Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 93


__ADS_3

Carlos masih memandangi perahu layar, yang di naiki oleh ratu.


Netranya menajam, ke arah spin but yang kini bergerak semakin menjauh.


Sudut bibir Carlos berkedut, membentuk sebuah senyum penuh arti.


Ia menoleh kesamping, dimana Patrick yang siap membidik ke arah sasaran yang ditujukan kepada Nicko anak tunggal ratu Rosella.


"Berikan, padaku!" Pinta Carlos dingin, sambil mengulurkan tangannya ke samping.


Patrick dengan sigap menyerah sedapan yang dapat mematikan target, meskipun berjarak jauh.


Carlos mengarahkan senapan canggih ke arah target dengan sebelah matanya mengintip pada sebuah lubang kecil yang menyerupai kaca pembesar, mampu mengawasi pergerakan target. Dan dapat menebus, menghancurkan kulitnya manusia apabila tepat sasaran.


"Selamat,menikmati kesedihan, ratu Rosella," gumam Carlos dengan sebuah senyum penuh arti.


Sambil mengucapkan sebuah kata selamat, Carlos bersiap menarik pelatuk senapan dan tidak menunggu lama, Carlos melepaskan satu peluru yang akan menembus dada Nicko.


"RIP" seloroh Carlos pelan dengan di iringi kekehan puas.


Benar saja tidak berselang lama, terdengar teriak histeris dari seorang wanita yang sedang menangisi seseorang yang telah tiada.


Bersamaan itu juga, sebuah tembakan bertubi-tubi menyerang ke arah Carlos dan anak buahnya.


Carlos tertawa puas seiring tangisan histeris ratu Rosella.


Begitu juga suara tembakan yang saling bersahutan.


Carlos dengan santainya meninggalkan anak buahnya, yang sedang adu kekuatan dalam keahlian tembak-menembak.


"Bereskan!" Perintah Carlos.


"Tapi, ingat. Biarkan dia hidup!" Lanjutnya lagi.


"Baik, tuan," jawab Patrick dan yang lain.


"Sebuah tangisan yang sangat menyenangkan," monolog Carlos.


~


Sementara di dalam spin but, masih terdengar jeritan tangis dari seorang ibu.


Saat anak semata wayangnya, terbujur kaku di pangkuannya dengan bersimbah darah.


Ratu Rosella merauang histeris sambil merangkul tubuh kaku sang putra, yang baru saja mendapatkan sebuah peluru yang menembus dadanya hingga jantung.


Seketika Nicko menghembuskan nafasnya, saat mendapatkan sebuah peluru yang kini masih bersarang di organ tubuh yang sangat penting.


"Anakku," lirih ratu Rosella dengan nada gemetar.


Kedua tangan wanita setengah baya itu, sudah dipenuhi oleh darah sang putra.


"Bangunlah, nak … jangan tinggalkan, ibu," bisiknya di telinga sang putra.


"Kita, belum menikmati semuanya, nak. Sedikit lagi, maka semuanya akan menjadi milik kita," gumam ratu Rosella dengan nada tertahan.


Air matanya masih begitu deras mengalir membasahi pipinya, yang sudah mulai terlihat garis-garis halus di sekitaran tertentu.


"Bangunlah, nak. Bangun!" Teriak wanita itu dengan kesedihan yang begitu dalam.


"Ibu, mohon bangunlah, nak … temani ibu, untuk menyelesaikan semuanya," racau wanita itu dengan terguguk.


"NICKO!" Teriak ratu Rosella nyaring, hingga mampu menutupi suara tembakan yang saling bersahutan.

__ADS_1


"AKU BERSUMPAH, AKAN MEMBUAT KALIAN MEMBAYAR INI SEMUA!" Teriak ratu Rosella seperti orang kesetanan.


Dan wanita itu kembali menangisi putranya, yang tubuhnya sudah dingin.


Ia merangkul erat tubuh sang putra, ia tidak menghiraukan penampilannya yang berantakan dengan sebuah cairan merah kini mengotori pakainya dan juga wajahnya.


Ia masih menangisi kepergian putra semata wayangnya.


Yang baru saja bertemu kembali di acara pelelangan, setelah tidak bertemu hampir satu tahun.


Namun kali ini putranya, benar-benar pergi untuk selamanya. Dan tidak ada lagi yang ratu Rosella tunggu kedatangannya dan sosok yang selalu ia rindukan.


Di tengah suara tembakan peluru yang saling bersahutan, di situ juga tangisan pilu seorang ratu Rosella.


Begitu hancur perasaan dan hati wanita itu, dadanya sakit, sangat sakit. Melihat buah hati satu-satunya meregang nyawa di hadapannya.


Anak yang menjadi penyemangatnya, anak yang menjadi tempat rindunya, anak yang menjadi tujuan hidupnya yang sekarang menjadi obsesinya, dan anak yang akan menjadi kebanggaan dan kehormatannya kelak.


Namun angan-angan itu kini tinggal menjadi angan-angan semu yang telah pergi bersama dengan semua harapan indah yang terancang indah di pikiran dan benak ratu Rosella.


Sebuah harapan, yang akan membuat anaknya di pandang kagum dan dihormati seluruh manusia di muka bumi ini.


Sebuah harapan di mana sang anak kelak dapat menguasai seluruh kekuasaan yang ada di kotanya.


Sebuah harapan yang akan menjadikan dirinya dihormati dan disegani di mana-mana.


Tapi sayang kini harapan dan angan-angannya menjadi sirna dan menjadi debu yang kini terbang terbawa oleh angin kesedihan.


"Kembali, segera!" Perintah Martin.


"Baik tuan," sahut para bawahannya.


Ratu Rosella menatap pengawalnya dengan lekat dan tajam.


"Mereka, mampu melumpuhkan, semua anggota kita, yang mulia," pungkas Martin.


"Apa, anda yakin, ingin membawanya kembali?" Tanya Martin.


"Apakah, aku terlihat sedang bercanda?" Tanya ratu Rosella balik dengan wajah suram.


"Tidak yang mulia. Tap, …."


"BAWA SAJA DIA PADAKU!" Bentak ratu Rosella.


"Siap yang mulia," jawab Martin pasrah.


"Aku, hanya ingin melihat, reaksi mereka, saat melihat kejutan dariku," gumam ratu Rosella dengan tatapan menerawang tajam.


"Aku, berjanji. Akan membalas mereka semua, son!" Lirih ratu Rosella, yang kembali bersedih.


"Siapkan, ruangan khusus, buat putraku!" suruh ratu Rosella.


"Baik yang mulia," jawab Martin.


Ratu Rosella akan membuat mayat putranya tetap utuh.


Ia akan melakukan pengawetan pada jenazah sang anak, agar selalu utuh.


Supaya ratu Rosella dapat melihat wajah putranya kapan saja, apabila ia merindukan sosok putra semata wayangnya.


Ratu Rosella memandangi wajah tampan putranya, yang kini berubah pucat dan mulai membiru.


Ratu Rosella tidak memperdulikan lautan ombak lepas yang menggoyang-goyang, perahu mereka.

__ADS_1


Suara ombak yang bertabrakan dengan badan perahu besar yang dipakai ratu Rosella, tidak membuat wanita itu berpaling dari wajah tampan putranya.


Terlihat jelas kesedihan dari raut wajah wanita itu.


Wajahnya pun sembab dengan kedua kelopak matanya yang bengkak.


Martin dengan setia berdiri di belakang ratu kesayangannya itu.


~


Kembali ke villa.


"Apa yang terjadi dengannya?" Carlos yang baru muncul di salah satu kamar di villa itu.


"Dia merasakan sakit dikepalanya," jawab Amber.


"Apa dia mengatakan, sesuatu?" Tanya Carlos penasaran.


"Tidak! Dia hanya berteriak dan menyebut bayangan," timpal Boy yang duduk di sofa.


"Bayangan?" Carlos membeo.


"Sebuah bayangan, seorang wanita," seloroh Boy lagi.


"Apakah, itu bayangan, mommy?" Sela Carlos sambil menerka-nerka.


"Entahlah! Lebih baik, kita menunggunya, sadar," sela Boy.


Sambil menghela nafas Carlos mengiyakan perkataan Boy. "Baiklah," ucapnya patuh.


Amber hanya terdiam membisu sambil memandangi wajah pucat Bram.


Sesekali ia mengusap wajah maskulin kekasihnya, yang terlihat sangat tampan.


Sebelah tangan satunya menggenggam erat telapak tangan Bram.


"Apa, sebenarnya terjadi padamu, di masa lalu?" monolog Amber dalam hati.


"Bagaimana dengan si kembar?" Tiba-tiba saja Carlos bertanya kepada Boy.


"Dia baik. Bahkan sangat baik!" Jawab Boy enteng.


"Apa maksudmu, sialan. Mereka di sana, tanpa pengawal satupun!" Pekik Carlos, yang mencemaskan keponakannya.


"Sebaiknya, kita kembali saja," timpal Amber.


"Kau, benar. Sebaiknya kita kembali saja," sahut Carlos, menyetujui usulan Amber.


"Tidak, perlu. Pokoknya mereka aman," jawab Boy santai.


"Brengsek!" Hardik Carlos.


"Kenapa, kau begitu tenang, sialan!" Pekik Carlos.


"Itu karena mereka, bersama kakek mereka,"


"Kakek?" Tanya Carlos dan Amber bersamaan.


"Apa, daddymu bangkit kembali?" Tanya Carlos kepada Amber.


"Atau, tuan Cole sudah pensiun dari jiwa Casanova nya?"


"Mereka, bersama, …."

__ADS_1


"Akh, baiklah. Mari kita pulang!"


"Boy Raymond Cole, brengsek!?


__ADS_2