
Di tempat lain.
Seorang gadis cantik terlihat sedang berjalan di jalanan sepi dengan wajah sedih dan sebab.
Ia baru saja meninggal villa sahabat dengan hati yang terluka dan kecewa.
Gadis itu yang sedang liburan akhir pekan yang indah bersama kekasihnya dan juga sahabat-sahabatnya di villa sang kekasih yang baru beberapa hari belakangan ini merajuk kasih.
Namun kesenangan mereka di nodai dengan berselingkuh kekasihnya dengan salah satu sahabat terbaiknya.
Gadis itu menyaksikan sendiri kekasihnya dan sahabatnya sedang bercinta di kamar mandi villa.
Dengan perasaan hati yang hancur dan terluka, gadis itu akhirnya meninggal villa kekasihnya, tanpa memikirkan keadaan.
Setelah berlari jauh dari kawasan villa mewah pria brengsek itu, ia baru sadar, kalau dia berada jauh dari kota.
Ia berjalan di jalan yang dikelilingi pohon-pohon dan juga tebing.
Tanpa rasa takut sedikitpun, gadis mungil itu terus melanjutkan langkahnya.
Ia berharap ada seseorang yang berbaik hati memberikannya tumpangan.
"Dasar, pria brengsek, murahan!" Teriak gadis itu sambil menendang jalan.
"Aku, membencimu, sialan!" Teriaknya lagi sambil berhenti berjalan.
Ia membungkuk badannya dan memegang kedua lututnya.
Keringat tampak berjatuhan dari wajahnya yang imut dan menetes ke atas jalanan aspal.
"Dasar, kalian pengkhianat!" Pekiknya sambil menengadah kepalanya ke atas.
"Aku membencimu Jacob!"
"Aku, membencimu, Bella!"
Gadis itu terus saja melampiaskan amarahnya, sambil berteriak kencang di pinggiran tebing.
"Apakah, sesakit ini patah hati? Haruskah aku melompat ke bawah sana? Agar rasa sakit ini menghilang? Oh Tuhan maafkan aku yang sedang terluka ini." Gadis itu meracau dengan nada dramatis yang di buat-buat. Ia bagaikan seorang artis yang melakukan peran bunuh diri.
"Selamat tinggal, semuanya dan selamat datang di surga," Lirihnya dengan wajah sedih sambil memejamkan mata.
Gadis itu membuka matanya sebelah dan melirik kebawah.
__ADS_1
"Deg" tiba-tiba jantung nya berdebar kencang, kakinya bahkan sudah gemetar.
Gadis mungil itu kembali memundurkan tubuhnya dan menjauh dari tebing.
"Maafkan aku Tuhan, aku tidak jadi bunuh diri. Aku merasa masih memiliki hutang dosa yang begitu banyak," monolog gadis itu sendiri sambil memandangi ke atas.
"Siapa juga mau mati, karena pria brengsek, murahan itu," cibirnya dengan dirinya sendiri.
"Oh Tuhan, turunkan lah, aku seorang bidadari, eh salah. Bukankah bidadari seorang wanita?" Monolognya lagi sambil mengedikkan tubuhnya.
"Bagaimanapun kecewanya diri ini karena putus cinta, aku tetap akan memilih pisang karena katanya hanya pisanglah yang membuat kita melayang," gumamnya sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
"Tunggu. Pisang apakah itu?" Dengan konyolnya gadis tersebut bertanya kepada dirinya sendiri.
"Maka tanyakan kepada rumput yang bergoyang, bukan di ranjang yang bergoyang," sambungnya lagi dan ia pun terkekeh.
"Dasar konyol!" Umpatnya pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya.
"Oh Tuhan, semoga ada pangeran bergajah putih lewat," doa nya dalam hati.
Dengan langkah lunglai, gadis itu kembali meneruskan langkahnya sambil bertelanjang kaki.
"Dasar, Kitty bodoh. Karena melihat pemandangan enak-enak, kau melupakan sepatumu," gerutunya.
"Aku lelah, aku capek, aku haus, lapar dan aku mau buang an, – belum selesai ucapan gadis imut itu, sebuah ledakan gas memabukkan keluar dari arah belakang.
"Kebiasaan yang mengherankan," cibirnya kembali pada dirinya sendiri.
"NENEK AKU LAPAR!" Teriak Kitty.
Ia lantas menghentikan langkahnya, saat sudah lelah dan kakinya pun terasa tebal.
Kitty menepi di sebuah pohon besar dan duduk di sana dengan kaki ia rentangkan kedepan.
Kitty mendongak ke atas melihat siapa tahu pohon yang ia singgahi terdapat buah.
Kitty kembali melihat ke kiri dan ke kanan. Siapa tahu ada mobil yang lewat dan memberikannya tumpangan.
Kitty menyipitkan kelopak mata lebarnya saat iris hijaunya melihat lampu bergerak dari kejauhan.
Kitty meletakkan kedua telapak tangannya di mata dia membuat seakan-akan tangannya itu adalah teropong.
"Terimakasih Tuhan. Kau sudah mengabulkan doa hamba mu yang, cantik dan imut ini," selorohnya dengan wajah senang.
__ADS_1
Mobil dari arah perlawanan itu melaju sangat kencang.
Kitty yang ingin berdiri, harus terhenti saat tiba-tiba kakinya terasa sakit dan kaku.
"Akhh, sakit!" Ringisnya.
Matanya pun tidak hentinya menatap pada mobil yang tadi. Hidung mungil Kitty mengkerut dan kening berlipat, menandakan bingung, saat mobil hitam yang dilihatnya tadi berhenti tidak jauh darinya.
Kitty yang merasa aneh, pun bersembunyi di balik semak-semak.
Ia kembali menajamkan matanya ketika, beberapa pria bertubuh besar turun dari mobil dan berjalan ke arah bagasi mobil mereka.
Kitty pun dengan rasa penasarannya yang menggebu-gebu, maju beberapa langkah ke dekat mobil tersebut.
Ia menjadikan ranting semak-semak untuk menyembunyikan dirinya.
Mata lebar yang indah milik gadis itu, melebar, membola, membeliak, saat melihat seorang wanita tua diseret keluar dan dilemparkan ke tebing.
Kitty hanya bisa menggigit lidah nya agar tidak berteriak dan membekap mulutnya sendiri.
Setelah mobil itu menjauh, Kitty pun dengan segera menyingkirkan ranting semak-semak yang ia pegang dan berlari ke arah tebing.
Mata berkilau Kitty terbelalak, saat mendapati, sang wanita tua itu, masih bergelantung di ranting pohon kecil yang ada di pinggiran tebing.
"T — tolong!" Lirih wanita tua itu sambil memandangi wajah terkejut Kitty.
"T — tolong a — aku, nak!" Ucap wanita itu terbata.
Kitty terhenyak dari rasa terkejutnya, ia pun segera meraih telapak tangan wanita itu dan berusaha menariknya ke atas.
"Bertahanlah, nyonya. Cepat, anda pasti bisa!"
"Ayo, nyonya."
Gadis lemah itu berusaha sekuat tenaga menolong sang wanita tua yang dalam keadaan terancam.
Kitty berusaha menarik wanita itu dengan isakan yang sejak tadi terdengar.
Ia merasa Dejavu dengan kejadian ini, ia merasa pernah berada di posisi wanita tersebut.
"Ayo, nyonya sedikit lagi,"
__ADS_1