Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 48


__ADS_3

Tangisan tertahan terdengar di salah satu kamar yang terletak di paviliun di istana ratu Rosella.


Tangisan yang begitu menyesakkan dan memilukan hati siapapun yang mendengarnya.


Amber yang sedang terduduk di sudut kamar mandi dengan kedua kakinya berada di dada.


Amber menenggelamkan wajahnya di antara lututnya yang berada di dada.


Amber mengeluarkan seluruh rasa sesaknya yang begitu menyakitkan. Luka yang sudah mulai mengering itu kini kembali menganga.


Luka hati yang bertahun-tahun ia sembuhkan kini kembali terbuka dan berdarah.


Sesak, sakit, ngilu, nyeri itulah yang kini Amber rasakan pada hatinya.


Ia tidak menyangka dan menduga, pria yang ia tangisan berbulan-bulan bahkan pria yang ia coba lupakan bertahun-tahun, ternyata seorang pria brengsek.


Pria yang bahagia diatas luka dan penderitaannya.


Pria yang mengatakan cinta dan menjanjikan kesetiaan ternyata hanya seorang pembual.


Seorang pria yang setiap saat ia rindukan ternyata seorang penipu, ia berbahagia di saat dirinya terpuruk dan terhina.


Ia membangun hubungan baru di saat dirinya dalam keadaan khawatir, terluka dan terhina.


Pria yang menjanjikannya kehidupan baru yang bahagia ternyata hanya pria menjijikkan.


Ia yang membawanya terbang jauh dengan janji-janjinya dan dia jugalah yang menghempaskannya ke dasar laut dengan meninggalkan dirinya dengan menikahi wanita lain.


Yang lebih parahnya lagi wanita itu hamil.


Apakah dirinya hanya dijadikan pelarian semata? Atau pria brengsek itu menjadikan dirinya hanya pelampiasan nafsunya?


Sakit, hancur, terluka dan kecewa. Perasaan itulah yang kini Amber rasakan. Dan dalam sekejap semuanya berubah benci dan dendam.


Amber masih terdengar terisak tertahan sambil memukuli dadanya yang begitu menyakitkan.


Tangan satunya digunakan untuk membekap mulutnya agar suara tangis kesedihan yang begitu menyakitkan tidak terdengar oleh orang lain.


Biarlah dia merasakan ini semua, biarlah dia keluarkan semua rasa sesak ini. Hanya malam ini. Ia berjanji esok hari ia akan menutup rapat hatinya untuk pria brengsek itu.


Biarlah hanya malam ini dia menangis pria brengsek itu, agar esok hari ia akan lebih kuat menyaksikan pria yang dicintainya dulu bermesraan dengan wanita lain.


Pasti semua orang akan merasakan sakit dan terluka. Apabila menyaksikan sendiri kemesraan pria yang pernah atau mungkin masih kita cintai, melakukan adegan menyakitkan di depan mata.


"Oh Tuhan, ini sakit sekali," lirih Amber dengan isakan. Ia menghapus air matanya dan berusaha bangkit.


Beberapa kali Amber terlihat terjatuh kembali ke lantai. Amber mencoba untuk tetap kuat. Yah ia harus kuat dan bangkit.


Amber berpegangan di kloset untuk dijadikan tumpuan agar dapat berdiri.


Amber berjalan ke arah wastafel dan memandangi wajahnya di sana.

__ADS_1


"Ternyata aku sungguh naif," lirihnya sambil memandangi pantulan wajahnya di cermin.


"Sungguh, menyedihkannya hidupku." Kembali Amber terisak dengan memegang kuat ujung wastafel.


"Dia mengajakku melangkah jauh dan ternyata dia membangun sebuah istana megah dengan wanita lain. Sungguh menyedihkannya diri ini," Amber tersenyum ketir, menertawakan hidupnya yang mudah di bohongi.


"Dia bahagia bersama istri dan anak. Anak. Dia juga memiliki anak dariku, yang sayangnya mendapatkan kasih sayang dari orang lain." Kembali Amber tersenyum ketir dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


"Mommy, merindukan kalian," bisik Amber di saat mengingat anak-anaknya yang begitu akrab dan bahagia bersama orang lain.


Sementara ayah biologis mereka sedang berbahagia bersama keluarganya.


Amber menghapus air matanya dengan kasar. Sudah cukup ia menangisi pria brengsek itu.


Sekarang Amber akan menagih janji kepada Bram. Yah ia bersyukur kalau targetnya kali ini adalah Bram. Ia tidak akan peduli, Bram ayah biologis anak-anaknya. Yang ia pikirkan saat ini adalah membalas rasa sakit dan penderitaannya bertahun-tahun lamanya.


Amber membasuh muka nya dengan kasar dan mengusapnya pula dengan kasar.


Amber menatap tajam pantulan dirinya di cermin. Ia berjanji akan membuat pria itu lenyap dari muka bumi ini. Sesuai janji Bram, "benci dan bunuh aku apabila meninggalkan dirimu atau mengkhianati mu,"


"Brkk!


Cermin di depan Amber telah hancur oleh pukul tangan Amber. Kini yang ada di dalam hatinya hanya ada rasa benci dan jug dendam.


Rasa sakit pada tangan Amber tidak ia rasakan, karena luka pada hatinya sangatlah amat menyakitkan saat ini.


Cairan merah segar mengalir dari telapak tangan Amber. Ia tidak menghiraukan lukanya, ia terus menatap kedepan cermin yang sudah hancur itu.


Pecahan cermin itu mewakilkan perasaan Amber saat ini. Perasaan hancur dan terluka.


"Baiklah, mari kita lihat. Sampai mana kau akan bertahan," gumam Amber dengan raut wajah dingin dan datar.


Amber mengabaikan luka pada telapak tangannya. Ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju pintu paviliun tersebut.


Amber tidak memperdulikan keadaan paviliun yang tiba-tiba gelap. Ia terus berjalan ke arah pintu.


Tapi saat melewati sebuah kamar, sebuah telapak tangan kekar mencekal pergelangan tangan Amber dan menariknya masuk ke dalam kamar tersebut.


Amber yang memiliki perasaan peka mencoba melawan, tapi kekuatan pria tersebut sangatlah kuat.


"Lepaskan," amuk Amber.


Pria tersebut menarik tangan Amber dan mendorong pelan punggung belakang Amber kedinding dan ia mengurung tubuh Amber di antara kedua tangannya.


"Sia, …. " Bentakan Amber terhenti saat mendengar suara pria yang kini memeluknya.


"Sayang. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu," bisik Bram dengan memeluk erat tubuh wanita di depannya.


Amber hanya diam mematung di tempatnya, kedua tangannya kini mengepalkan kuat untuk melawan perasaan yang ingin mengatakan hal yang sama kepada Bram.


"Aku, merindukan, sayang," bisik Bram lagi dengan nada getaran menahan tangisannya.

__ADS_1


"Aku, membencimu," ujar Amber datar.


"Lepas." Amber berusaha melepaskan diri dari pelukan Bram.


Tapi Bram tidak menghiraukan ucapan dan juga perlawanan Amber yang ingin lepas dari pelukannya.


Bram hanya ingin melampiaskan rasa rindunya selama ini, kepada wanita yang sangat ia cintai.


"Lepaskan, brengsek," bentak Amber dan mendorong kasar dada Bram. Membuat pelukan Bram terlepas dan tubuhnya terdorong ke belakang.


"Jaga sikap anda, pangeran," ucap Amber dingin.


"Sayang," lirih Bram menatap manik Amber yang merah dan yang masih berkaca-kaca.


Manik yang kini menatapnya benci dan kecewa.


"Aku harap kita menjadi orang asing dan anggap saja kita tidak saling mengenal. Karena hanya ada luka apabila mengingat dirimu," sarkas Amber dengan raut wajah datar.


"Sayang," ucap Bram dengan wajah terkejut.


"JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU, AKU SANGAT MEMBENCIMU," teriak Amber dengan mata berkaca-kaca dan wajah merah padam.


"AKU MEMBENCIMU BRENGSEK, SANGAT MEMBENCIMU," teriak Amber dengan tatapan nyalang ke arah Bram.


"S-sayang," ucap Bram tergagap.


"Aku membencimu sangat membencimu," Lirih Amber yang tiba-tiba tubuhnya meluruh dan terduduk di atas ubin ruangan tersebut.


"Maafkan, aku," ujar Bram dengan wajah yang menunduk.


"Kenapa. Kenapa kau lakukan ini padaku dan katakan apa salahku. Apa karena aku hanya lah rakyat jelata yang tidak pantas bersama dirimu yang seorang pangeran," ujar Amber sambil terkekeh perih.


"Sungguh menyedihkan sekali diri ini," ucap Amber sambil memukuli dadanya yang terasa sakit.


"Bukan seperti itu, sayang," sela Bram sambil mendekat ke arah Amber.


"Jangan menyentuhku," ucap Amber dingin.


"Sayang," Bram hanya bisa mematung dan ia pun ikut terduduk di depan Amber, lebih tepatnya bersimpuh di depan wanita yang terlihat begitu terluka.


sedangkan Amber menatap nyalang dan benci pria yang sedang bersimpuh di depannya.


"maaf,"


"Tidak akan ada maaf untukmu,"


"Apa yang kau inginkan, agar aku bisa mendapatkan maaf mu, sayang,"


"Nyawa mu,"


"benci dan bunuh aku, bukankah itu yang kau ingin sekarang,"

__ADS_1


"sayang!


"JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU, BEDEBAH."


__ADS_2