
Pertarungan antara Bram dan Amber masih berlangsung.
Kamar yang di tempat mereka, kini terlihat berantakan.
Bram hanya bisa pasrah menerima hantaman demi hantaman yang diberikan oleh sang wanita.
Wajah Bram kini sudah dipenuhi oleh memar.
Telinganya bahkan ikut berdenging mendengar makian dan juga umpat Amber.
"Bugh"
Amber memukul tepat di ulu hati Bram dan memberikan tendangan pada wajah tampannya.
Bram hanya bisa terdiam menerima amukan wanitanya yang berubah menjadi singa betina yang sangat mengerikan.
"Bugh"
"Bugh"
Amber menghantam kembali dada keras Bram dan menjatuhkan tubuh tinggi pria masa lalunya.
Dengan amarah yang menguasai tubuhnya hingga ubun-ubun, Amber menghajar Bram dengan membabi buta.
Tubuhnya yang hanya berbalut dengan dalam sport itu terlihat berkilau oleh keringat.
Dadanya terlihat naik-turun dengan sangat cepat, tatapannya menghunus tajam ke arah Bram yang terkapar di lantai marmer yang berwarna hitam.
"Aku sangat membencimu, brengsek!" Pekik Amber.
Wanita itu kembali melampiaskan amarahnya dengan menaiki tubuh setengah telanjang Bram dan menarik tengkuk pria itu kasar.
Amber kembali memberi pukulan di rahang tegas Bram dan juga di dada bidang pria itu.
Dengan emosi yang bercampur aduk Amber terus menghajar pria yang masih sangat ia cintai.
Tapi rasa kecewa, marah, terluka, benci dan juga rindu menjadi satu saat ini, di dalam diri Amber.
Amber berhenti memukuli tubuh Bram yang mulai melemah.
Dengan air mata yang mulai membanjiri wajahnya, Amber memukul-mukul pelan dada Bram.
Bram yang menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya yang ia letakkan di belakang, kini menarik lembut tubuh wanitanya yang berada di atas pangkuannya.
Pria itu memeluk erat tubuh bergetar wanita yang sedang menangis.
"Aku membencimu, sangat membencimu," racau Amber sambil memukul punggung lebar Bram.
Bram hanya mengangguk dalam diam sambil memeluk tubuh wanitanya.
Rasa sakit yang pada luka-luka yang diberikan oleh Amber, tak sebanding dengan rasa sakit hati saat mendengar tangis kesedihan wanita yang sangat ia cintai.
Bram menciumi rambut Amber dan mengusap lembut punggung bergetar wanitanya.
__ADS_1
"Aku, membencimu. Apa kau dengar itu? Aku sangat membencimu," gumam Amber sambil menarik rambut Bram.
"Aku tau. Maaf," bisik Bram.
"Maaf, aku gagal memperjuangkanmu, sayang. Aku tidak berdaya. Aku rapuh, bingung dan terpuruk." Pungkas Bram dengan nada suara lirih.
Bram menarik pelan tubuh Amber, sehingga kini keduanya saling bertatapan.
Bram menyatukan kening mereka dengan kedua tangannya menangkup wajah sembab wanitanya.
Nafas hangat keduanya saling memburu dan menyapa wajah mereka.
Amber memejamkan matanya, ketika pria di depannya mengecup kedua matanya yang mulai membengkak.
Kecupan hangat Bram berakhir di bibirnya yang lembut.
Amber dapat merasakan rasa asin saat kecupan dan sedikit ******* di bibirnya terlepas.
Wanita bermanik coklat itu menatap pada wajah babak belur Bram dan maniknya kini berada di sudut bibir pria yang memamerkan senyum indahnya terluka dna mengeluarkan cairan merah.
Amber menyentuh luka itu dengan lubuk hatinya yang merasa bersalah dan ikut merasakan sakit.
Bram menikmati sentuhan tangan lembut wanitanya yang berada di wajahnya.
Pria itu mendekatkan telapak tangan lembut Amber ke bibirnya dan memberikan kecupan hangat penuh perasaan cinta di sana.
"Aku sangat mencintaimu dan merindukanmu, sayang," bisik Bram tepat di wajah Amber yang berjarak sangat dekat, hanya hidup mancung mereka menjadi penghalang.
Kembali Amber memejamkan matanya dengan merasakan setiap hembusan nafas hangat Bram.
Cinta yang menjadi pertamanya dan rindu akan sentuhan lembut pria pemilik hatinya itu.
Bisakah ia menarik kembali sumpahnya dan juga janjinya pada seseorang?
Entahlah, Amber kini dalam Fase dilema antara, cinta dan dendam.
Cinta yang kini masih ia miliki untuk pria tampan di hadapannya.
Dendam karena rasa kecewa dan sakit hatinya.
Dan rasa keduanya kini terasa seimbang dalam lubuk hatinya.
Amber bingung dan bimbang harus mengutamakan, rasa cintanya atau Dendamnya dan juga sumpah yang pernah ia lontarkan pada seseorang.
"Love you," bisik Bram dengan bibirnya kini menempel di bibir ranum Amber.
Bram mengecup lembut bibir wanitanya, ********** dengan hati-hati sambil menyesapnya secara perlahan dengan penuh perasaan.
Bram menahan tengkuk Amber untuk memperdalam ciumannya kepada sang wanita, yang sangat ia cintai itu.
Amber yang sejak tadi memejamkan matanya dan terdiam menerima cumbuan bibir pria yang pun sangat ia rindukan.
Amber yang terlena dengan cumbuaan lembut Bram, membalasnya dengan tak kalah lembutnya dengan penuh perasaan yang bercampur aduk.
__ADS_1
Kedua tangannya kini berada di leher jenjang Bram dan merangkulnya sangat erat.
Cumbuan mereka kini semakin dalam dan menuntun. Lidah keduanya kini saling membelit di dalam rongga mulut mereka.
Amber meremas rambut Bram pelan dan menggigit kecil bibir tipis nan seksi Bram.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Bram ketika tautan bibir mereka terlepas dan Bram menghapus bibir basah wanitanya.
Amber hanya terdiam dengan nafas yang memburu, akibat ciuman panas mereka.
Bram tersenyum tipis dan kembali memberikan kecupan di kening Amber dan menarik wanitanya ke dalam pelukannya yang sangat hangat plus wangi maskulin.
Amber membuka matanya dan kini memandangi wajah tampan pria di depannya.
Pandangan mereka kini saling beradu dengan tatapan penuh arti masing-masing.
Amber bahkan melihat jelas tatapan cinta dan rindu Bram kepadanya.
"Maafkan, aku karena membuatmu kecewa dan terluka," lirih Bram pelan.
"Aku hanya terpaksa sayang, demi kalian aku rela menjadi tumbal mereka," ungkap Bram.
"Maafkan aku, yang tidak bisa memilihmu, karena aku dalam fase delima. Di mana aku harus memilih di antara kalian berdua," pungkas Bram dengan tatapan sedih dan putus asa.
"Bersabarlah, dan tunggu aku, sampai aku menemukannya," pinta Bram.
"Asal kau tahu, aku sangat tersiksa, sayang," bisik Bram dengan wajahnya berada di atas dada Amber.
"Aku, kebingungan,"
"Aku pun terluka dan menderita."
"Menderita karena merindukanmu juga dengan rasa bersalahku."
"Aku mohon maafkan aku, sayang,"
Bram mengembalikan tatapannya ke manik coklat Amber.
Amber dapat melihat kejujuran di kedua netra abu-abu Prianya.
Amber tak menjawab, dia hanya mampu menenangkan Bram dengan menarik wajah Bram dan merangkulnya erat.
Amber dapat merasakan getaran di tubuh Bram. Yah bertanda pria tampan itu sedang menangis.
Amber kini dilanda dilema dan juga rasa bingung.
Haruskah ia meneruskan misi rahasia nya?
Amber menggertakkan giginya pelan karena perasaan bimbangnya.
"Haruskah, aku membunuhnya?"
"Tapi, dia ayah dari kedua anakku?"
__ADS_1
"OH Tuhan, aku merasa bimbang," batin Amber.