
Amber menghentikan langkahnya ketika manik coklat indah yang miliki, menangkap pemandangan yang mampu membuatnya sesak dan juga geram.
Tak jauh dari posisinya, ia dapat melihat dengan jelas kedua anak kembarnya telah dihina oleh para pelayan khusus untuk sang pangeran kecil atau anak laki-laki Camelia dan Bram.
Amber hanya mampu menyaksikan kedua anaknya di permalukan dan dihina dalam diam dengan menahan rasa marah dan juga sakit hati.
Amber menggeleng kepalanya pelan dan menempelkan jari telunjuknya di bibir gemetar, saat Bryana melihat dirinya dan ingin memanggilnya.
Bryana yang mengerti pun hanya bisa mengangguk pelan sembari memberikan senyuman kecil kepada sang mommy.
Amber menepuk-tepuk pelan dadanya yang mendadak sesak ketika makian dan juga hinaan yang si kembar terima dari putri Camelia.
*
*
*
"Ada apa ini," sentak putri Camelia yang sejak tadi mendengar pelayan putranya berteriak dan memaki seseorang.
"Putri Camelia," hormat sang pelayan setia putra Camelia.
"Kedua anak ini sudah menyentuh dan juga mengotori pakaian pangeran mahkota, tuan putri," lapor sang pelayan yang memiliki wajah angkuh.
Camelia menatap sepasang anak kecil di depannya dengan sangat intens.
Dia memindai penampilan keduanya begitu lekat dan Camelia tersenyum sinis ketika melihat penampilan Bryan dan Bryana yang jauh dari kata mewah.
Kedua anak kembar itu hanya memakai pakaian sederhana dan juga penampilan sederhana.
"Cih" Camelia berdecih dan menatap sinis ke arah Bryan dan juga Bryana.
"Kenapa di acara yang begitu mewah dan megah ini, harus dikotori dengan kehadiran dua makhluk menjijikkan di sini," ujar Camelia dengan nada penuh hinaan.
Ia mencebikkan bibirnya dan menatap hina kepada si kembar.
Perlakuan dan kata-kata putri Camelia mengundang sebagian perhatian para tamu undangan.
__ADS_1
Mereka kini ikut mencemooh sepasang anak kecil yang sedang menunduk.
"Hey, anak rendahan, kenapa kalian ada di sini dan membuat kekacauan," hardik salah satu tamu undangan yang berstelan rapi.
"OH Tuhan, coba lihat. apa yang mereka lakukan kepada pakaian mahal cucu ratu Rosella," pekik wanita setengah baya.
"Iya. dasar anak-anak rendahan, tidak tahu tata Krama,"
"Kemana, para panitia pelaksana acara ini? bisa-bisanya mereka kecolongan dan membiarkan anak gembel masuk ke dalam sini."
para tamu undangan berbisik-bisik dengan tatapan hina ke arah sepasang anak kecil.
"Maaf," cicit Bryana sambil mendongakkan kepalanya.
Camelia terpaku sejenak saat melihat garis wajah Bryana yang sangat familiar di pikiran putri Camelia.
"maafkan adik saya, nyonya," ucap Bryana dengan tatapan yang penuh keyakinan, tanpa rasa takut sedikitpun.
"Apa, dengan kata maaf mu, kalian mampu menggantikan pakaian mahal pangeran Robert," sang pelayan pangeran Robert menimpali ucapan Bryana dengan sinis.
"Apa, katamu? menggantinya,?" ejek pelayanan itu sambil tertawa penuh hinaan.
dan semua para tamu pun Camelia tertawa melihat tingkah kepercayaan diri Bryana.
"Aku yakin, kalian berdua terlahir dari wanita murahan," bisik pelayan itu dan kembali tertawa.
Bryana yang mendengar kata hinaan yang ditujukan kepada sang mommy, merasa sangat marah.
Bryana menatap tajam wanita angkuh dihadapannya.
Bryana lantas merampas gelas salah satu tamu undangan dan menyiramkannya kepada pelayan yang sok berkuasa itu.
semua orang yang ada di sana tercengang melihat keberanian gadis kecil itu.
Camelia dan para pelayannya merasa geram dan tidak menerima dengan hinaan Bryana.
yang sudah berani mempermalukan keluarga kerajaan.
__ADS_1
"KAU," pekik Camelia, yang jari telunjuknya ini berada di depan wajah Bryana.
Bryana hanya membalas bentak kan Camelia dengan tatapan tajam.
ia menyoroti putri Camelia dengan tatapan menantang tanpa rasa takut sedikitpun.
"saya, tidak akan menghormati seseorang yang sudah menghina, mommy saya. asal anda tahu, mommy saya adalah wanita terbaik di muka bumi ini. dia tidak seperti sikap anda yang sangat membanggakan harta dan kekuasaan anda," sarkas Bryana yang begitu berapi-api, mengeluar semua unek-uneknya yang ia tahan sejak tadi.
"Hey. jaga ucapanmu anak kecil," bentak pelayan setia putri Camelia.
"Maaf, kalau ucapan saya tidak sopan. tapi saya rasa nyonya ini pun tidak memiliki etika kesopanan dan keramahan seorang putri bangsawan," pungkas Bryana, yang membuat Camelia terdiam membisu.
"Dasar anak murahan," hardik pelayan setia Camelia. wanita setengah baya itu bersiap untuk melayang telapak tangan besarnya ke arah wajah mungil Bryana.
akan tetapi suara berat nan dingin membuat gerakan tangannya terhenti dan mengantung di udara.
"jangan coba-coba, menyentuh wajah anak saya, kalau anda masih menginginkan tangan anda utuh," ancam Boy dengan raut wajah merah yang menahan amarah.
"Daddy," lirih Bryan yang sejak tadi terdiam.
bocah laki-laki itu pun berlari kearah Boy dan memeluk erat pinggang Boy.
"Berani-beraninya, kalian menghina kedua anak kembar ku," amuk Boy dengan lantang.
semua tamu undangan terdiam dengan kebisuan yang tiba-tiba melanda mereka semua.
siapa yang tidak mengenal sosok Boy Raymond Cole, sang pengusaha terkenal di kota Chicago.
Amber hanya bisa menatap nanar kepada kedua putra-putrinya yang sedang dalam perlindungan Boy dan juga asistennya.
Amber tidak ingin mendekati si kembar yang nantinya akan membuat nyawa kedua anak kembarnya itu dalam bahaya.
dia juga tidak mungkin membuat keluarga kerajaan curiga padanya dan yang lebih ditakutkan Amber adalah kesadaran keluarga kerajaan akan sosok kedua anaknya.
Amber hanya tinggal memberikan pelajaran setimpal untuk putri Camelia dan juga antek-anteknya.
"Aku, bersumpah akan membuatmu hancur kali ini," gumam Amber.
__ADS_1