Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 115


__ADS_3

Amber menghela nafas setelah mematikan panggilan telepon dari anak buahnya.


Amber menerima sebuah informasi, mengenai ratu Rosella yang sedang menghabiskan waktu di salah satu penthouse milik pribadinya sendiri.


Amber menatap kedua pria tampan di depannya, yang juga menatapnya  penuh tanda tanya.


Katakan lah, kedua kakak beradik itu begitu penasaran dengan informasi yang didapatkan oleh anak buah Amber.


"Apa katanya, honey!" Seru Carlos.


"Bugh" 


Bram menendang tulang kering Carlos, saat mendengar panggilan manis untuk sang istri.


"Hey, kakak laknat. Jangan memanggil istriku seperti itu," protes Bram.


"Why?" Tanya Carlos tidak acuh. Ia bahkan memberikan kedipan nakal kepada Amber.


"Dia istriku, kak! Itu berarti dia adik iparmu, jangan coba-coba menjadi peminor dalam hubungan kami." Bram begitu menggebu memberi peringatan kepada Carlos.


"Katanya istri orang itu lebih menggoda, dan itu benar, aku bisa melihat sendiri, kalau dia semakin seksi dan menggoda," ujar Carlos dengan tersenyum mesum.


"Brengsek! Dasar kakak murahan, pengganggu," pekik Bram.


Pria itu lalu menyerang Carlos dengan mengunci leher sang kakak dan menepuk kuat kepalanya.


"Rasakan ini, sialan," amuk Bram.


Carlos hanya bisa tertawa puas dengan kelakuan sang adik yah kekanak-kanakan. 


Pria itu juga puas sudah berhasil mengusili adiknya dan membuatnya kesal.


Amber hanya bisa menghela nafas dan memutar bola matanya malas, melihat kelakuan kedua kakak beradik di hadapannya seperti anak kecil.


"Berhentilah!" Pinta Amber dingin.


Carlos dan Bram pun menghentikan kelakuan mereka, dan kembali duduk dengan tenang di tempat semula.

__ADS_1


"Katakan, sayang!" Seru Bram lembut sambil menatap sinis sang kakak.


"Dia berada di penthouse miliknya yang berada di luar kota. Wanita itu, menjeguk mayat putranya yang sedang dalam proses menjadi mummi," pungkas Amber.


"Kasihan sekali, karena perbuatannya sendiri dia harus kehilangan putra satu-satunya," timpal Bram.


"Apa, mereka menemukan informasi tentang, mommy?" Sela Carlos.


"Tidak. Wanita itu hanya sendiri disana, entah kemana pengawal setianya," sahut Amber santai.


"Apa menurut kalian, mommy, berada di tangan wanita itu?" Bram tiba-tiba memberikan tanggapan yang menurutnya ganjal.


"Apa maksud kamu?" Tanya Carlos dengan kening mengernyit heran.


"Entahlah. Tapi, waktu dia memaksaku menikahi – " Bram menjeda ucapnya sambil melirik sang istri.


"Lanjutkan lah!" Suruh Amber cuek.


"M – menikahi Camelia," Bram berujar dengan terbata dan menatap raut wajah istrinya yang biasa saja.


"Wanita itu memberikanku sebuah foto, yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit," sambung Bram.


"Hm. Ratu Rosella, mengatakan dia adalah, mommy," jawab Bram.


"Apa kau yakin wanita itu adalah, mommy?" Tanya Carlos dengan tatapan tajam.


"Aku, tidak ingat wajah, mommy. Aku juga kehilangan semua foto-foto, beliau," sahut Bram sendu.


Carlos menarik nafas dan merebahkan punggung lebarnya kebelakang dengan kepala mendongak ke atas.


"Kalau benar dia adalah, mommy. Berarti mommy masih hidup," gumam Carlos.


"Kenapa, kita tidak  mencari informasi di rumah sakit," usul Amber.


"Kita, cari tahu pasca kecelakaan, 12 tahun yang Lalu," usulnya lagi.


"Hm, kau benar, kita harus memeriksa semua data pasien yang ada di rumah sakit di kota ini," sela Bram.

__ADS_1


"Baiklah, kita mulai pencarian dari sekarang." Amber dan Carlos menyetujui usulan Bram.


Ketiganya kini sedang duduk di sebuah taman yang ada di  area istana.


Sambil menikmati secangkir teh hangat dan mengatur rencana, agar riwayat ratu Rosella RIP dari dunia ini.


Mereka tidak akan takut dengan orang suruhan, ratu Rosella yang memerintahkan anak buahnya, untuk mengawasi gerak-gerik mereka bertiga, karena semua pengawal istana sudah diganti oleh, para anak buah Bram dan Carlos.


"Kita bergerak Sekarang, lebih cepat kita bergerak, maka akan lebih baik," timpal Carlos.


"Kau benar," setuju Amber, namun tidak dengan Bram yag memasang wajah masam dan kesal.


"Tidak bisakah, kau memberikan kami waktu meskipun, hanya satu jam," celutuk Bram.


"Untuk apa?"


"Untuk membuatkan mu, keponakan baru," seloroh Bram dengan alis naik-turun.


"Cih! 


"Ayo sayang," ajak Bram.


"Tidak sekarang, dear," tolak Amber.


"Kenapa?" Tanyanya dengan nada kecewa.


"Karena, kita harus menyelesaikan masalah ini dulu," ujar Amber.


"Tapi – " ucapnya terhenti ketika melihat gelengan sang istri.


Dengan menarik nafas berat dan membuangnya dengan kasar, akhirnya pria itu mengalah.


"Baiklah," katanya lesu.


"Kasihan," olok Carlos.


Bram hanya mendelikkan matanya sejenak, lalu merebahkan punggungnya di sandaran sofa.

__ADS_1


"Seharusnya, aku melakukannya sampai pagi," monolognya dalam hati.


__ADS_2