
Seorang gadis baru saja tersadar dari khayalan nya, yang begitu ia harapkan terjadi.
Gadis bermata biru terang itu, menatap penuh kebencian kepada sosok wanita licik yang sedang duduk dengan angkuhnya di sebuah cafe terkenal di kotanya.
Kell masih menghunus tatapan benci dan muak kepada ratu Rosella, yang sepertinya telah melakukan pembicaraan penting dengan seseorang.
Tentu saja ratu Rosella di temani oleh pengawal pribadi kesayangannya dan juga merupakan sugar Daddy nya.
Yang selama ini menghidupi dan memberikan kenikmatan, kemewahan kepadanya tanpa harus bekerja keras.
Ia hanya perlu melayani nafsu Martin di atas ranjang, hingga pria itu terpuaskan, maka kartun debit nya akan kembali terisi.
"Aku, sangat berharap hayalanku menjadi kenyataan," gumam Kell.
"Khayalan yang sangat indah."
"Semoga, suatu hari nanti aku bisa membunuhnya." Kell mengeram dalam diam yang masih setia menghunus tajam ke arah ratu Rosella.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Sial. Seharusnya, aku duduk lebih dekat dengan mereka," sungutnya kesal.
"Aku yakin, mereka pasti merencanakan sesuatu," tebak Kell sambil berpikir.
"Masa bodoh lah. Aku hanya berdoa, semoga mereka cepat ma.ti." Kell menekan kata mati di akhir ucapannya.
Setelah mengeluarkan sumpah dan makian nya yang ditujukan kepada sosok wanita sombong di depan sana, Kell mengeluarkan, beberapa lembar uang dan ia letakkan di atas meja, untuk membayar makanan yang ia pesan.
Kell bangkit dan berjalan ke arah pintu keluar kafe. Sambil bersungut-sungut kesal, moodnya tiba-tiba hancur karena pertemuannya dengan ratu Rosella.
"Sebaiknya, aku ketempat, kakak," Monolog Kell.
Kell memasuki mobil Ferrari berwarna merah, pemberian dari Martin tentunya.
Hasil dari melayani nafsu Martin semalam penuh, yang membuat tubuh Kell remuk redam dan terpaksa area privasi nya harus ditangani oleh dokter khusus.
__ADS_1
Kell bergidik saat mengingat kejadian itu, malam panas penuh kesakitan.
"Dasar pria tua maniak!" Maki Kell sambil berteriak di dalam mobil.
Kelly terus melajukan mobilnya untuk membawa dirinya ke tempat Ken.
Ia harus melakukan perjalanan 3 jam untuk sampai ke tujuan.
Itu karena tempat Ken berada di desa terpencil, yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.
"Kakak, aku datang," lirih Kelly.
~
"APA! Teriakan terdengar di dalam kamar bernuansa kayu.
"Bagaimana keadaan dia sekarang?" Tanya Ken dengan raut wajah khawatir.
"Baik! Dia gadis yang kuat dan pemberani. Berjalan sendiri di tengah jalanan sunyi," pungkas Glen.
"Tenanglah, bukankah, kamu sudah memerintahkan anak buah kita untuk melindunginya?" Sela Glen.
"Hum. Tapi tetap saja, aku merasa khawatir," kata Ken pelan.
"Apa kamu tahu? Kalau dia menyelamatkan siapa?"
"Siapa?"
"Ratu Agatha," jawab Glen.
"What!" Pekik Ken.
"Hum. Dia menyelamatkan ratu Agatha dari maut," sambung Glen.
"SH*it. Itu berarti, adikku dalam bahaya, Glen.!" Ken begitu panik setelah mendengar penuturan sahabatnya.
__ADS_1
"Tenanglah, Ken. Aku yakin adikmu pasti baik-baik saja," timpal Glen.
"Aku, mana bisa tenang, Glen.!" Erang Ken tertahan.
"Dia adikku. Dia dalam bahaya sekarang, pasti wanita licik itu akan mencari keberadaan, adikku," geram Ken frustasi.
"Maka, cepatlah sembuh, setelah itu kita lebih dulu melenyapkan mereka," ujar Glen.
"Entahlah. Bawa aku kesana," pinta Ken.
"Kemana?"
"Melihatnya, please!" Mohon Ken dengan wajah memelas.
Glen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mengangguk, mengiyakan permintaan sang sahabat.
Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan percakapan keduanya.
Ken dan Glen saling menatap bingung dengan alis mengkerut.
Glen mengangkat pundaknya, menjawab arti dari tatapan Ken.
Glen lantas mendekati pintu kamar Ken dan membukanya secara perlahan.
"Ada apa?" Tanya Glen dingin kepada anak buahnya.
"Ada seorang gadis mencari, bos besar, tuan," lapor sang anak buah.
"Gadis?" Glen membeo.
"Iya tuan."
"Ada apa?" Tanya Ken tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"KAKAK!"
__ADS_1