
"Apa yang kau dapat." Seorang pria tinggi menjulang kini berdiri tegak di jendela kamar yang full dengan kaca transparan, yang menyuguhkan pemandangan kota Chicago dari lantai paling atas di kamar hotel berbintang itu.
Sambil kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana yang ia kenakan dan menikmati pemandangan kota metropolitan itu dari atas kamar suite room yang ia pesan.
"Kami masih memantau, tuan," ujar bawahan Carlos yang dengan setia berdiri di belakang pria arogan itu.
"Terus awasi setiap gerak-gerik wanita itu dan para bawahannya," titah Carlos.
"Siap tuan," sahut Patrick, asisten setia Carlos.
"Patrick," seru Carlos pelan.
"Saya tuan," jawab Patrick dengan hormat.
"Apa kau yakin, kalau seluruh keluarga wanitaku sudah tiada,?" Tanya Carlos dengan perasaan yang gundah.
"Saya yakin sudah tuan," jawab Patrick dengan sangat yakin.
"Hm," gumam Carlos.
"Apa perlu aku, …, mengatakan semua kepadanya? Tentang pembantai yang aku lakukan kepada keluarganya. Aku cuma takut dia akan membenciku," pungkas Carlos dengan kegundahan yang begitu menyiksanya.
"Apa anda yakin ingin mengatakannya, tuan,!?
"Entahlah,"
"Kalau itu bisa membuat anda tenang, anda bisa mengatakannya."
"Hm. kamu benar, ini membuatku sangat tersiksa."
"Aku masih bimbang," gumam Carlos pelan.
Pria itu menempelkan kepalanya ke kaca dan menghembuskan nafas hangatnya dengan berat, sehingga meninggalkan jejak di dinding kaca kamar suite room itu.
__ADS_1
"Waktu acara pelelangan segera dimulai, tuan," sela Patrick.
"Hm. Gumam Carlos menyahuti laporan asistennya.
Carlos pun meninggalkan kamar mewahnya dan ikuti oleh sang asisten di belakangnya dengan setia.
*
*
*
Sementara di ballroom hotel mewah itu, kini sudah dipadati oleh para undangan dari setiap kalangan atas.
Mereka saling berbincang-bincang dengan saling memuji penampilan dan juga barang-barang berharga mereka.
Para keluarga kerajaan ratu Rosella kini menjadi tamu istimewa di acara pelelangan yang diadakan besar-besaran itu.
Para tuan putri dan juga pangeran menjadi perhatian semua tamu undangan.
Para kaum hawa tidak melepaskan tatapan kagum mereka kepada setiap pangeran yang sedang berbincang-bincang dengan para pengusaha di kota Chicago.
Camelia sendiri sejak tadi sibuk merotasi setiap ruangan ballroom itu.
Camelia mencari keberadaan Amber yang menghilang sejak tadi.
Camelia memberikan kode kepada sepupu suaminya itu, yang menanyakan keberadaan Amber dan dijawab dengan kedikan bahu.
Camelia pun hanya bisa berdecak kesal. Wanita dengan penampilan yang begitu anggun malam ini berjalan kearah para tuan putri lainnya.
Begitupun dengan Bram yang sejak tadi mencari keberadaan Amber.
Bram bahkan memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan wanitanya itu.
__ADS_1
Bram tersenyum saat menerima sebuah pesan singkat dari anak buahnya, yang sudah menemukan keberadaan Amber, yang ternyata berada di rooftop hotel.
"Kau tidak berubah, sayang. Masih menyukai kesunyian," gumam Bram sambil tersenyum.
Pria dengan penampilan sangat memukau itu berjalan dengan perlahan untuk meninggalkan acara pesta yang membuatnya sangat muak.
Bram berjalan ke arah pintu ballroom untuk menuju lift yang akan membawanya ke rooftop hotel.
"Bugh" langkah Bram terhenti saat sebuah tubuh mungil menabrak perut kerasnya.
Anak perempuan kecil itu pun meringis dan mengusap keningnya yang terasa sakit.
Bram menundukkan kepalanya untuk melihat anak perempuan itu yang penampilannya terlihat menggemaskan.
Bram berjongkok dan meraih telapak tangan mungil milik gadis imut itu.
"Apa sakit,?" Tanya Bram lembut, yang membuat gadis mungil itu mendongak menatap wajah tampan Bram.
Bram membeku di tempatnya ketika manik keduanya bertemu dan saling menatap.
Jantung Bram tiba-tiba berdetang kencang dan dadanya terasa berdenyut nyeri melihat tatapan tajam gadis kecil di hadapannya, yang wajahnya sangat familiar di mata Bram.
Bram merasa sangat dekat dengan gadis kecil ini dan dia merasa wajah gadis dingin di depannya sangat mirip dengan wanitanya. Mata gadis kecil menggemaskan itu juga sangat mirip dengan manik abu-abunya.
Tanpa sadar Bram mengusap pipi gembul kemerah-merahan gadis kecil imut di depannya. Entah mengapa perasaannya sangat begitu dekat dengan gadis kecil ini.
"Maaf," ucap Bram pelan sambil tersenyum.
Sedangkan gadis kecil itu hanya terdiam sejak tadi dengan pikiran uang menerawang jauh.
Gadis kecil itu merasa sangat mengenal wajah pria dewasa di depannya.
Dan ia teringat dengan sang adik.
__ADS_1
"Bryan," cicit Bryana dengan tatapan lekat nan tajam ke arah Bram.