
"Kau yakin, ingin menitipkan si kembar kepada kami, Amber. Ruby yang masih ragu dengan keputusan Amber dan ia pun bertanya sekali lagi.
"Kau, keberatan merawat mereka," sahut Amber dengan pertanyaan.
"Bu-bukan seperti it, …."
"Kalau, kamu keberatan tidak masalah, pun aku bisa menitipkannya kepada orang lain," ujar Amber, yang menyela ucapan Ruby
"Plak! Ruby menepuk paha Amber.
"Apa yang kau katakan," pekik Ruby dengan mata melotot.
"Aku, tidak rela kedua keponakanku diasuh orang lain." Ruby bersungut-sungut dengan nada emosi.
"Aku, hanya meyakinkan pendengaranku," celetuk Ruby.
"Tidak. Aku serius ingin menitipkannya pada kalian. Aku tidak mungkin membawanya ke desa terpencil itu, terlalu berbahaya kalau si kembar ikut. Jadi aku menitipkan mereka padamu, si kembar akan aman ada pada kalian dan aku juga bisa bekerja dengan tenang. Mereka akan tumbuh dengan normal dengan kalian, sedangkan dengan aku mereka pasti akan bosan." Penjelasan Amber membuat Ruby dan Boy terdiam.
"Kau, akan kembali melakukan pekerjaan berbahaya dan kejam itu, mber,?" Tanya Ruby.
"Hm! Aku sangat menyukai pekerjaanku,* sahut Amber.
"Oh Tuhan. Kau bisa bekerja di perusahaan Boy," sengit Ruby sambil memandangi suamiku dan meminta bantuan untuk membujuk Amber.
Boy hanya mengangkat bahunya dan menggeleng.
"Aku, akan tetap kembali. Dengan begitu aku bisa melupakannya," lirih Amber.
"Biarkan dia memilih jalannya sendiri, sayang. Mungkin dengan begitu ia akan melupakan pria brengsek itu." Boy setuju dengan ucapan Amber.
"Apa yang dikatakan Amber soal si kembar, ada benarnya juga. Kalau mereka akan aman bersama kita." Boy menyetujui keinginan Amber untuk menitipkan si kembar pada mereka, dengan begitu Boy bisa melindungi anak-anak Amber dari ancaman orang suruhan dari pihak keluarga kerajaan.
"Baiklah, mulai sekarang baby Bryan dan Bryana akan bersama kami. Mereka akan kami rawat sepertinya anak kami sendiri, baby Gie pasti senang melihat si kembar," ucap Ruby dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Kau benar sayang, baby Gie pasti senang mendapat dua bayi kecil sekaligus." Boy menimpali seruan sang istri.
"Terima Kasih," ucap Amber dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, kau tidak perlu berterima kasih. Kami hanya ingin terbaik buat baby twist,"jawab Ruby.
"Aku janji, akan sering-sering melihat mereka." Amber menatap satu persatu bayi kembarnya.
Meskipun berat rasanya ia menitipkan anak kembarnya, tapi dia harus melakukannya demi keselamatan dan juga pertumbuhan normal kedua anaknya.
Dia tidak ingin bayi kembarnya, menjadi sasaran utama para musuh, untuk melumpuhkan tim Daredevil black. Dan mereka juga sering berpindah-pindah yang takutnya membuat si kembar jengah.
Ken mengusap bahu Amber, membuat wanita itu terkejut. Amber hanya mengangguk dan tersenyum. Ia mencoba mengyakinkan Ken, kalau dirinya baik-baik saja dan ia sangat yakin dengan permintaannya.
"Kalau begitu bersiaplah, kita akan berangkat nanti sore," pinta Ken.
"Secepat itu,?" Sahut Ruby yang sedang memberi si kembar asi dari botol susu si kembar.
"Kami akan berpindah lagi," jawab Ken.
"Tempat kita sudah diketahui oleh para pihak kepolisian dan sekarang markas kita sudah hancur," ungkap Ken dengan wajah sendu.
"Bagaimana, bisa.?" Amber terkesiap dan menyengit kaget.
"Apa ini karena kejadian satu bulan yang lalu," tanya Amber lagi.
"Maaf," lirihnya.
"Bukan, sweety. Ini bukan kesalahanmu, tapi ada pengkhianat dari pihak musuh yang bergabung dengan kita," ujar Ken.
"Pengkhianat? Siapa,?" Tanya Amber penasaran.
"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas aku bersyukur kau tidak ada di sana," ujar Ken dengan wajah penuh syukur.
__ADS_1
"Tap, …."
"Kau, tidak perlu mengkhawatirkannya. Semua akan baik-baik saja," terang Ken.
"Dan aku setuju, aku menitipkan si kembar pada mereka, dengan begitu kita tidak akan merasa khawatir." Ken setuju dengan permintaan Amber.
"Hm." Gumam Amber.
"Kita, akan sering berkunjung, jangan khawatir," seloroh Ken sambil mengusap bahu Amber.
Amber menggakuk dan menatap nanar kedua bayi kembarnya yang berada di pangkuan pasangan suami-istri itu.
"Maafkan, mommy anak-anakku." Amber menitipkan air matanya sambil menatap kedua anak kembarnya.
Ibu mana yang tega meninggalkan anak-anaknya yang masih bayi. Amber merasakan itu. Merasakan hatinya begitu sakit, harus hidup terpisah dengan kedua anak kembarnya.
Kalau bukan karena keselamatan si kembar, Amber tidak akan rela berpisah dengan mereka.
Dia harus merelakan anak-anak kembarnya hidup terpisah dengannya. Demi keselamatan dan juga pertumbuhan normal si kembar.
Ia tidak mungkin membawa anak-anaknya di kawasan berbahaya yang dipenuhi oleh orang-orang munafik.
"Bersiaplah, kita akan kembali," bisik Ken.
"Baiklah," sahut Amber.
Ruby dan Boy mendekati Amber. mereka juga membawa si kembar untuk di berikan kepada sang ibu.
"Kau jangan khawatir, mereka akan aman bersama kami," ujar Ruby sambil mengusap punggung bergetar Amber.
"Aku, titip mereka pada kalian," ucap Amber dengan tangisan pilu.
Ruby dan Boy mengangkuk, mereka juga ikut merasakan kesedihan.
__ADS_1
seharusnya Amber mendapatkan kebahagiaan dan juga ketenangan dari orang yang ia cintai.
tapi karena ke egois seseorang yang berkuasa, membuat kehidupan seseorang menderita.