
"Berani-beraninya, kalian menghina kedua anakku!" Murka Boy, tidak lupa wajah dan tatapan mata pria itu begitu mengerikan.
"Kalian." Kini Boy menunjukkan para staf sekolah di mana ketiga anaknya menuntut ilmu yang masih di sekolah dasar.
"T-tuan. M-maaf kami," ucap pria paruh baya yang merupakan pimpinan sekolah tersebut dengan terbata dan nada suaranya terdengar bergetar.
"APA KATAMU, … MAAF!" Hardik Boy, menggelegar di seluruh koridor sekolah.
Semua orang tersentak kaget, bahkan dari mereka ada yang mengeluarkan air kemihnya.
Seorang pria dengan penampilan culun, salah satu wali kelas di sekolah tersebut.
Boy yang mendengar suara rintikan air mengalir dari balik celana orai culun itu, Boy menatap dengan mulut menganga pada pria tersebut dan bergedik bahu ketika mencium bau tak asing yang di timbulkan oleh pria culun yang kini makin bergetar hebat.
"Cih, menjijikkan," cibir Boy dengan bergidik jijik.
"Maaf tuan, dia terlalu takut," seru pimpinan sekolah.
"Aku tidak peduli. Yang jelas, mulai sekarang. Sekolah ini saya tutup." Pungkas Boy, tanpa diganggu gugat.
Dia seorang Boy Raymond Cole, merupakan pebisnis terkenal di kotanya.
Aset property nya ada di mana-mana, dan salah satunya, sekolah ini.
Boy bisa melakukan apa saja, ia bahkan bisa menghancurkan sekolah tersebut dengan sangat mudah.
"Jangan, tuan. Kalau sekolah ini tutup, di mana anak-anak akan menuntut ilmu," mohon pimpinan sekolah itu yang kini berlutut di depan kaki Boy.
"Aku, tidak perduli. Dan kalian semua di, P.E.C.A.T." Boy mengeluarkan sebuah titah keramat bagi para pengajar dan juga para staf sekolah terkenal itu, dengan penekanan di akhir kalimat.
"Tidak!" Teriak para pengajar dan juga para staf sekolah.
"Kami mohon, tuan. Jangan pecat kami," mohon semua para staf sekolah.
"Kami, sudah nyaman disini," ujar salah satu pengajar.
"Aku tidak peduli. KALIAN SEMUA DIPECAT." Seloroh Boy dengan mantap.
"Tapi, tuan. Kami mohon, maaf kami,"
"Tidak, ada kesempatan buat kalian, yang hanya memandangi status, pelajar. Aku perintahkan kepada kalian, untuk segera tinggalkan, sekolah ini." Usir Boy.
"Jojo!" Panggil Boy.
"Lemparkan, mereka semua keluar. Dan tarik semua fasilitas yang mereka dapatkan, dari yayasan ini." Boy mengeluar sekali lagi ultimatum, untuk para staf yayasan sekolah.
Yah mereka mendapatkan sebuah, fasilitas mewah dari yayasan sekolah yang merupakan salah satu aset Pattinson group.
__ADS_1
"Cepat, usir mereka. Dan satu lagi, cari tahu semua tentang suami mereka semua!" Boy menatap para kelompok geng sosialita yang tadinya sangat terkagum-kagum dengan ketampanan Boy dan kini wajah mereka berubah pucat pasi.
"Pecat suami mereka, kalau bekerja di setiap perusahaan kita, dan hubungi seluruh klien kita untuk tidak menerima suami mereka bekerja di mana pun," titah Boy mutlak.
"Baik tuan," jawab Jojo, asisten Boy.
Para kelompok sosialita tersebut, tentu saja merubah panik dan ketakutan.
"Tuan. Kami minta maaf. Kami melakukan ini semua, karena perintah, wanita itu," ungkap salah satu dari mereka, sambil menunjuk ke arah wanita yang sejak tadi terkapar, tanpa mendapatkan bantuan dari siapapun.
Boy mengalihkan tatapannya kepada, wanita yang ditunjuk wanita tersebut.
Dengan alis terangkat, Boy menatap sang asisten dan menggerakkan kepalanya ke arah wanita yang sedang terkapar tak berdaya.
"Jo. Bawa dia ke markas dan juga wanita itu," suruh Boy dan menunjuk wanita yang ada di pojokan.
"Siap, tuan," sahut Jojo.
"Apa, berita nya sudah menghilang?" Tanya Boy sambil melangkah ke arah parkiran gedung sekolah itu.
"Sudah tuan. Dan semuanya sudah beres," sahut Jojo.
"Kita, kembali ke Mansion!" Suruh Boy yang kini sudah duduk dengan gagahnya di dalam mobil mewah berwarna hitam itu.
~
Mereka ingin mengobati luka di kening Bryan pun memar di lengan mungil Bryana.
Bram dan Amber, tidak ingin anak-anaknya terlalu lama di perdebatan itu, yang nantinya akan menimbulkan kesan trauma dan juga kepanikan Kepada si kembar.
Keempat nya kini berada di dalam mobil, untuk membawa mereka pulang ke Mansion Boy.
Amber membelai lembut rambut putra tampannya yang sudah tertidur di dalam pelukannya.
Sedangkan si imut Bryana, berada di pelukan sang daddy, gadis imut itu juga sudah tertidur pulas di dalam dada bidang sang daddy.
Kedua sepasang kekasih itu, masih saling diam membisu. Tidak ada yang memulai pembicaraan, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sehingga hanya deru nafas mereka yang terdengar dan juga deru nafas teratur dari si kembar yang sedang tertidur.
Jastin hanya bisa terdiam dengan fokus mengemudi. Pria itu sesekali melirik sang pangeran muda lewat kaca spion yang ada di atas kepalanya.
Bram menoleh ke samping di mana wanitanya manis terdiam.
Pria itu mendekatkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Amber, menggenggamnya lembut setelah itu membawa ke arah bibirnya, di kecupannya dengan lembut telapak tangan sang kekasih.
"Maaf!" Bisik Bram yang sekali tarikan, Amber sudah berada di rangkulannya.
__ADS_1
Amber menatap dalam mata, bermanik abu-abu sang pria.
Ia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak kekar Bram.
"Mungkin, ini adalah ujian buat hubungan kita, dear!" Ucap Amber pelan.
"Mungkin. Dan semoga ini tidak berlanjut lagi, kasihan si kembar," lirih Bram menatap dengan nanar kedua anaknya.
"Semoga," sahut Amber dengan bisikan.
Amber mengerutkan alisnya bingung, saat menyadari jalan yang mereka lalui, bukan ke arah Mansion Boy.
Amber lantas menegakkan kepalanya, ketika tiba di sebuah gedung pemerintah.
Amber mengalihkan pandangannya kepada Bram yang tersenyum manis.
"Kita, akan meresmikan hubungan kita. Semuanya sudah beres, tinggal menandatangani berkas pernikahan kita, maka, kau sah menjadi milikku," bisik Bram dengan jari-jari mereka yang kini saling bertautan.
"Apa kau tidak sedang, bercanda?" Tanya Amber dengan wajah shock dan juga bahagia.
"Tidak, my heart! Sudah waktunya, kita mengikat hubungan kita dengan pernikahan. Ini semua demi kita dan yang paling penting demi, anak-anak kita," bisik Bram dan diakhiri kecupan di kening Amber. Dengan si kembar yang masih berada di pangkuan mereka.
"Maukah, kau menikah, denganku, sayang?" Ucap Bram dengan tatapan yakin dan serius.
Dengan derai air mata, Amber mengangguk yakin. Dan setelahnya ia menabrak wajahnya di ceruk leher kekasihnya.
Keduanya pun menangis dengan perasaan haru dan bahagia.
"Aku mencintaimu, sayang,"
"Aku juga sangat, mencintaimu."
Kembali Amber dan Bram saling melepas perasaan bahagia dengan ciuman lembut di bibir keduanya.
Bram menuntut Amber masuk kedalam kantor pencatatan sipil di kota Chicago.
Dengan Bryana di gendongannya, sedangkan Bryan di gendongan Jastin.
~
Sementara di tempat lain.
Di dalam mobil mewah dengan keluaran terbaru, seorang pria tampan dan gagah, menatap tajam ke depan dengan wajah merah padam.
Tangannya kini mengepalkan erat di setir mobilnya dan matanya memandangi objeknya yang sedang bermesraan.
"Hello Kitty!!
__ADS_1