
"Pagi sayang," sapa Camelia kepada sang suami yang sedang merapikan penampilannya di depan cermin.
Bram menatap sang istri melalui cermin dengan wajah kembali datar. "Pagi," balasnya singkat.
Kening Camelia terlihat mengkerut dalam, melihat berubah sikap sang suami.
"Apa dia mengetahui perbuatanku tadi malam,?" Batin Camelia dalam hati.
"Itu tidak mungkin," gumam Camelia sambil menggeleng.
Camelia menghampiri Bram yang terlihat sedang merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja, tanpa menghiraukan keberadaan Camelia di sana. Camelia merenggut kesal dengan sikap Bram yang mengacuhkannya.
Camelia pun memeluk pinggang kokoh Bram dari belakang dan menempelkan wajahnya di sana.
"Kau ada masalah, sayang,?" Bisik Camelia di punggung kokoh Bram.
Bram tidak menyahuti pertanyaan Camelia. Ia hanya melepaskan lilitan tangan Istrinya yang berada di pinggang.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bram melangkah keluar meninggalkan Camelia yang membatu di tempatnya.
"Ada apa ini, kenapa dia kembali bersikap dingin," gumam Camelia.
Dengan segera Camelia mengejar Bram yang kini sudah berjalan jauh dari kamar.
Camelia tak menghiraukan para pelayan istana dan pengawal yang menyapa dan menunduk memberikan hormat.
Dia terus mengejar Bram yang melangkah cepat ke arah pintu istana.
Bram menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Amber yang muncul dari arah belakang.
Bram terdiam di tempatnya dengan dada berdegup kencang di saat melihat wajah cantik wanitanya. Senyum tipis terlihat di bibir Bram. Ia rasanya pria ini berlari dan menarik wanita yang amat dicintai itu masuk ke dalam pelukan hangatnya yang selalu ia lakukan dulu dan pelukan kesukaan Amber.
"Sayang," gumam Bram tanpa suara dengan mata yang berkilau rindu.
Sedangkan Amber hanya menatap pria yang tidak jauh darinya dengan dingin. Maniknya bahkan menghunus tajam ke arah pria yang memberikan luka yang begitu menyakitkan kepadanya.
Amber membuang pandangannya ke samping ketika dengan tersenyum getir, ketika Camelia yang datang tiba-tiba dari arah belakang langsung menarik Bram dan menabrak bibirnya di bibir Bram.
Amber meninggalkan tempatnya dengan perasaan yang kembali terluka. Meninggalkan pasangan suami-istri yang sedang bercumbu mesra di hadapannya.
Bram masih bergeming dengan apa yang terjadi. Ia bahkan tidak merasakan cumbuan bibir Camelia.
Bram pun menyentakkan tubuh Camelia kasar di saat ia tersadar kalau Amber berada di sini.
Bram menoleh kebelakang di mana ia melihat Amber berdiri di sana dengan tatapan terluka. Bram bahkan tidak memperdulikan pekikan sang istri yang terjatuh ke lantai.
Bram meninggalkan Camelia yang merengek meminta untuk membantunya berdiri.
Dada Bram berdebar kencang memikirkan Amber melihat dirinya berciuman dengan Camelia.
"Sayang," gumamnya dengan langkah cepat ke arah ruangan makan.
__ADS_1
Camelia mengeraskan tulang wajahnya dengan gigi bergesekkan melihat sikap Bram yang kembali menolaknya.
Dengan wajah merah darah Camelia bangkit dengan dibantu pelayan setianya dan melanjutkan langkahnya untuk menyusul Bram di ruangan makan.
*
*
*
"Selamat pagi, daddy," sapa seorang anak laki-laki yang berpenampilan rapi berlari ke arah Bram dan memeluk kaki pria yang dipanggil daddy itu.
Bram menghentikan langkahnya saat melihat Robert berlari menghampirinya. Ia menatap Amber yang bergeming di sana yang tidak jauh darinya dengan memunggunginya.
"Selamat pagi, son," balas Bram sambil mengusap kepala Robert dengan kasih sayang.
Bocah tampan itupun merentangkan tangannya minta digendong.
Bram tersenyum lantas mengangkat tubuh Robert ke dalam gendongannya.
Dipeluknya sayang bocah laki-laki itu dan menghadiahi kecupan di seluruh wajah bocah laki-laki yang ada di gendongannya.
"Kau akan pergi, son,?" Tanya Bram sambil menciumi pipi bocah berumur 7 tahun itu.
"Bukankah kita akan ke tempat ibu ratu, daddy,?" Tanya Robert dengan wajah bingung.
"Oh ya, kenapa daddy tidak mengetahuinya," sahut Bram sambil mengusap rambut Robert.
"Hari ini kita mendapatkan undangan makan siang, oleh ibu ratu, sayang." Camelia yang tersenyum senang dari arah belakang menimpali pertanyaan Bram.
Bram seakan lupa keberadaan Amber di sana yang sedang bersembunyi di balik pilar kokoh dengan sejuta luka dan sejuta hantaman batu besar menghimpit dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Amber meremas kuat dadanya yang begitu sesak ketika mendengar canda tawa dari keluarga bahagia pria yang membuatnya rapuh.
Sebisa mungkin Amber menahan air matanya yang kini menumpuk di kelopak matanya.
Ia harus kuat hingga tiba saatnya Amber menjalankan misi rahasia yang hanya tinggal menghitung hari.
Amber hanya perlu merencanakan cara untuk menghabisi nyawa targetnya kali ini.
Amber tidak akan memikirkan siapa-siapa lagi dan tidak akan memakai perasaan dalam menghabisi nyawa Bram kali ini. Amber sudah bertekad untuk membuat keluarga Bram hancur kalau perlu dia ingin menghabisi nyawa putri Camelia sombong itu sekaligus.
Amber mengusap kasar sudut matanya yang basah oleh lelehan air mata.
Amber menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
ia harus kuat dan harus bertahan hingga waktunya tiba. setelah itu Amber berjanji akan meninggalkan pekerjaan ini dan membawa pergi jauh ke dua buah hatinya.
Amber merapikan menampilkan dan mencoba menetralisir perasaannya yang bercampur aduk antara, sakit, rapuh, dendam dan benci.
Amber keluar dari balik pilar dan mendekati keluarga bahagia itu yang sedang saling bercengkrama di meja makan.
__ADS_1
"selamat pagi," sapa Amber dengan wajah datar seperti sebelumnya.
Bram, dan Camelia kompak menoleh ke arah suara yang menyapa meraka.
"Kau, baru bangun,?" tanya Camelia dengan sinis.
"Tidak, yang mulia. saya dari belakang," sahut Amber yang tak menghiraukan tatapan terkejut Bram.
"Cih! menjauhlah dari hadapanku," sarkas Camelia, yang sangat tidak suka dengan penampilan Amber pagi ini yang terlihat begitu cantik. padahal wanita itu hanya memakai pakaian biasa yang serba hitam.
Amber pun menunduk dan berdiri jauh dari meja makan untuk menunggu perintah dari putri Camelia.
Amber mematung di tempatnya, bagaikan patung manekin cantik yang terdapat di butik-butik terkenal.
Amber menatap datar Bram di saat manik mereka bertemu.
membuat perasaan Bram lagi-lagi tertampar dengan tatapan benci dan dingin Amber kepadanya.
ingin rasanya Bram berjalan ke arah Amber dan bersimpuh di hadapannya, untuk memohon maaf atas luka yang ia torehkan kepada wanita yang begitu ia cintai.
"Sayang," sentak Camelia yang mengejutkan Bram dari lamunannya.
"Ada apa," sahutnya dingin.
"Kau kenapa,?" tanya Camelia yang merasa binggung dengan sikap Bram yang berubah-ubah.
"Tidak apa-apa," jawab Bram dingin.
"Sikapmu begitu aneh," tanya Camelia lagi.
"Sudahlah, aku berangkat dulu," sahut Bram yang lantas berdiri dari duduknya.
"Kau belum menghabiskan sarapan mu, sayang," ujar Camelia.
Bram tidak menyahut dia bangkit dan mendekati Robert mencium puncak kepala anak Camelia.
Bram melewati sang istri tanpa memberikan kecupan seperti sebelumnya.
Bram melirik sekilas Amber yang tetap pada tempatnya semula dengan wajah datar.
Dengan perasaan tak menentu Bram melangkah pergi dengan sejuta rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Bram bahkan menulikan panggilan lembut Camelia yang lama kelamaan berubah pekikan.
"Sial! umpat Camelia geram.
"mommy!"
"Makan sarapan mu anak haram," teriak Camelia pada anaknya sendiri. membuat bocah itu terdiam seketika dengan wajah sedih.
Amber mengerut keningnya sangat tajam dan mendelik ke arah Camelia.
__ADS_1
Amber tersenyum tipis saat menangkap hal ganjal dari hubungan keluarga ini.
"wanita rubah yang sangat licik," sinis Amber.