Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 65


__ADS_3

Bram yang ingin mengikuti dan menyakinkan perasaannya kepada Boy, harus terhenti ketika ekor matanya menangkap sosok yang ia cari sejak tadi, sedang memasuki lift menuju lantai dasar.


Tanpa membuang waktu, Bram segera mendekati Amber dan Ken memasuki lift.


Amber sendiri berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan Bram di dalam lift.


Amber terus saja menyusutkan tubuhnya kepada Ken.


Merangkul pinggang keras Ken dan menyadarkan kepalanya di pundak pria itu.


Bram hanya bisa menahan geram nya dan juga rasa amarahnya yang kini sudah menguasai tubuhnya.


Bram hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat, sehingga buku-buku jarinya nampak terlihat jelas di balik celana pria tampan itu.


"Rentangkan tanganmu, sweety,!" Pinta Ken, yang sudah melepaskan jaketnya dan memakainya kepada Amber.


Amber memberikan senyum terbaiknya kepada Ken dan merangkul pinggang Ken dengan sangat erat.


"Terimakasih," bisik Amber sambil menyembunyikan wajahnya di dada keras Ken.


"Tidak masalah, sweety, demi kesehatanmu," jawab Ken sambil mengecup puncak kepala Amber.


Bram yang menyaksikan adegan romantis Amber dan Ken hanya bisa menahan segala sesuatu yang kini telah mencapai ubun-ubun dan juga seluruh tubuhnya.


Mata tajamnya bahkan sudah merah yang menyoroti pasangan yang sedang berpelukan di hadapannya.


Gigi pria yang kini wajahnya sudah berubah merah darah itu, saling bergesekkan.


Amber dan Ken bahkan mendengar jelas gigi Bram yang saling bergesekkan.


Amber dan Ken, sengaja tidak memperdulikan keberadaan Bram dan mengacuhkan pria dengan tubuh tinggi kekar di belakang mereka.


Amber dengan sengaja bersikap manis kepada Ken.


wanita itu ingin memperlihatkan kepada Bram, bahwa dirinya sudah memiliki seorang pria yang menyayanginya.


"Ting"


pintu lift itu pun terbuka. Ken meraih telapak tangan Amber, mengenggamnya erat dan menariknya lembut keluar dari lift.


Bram masih setia mengikuti Amber dan Ken, dengan tatapan tajamnya ia tujukan kepada genggaman tangan Ken.

__ADS_1


Bram bersembunyi di balik dinding saat melihat Ken memasuki mobil sport miliknya.


sedangkan Amber berdiri di balik pintu mobil Ken yang sedang menunggu pria itu pergi dengan terus menampilkan senyum terbaiknya, sehingga kedua lesung pipinya dapat terlihat, yang membuat wajah Amber semakin menawan.


dada Bram terus saja bergemuruh dengan cepatnya. dia tidak akan menerima semua perlakuan Amber dan Ken yang sengaja memamerkan kepadanya.


Bram menyandarkan kepalanya di balik dinding dengan kedua tangan panasnya ia masukkan ke dalam saku celana kain yang ia kenakan.


Bram dengan sabar menunggu Amber kembali masuk ke dalam ballroom hotel.


Bram terlihat mengotak-atik ponsel mahal dan mewah miliknya.


dan sebuah senyum tipis terlihat di ujung bibir pria dengan manik abu-abu itu.


entahlah apa yang sedang Bram rencanakan. sehingga wajahnya yang tadinya terlihat panas kini tersenyum penuh arti.


Bram mengintip Amber dan Ken yang masih berbincang-bincang dengan sesekali Ken mengecupi jemari Amber.


Bram hanya bisa tersenyum miris melihat kedekatan Ken dan Amber yang terlihat begitu romantis.


"Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi, sayang," gumam Bram.


setelah itu ia pun pergi meninggalkan ke dua pasangan yang berpura-pura menjadi sepasang kekasih.


setelah itu Bram pun memutuskan panggilannya dan berjalan entah ke arah mana.


*


*


*


sementara di dalam ballroom.


Camelia dan para tuan putri lainnya sedang sibuk mencari keberadaan Amber, yang menghilang entah kemana.


Camelia terlihat mendegus kesal, karena Amber menghilangkan secara tiba-tiba.


bagaimana rencana mereka untuk membuat Amber malu, kalau sang tersangka tidak terlihat.


padahal sang pelaku sejak tadi menunggu di dalam sebuah kamar hotel yang terbilang cukup mewah.

__ADS_1


"Apa, kalian menemukannya,?" Camelia bertanya kepada salah satu tuan putri yang terlihat paling mencolok.


"Sudah," jawabnya.


"Dimana,?" Camelia bertanya dengan wajah penasaran.


"Itu," ujar tuan putri tersebut sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu masuk ballroom.


Camelia terlihat tersenyum puas, ia lalu memberikan kode kepada sepupu suaminya, untuk menjalankan rencana mereka.


Camelia meriah gelas yang berisikan minuman merah yang di serahkan oleh putri Liza.


Camelia memasukkan sesuatu kedalam minuman itu.


putri Camelia menggoyang gelas yang berisi minuman keras yang sudah di beri sebuah serbuk putih di dalamnya dan memandangi gelas yang ada di tangannya dengan tatapan lekat sembari menyerigai licik.


"Aku yakin, wanita murahan itu akan kehilangan harga dirinya setelah ini," ujar Camelia dengan tersenyum licik yang di ikuti para tuan putri lainnya.


"Sekarang, waktunya berpesta girls," heboh putri Camelia dengan wajah terlihat tersenyum puas.


Sedangkan Amber sibuk mencari keberadaan anak kembarnya.


Amber menatap setiap tempat dan seisi ballroom hotel tersebut, tapi nihil dirinya belum juga menemukan keberadaan si kembar.


*


*


*


"Dasar anak kecil kampungan," hardik seorang wanita dewasa yang sedang memarahi seorang anak laki-laki yang sedang tertunduk. dan di sampingnya seorang gadis kecil menatap wanita dewasa itu dengan tatapan tajam.


"Apa kau tau, pakaian siapa yang kau kotori,?" pekik wanita itu lagi dengan nada tinggi.


"Adikku, tidak sengaja, bibi," ujar anak gadis itu yang berusaha membela sang adik.


"hey!! siapa yang menyuruhmu bicara," bentak wanita itu dengan raut wajah murka.


"Kakak, aku takut," lirih Bryan sambil menggenggam tangan mungil sang kakak.


"tenanglah, Bryan, kakak ada di sini," sahut Bryana berusaha menenangkan sang adik.

__ADS_1


"Maafkan, adik saya, nyonya," ucap Bryana dengan sopan.


__ADS_2