Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 77


__ADS_3

"Shtt" Carlos meringis kesakitan, saat bibi lili mengobati keningnya yang terluka, akibat lemparan vas bunga.


Carlos menajamkan tatapannya ke arah gadis mungil yang berdiri sambil menundukkan kepalanya di belakang bibi lili.


Gadis mungil itu hanya bisa meremas jari-jarinya sendiri akibat rasa takut.


Gadis itu hanya spontan melemparkan Carlos sebuah vas bunga yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya, yang sialnya gadis itu sedang memakai pakaiannya yang habis mandi.


"Kenapa juga pria mesum ini tidak mengetuk pintu dulu, kan aku bisa mengabarinya kalau aku sedang memakai pakaian, ini malah seenak saja membuka pintu kamar seorang gadis, jadi ini bukan salahku," monolog gadis mungil itu dalam hati dan sesekali mencuri pandang ke arah Carlos.


"Tampan sih, tapi, … sayang dia hanya jin lacknat mesum," celetuk gadis itu lagi.


"Kenapa aku mengatakannya jin lacknat mesum? Itu karena dia memasuki kamarku tanpa izin dan di saat aku lagi setengah polos," gumam gadis itu sambil mencebikkan bibir mungilnya ke arah Carlos.


"Hey, kau gadis kurcaci," seru Carlos kepada gadis yang berdiri di belakang bibi lili.


Gadis itu menatap sekelilingnya dengan pandangan ke arah bawah dan dengan konyolnya gadis itu menengok ke bawah setiap meja.


"Hey, gadis kurcaci bar-bar," seru Carlos lagi.


Gadis itupun mendongak dan mengarahkan pandangannya kepada Carlos.


"Saya, paman?" Tanyanya sambil menunjuk wajah imutnya.


"Iya kau, siapa lagi gadis pendek di sini selain dirimu," cibir Carlos.


"Satu lagi, jangan memanggilku paman, karena aku masih berusia 33 tahun," ujar Carlos.


"Enak saja memanggilku paman, apa dia tidak tahu kalau pesonaku bisa membuat para wanita menjerit," gumam Carlos.


Gadis mungil itu pun, hanya bisa menganga dan mengedip-ngedipkan mata bulatnya.


"Apa, anda sebangga itu memiliki umur yang terbilang sudah tua? Di desa ku saja umur 33 tahun sudah memiliki istri 3 dan anak 10, plus cucu 2," celetuk gadis itu yang maju satu langkah ke arah Carlos.


"Apa kau buta?"


"Tidak. Aku rasa anda yang buta," balas sang gadis dengan sengit.


"Kalau aku buta, mana mungkin aku bisa melihat bulu hidung anda yang begitu rimbun," tunjuk gadis mungil itu ke arah hidung mancung Carlos.


"Ihh, ada mahluk upilnya juga," celetuk gadis mungil itu lagi, yang membuat bibi lili menahan tawanya.


"Anda sungguh jorok sekali, tuan paman," selorohnya, tanpa melihat berubah raut wajah Carlos yang sudah merah.


"KAU!" Pekik Carlos yang bangkit tiba-tiba dari sofa di ruang tamu mansion Boy.


"T-tuan, maafkan cucu saya," sela bibi lili, ketika melihat wajah marah Carlos.


"Jadi, kurcaci ini cucu, bibi?" Tanya Carlos sambil menunjuk wajah imut di depannya.


Bibi lili mengangkuk dan tersenyum sungkan.


"Namanya, Kitty, tuan," ujar bibi lili.


"Kitty?" Carlos membeo dan menelisik penampilan gadis yang bernama Kitty di hadapannya dengan sangat lekat.


Dan tatapan Carlos kini berhenti di kedua benda berharga gadis tersebut yang terlihat menantang dan menggemaskan.

__ADS_1


Carlos dengan perlahan menelan ludahnya susah payah, saat mengingat peristiwa di atas kamar gadis itu yang berakibat keningnya berdarah.


Dia mengingatkan jelas bentuk anak gunung kembar gadis itu yang terlihat segar yang mampu menyilaukan mata batin Carlos.


"Jaga mata keranjang anda tuan," sentak Kitty.


"Kitty!? Seru bibi lili.


"Mata mesumnya melihat ke arah sini, nek," adu gadis itu sambil menggenggam buah ranumnya, yang sangat pas di genggamannya


Carlos membolakan matanya, dan dengan cepat menelan kembali salivanya dengan kasar.


"Sial!" Umpatnya.


"Kitty, jaga sikapmu, sayang," tegur bibi lili lembut.


Gadis yang bernama Kitty itu hanya memanyunkan bibir mungilnya ke depan dan mencebikkan ke arah Carlos.


Carlos hanya bisa menahan desiran dalam dirinya yang sejak tadi menguasai tubuhnya yang merespon segala tingkah konyol gadis di depannya.


Apalagi saat netranya melihat bibir mungil berwarna pink alami itu mencebikkan ke arahnya, dan disitulah rasanya Carlos ingin menyerang bibir mungil Kitty.


"Maafkan, cucu saya tuan, dia masih kecil," ucap bibi lili.


"Masih kecil?"


"Iya, tuan. Dia masih berusia 19 tahun," jawab bibi lili.


"19 tahun?"


"Iya tuan, dia masih pelajar,"


"Tuan, paman mesum, kondisikan mata anda," cetus Kitty dengan tatapan mengancam.


"Kitty!"


"Dia terus memindai ku, nek," ujar Kitty manja.


"Sayang, kau harus sopan, dia tamu tuan, Boy," ucap bibi lili yang menasehati cucunya itu.


"Tamu tak diundang dan pulangnya ingin ditendang," gumam Kitty dalam hati.


"Apa yang kau katakan, hello Kitty," tanya Carlos yang melihat bibir mungil Kitty bergerak-gerak lucu.


"Nama saya Kitty tuan dan tanpa hello," cetus Kitty.


"Hello Kitty, bukankah begitu orang menyapa mu?"


"Kitty," kalau orang menyapamu seperti itu bukankah tidak sopan?"


"Jadi, sapaan yang ramah dan sopan buat kamu adalah, hello Kitty," kelekar Carlos puas.


Gadis mungil imut itu, begitu geram dengan Carlos. Hidup mungilnya bahkan sudah, terlihat kembang kempis dengan tatapan tajam dan dahi terangkat ke atas, jangan lupa bibir mungilnya yang terlihat sangat lucu.


"Astaga, kau terlihat seperti boneka kurcaci," ujar Carlos tanpa sadar mengacak wajah mungil Kitty.


"Dasar, paman cartus mesum," pekik Kitty, sambil menyentakkan telapak tangan kekar Carlos yang menutupi wajah mungilnya.

__ADS_1


"Kitty!" Tegur bibi lili.


Kitty tidak menghiraukan teguran neneknya, gadis itu kini sedang dalam mode emosi jiwa, dengan segera kaki mungil Kitty menendang kuat pada aset berharga Carlos.


Setelah memberikan Carlos pelajaran, Kitty dengan segera berlari ke arah lantai dua di mana letak kamar gadis itu, Kitty menulikan teriak kesakitan Carlos dan juga sang nenek.


"Kitty!"


"Akhh! Dasar si Kitty hello Kitty," maki Carlos sambil memegangi alat pribadinya yang terasa berdenyut sakit.


"Akh, sakit!" Ringis Carlos.


"Tuan, maafkan cucu saya,"


"Cepat, bantu aku bi, selamatkan dia," pinta Carlos.


"Selamatkan siapa, tuan dan yang bagian mana anda yang sakit?" Tanya bibi lili.


"Selamatkan, benda berharga saya, bi" lirih Carlos dengan nada kesakitan.


"Benda berharga anda?" Gumam bibi lili.


"Cepatlah, bi!"


"Dimana tuan?"


"Di dalam,"


"Di dalam? Apakah maksud tuan Carlos di dalam mobilnya?"


"Sabar tuan, aku akan menyelamatkan benda berharga anda," ujar bibi lili dan segera berlari ke arah pintu keluar.


Bibi lili tidak mengetahui kalau sang cucu sudah membuat benda keramat Carlos menjerit sakit.


Bibi lili sibuk merapikan kotak obat kembali dan ia terkejut saat Carlos menjerit dan menyebut nama sang cucu.


"Sial! Umpat Carlos.


"Apakah, penghuni mansion ini, semuanya tidak beres,"


"Oh tidak, ini sakit sekali,"


"Hey, bedebah. Kenapa kau mendesis dan mendesah di ruang tamu ku!" Pekik Boy yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Carlos.


"Apa yang sedang kau lakukan!" Hardik Boy, ketika netranya menatap tangan Carlos yang sedang memegang benda keramatnya.


"Sakit sialan," lirih Carlos.


"Jangan lakukan di sini, bedebah. Seharusnya kau menghilangkan rasa sakitnya di dalam kamar mandi," ujar Boy, tanpa mengetahui penderitaan sahabat lamanya itu.


"Sh*it, yang ku katakan memang benar, penghuni Mansion ini tidak ada yang beres,"


Carlos



__ADS_1


si hello Kitty


__ADS_2