
,"Dear!" Suara lembut mendayu menyapa indera pendengaran Bram.
Bram yang sedang bersantai di sofa kamar mereka sambil menyesap sebuah minuman anggur merah, guna menghangatkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah asal suara lembut tersebut.
"Byur" seketika minuman yang berada di mulut Bram, menyembur keluar saat, indera penglihatannya disajikan oleh pemandangan yang begitu menyilaukan matanya dan juga mata batinnya.
Mulut Bram menganga lebar dengan kedua matanya membola, antara kagum dan berbinar menjadi satu.
"Glek" Bram menelan ludahnya secara kasar untuk membasahi tengkoraknya yang tiba-tiba terasa kering dan dadanya tiba-tiba bergemuruh.
Bagaimana tidak, pemandangan di hadapannya begitu
menggoda, membuat jiwa liarnya memberontak.
"Dear!" Seru Amber dengan nada menggoda.
Ia pun berjalan perlahan dengan gaya yang membuat sang suami, uring-uringan.
Amber yang mengenakan gaun malam yang begitu seksi.
Memamerkan lekuk tubuhnya yang indah kepada sang suami.
Tubuh tinggi semampai dengan body bagaikan seorang model papan atas.
Amber memperlihatkan kakinya yang panjang hingga pahanya yang mulus dan juga gundukannya yang berada di bagian tertentu yang begitu menggoda iman dan imun sang suami.
Rambut Amber sengaja di gulung ke atas, yang mana memperlihatkan lehernya yang panjang nan seksi.
"Dear!" Panggilannya lagi yang kini berdiri di hadapan sang suami.
"Wow. Sayang, kau terlihat begitu hot," lirih Bram dengan mata yang terus memandangi sang istri.
"Benarkah?" Tanya Amber yang kini duduk mengangkang di pangkuan suaminya.
"Hm!" Gumam Bram yang masih terlihat, antara terkejut dan bahagia.
"Apa aku terlihat cantik dan seksi, honey!" Bisik Amber sambil membelai dada polos suaminya.
"Sangat, sangat, sangat, h.o.t, " sahut Bram dengan wajah berbinar.
"Benarkah, honey?" Bisik Amber di depan wajah suaminya.
__ADS_1
Amber bahkan mengikis jarak diantara wajah mereka, sehingga Amber bisa merasakan nafas memburu suaminya yang hangat.
Amber menggoda bibir suaminya dengan mengecup kecil tanpa ada niat untuk menautkan bibir mereka.
"Terus, kenapa kau memuji wanita lain di depanku, honey," bisik Amber lagi, kali ini Amber menggigit kecil dagu suaminya sampai ke leher jenjang sang suami.
"A – aku t – tidak s – sengaja," gugup Bram dengan diiringi erangan tertahan.
"Tapi aku tidak menyukainya," balas Amber yang kini menyusuri dada bidang suaminya.
"Baby!" Erang Bram ketika Amber bermain-main di dadanya.
"Jangan bergerak ini hukuman untukmu, honey," gumamnya pelan.
Amber kembali duduk di pangkuan suaminya dan kembali menyesap leher Bram, dengan kedua tangan Amber meraih tangan sang suami, membawanya ke atas kepala suaminya dan mengikatnya dengan sehelai pita berwarna hitam.
"A – apa yang kau lakukan, baby," lirih Bram yang wajahnya sudah dikuasai oleh gelora hasraat.
"Menghukum mu," jawab Amber sambil mengecup lembut bibir seksi suaminya yang terbuka.
"Hukuman yang sangat menyenangkan," batin Bram.
Kini pria itu sudah dikuasai oleh sifat liarnya yang siap bertarung dengan sang istri di atas ranjang.
"Kalau hukumannya seperti ini, aku dengan senang hati melakukan kesalahan," batin Bram lagi dengan tersenyum senang.
"Baby!" Erang Bram ketika Amber menari-nari indah di atas benda yang kini mengembang sempurna dan mengeras, namun tak sekeras tiang kehidupan.
"Dia bangun, honey," bisik Amber di tengah cumbuan bibir mereka.
"Baby!" Kali ini Bram terdengar mendesaah dan mendengus kasar.
"Jangan menyiksaku, baby," lirih Bram dengan wajah yang merah merona.
"Aku suka menyiksamu seperti ini, honey," sahut Amber yang bergerak liar diatas benda keramat sakti Bram.
"SH*it! Baby," rengek Bram setengah mendesaah.
Bram yang ingin membalikkan keadaan harus kecewa, saat sang istri dengan sengaja mengunci pergerakannya.
"Baby, please!" Mohon Bram yang mulai gusar oleh siksaan sang istri.
__ADS_1
"Ada apa, dear? Nikmatilah," ucap Amber yang semakin liar bergerak di atas benda kesayangan suaminya.
"Ini sungguh, menyiksa ku, baby," rengek Bram dan diikuti erangaan dan dengusan berat.
"Baby!" Pekik Bram saat sesuatu di dalam tubuhnya memberontak ingin keluar.
"Apa dia ingin tiba, honey?" Tanya Amber nakal.
"Please, baby hentikan," desaah Bram.
"Baiklah!" Sahut Amber tiba-tiba berhenti, di saat sesuatu yang ingin sejak tadi memberontak ingin keluar.
Membuat Bram melongo dengan wajah tidak dapat di artikan.
"SAYANG!" Pekik Bram frustasi.
Tanpa merasa bersalah, Amber meninggalkan sang suami yang terdiam membeku di tempatnya, dengan deru nafas yang memburu.
Wajah yang merah karena hasraatnya yang tak tersalurkan.
"Ini hukuman, untukmu, dear!" Teriak Amber.
"BABY!" Pekik Bram dengan degusan kasar.
"Awas, kau sayang,"
"Aku, akan membalasmu," erang Bram.
"Sial. Oh God, ini sakit menyakitkan." Keluh Bram.
Ia memandangi benda keramat ajaibnya dengan sendu.
Benda itu sendiri masih berdiri tegak yang seakan meminta keadilan.
Masih mengeras dan menjulang tinggi, bagaikan tiang listrik yang tetap berdiri tegak walaupun diterpa angin badai.
"Oh benda kesayangan ku yang malang."
"Haruskah kita menyelesaikannya di kamar mandi?"
"Baiklah, daripada kau membuat ku tersiksa, jadi dengan terpaksa aku menenangkan mu di sana," gumam Bram sendu.
__ADS_1
"Sayang, kau sungguh ter.la.lu."