
"Mommy. Apa benar dia, mommy?! Bram yang begitu terharu dan tidak percaya kalau dirinya masih bisa bertemu dengan sang mommy.
"Terus, menurut kamu dia siapa?" Timpal Boy.
"Daddy!" Tanpa memperdulikan celetukan Boy, Bram beralih bertanya kepada sang daddy.
"Yeah!" Jawab sang daddy yang masih memegang telapak tangan sang istri.
Dengan mata berkaca-kaca, Bram memeluk tubuh ringkih dan lemah yang masih berbaring di ranjang pasien.
"Mommy, bangunlah. Ini aku, anakmu, Bram." Lirih Bram dengan suara tercekat dengan tangisan yang ia tahan.
"Mommy. Bangunlah, lihatlah aku, anakmu yang paling tampan," ucap Bram yang masih memeluk sang mommy.
"Cih tampan. Kalau bodoh baru, aku percaya," sinis Boy pelan.
"Mommy, bangun!" Pekik Bram dengan tidak sabarannya.
"Pletak! Tiba-tiba Carlos menepuk belakang kepala sang adik.
"Apa yang kau lakukan!" Hardik Bram yang tidak menerima kepalanya di tepuk.
"Berisik!" Sahut Carlos.
"Sayang sakit," adunya kepada sang istri.
Amber dengan Sabar melayani sifat manja dan konyol suaminya.
"Cih, dasar pria lemah dan manja," cibir Boy, yang mana ia pun mendekati Ruby dan duduk disebelah sambil memeluk tubuh istrinya dari samping.
"Ck! Sama saja!" Gumam Carlos yang pandangannya kini beralih ke sofa yang berada di dekat pintu balkon.
"Kenapa dia di sini?" Tanya Carlos tiba-tiba.
Semua orang menatap kepada Carlos yang tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh pria itu.
"Apa?" Timpal Bram.
Sedangkan Boy masih enteng menyembunyikan wajahnya di dada istrinya, daddy Gie itu tahu siapa yang di maksud sang sahabat.
Tanpa bersuara Carlos menatap tajam Kitty yang tertidur di sofa dengan paha bibi lili menjadi bantalnya.
"Dia yang menemukan mommy, kalian," sahut king Philips.
"Benarkah?! Sentak Bram dan Amber.
"Hum. Dia gadis yang pemberani, yang sudah menyelamatkan mommy kalian dari maut," sambungnya lagi.
"Really?" Kembali sepasang suami-istri itu bertanya dengan wajah tidak yakin.
__ADS_1
Amber menelisik wajah dan tubuh Kitty, yang terlihat bagaikan anak sekolah tingkat pertama.
Tubuh mungil nan berisi pada bagian belakang dan wajah yang terlihat imut seperti boneka hidup.
Amber menggelengkan kepalanya seakan masih meragukan kekuatan gadis mungil itu.
Bram pun ikut memindai ke seluruh wajah dan tubuh Kitty.
"Gadis mungil dan cantik!" Seru Bram tanpa sadar.
Dan tiba-tiba terdengar, "bugh" Carlos melemparkan sang adik dengan ponsel mahalnya, yang mendarat cantik di hidung mancung Bram.
"SH*it. Dasar kakak, sialan!" Pekik Bram.
"Sayang, sakit," rengek Bram.
Namun kali ini Amber tidak menghiraukan rengekan Bram. Ia merasa tidak suka suaminya memuji wanita lain di depan matanya sendiri.
"Sayang!" Seru Bram lagi.
"Sayang," rengek Bram lagi.
Amber yang marah pun berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar pasien.
"Sayang! Kau mau kemana?" Pekik Bram sambil mengejar sang istri.
King Philips hanya bisa menghela nafas panjang dan menatap sang istri.
"Anak-anak kita sudah dewasa, sayang," gumamnya.
"Katakan, kenapa dia bisa berada di sana?" Carlos yang masih penasaran dengan Kitty dan sang mommy.
"Dia sedang melakukan libur akhir pekan, tuan," sahut bibi lili.
"Dengan siapa?" Tanyanya lagi dengan dada yang terasa panas.
"Bersama teman-temannya," jawab bibi lili.
"Pria atau wanita?" Cecar Carlos dengan wajah yang sulit di artikan.
Bibi lili hanya bisa menganga dan bingung dengan pertanyaan sang pangeran mahkota.
"Kau, seperti seorang ayah yang posesif!" Timpal Boy.
"Sialan!"
"Kenapa? Apa kau mau tahu? Dengan siapa Kitty kesana?" Ucap Boy dengan alis yang naik-turun.
Carlos hanya bisa memicingkan mata tajamnya ke arah sang sahabat.
__ADS_1
"Hm" gumam Carlos pada akhirnya.
"Dia kesana dengan kekasihnya." Bisik Boy.
"Mantan kekasih, tuan!"
Tiba-tiba suara serak dan menggemaskan terdengar menyapa Indra pendengaran Carlos.
Carlos hanya bisa mengetatkan rahangnya, saat tampilan Kitty begitu terlihat imut dan sangat menggemaskan.
Dengan rambut yang acak-acakan, wajah sembab dan mata yang masih terlihat berat.
"Nenek, aku mau pulang," rengek Kitty bagaikan anak kecil.
"JOJO!" Panggil Boy.
"Saya tuan!"
"Antarkan, hello Kitty dan bibi lili, pulang!" Perintah Boy.
"Baik tuan," jawab Jojo semangat.
"Kenapa, kau terlihat begitu senang?"
"T – tidak tuan!"
"Tidak apa-apa, kalau kau menyukainya," ujar Boy sambil melirik Carlos yang raut wajah terlihat panas.
"Tuan, ayo kita pulang!" Ajak Kitty dengan tidak sabarnya.
"Ayo," sahut Jojo.
Kitty pun berusaha berdiri, tapi rasa sakit dan ngilu pada telapak kaki nya begitu menyakitkan.
"Akh" ringis Kitty.
"Ada apa, nak?" Tanya bibi lili khawatir.
"Sakit nek," cicit Kitty.
"Jojo. Gendong dia!" Perintah Boy.
Dengan senang hati Jojo pun mendekati Kitty dan berjongkok di depan Kitty.
"Ayo!" Ucap Jojo, pria tampan yang penuh wibawa apalagi, kacamata bening yang membingkai kelopak matanya dan di rahangnya di hiasi rambut-rambut halus yang menambah kesan cool dan maskulin pada sosok Jojo.
"BERHENTI! JANGAN COBA-COBA MENYENTUHNYA!" Pekik Carlos.
__ADS_1