jaalang dalam keadaan polos tanpa sehelai kain pun di tubuh mereka, sedang saling bercumbu di atas ranjang dengan satu pria setengah baya.


"Cih! Menjijikkan," decih Amber berkali kali dalam hati.


"Apa yang kau lihat wanita jelek.?! Hardik salah satu jaalang yang baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Wow. 3 lawan 1, benar-benar pria tua menjijikkan," rutuk Amber dengan tersenyum tipis.


"Maaf nona, saya hanya menyajikan makan malam pesanan anda," sahut Amber sambil menundukkan kepalanya.


"Cih! Dasar perempuan jelek menjijikkan," hina wanita tersebut.


"Lihatlah penampilanmu, kau jelek sekali dan kau tidak pantas menjadi pelayan di hotel mewah ini. Apa hotel semewah ini tidak ada pelayan lain selain dirimu yang jelek menjijikkan ini." Wanita itu pun mengeluarkan kata-kata sarkas nya yang penuh hinaan.


"Kau hamil,?" Tanya perempuan itu lagi saat memindai penampilan Amber.


"Iya, nona," jawab Amber.


"Pria yang malang dan menyedihkan, yang menggauli wanita jelek sepertimu," sinis wanita itu lagi.


Amber hanya terdiam mendengar kata-kata sampah wanita yang kini duduk dengan angkuhnya di sofa.


Amber hanya menunggu waktunya untuk melenyapkan mereka semua. Target Amber hanya satu. Tapi ia tidak akan membiarkan wanita-wanita ini lolos begitu saja, apalagi wanita yang ada di hadapannya itu.


"Layani aku," perintah wanita tersebut.


Amber hanya mengangguk patuh ia hanya menunggu hitungan menit untuk melancarkan aksinya.


" Baik, nona," sahut Amber.


Amber pun melayani wanita seksi itu dengan kesabaran tingkat dewa. Sejak tadi ia menahan geraman, saat Indra pendengarannya mendengar suara-suara menjijikkan yang berasal dari ranjang kamar hotel tersebut.


"Apa yang kalau lakukan, pelayan jelek,!? Bentak wanita dengan tubuh sintal menggoda.


"Maaf, nona. Saya tidak sengaja," ujar Amber.


"Apakah katamu, … minta maaf? Oh, tidak semudah itu pelayan rendahan. Kau harus diberikan pelajaran," sarkas wanita yang memiliki rambut merah menyala yang dikenal sebagai bawahan sang pejabat menjijikkan itu.


"Maaf, nona," mohon Amber dengan wajah menyedihkan. "Wow sungguh peran yang sangat memilukan," batin Amber.


"Ck! Kau dari hasil korupsi kalian," batin Amber.


"JAWAB," hardik YUMI asisten tuan Yousef.


"Tidak, nona," balas Amber.


"Asal kau tau, kalau harga gaunku ini bisa membeli harga dirimu yang rendahan itu." Bentak YUMI dengan wajah pongah. Yang isi perkataannya penuh hinaan.


"Lihatlah, dirimu yang jelek ini. Bukankah kau wanita rendahan dan menjijikkan? Dan, … yah. kau juga hamil anak haram, aku yakin pria malang itu akan mengutuk dirinya sendiri karena menggauli wanita menjijikkan sepertimu." Perkataan sarkas YUMI kali ini menyulut emosi Amber yang sejak tadi ia tahan.


Perkataan yang Yumi, mengingatnya pada pria masa lalunya, yang menyedihkan dan yang paling membuat Amber murka hinaan buat sang baby nya. Ia tidak akan membiarkan satu orang pun, menghina anak-anaknya yang berada dalam perutnya.


Tangan Amber sudah mengepal dibawah sana. Wajahnya juga sudah berubah mengerikan dengan tatapan menusuk ke arah, Yumi yang mengernyit bingung melihat berubah wajah Amber yang mengerikan.


Amber tersenyum devil kepada Yumi yang tiba-tiba wajahnya berubah pucat saat sebuah benda dingin menempel di perutnya.


"K-kau siapa,? Tanya Yumi wajah pias dan tubuhnya yang mulai gemetar takut.


"Aku adalah kematianmu, ******," bisik Amber.


Mata Yumi membeliak dan wajahnya pun sudah pucat dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


Amber tersenyum sinis saat melihat wajah pias Yumi, ia memainkan senjata api di perut Yumi.


"Kemana, kesombonganmu, nona,!" Bisik Amber.


"Kemana, tadi kata-kata sampahmu,?" Tanya Amber lagi.


"Bukankah, tadi kau berlakon layaknya istri seorang, pejabat menjijikkan itu.?" Amber menatap tajam pada tiga manusia menjijikkan di dalam sana.

__ADS_1


Yumi melirik ke arah kamar yang terbuka itu, yang masih mempertontonkan adegan panas atasan. Ia yang ingin berteriak harus menelan lagi ucapnya, saat tiba-tiba Amber menekan pelatuk senjata api tanpa suara dan menembus ginjal Yumi.


Yumi hanya bisa melotot dengan mulut terbuka, sambil menatap Amber yang tersenyum mengerikan padanya.


Tak lama kemudian Yumi pun luruh dan terkapar di atas lantai kamar hotel tersebut dengan cairan merah segar keluar dari perutnya.


"Cih! Wanita sampah sepertimu memang seharusnya dibasmi. Dasar sampah masyarakat," cibir Amber.


"Sweety!" Panggil Ken dari seberang sana melalui benda kecil yang tersembunyi di balik telinga Amber.


"Hm,!" Gumam Amber yang merotasi pandangannya ke segala sudut kamar.


"Apa, kau lakukan, sweety." Ken terdengar frustasi di seberang sana.


"Membasmi, hama masyarakat," jawab Amber santai.


"Sweety!? Geram Ken.


"Katakan dimana benda itu,?" Tanya Amber.


"Kemana, target kita.?" Ken menyahuti pertanyaan Amber dengan pertanyaan pula.


"Ck! Cepatlah. Sebelum mereka selesai dan menyadari semuanya," ujar Amber.


"**'*. Apa kau melihat mereka, sweety.?" Ken terdengar mengumpat.


"Cepatlah, Keenan Lerian.!" Amber menekan kata-katanya.


"Baiklah, tapi ingat, jaga pandangan mu dari perbuatan mereka. Aku tidak ingin, otak dan mata anak-anakku terkontaminasi," cerotos Ken di seberang sana.


"Hm! Gumam Amber.


Ken terdengar terdiam dan hanya suara keyboard dan suara tombol terdengar.


Sepertinya Ken sedang mencari dan mengamati kamar tersebut melalui kamera canggih menyerupai seekor nyamuk yang Amber lepaskan saat menghabisi nyawa Yumi.


"Dapat! Seru Ken diseberang sana.


"Dimana,?" Tanya Amber langsung.


"Di dalam kamar dan lebih tepatnya di lemari," sahut Ken yang terlihat mengamati lingkaran merah yang ada di dalam lemari.


"Oke. Disana," sahut Ken lagi.


"Baiklah!"


"Berhati-hatilah, sweety."


"Jangan membahayakan, anak-anakku," ucap Ken dengan sendu.


"Hm!" Gumam Amber.


Setelah itu Amber berjalan dengan pelan ke arah kamar, yang masih memperlihatkan tontonan menjijikkan.


Amber mengeluarkan senjata api miliknya yang lebih besar dari yang ia gunakan untuk menghabisi Yumi tadi.


"Istrimu, akan bahagia setelah ini tuan, Yousef," cibir Amber dan mengarahkan senjatanya ke arah ranjang, di mana para manusia menjijikkan itu, asyik bercinta dan tidak menyadari kehadir Amber yang menyerigai.


"Dor"


"Dor"


"Dor"

__ADS_1


__ADS_2