
Bram terlihat keluar dari kamar mandi, dengan keadaan menyedihkan. Jika sebagian orang akan tampak segar bila keluar kamar mandi maka lain halnya dengan Bram yang begitu terlihat terpuruk dan menyedihkan.
Bram berjalan lesu ke arah sebuah foto yang berukuran besar dan juga foto-foto lainnya yang memiliki objek yang sama. Yaitu gambar seorang wanita yang begitu cantik dengan senyumnya yang manis. Bram menyentuh foto yang seukuran dengan tinggi badannya. Ia merentangkan kedua tangannya seakan-akan ia sedang memeluk erat tubuh wanitanya. Bram menciumi seluruh wajah yang ada di dalam foto tersebut dengan air mata yang tiada hentinya membasahi wajahnya yang terlihat rapuh itu.
Ia menyentuh setiap sisi wajah wanita yang didalam foto itu. Ia terkadang tersenyum dan terkekeh tersendiri saat menatap ekspresi berbeda-beda pada foto tersebut. Bram memandang lekat gambar wanitanya yang terakhir kali ia terima, setelah ia dengan terpaksa harus meninggalkan wanitanya. Ia meraih foto, Amber yang mengenakan pakaian pengantin mereka. Terlihat wajah bahagia dan juga senyum ceria kekasihnya
Bram mengecup foto yang ada di tangannya. dan setetes air mata menetes mengenai foto Amber.
"Maafkan aku, sayang. Maaf. Aku terpaksa melakukannya. Maafkan aku, yang lemah ini yang, tidak bisa mempertahankanmu, memperjuangkanmu. Aku kalah sayang. Aku kalah dengan keegoisan mereka. Maafkan aku." Bram kembali terisak sambil memeluk foto Amber yang ada di tangannya. Pria tinggi itu merosot ke lantai, ia tidak mampu menahan sakit hatinya. Jiwanya seakan bukanlah pemilik tubuh ini yang hanya seorang pengecut. Raganya bagaikan seorang robot atau boneka yang mengikuti keinginan orang-orang yang gila akan kekuasaan dan tahta. Hati Bram juga hancur, raganya juga rapuh. Kehilangan wanita yang amat ia cintai, harus dipaksa dan terpaksa meninggalkan nya sendiri dalam kehancuran dan kekecewaan.
"Maafkan aku. Maafkan aku sayang." Lirih nya dengan isakan yang begitu pilu. Bram kini bertekuk lutut di depan foto-foto wajah Amber. Bram mendongakkan wajahnya yang masih di banjir kristal bening yang begitu derasnya. Biarlah dia disebut pria payah yang menangis dan merenungi kesalahannya. Karena hanya seperti inilah Bram, akan merasa membaik. Berlutut dan menangis untuk menghilangkan rasa rindu yang, setiap malam datang padanya. Dan dengan cara inilah ia bisa menghilang, rasa bersalahnya pada wanita yang amat, … amat dicintai. Kesalahan yang menjadikan dirinya bermimpi buruk setiap malamnya. Mimpi buruk dimana wanita yang ia cintai, menangis dan menatapnya penuh kebencian. Mimpi dimana wanitanya itu membunuh dirinya.
Bram merebahkan tubuhnya diatas lantai. Ia merentangkan kedua tangannya. Pandangannya kini menerawang ke atas langit-langit ruangan rahasia miliknya. Bram merenungi kembali, dimana ia harus dipisahkan dalam keadaan terpaksa dan dibawa jauh dari wanita yang sedang menunggu, dirinya untuk mengucapkan janji setia sehidup semati. Bram memejamkan matanya, ia membuka kembali maniknya saat tangisan dan wajah khawatir Amber terlintas dalam ingatannya.
🌹 Flashback on 🌹
__ADS_1
"Ting"
Bram, yang sedang berjalan di lobby hotel menyengit saat, ponsel di tangannya bergetar dan berbunyi sejenak. Bram menghentikan langkahnya dan ia, menatap kagum pada benda pipih di tangannya. Sebuah senyum menawan terlihat di wajah rupawan Bram ketika, mendapatkan pesan gambar beserta sebuah pesan teks.
"Apa aku terlihat cantik.?" Pesan teks seberang sana yang disematkan di sebuah foto wanita yang sedang berpose dalam balutan gaun pengantin.
"Kau terlihat cantik, sayang." Balas Bram sambil melangkah keluar dan menuju parkiran.
"Really? Dengan emot wajah berbinar.
"Really! Balas Bram sambil tersenyum. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanitanya itu.
"Maaf tuan." Ujar pria tersebut sambil memunguti barang-barangnya yang berhamburan.
"Tidak apa-apa," sahut Bram dan membantu pria tersebut memunguti barang-barang nya.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap pria asing itu.
"Sama-sama." Sahut Bram tersenyum dan ia segera bangkit. Tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menusuk lehernya dari belakang. Bram menoleh dan ia mendapati seseorang menyuntikkan sesuatu padanya.
"Apa yang kalian, lakukan." Hardik Bram.
"Maafkan kami, pangeran.!" Ujar pria yang menyuntik Bram
Bram membulatkan matanya saat menyadari sesuatu. Bram yang akan membuka pintu mobilnya terhenti saat, pandangannya mulai menggelap dan detik berikutnya, Bram tak sadarkan diri.
Seorang pria dengan pakaian khusus mendekat kearah Bram yang sudah tak sadarkan diri. Ia menyeringai tipis dan memberi kode kepada bawahannya untuk membawa Bram secepatnya.
"Apa semuanya sudah siap.?" Tanya pria yang berumur 55 tahun tersebut.
"Sudah tuan."
__ADS_1
"Bagus. Sekarang cepat, kita harus segera kembali ke kerajaan.
"Siap laksanakan tuan."