
Setelah melakukan konferensi pers di sebuah hotel terkenal, kini pasangan suami-istri itu dan juga sepasang anak kembar, turun dari mobil setelah tiba di sebuah istana megah dan mewah.
Amber berjalan memasuki istana tersebut dengan seorang gadis kecil berada di gendongannya yang didandani menyerupai sang anak Bryana, begitupun Bram yang yang menggendong seorang anak laki-laki yang wajahnya juga dibuat mirip Bryan.
Semua anggota keluarga istana dan juga para seisi istana menyambut kedatangan sang pangeran mahkota.
Ratu Rosella dengan anggunnya duduk di singgasananya dengan wajah penuh kewibawaan dan ketegasan.
Pasangan itu berjalan mendekat ke arah singgasana sang ratu dengan saling menggenggam dan masing-masing menggendong anak-anak mereka.
Sebuah tatapan kini melirik sinis ke arah Amber dan juga sepasang anak kembar.
Mereka beranggapan, kalau Amber tidak pantas berada di lingkungan istana dan juga anak dari hasil di luar nikah.
Itu akan membuat nama kerajaan Alexander tercemar.
Decakan dan juga cibiran lirih menggiring langkah sepasang suami-istri itu untuk mendekati sang ibu ratu.
Ratu Rosella sendiri hanya bisa menatap intens kepada sepasang anak kembar yang Amber dan Bram gendong.
__ADS_1
Raut wajah wanita setengah baya itu, sangat sulit untuk bisa ditebak. Entah apa yang dipikirkan ratu Rosella atau apa yang akan direncanakan oleh wanita tua itu.
~
"Hormat, kami yang mulia ratu." Bram memberikan penghormatan kepada ratu Rosella dengan wajah datar, begitu juga dengan Amber.
Kedua anak kembar yang ada di gendongan mereka, ia turunkan dan menyuruh kedua anak itu memberi hormat kepada ratu Rosella.
"Akhirnya, kau kembali juga, pangeran!" Seru ratu Rosella dengan wajahnya yang datar.
"Aku harus kembali, karena ini adalah istanaku," ujar Bram.
"Yah, ini memang istana mu dan kau akan menjadi pewaris tahta disini," imbuh ratu Rosella. Meskipun hatinya kini sedang terbakar oleh ucapan Bram.
"Anda benar, sebentar lagi, aku akan mengambil alih semua kekuasaan ku dan menggantikan anda duduk di sana," pungkas Bram.
Tangan ratu Rosella hanya bisa terkepal di balik gaun yang ia kenakan dengan tersenyum palsu.
"Kau, membawa mereka?" Kini ratu Rosella beralih menatap Amber dan kedua anak palsunya.
__ADS_1
"Dia istri dan anak-anakku. Yang seharusnya kami sudah lama menikah, tapi, … karena ketamakan dan kelicikan seseorang, maka kami terpaksa berpisah," seloroh Bram.
Semua orang yang ada di sana telah berbisik-bisik, mendengar perkataan Bram.
Sedangkan ratu Rosella, berusaha menahan amukannya. Dia harus bisa mengambil kembali kepercayaan Bram.
Dia akan kembali menekan Bram, agar menikahi seorang wanita dari keluarga konglomerat terpandang.
"Tapi, istrimu Camelia belum lama meninggal, pangeran. Tapi kau sudah membawa, wanita yang berasal dari kalangan biasa, yang juga penyebab putri Camelia bunuh diri," timpal seorang wanita yang merupakan keluarga kerajaan.
"Jaga ucapan, anda!" Ucap Bram dingin, jangan lupa tatapan membunuh lelaki itu.
"Jaga sikap kalian semua, dia adalah istriku sekarang dan anak-anak ini adalah anak aku, maka Jaga ucapan kalian," Sarkas Bram dengan sikap tenang.
"Mulai sekarang, Amber Wilson adalah tuan putri disini yang akan memegang seluruh peraturan dan juga pengawasan di istana ini. Jadi– kalau kalian masih ingin tinggal di istana ini, maka patuhi semua perkataan istriku." Titah seorang pangeran mahkota, membuat ruangan itu ricuh oleh para keluarga kerajaan yang merasa tidak sudi Amber menjadi wanita berpengaruh di istana Alexander setelah ratu Rosella.
"Pangeran! Anda tidak bisa mengambil keputusan seperti ini, tanpa persetujuan ratu," sela salah satu pria setengah baya..
"Kenapa, aku harus meminta persetujuannya? Ingat dia hanya ratu sementara disini. Setelah aku naik tahta, maka gelar ratu akan aku berikan kepada istri aku," pungkas Bram dengan wajah tegas.
__ADS_1