
"Clek."
"Kau sudah sadar, sweety.?" Seru seorang pria dengan wajah lembut dan tatapan teduh mengangetkan Amber yang menatap binggung kamar yang ia tempati.
"Stthh! Ringis Amber saat keningnya terasa nyeri dan ngilu.
"Apa masih sakit.? Tanya pria dengan tubuh tegap itu mendekat dan duduk di pinggir ranjang di sisi Amber.
Amber menggeleng sambil menatap pria di depannya dengan lekat. Dia merasa mengenali pria ini, tapi Amber melupakannya.
"Kau, lupa dengan ku.?" Tanyanya pada Amber dengan tatapan yang begitu memukau.
Amber berpikir keras untuk mengingat pria manis di depannya. Tapi rasa sakit di kepalanya membuatku tidak dapat membuatnya berfikir.
"Jangan dipaksakan, kalau kau tidak mengingat ku.!" Ujar pria itu lembut dan mengusap rambut Amber sayang.
"Aku kenapa dan ini dimana? Oh iya baj ….! Amber memberi pertanyaan kepada pria tersebut dan memindai keadaannya yang sudah berganti pakaian. Terus kemana gaun lacknat itu?
"Kau, mencari gaun mu yang seksi itu.?"
Amber mengangkuk dan melihat dirinya sudah berganti baju, dengan sebuah kaos polos yang diyakini Amber adalah milik pria di depannya.
"aku sudah membuangnya. gaun bisa sangat menggoda." ujar pria tersebut dengan senyum usil.
"Kau pengantin wanita yang melarikan diri dari acara pernikahannya,"
"Katakan padaku. Siapa pria yang ingin menikahimu.?"
"Apa kau tau, kalau aku masih menyukaimu, sweety.?" Pria itu menatap Amber dengan manik yang teduh menghanyutkan, setiap wanita yang melihatnya. Tapi lain halnya Amber yang sudah mati rasa yang namanya cinta dari seorang laki-laki.
Amber menatap lekat, netra biru pria dihadapannya. Ia mencoba mengingat dimana dia bertemu pria rupawan ini. Beberapa detik kemudian, Amber membolakan mata bulatnya dan menganga saat mengingat pria dihadapannya ini.
__ADS_1
"Keenan.? Cicitnya.
Pria itu mengangguk pelan dan memamerkan senyum lembut dan teduhnya.
Amber membekap mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya akan bertemu lagi dengan pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
"Sudah mengingat ku.?" Tanya Keenan.
Amber mengangguk membenarkan pertanyaan Keenan.
"Kenapa, aku ada disini.?" Amber bertanya dengan wajah penuh penasaran.
"Serius, kamu tidak mengingatnya.?" Ken menjawab pertanyaan Amber dengan pertanyaan juga.
"Hm! Gumam Amber sambil menggeleng pelan.
Ken terlihat menghela nafas dan menatap netra coklat Amber yang berkilau. "Kau berlari di jalan tanpa melihat dan akhirnya tanpa sengaja aku menabrak mu." Terang Ken.
"Aku, ingin mengantarmu ke rumah sakit. Tapi jarang di sini kerumah sakit terlalu jauh, jadi terpaksa aku membawamu kesini." Terang nya lagi.
"Pulang.? Amber membeo.
"Hm.! Sahut Ken.
Pria itu memperlihatkan raut wajah Amber yang berubah tegang. Wanita itu bahkan terlihat khawatir.
"Bisakah, kau membawaku pergi jauh dari kota ini.?" Pinta Amber dengan wajah memohon dan bola mata yang penuh harapan.
Ken menatap teduh manik coklat yang berkaca-kaca itu. Ken menghapus kristal benih yang lolos dari sudut mata Amber.
"Baiklah. Kau bisa ikut dengan ku besok." Jawab Ken mengiyakan permintaan, wanita yang sudah mencuri hatinya. Wanita yang ia inginkan untuk menjadi kekasihnya, wanita yang membuatnya berdebar dan terpesona dengan sikap datar wanita di depannya ini. Wanita yang sudah membuat jiwa kelaki-lakiannya bangkit, wanita yang pertama kali mendapatkan ciuman pertamanya. Wanita yang ia impikan kini berada di hadapannya dengan wajah menggemaskan.
__ADS_1
Kalau dulu Ken merela wanita di depannya, karena dia terpaksa menerima sesuatu misi rahasia yang ia habisi satu tahun lebih di negara orang lain. Dan Ken berjanji akan mengejar dan memperjuangkan wanita pujaannya dan impiannya.
"Bersiaplah, kita akan berangkat besok pagi." Ujar Ken
Amber menatap Ken dan segera memeluk pria yang ia kenal memiliki hati yang lembut dan penyayang. Ia mengetahuinya dari Ruby.
Mungkin dengan mengikuti Ken, ia bisa menata hatinya yang terluka dan menata kehidupannya yang baru. Dia ingin suasana baru tanpa bayang-bayang pria yang sudah mengkhianati dirinya dan melukai hatinya.
"Terimakasih." Lirih Amber di pundak kokoh pria yang kini membeku di tempatnya, karena mendapatkan pelukan mendadak dari wanita pujaannya.
"H-hum iya.!" Sahut Ken gugup.
"Tidurlah." Suruh Ken dan membaringkan tubuh Amber dengan hati-hati, Ken juga membantu menyelimuti wanita yang selalu membuatnya berdebar.
"Selamat tidur. Mimpi indah." Ucap Ken lembut dengan tangan kanannya mengusap puncak kepala Amber.
"Selamat malam dan selamat tidur juga, Ken." Balas Kim.
"Terimakasih.!" Balasnya kembali.
"Hm! Gumam Ken dengan anggukkan disertai senyuman lembut yang memabukkan.
Ken mematikan lampu kamar tersebut dan ia menyisakan cahaya dari lampu tidur yang ada di samping Amber yang sudah terlelap.
Ken memindai wajah polos Amber dengan lekat dan dalam. Ken dapat melihat dari raut wajah dan binar manik Amber yang mengandung kesedihan dan kekecewaan. Di juga dapat melihat kerapuhan dan putus asa pada diri wanita di depan.
"Tidurlah. Aku akan membawamu jauh dari sini. Agar kau bisa hidup dengan baik tanpa kesedihan lagi. Aku tidak akan mengapa kau ingin ikut bersamaku, karena aku sudah bisa melihat dari matamu, kalau kau berusaha untuk melupakan sesuatu yang sangat berharga untuk. Dan aku yakin kau bisa menata hidupmu kembali dengan baik. Ken masih betah menatap Amber yang kini terlelap damai. Ia bahkan memberi kecupan hangat di puncak kepala Amber.
"Tidurlah dan semoga kau bisa bermimpi indah." Bisik Ken.
Setelah memberikan kata-kata, dan pesan hangat untuk Amber. Ken keluar dari kamar yang ditempati wanita pujaannya itu.
__ADS_1
Ken berjalan ke arah balkon dan mengeluarkan ponsel miliknya. Mencoba menghubungi seseorang di seberang sana, tapi dia harus menelan kekecewaan saat panggilannya tidak diangkat.
"Ck! Menyebalkan." Decak Ken.