
Mansion mewah Boy Raymond Cole.
Carlos dan Boy beserta anak buah mereka kini sedang bersiap untuk menyusul Bram dan Amber di pulau pribadi milik ratu Agatha.
Hari sudah mulai sore dan sebentar lagi langit senja akan datang, Carlos tidak ingin sesuatu terjadi kepada adiknya dan juga wanita yang sudah merebut isi hatinya itu.
Dengan gerakan cepat Carlos memeriksa sekali lagi semua senjata yang ia bawa.
Beberapa senjata api dan juga senjata tajam.
Mereka harus bergerak cepat sebelum para musuh mendahului mereka.
"Kita berangkat sekarang!" Titah Carlos dengan penampilan serba hitam. Begitupun dengan yang lain.
"Oke siap!" Sahut semuanya.
"Apa helikopternya sudah siap?" Tanya Carlos.
"Sudah tuan," jawab Jastin.
"Baik berangkat sekarang!" Perintah Carlos datar.
Mereka semua kini berjalan ke arah pintu besar mansion, dengan penampilan mereka yang serba hitam dan memegang senjata masing-masing.
Helikopter pun sudah menunggu mereka di pekarangan luas milik Boy, yang disiapkan khusus untuk kendaraan udara pribadinya.
"Tunggu!" Sentak Boy, tiba-tiba dari arah belakang.
Carlos menolehkan kepalanya ke belakang dan ia pun mencebikkan bibirnya.
"Kalian duluan lah," perintahnya.
"Siap tuan," sahut para anak buah Carlos.
"Kau mau kemana?" Tanya Carlos dengan dahi mengkerut melihat penampilan Boy.
"Ikut dengan mu bermain di pantai," balas Boy asal.
"Boy?! Geram Carlos.
"Yah, ikut denganmu lah, menyelamatkan adik, bodoh dan lemah mu itu," celetuk Boy sekenanya.
"Siapa yang akan menjaga istri dan kedua si kembar?" Tanya Carlos kembali.
"Tenanglah, mereka akan baik-baik saja," ujar Boy enteng.
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
__ADS_1
"Tapi ak, …."
"Hus, diamlah. Lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum para cecurut wanita tua itu mendahului kita," celetuk Boy dengan jari telunjuknya ia simpan di bibir seksi Carlos.
"Sialan!" Maki Carlos dengan menyingkirkan tangan Boy kasar.
"Brengsek, apa yang habis kau pegang!" Pekik Carlos yang mengusap-usap bibirnya.
"Seingatku aku habis mengorek telinga ku. Seperti ini," sahut Boy tidak acuh dan mengorek telinganya setelah itu mencolek pipi bercambang Carlos.
"BOY, BRENGSEK!" Amuk Carlos dengan ekspresi jijik.
Boy tertawa puas mengerjai sahabatnya yang sering ia lakukan dulu. Ia sangat mengenal sahabatnya itu yang tidak menyukai hal jorok.
Dengan tawa puas, Boy lalu mendahului Carlos yang sedang mencuci mukanya di wastafel yang ada di ruang itu.
"Dasar Boy sialan!" Degus Carlos.
Pria itu pun menyusul Boy yang berjalan terlebih dahulu ke arah pintu Mansion.
~
"Daddy!" Teriak nyaring datang dari arah belakang Boy dan Carlos saat berada di luar pintu Mansion.
Kedua pria tampan itu berbalik dan mereka melihat wajah imut Bryana di sana dengan wajah marah.
Boy dan Carlos saling pandang sejenak dan menatap Bryana lagi.
"Daddy mau kemana?" Tanya gadis mungil itu yang kini berjalan mendekat.
"D-daddy, mau, … kesana!" Ujar Boy gugup dan menunjuk asal.
"Kesana mana?" Tanya Bryana kembali.
"Kami, ingin menjemput mommy mu, sayang," timpal Carlos.
"Benarkah?! Seru Bryana dengan wajah berbinar bahagia.
"Hum!" Gumam Carlos.
"Betulkah itu, daddy?" Kini Bryana menatap Boy.
"Iya, my princess," jawab Boy.
"Kalau begitu pergilah, dan bawa mommy pulang," pesan gadis mungil mengemaskan yang sekarang berada di gendongan Carlos.
"Paman janji akan membawa, mommy dan kita akan berkumpul bersama," sahut Carlos asal.
"Pletak!" Sebuah tepukan tangan mendarat indah di belakang kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, brengsek!" Bisik Boy geram.
"Aku, hanya berkata kebenaran," balas Carlos cuek.
Pria itu kini menciumi pipi gembil kemerah-merahan Bryana.
"Kemarikan, putriku," sentak Boy yang merebut paksa Bryana dari gendongan Carlos.
"Hey, apa yang kau lakukan!" Pekik Carlos.
"Kau, tidak boleh terlalu lama menggendong putriku, tanganmu membawa petaka," ketus Boy asal.
"Breng, …." Umpat Carlos terhenti saat jari Boy yang digunakan mengorek telinganya berada di bibir Carlos.
"BOY!" Geram Carlos.
"Cih!" Boy hanya berdecih.
"My princess, sekarang kembali ke kamarmu, oke!" Perintah Boy.
"Baiklah, dad," jawab Bryana patuh.
"Good girl," ucap Boy dan mencium kedua pipi Bryana dengan sayang.
"Daddy pergi dulu, sayang aku pergi," pamitnya pada Ruby yang baru muncul dari tangga.
"Hati-hati, dad!" Pesan Ruby.
"Harus sayang," balas Boy sambil mencium kening Ruby.
"Daddy, bawa mommy pulang," sela si mungil Bryana.
"Pasti sayang," sahut Boy.
"Ayo!" Ajak Carlos yang habis mencuci mukanya lagi.
"Paman, pergi dulu little dear," pamit Carlos kepada sang keponakan imutnya.
Bryana mengangguk dan tersenyum lembut yang memamerkan lesung pipinya yang menambah kecantikan gadis kecil itu.
"Kau, sangat cantik!" Seru Carlos.
"Berhentilah, menggoda putriku," tegur Boy tidak suka.
"Cih. Ayo sebaiknya kita berangkat sekarang!" Ujar Carlos.
Kedua pria itu akhirnya menghilang dari balik pintu yang sekarang menuju ke pekarangan luas Boy yang terletak di belakang Mansion.
Dan helikopter pribadi Carlos pun mengudara, untuk menuju pulau pribadi sang mommy.
__ADS_1
Menyelamatkan sang adik dari serangan musuh dalam selimut dan juga musuh lamanya.