
Amber, Bram dan Carlos kini menyusuri seluruh rumah sakit yang ada di kota Chicago, namun hasilnya semuanya nihil.
Mereka tidak mendapatkan satu informasi pun dari kecelakaan yang dialami king Philips dan istrinya di kota Chicago.
Kini ketiganya sedang berada di area lokasi pasca kecelakaan terjadi.
Di sebuah jalan yang dikelilingi Tebing tinggi bebatuan.
Carlos merotasi pandangannya di sekitar tempat kejadian kecelakaan 12 tahun yang lalu dengan serius.
Ia menunduk pandangannya ke bawah tebing dan ia dapat melihat betapa tingginya tebing tersebut.
Hatinya masih meragu, apakah mommy nya bisa selamat dari kejadian itu? Dilihat dari sini, betapa mengerikannya tebing tersebut.
Namun ia mengingat sang daddy, yang bisa selamat dari maut. Dan daddynya berkata, ia sempat menarik sang mommy keluar sebelum mobil mereka jatuh.
Itu berarti mommynya kemungkinan besar masih hidup, yang jadi pertanyaannya, dimana sekarang sang mommy?
Carlos terdiam di pinggir bebatuan tebing, dengan pandangan menerawang jauh kedepan.
Ia kembali melihat ke bawah dan netra nya menajam pada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Di bawah sana terdapat beberapa rumah, yang seperti pemukiman sederhana.
"Ada apa?" Tanya Amber tiba-tiba dari arah belakang.
Carlos terhenyak kaget saat merasakan tepukan tangan Amber di punggungnya.
"Apa kau lihat itu?" Tanya Carlos sambil menunjuk sebuah asap yang keluar dari atap rumah sederhana.
"Asap?" Jawab Amber.
__ADS_1
"Rumah!" Sela Bram.
"Apakah di bawah sana ada yang tinggal?"
"Mungkin!" Sahut Amber dengan menajamkan pandangannya sejauh mata memandang.
"Kita, kesana!" Ajak Carlos, dan segera mendekati mobil mereka.
"Apa kau yakin?" Tanya Bram yang ikut melangkah di belakangnya.
"Hm. Apa salahnya kita mencoba memeriksa tempat itu," imbuh Carlos.
"Hm. Baiklah," sahut Bram yang duduk di samping sang kakak.
Sedangkan Amber duduk di kursi belakang sendiri yang sibuk dengan iPad nya.
Ia sedang melakukan sesuatu dengan wajah serius.
Beberapa jam lalu, Amber menyempatkan dirinya masuk ke kamar ratu Rosella lewat balkon kamar wanita setengah baya tersebut.
Dan mencari perhiasan yang sering dipakai ratu Rosella, dan Amber melihat sebuah cincin yang sering wanita itu gunakan, dan tanpa menunggu lama, Amber memasang sebuah alat di bawah batu berlian cincin tersebut yang memiliki ukuran lumayan besar.
Amber pun tersenyum puas ketika, tugasnya selesai.
Ia melihat ke arah ranjang di mana ratu Rosella gelisah dalam tidurnya.
Amber segera berlari, saat ratu Rosella berteriak histeris dan tak lama kemudian wanita itu bangkit.
Amber mengintip dari balik jendela balkon dengan seringai jahat, setelah itu Amber menaiki besi yang menjadi pembatas balkon dengan gerakan cepat tanpa suara sedikitpun.
Amber menempelkan punggungnya di dinding istana dan berjalan menyamping menuju balkon kamarnya.
__ADS_1
~
"Sepertinya, wanita tua itu sangat betah di sana!" Seru Amber menghilangkan kesunyian di antara ketiganya.
"Why?" Tanya Bram yang mengubah posisi duduknya untuk menatap sang istri.
"Dia masih berada di sana. Apa dia sedang menyusun rencana?" Gumam Amber.
"Mungkin saja," sela Carlos.
"Apa yang kira-kira mereka rencanakan?" Timpal Bram.
"Entahlah, kita lihat dan tunggu saja pergerakan mereka," jawab Amber.
"Hm!" Gumam Carlos dan anggukan kepala Bram.
"Ini tempat apa?" Tanya Bram heran, saat berada di area pemukiman sepi itu.
"Kenapa tempat ini begitu menyeramkan," sambung Bram.
"Diamlah!" Sentak Carlos.
"Bagaimana aku bisa diam, kalau tempat ini begitu menyeramkan," ketus Bram sambil mengusap tengkuknya yang mendadak geli.
"Apa kau tidak salah, kak?" Tanya Bram kembali dengan tatapan yang memindai pemukiman itu dengan intens.
Hanya ada beberapa rumah tua yang terbengkalai dan juga pohon-pohon besar yang terlihat menyeramkan.
"Asap yang tadi berasal dari mana?"
"Mungkin di sana?"
__ADS_1