Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 96


__ADS_3

"Mommy?!" Bram membeo dan melihat kepada Amber yang tersenyum.


"Apa mereka si kembar?! Tanya Bram dengan nada meminta jawaban yang tepat.


"Hm. Bryan dan Bryana," jawab Amber sambil menggenggam lembut telapak tangan Bram.


"Bryan dan Bryana.?" Bram kembali bertanya dengan wajah yang sulit diartikan.


"Hu'um," gumam Amber yang segera berdiri dari pangkuan Bram.


Amber yang merapikan penampilannya dan segera turun dari ranjang.


Bram mengikuti Amber dan ia duduk di pinggir ranjang dan mencekal pergelangan tangan wanitanya.


Amber menoleh kebelakang dan kembali ke depan Bram.


Menundukkan wajahnya, meraih wajah Bram yang terlihat gugup.


Bram sendiri mengaitkan kedua tangannya di pinggang Amber, ia mendongak, dengan mata yang sulit Amber mengerti.


"Cup"


Amber menunduk dan mendaratkan kecupan di kening prianya.


"Bersihkan dirimu, setelah itu kita menemui, si kembar," ujar Amber lembut, sambil mengusap pelan rambut Bram yang kini, wajah pria itu menempel pada perutnya.


Bram menjauhkan wajahnya dan mendongak ke atas, menatap wajah cantik Amber dengan wajah sendu.


"Jangan khawatir, mereka, anak-anak yang baik," bisik Amber yang dagunya ada di atas puncak kepala Bram.


"Mereka, anak-anak kita," lirih Bram di balik perut rata wanitanya.


Bram mengecupi perut rata Amber berulang kali sambil merangkul erat pinggang ramping Amber.


Amber tersenyum, lantas menjauhkan wajah Bram dari perutnya lembut. Membingkai wajah tampan Bram dan memberikan kecupan di seluruh wajah pria kesayangannya.


Bram hanya bisa mendongak dan terdiam, menikmati kecupan hangat sang wanita.


"Mandilah!" Perintah Amber.


"Hm!" Jawab Bram dengan gumaman.


Amber lalu menjauh dari Bram, dia akan menemui si kembar terlebih dahulu, yang kini masih mengetuk pintu kamar dengan keras.


Bram memalingkan wajahnya ke arah pintu dan sebuah senyuman terbit dari bibirnya, ketika mendengar teriakkan sang buah hatinya dari hasil cinta mereka berdua.


~


"Mommy, … buka pintunya!"


"Mommy, ….!


"Mommy, … buka pintunya. Kami sudah tidak tahan ingin bertemu, mommy!"


Teriakan terus menggema di luar kamar, membuat para penghuni Mansion terheran-heran.


Belum lagi celotehan si kembar yang begitu lucu dan menggemaskan.


Membuat para pelayan yang berada di dekat kamar yang ditempati Amber, tersenyum-senyum.


"Mommy, ….!!


"Kami, … ingin memelukmu, mom!" Pekik Bryan.


"Mom, …."

__ADS_1


Teriakkan Bryana terhenti ketika kedua anak kembar Amber itu, mendengar, suara kunci pintu diputar yang, menandakan pintu kamar, akan segera terbuka.


"Clek!


Dan benar saja, kini pintu kamar Amber terbuka dan tampaklah sosok, wanita yang mereka rindukan.


Amber beringsut dengan cepat keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar.


"Mommy, …." Teriak si kembar bersamaan.


Mereka berdua lalu mendekat dan segera memeluk kaki jenjang, wanita yang selalu mereka rindukan.


Amber menundukkan kepalanya dan tersenyum kepada kedua anaknya.


Amber lalu berjongkok di hadapan kedua anaknya dan membawa si kembar, ke dalam pelukannya.


Mengecup puncak kepala si kembar secara bergantian, dan juga pipi si kembar.


"Kami, merindukanmu, mom, … sangat," lirih Bryana, yang terdengar bergetar.


Amber menjauhkan tubuh anak-anaknya dan menatap bergantian, putra dan putrinya itu.


Amber mencium pergantian kening anak-anaknya dan kembali merangkul keduanya.


"Mom, juga merindukan kalian," seru Amber.


"Tapi, …, kenapa mommy baru datang sekarang?" Tanya kedua anak kembar itu.


"Maaf. Mommy masih banyak pekerjaan, sayang," jawab Amber.


"Tapi kami sangat, sangat, merindukan mommy," seru Bryana.


"Mommy juga, sangat, sangat merindukan kalian berdua," balas Amber dengan rangkulan yang semakin erat di tubuh kedua anak kembarnya.


"Kami, menyayangimu, mom," bisik si kembar.


Ketiganya pun saling berpelukan, untuk melepaskan rasa rindu mereka masing-masing.


Tanpa mereka sadari, Bram mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.


Hati Bram begitu tersentuh dan menghangat, ketika melihat kedua wajah si kembar.


Ia hanya bisa tersenyum dibalik pintu, melihat celotehan si kembar.


Ada sedikit perasaan bersalah dan sesak di saat membayangkan wanitanya mengandung benihnya dan membesarkan anak-anak mereka, tanpa sosok suami atau sosok daddy buat anak-anaknya.


Bram mengusap, sudut matanya yang mengeluarkan cairan, yang sejak tadi ia tahan, agar tidak keluar dari kelopak matanya.


"Sekarang, kalian tunggu mommy di ruang tengah. Mommy ingin memberikan kalian Sebuah kejutan," pinta Amber lembut.


"Kejutan?" Tanya kedua anak kembar itu.


"Hm" gumam Amber.


"Kejutan apa, mom?" Tanya Bryan penasaran.


"Kalau, mommy memberitahukan kita apa kejutannya, maka bukan tidak akan menjadi kejutan lagi," seloroh Bryana dan mencebikkan bibir mungilnya ke arah sang kembarannya.


"Tapi, aku penasaran?" Rengek Bryan.


"Maka, tunggu mommy di ruang tengah," timpal Amber, menghentikan perdebatan sang anak.


"Baiklah, mom. Tapi, jangan lama-lama," ujar Bryan.


"Oke, mommy janji, hanya sebentar." Amber mencium pipi si kembar secara bergantian dan menyuruh salah satu pelayan untuk membawa si kembar ke bawah.

__ADS_1


Amber menatap punggung sang anak dengan wajah yang terlihat bahagia.


Ia membuka pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.


Amber menemukan Bram yang menyandarkan punggungnya di daun pintu.


Pria itu terdengar terisak dengan kedua telapak tangannya menutupi seluruh wajahnya.


"Dear!" Seru Amber.


Mendengar seruan sang kekasih, segera saja Bram menarik tubuh Amber kedalam pelukannya.


Memeluk tubuh kekasihnya dengan erat dan dengan perasaan yang bercampur aduk.


Amber dapat merasakan tubuh bergetar prianya dan juga suara isakan sang pria.


"Maaf!" bisik Bram.


Amber hanya bisa diam, ia membiarkan Bram menangis dan mengatakan semua perasaannya yang sekarang ini ia prianya rasakan.


"Maaf, karena membuatmu menderita. maaf karena ku hidup mu penuh derita dan air mata. maaf, karena ku, hidupmu hancur dan maafkan aku, yang menelantarkan kalian bertiga. aku adalah sosok, daddy yang brengsek. yang tidak mengetahui tentang anak-anaknya sendiri. membuat anak-anaknya tumbuh tanpa,. sosok seorang daddy." ungkapan perasaan penyesalan Bram, membuat Amber pun ikut terluka.


ini bukan salah mereka berdua, salahkan orang-orang yang sengaja memisahkan mereka dan membuat mereka saling salah paham.


Amber bersyukur memilih cintanya, daripada rasa bencinya yang saat itu begitu menggebu-gebu.


ia tidak bisa memikirkan kalau, dirinya memilih menghabis nyawa sang pria.


mungkin ia akan menyesal dan mengutuk dirinya sendiri.


belum lagi ia harus menjelaskan apa kepada si kembar, kelak kalau mereka sudah tumbuh dewasa.


mereka akan membencinya dan menuduhnya, sengaja menjauhkan mereka dari sang daddy.


"Maafkan, aku, sayang," bisik Bram dengan tergugup di tengah tangisan lirihnya.


"Ini bukan salah kita sayang. kita hanya korban dari keegoisan mereka, yang tidak senang dengan cinta kita dan juga karena keserakahan mereka yang haus kekuasaan." Amber menangkup wajah Bram dan menghapus air mata pria tercintanya.


menitipkan sebuah kecupan di kening dan juga bibir basah Bram.


"Apa mereka mau menerimaku, sebagai daddynya?"


"Hm, aku yakin. percayalah, mereka anak-anak kita yang lucu dan memiliki hati tulus dan baik hati."


"Itu karena kau, mommy mereka," lirih Bram.


"Dan kau, daddy mereka," balas Amber.


"Mereka anak-anak kita,"


"Hm. anak-anak kita."


"Terimakasih, karena sudah bertahan dan merawat si kembar,"


"Itu, karena rasa cintaku padamu. mereka obat rasa rinduku, apabila merindukan, sayang."


"Maaf. aku berjanji, akan selalu ada buat kalian dan melindungi kalian."


"Kami percaya dan bangga padamu."


"Aku mencintaimu, my heart."


"Aku lebih sangat, sangat, mencintaimu. kau hanya pria milikku dan hanya aku wanita untukmu."


"Kau, akan selalu menjadi wanita ku dan juga pemilik hatiku."

__ADS_1


"Selamanya."


__ADS_2