
"Apa kau yakin kalau pangeran mahkota yang menjadi target kita, Ken.?" Amber bertanya kepada Ken yang sedang melakukan panggilan video call.
"Aku tidak pernah salah, sweety,!" Degus Ken dengan tatapan mendelik ke arah Amber.
"Kau, terlihat tampan," puji Amber sambil tertawa.
"Aku, memang selalu tampan, sweety," jawab Ken dengan pongah.
"Cih! Amber berdecih dan tersenyum manis kepada Ken yang menatap Amber dengan tatapan rindu.
"Aku, merindukan, sweety," lirih Ken.
Amber hanya tersenyum lembut menyahuti ucapan Ken.
"Kau, sedang dimana,?" Tanyanya yang menghindari suasana yang paling Amber benci.
"Dikamar," cebik Ken.
"Kau, sedang berkencan,?"
"Jaga ucapanmu, sweety,!"
"Why,?"
"Karena aku hanya ingin berkencan denganmu,"
"Ck! Berhentilah merayuku, karena itu akan sia-sia,"
"Tidak, ada kata sia-sia untuk seorang pejuang cinta, seperti ku,"
"Cih!
Keduanya terdiam sesaat dan saling menatap dalam diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Ken menatap dalam manik coklat Amber dengan lekat. Ia seakan mengerti kalau wanita yang dicintai dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ada apa,?" Tanya Ken dengan tatapan khawatir.
Amber terdiam dengan senyum tipis tercetak di wajahnya.
"Tidak! Gumam Amber.
"Kau, menyembunyikan sesuatu padaku, Amber,!" Geram Ken.
"Kau, selalu saja memaksa," cibir Amber dan wanita itu terlihat tersenyum miris.
"Bagaimana menurutmu, kalau aku membunuh ayah biologis si kembar," tanyanya tiba-tiba yang membuat Ken mengernyit bingung.
"Dia ada disini dan dia adalah target misi kita. Jadi katakan apa yang harus lakukan,!" Tanyanya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Wajah Ken terlihat terkejut dan iapun memandangi wajah Amber yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Apa kau ragu melakukan misi ini? Kalau kau tidak yakin Mak kita batalkan atau biar anggota lain yang melaksanakannya," ujar Ken lembut, meskipun perasaannya menjadi was-was.
"Aku, akan kesana menjemputmu," ujar Ken.
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa, aku hanya memikirkan si kembar. Bagaimana perasaannya kalau mereka tahu, ayah kandung mereka mati di tanganku," pungkas Amber dengan air mata yang mulai menetes.
"Jangan, menangis, sweety. Kau membuatku khawatir," ucap, Ken dengan dengusan frustasi.
"Bagaimana menurutmu, Ken! Apa si kembar akan membenciku,?"
"Sweety."
"Aku selalu menahannya dan ini sungguh sakit sekali," lirih Amber sambil menepuk dadanya.
"Apa kau tau, kalau pria brengsek itu sudah mengkhianati ku dan dia menikahi wanita lain, di saat hari pernikahan kami. dan yang lebih mencengangkan nya lagi, dia sudah memiliki anak," ungkap Amber dengan suara yang tertahan.
"Sweety," gumam Ken menyentuh layar laptopnya seakan ia menyentuh wajah Amber.
__ADS_1
"Sakit, Ken, … disini terasa ngilu dan perih," ujar Amber sambil menunjuk dadanya.
"Stop. Sweety, besok aku akan menjemputmu," sela Ken.
"Tidak, aku akan menyelesaikan misi ini. Setelah itu aku akan pergi jauh bersama si kembar," ucap Amber.
"Apa, kau yakin,?"
"Hm! Gumam Amber sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Jangan melakukannya kalau kau ragu, sweety,!"
"Tidak. Aku tidak akan pernah ragu,"
"Baiklah. Aku akan selalu mendukungmu."
"Terimakasih,"
"Hm! Aku mencintaimu," bisik Ken.
Amber hanya mengangguk setiap kali Ken menyatakan cinta kepadanya.
Panggilan video call mereka telah berakhir.
Amber meletakkan laptop miliknya di atas meja.
Ia berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuh rapuh dan lelahnya.
Ia harus mengisi tenaganya untuk esok hari, yang sudah pasti dirinya akan menyaksikan hal-hal yang akan membuatnya sakit da terluka.
"Keluarga kecil yang sangat bahagia," lirihnya dengan tersenyum getir.
Lama kelamaan mata Amber terasa berat dan lengket.
Amber pun menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya yang kemana-mana.
*
*
*
Seorang pria tinggi dengan tubuh tegap berjalan memasuki kerajaan ratu Rosella.
Ia terus berjalan dengan wajah datar. Semua para pelayan istana dan juga para pengawal menundukkan kepala mereka di saat sang pria tampan bang fotocopy para dewa Yunani.
"Dimana ibu ratu,?" Tanyanya dengan intonasi nada suara dingin nan mengerikan.
"Yang mulia sejak tadi menunggu anda pangeran," sahut pengawal pribadi sang ibu ratu.
"Hm! Pria itu terdengar berdehem.
Pengawal pribadi sang ibu ratu dengan segera membukakan pintu kokoh di depannya dan mempersilakan pangeran Carlos memasuki ruangan rahasia sang ibu ratu.
"Kau, sudah tiba, son,?" seru ratu Rosella ketika mendapati sang putra satu-satunya memasuki ruangan rahasia miliknya.
"Kau berharap aku tidak datang, mom," balas Carlos dengan tatapan sinis ke arah sang ratu alias ibu kandungnya sendiri.
"Hm! aku harap kau tidak lupa keadaan kita, son.!" ucap ratu Rosella dengan nada penuh tekanan.
"Tidak! sahut Carlos singkat sambil mendudukkan dirinya di atas sofa mewah di dalam ruangan sang ratu.
"Carlos!! geram ratu Rosella.
"Aku tidak perduli dengan urusanmu, mom. aku hanya ingin berada di dekat wanitaku," ujar Carlos dingin.
"tapi, sayang dia tidak disini," sinis ratu Rosella.
Carlos menyoroti sang ibu ratu dengan tajam.
__ADS_1
"Apa, maksud mu, mom,!"
"Dia, berada di kediaman anak haram itu,"
"Kalau begitu, aku meminta mereka tinggal di sini."
"Tidak akan," tolak ratu Rosella.
"Baiklah. aku akan kesana dan menjemputnya," ujar Carlos enteng.
"Jangan gegabah, Carlos,!"
"Maka, lakukanlah perintahku, mom," pinta Carlos.
"Tidak! tolak ratu Rosella.
"oke. jangan salahkan aku kalau istana kesayangan mu ini, aku ratakan dengan tanah," sarkas Carlos.
"Kau, mengancam mommy, nak."
"anggap saja seperti itu," sinis Carlos.
"Aku pergi dan besok, aku harus melihat wanita ku disini." titah Carlos.
ratu Rosella menatap punggung lebar putra satu-satunya itu dengan senduh.
ia tidak bisa mengabaikan keinginan putranya yang begitu ia sayangi itu.
ratu Rosella mengangguk ke arah pengawal dan juga pelayan setianya.
pengawal itupun menjalankan perintah yang mulia tuan ratu.
dia sudah paham dengan perintah ratu Rosella.
"Kau, terlalu terobsesi padanya, son." gumam Rosella.
"Aku, tidak akan pernah setuju kau dengan wanita jelata menjijikan itu." gumam ratu Rosella dengan tatapan mencomooh.
*
*
*
"Clek" sebuah pintu kamar sederhana terbuka dari luar. dan menampakkan sesosok pria tinggi, tegap memasuki kamar Sederhana itu.
pria itu tersenyum cerah saat manik abu-abunya menatap suluit seorang wanita yang sedang meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal menutupi separuh tubuhnya.
pria itu berjalan berlahan ke arah Amber yang sudah nyenyak dalam tidurnya.
"sayang,!" bisik Bram sesaat mendudukkan dirinya di samping Amber.
"kau terlihat semakin menggemaskan, sayang," bisik Bram dengan nada suara pelan.
dibelainya wajah mulus Amber dengan lembut.
merapikan anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah imut Amber.
Bram tersenyum getir, ketika mendapatkan jejak air mata di ekor manik Amber.
Bram memberanikan dirinya memberikan kecupan di kening Amber dan menjauhkan wajahnya dari atas wajah Amber.
Bram yang memaksa kepala pelayan istananya untuk memberikan kunci cadangan kamar Amber.
Bram bahkan mengancam keluarga sang pelayan, dengan ancam menghabisi seluruh keluarganya.
dengan terpaksa sang pelayan memberi kunci cadangan kamar Amber.
Disinilah sekarang Bram. berjaga sambil memandangi wajah cantik wanitanya.
__ADS_1
Bram bahkan tersenyum sendiri di saat Amber membuka mulutnya di saat tidur dan itu sukses membuat Bram menelan ludahnya sendiri.
Bram mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas panjang dan menghempaskannya secara kasar pula.