
"Bugh, bugh"
Dua pukulan Amber berikan tepat di tulang rahang kokoh Bram. Saat pria itu berusaha menyentuh wanita yang kini menatapnya benci.
Amber masih mengatur nafasnya yang begitu sesak bercampur sakit. Dadanya terlihat naik turun, wajahnya masih terlihat merah padam karena masih dikuasai oleh amarah.
Rasa sakit dan kecewa itu kini berubah rasa kebencian begitu mendalam buat pria yang berusaha bangkit setelah mendapat pukulan yang begitu keras darinya.
Bram mengusap cairan merah dari sudut bibirnya yang terlihat robek. Pipinya pun kini terlihat merah dan memar.
Bram berdiri dan menoleh ke arah Amber dengan tatapan teduh. Ia hanya bisa terdiam saat Amber memukul wajahnya, karena dia memang berhak mendapatkan pukulan dari wanita yang amat berarti baginya.
Mungkin sebuah pukulan tidak akan cukup untuknya, menerima hukuman dari wanita yang kini menatapnya benci.
"Pukullah aku, kalau itu bisa membuatmu puas, aku memang berhak mendapatkannya, mungkin nyawa ku juga berhak aku berikan padamu," ucap Bram sambil mendekati Amber dengan perlahan.
"Maka, aku menginginkan nyawya," sarkas Amber dengan sorotan tajam.
"Aku akan memberikannya padamu," sahut Bram, yang kini sudah mengikis jarak di antara mereka.
Bram menarik pinggang Amber dengan sedikit kasar dan kini tubuh mereka telah menempel tanpa jarak.
Bram menempelkan kening mereka dengan deru nafas yang saling berlomba bersahut-sahutan.
Bram ingin mengecup bibir yang dulu menjadi candunya sampai sekarang pun begitu, tapi dengan segera Amber memalingkan wajahnya, sehingga Bram hanya mampu mencium aroma Amber melalui ceruk leher wanita yang amat di rindukannya itu.
"Maaf," bisik Bram di samping telinga Amber dengan deru nafas tertahan.
"Maafkan aku yang menyakitimu, sayang," ucapnya dengan suara serak yang mencoba menahan tangisnya.
"Maafkan aku, yang melukaimu dan membuatmu menderita. Aku berdosa padamu, kesalahanku begitu besar terhadap dirimu, aku minta maaf sayang. Tolong maafkan aku," mohon Bram yang tangisannya kini sudah meledak tak bisa tertahankan lagi.
"Aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu," bisiknya lagi dan segera saja Bram memeluk tubuh bergetar Amber.
"Aku membencimu," lirih Amber dengan tubuh kaku berada di dalam pelukan Bram.
"Hm! Bencilah aku. Aku akan menerimanya, tapi aku mohon jangan pernah menjauh dariku, jangan menghindari ku, sayang," imbuh Bram dengan tangisan yang begitu pilu.
Amber masih diam membisu dengan tubuhnya yang begitu kaku di pelukan Bram.
"Aku, mencintaimu, Amber Wilson," tekan Bram di akhir kalimat.
"Aku tidak tertarik lagi dengan perkataan cintamu, bagiku kau hanya pria brengsek. Dan aku tidak membutuhkan cinta busukmu itu. Aku hanya menginginkan nyawamu, brengsek," sarkas Amber dan mendorong keras tubuh Bram.
Membuat pria itu terhuyung ke belakang dan membentur tembok.
"Bugh, bugh" lagi-lagi Amber memberikan pukul di perut dan di hidung Bram dengan pukulan yang di kuasai oleh rasa muak dan benci.
Bram merosot ke bawah dengan tangan kanannya memegangi perutnya yang terasa amat sakit.
Amber menarik kerah kemeja Bram dan menariknya kasar.
__ADS_1
"Plak, plak" dua tampar Amber kembali ia berikan kepada Bram yang hanya terdiam menerima semua rasa emosi Amber.
"Bagiku kau sudah mati. Dan bagiku kau adalah pria bajingan dan brengsek." Amber membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Bram.
"Aku membencimu pria banjingan," sarkas Amber pelan dengan raut wajah tidak bersahabat.
Bram hanya bisa membeku di tempatnya dengan perasaan nyeri dan sakit. Ia menggelengkan kepalanya.
Bram tidak akan bisa menerima ini semua. Amber tidak berhak melupakan dirinya dan membuang perasaan cinta yang Amber miliki hanya untuk dirinya.
Bram tersadar dari lamunannya saat dirinya melihat Amber sudah keluar dari ruangan kosong tersebut.
Bram kembali meluruh kelantai dan mengusap wajah yang di tumbuhi tunas jambang itu dengan kasar. ia menjambak rambut ikalnya sendiri dan kembali menangisi kesalahannya.
"maafkan, aku," racaunya, Bram mengacuhkan luka di wajahnya dan juga rasa sakit tepat di ulu hatinya.
sedangkan Amber berjalan sambil sesekali berpegangan di tembok dan memukuli dadanya yang terasa ngilu.
Amber meremas dadanya dengan tubuh bersandar di tembok.
air matanya kembali mengalir membasahi pipinya yang terlihat lesu dan sembab.
"Bantu, aku membencinya. bantu aku menghilangkan rasa gila ini kepadanya, tolong bantu aku," lirihnya dengan terisak di balik telapak tangan, yang membungkam mulutnya sendiri.
"Aku bisa dan pasti bisa," gumam Amber memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Amber menghapus air matanya dan mengusap wajahnya yang sembab. Amber juga merapikan penampilannya. setelah itu dia melanjutkan langkahnya untuk keluar dari paviliun sepi itu.
"Kau disini,?" sebuah suara berat namun lembut mengejutkan Amber.
Amber menoleh kesamping dan ia mendapati pangeran Mateo di sana dengan senyum ramah.
"Salam yang mulia," sapa Amber dengan memberikan penghormatan kepada Mateo.
"Jangan, seperti itu. kau tidak perlu melakukannya," tolak Mateo.
"Maaf! ucap Amber dan menghindar saat Mateo menyentuh pundaknya.
"hm, sorry," ucap Mateo gugup.
"Tidak masalah, pangeran."
"Mateo. panggil aku Mateo."
Amber menukik alisnya ke atas dan menatap bingung kepada pangeran Mateo.
"Supaya, kita bisa jadi akrab dan berteman,"
" Tapi, itu sangat lancang yang mulia,"
"Aku berikan khusus untukmu, memanggilku Mateo,"
__ADS_1
"Tapi, aku tidak bisa. maaf,"
"baiklah. tapi berjanjilah untuk menjadi temanku sekarang," tawar Mateo.
"hm! gumam Amber dengan tersenyum ramah.
"OH Tuhan, lihatlah, kau memiliki senyum yang begitu manis," puji Mateo.
"Terimakasih," balas Amber ramah.
"Kalau begitu saya permisi yang mulia,"
"Kau, mau kemana,? tanya Mateo.
"kembali ketempat putri Camelia," sahut Amber.
"mari, kita kesana bersama," ajak pangeran Mateo.
Amber dan Mateo pun berjalan kearah taman belakang yang makin terlihat ramai.
*
*
*
Bram hanya mampu mengepal tinjunya dengan erat. wajahnya bahkan sudah merah darah, saat melihat ke akraban Amber dan Mateo.
apalagi Amber memberikan senyum manis yang hanya untuk dirinya dulu.
Bram perjalan ke arah parkiran istana ratu dan memasuki mobil mewah miliknya.
Bram tidak akan pernah bisa dan membiarkan Amber di miliki oleh pria lain.
Amber hanya miliknya dan selamanya akan selalu menjadi miliknya.
"Ke apartemen," perintah Bram dingin kepada Luis sang pengawal setia nya.
"baik, tuan,"
mobil mewah milik Bram kini, melaju meninggalkan istana ratu dengan perasaan yang campur aduk.
ia meringis saat tanpa sengaja menyentuh bibirnya yang nampak robek. ia terkekeh pilu saat melihat kekuatan Amber yang makin kuat dan tangguh.
"kau makin kuat dan tangguh, sayang," batin Bram sambil terkekeh.
Bram merebahkan punggungnya di sandaran kursi mobil dengan kepala yang mendongak ke atas.
Bram berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar, hanya suara nafas beratnya yang terdengar.
"maaf,"
__ADS_1