Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 97


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap, sayang?" Amber bertanya dengan kedua tangannya, melingkar erat di pinggang keras Bram.


Dari pantulan cermin, Bram, terlihat tersenyum samar.


Ia menolehkan kepalanya ke arah belakang dan mengangguk pelan.


Amber melepaskan lilitan tangannya di pinggang kekasihnya, lantas wanita itu membalikkan tubuh Bram lembut, sehingga kini mereka sudah berhadapan.


"Cup"


Sebuah kecupan penuh kasih sayang, Amber, berikan di kening Bram.


Bram tentu menikmati rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan, oleh wanitanya.


"Mereka, pasti sangat senang bertemu denganmu," bisik Amber, yang kini menggelayut manja dengan kedua tangannya berada di leher Bram.


"Hm. Aku hanya terlalu gugup, aku takut tidak bisa berkata-kata di depan mereka. Apa yang harus aku katakan, kalau si kembar bertanya padaku, tentang kehadiran ku tiba-tiba?" Imbuh Bram dengan wajah sendu.


"Tenanglah, mereka anak-anak yang sangat pengertian," sahut Amber.


"Lebih baik, kita menemui mereka sekarang. Apa kamu tahu? Kalau anak perempuanmu, sangat keras kepala," adu Amber.


Bram terkekeh, mendengar aduhan kekasihnya, tentang anak gadisnya yang terlihat begitu imut dan menggemaskan.


"Dia, sangat mirip denganmu," ucap Bram di depan wajah Amber.


"Dia, putriku," jawab Amber pendek.


"Yah, … dia putri kita," sela Bram.


Dan keduanya saling berciuman bibir, sebelum bertemu dengan si kembar.


Bram merapatkan tubuh ke duanya dan memperdalam ciuman mereka.


Amber hanya bisa mengeratkan kalungan tangannya di ceruk leher Bram.


Lama mereka saling mengecup, bahkan melumaat bibir dengan penuh perasaan, lidah keduanya bahkan sudah saling membelit dan menari-nari di rongga mulut mereka masing-masing.


Amber melepaskan tautan bibir mereka, ia kini menempel keningnya di kening Bram dan menggesekkan hidung mancung di hidung mancung prianya.


"Lebih baik, kita turun sekarang," lirih Amber yang matanya masih terpejam.


"Baiklah, ayo," ajak Bram, sebelumnya ia meninggal kecupan di seluruh wajah wanitanya.


"Aku mencintaimu," ucapnya.


"Sama, aku juga mencintaimu, my dear," balas Amber.


Amber lalu menarik telapak tangan kokoh Bram dan mereka berjalan ke arah pintu.


Kedua keluar dari kamar dan kini keduanya berjalan menuju tangga dengan telapak tangan yang masih menyatu.


~


"Selamat, … pagi my princess," ucap Boy dengan tersenyum riang menatap wajah imut gadis kesayangannya.


Boy yang baru keluar dari kamar dengan penampilan sudah rapi. Sebuah setelan jas mahal dan elegan kini melekat di tubuh Boy.


Membuat, tingkat ketampanan pria itu bertambah.


Tak jauh dari tempat mereka, yaitu, di ruangan makan, Ruby sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.


Namun kali ini menu sarapan di meja makan, terlihat banyak dan juga ada beberapa piring yang terletak di meja makan.


Yang biasanya, hanya ada lima piring tertata di meja makan, namun kali ini lebih dari itu.


"Selamat pagi, daddy, …." Balas Bryana dengan memamerkan senyum manisnya yang memperlihatkan dua lubang di kedua pipinya.


"OH Tuhan, putriku begitu menggemaskan," puji Boy kepada anak gadis Bram dan Amber.


Boy lalu mendekati si kembar dan mencium puncak kepala mereka dengan sayang.


"Selamat pagi, Boy." Kali ini Boy mengucapkan selamat pagi kepada Bryan yang asyik dengan iPad mini nya.


Bryan mengalihkan tatapannya pada benda kesayangan. Ia lalu menatap daddy Boy dengan dahi mengerut.


Manik abu-abu bocah tampan itu menelisik wajah cerah daddy Boy.

__ADS_1


Ia menukik alisnya dengan wajah yang terlihat menggemaskan.


"Why?" Tanya Boy heran dengan tatapan Bryan.


"Apa, daddy tidak salah?" Tanya anak laki-laki tampan itu.


"Salah?" Tanya Boy lirih.


"Tadi, daddy mengucapkan selamat pagi," sela Bryan.


"Hm, tapi dimana letak kesalahan, daddy?" Tanya pria tampan yang sudah memiliki anak satu.


"Tadi, daddy bilang, selamat pagi, Boy?" Ujar Bryan sambil menuruti ucap Boy.


"Lalu?!" Sambungan lagi dengan alis mengkerut bingung.


"Bukankah, daddy mengucapkan selamat pagi, untuk daddy sendiri?"


"Apa?!"


"Bukan, nama daddy adalah, Boy?"


"Iya? Lalu?"


"Itu artinya, daddy mengucapkan selamat pagi untuk daddy sendiri," protes Bryan.


"Apa daddy lupa, kalau namaku, Bryan? Bukan Boy," protes Bryan kembali.


Bryana dan Ruby yang mendengar drama pagi, daddy Boy dan Bryan, hanya menggeleng.


Ini sudah menjadi aktivis hangat keluarga mereka. Selalu saja ada perdebatan lucu dan hangat, antara Boy dan kedua putranya.


Sedangkan Boy hanya bisa melongo dengan mulut menganga.


Bryan yang kesal, kini mendekati Ruby dan merengek manja di sana.


"Tutup, mulutmu, dad. Kasihan para lalat akan terjebak di dalam mulut, daddy yang beraroma naga." Tiba-tiba dari arah samping, terdengar teguran yang bernada ejekan.


Dengan spontan, Boy mengatupkan mulutnya dan ia juga mencium aroma mulutnya, dengan menghembuskan nafas di telapak tangannya.


"Harum," batinnya.


"Gieorand Raymond Pattinson!!" Pekik Boy.


Gie meninggalkan daddynya dengan menarik Bryana ke arah ruang makan.


"Selamat pagi, mommy tercantik," ucap Gie dan mencium kedua pipi Ruby.


"Selamat pagi, sayang," balas Ruby.


"Kalian, duduklah," perintah Ruby kepada, Gie dan Bryana.


Sementara Bryan kini duduk dengan tenang di kursi makan dengan iPad kesayangannya di tangan.


Gie duduk di sebelah Bryan dan Bryana duduk sisi kanan Gie.


Gie dan Bryana menatap barisan menu sarapan yang tersaji di meja makan, yang terlihat berbeda dengan porsi yang tidak sepertinya.


Manik mereka kini menuju pada barisan piring di depan kursi makan yang biasanya kosong.


"Apakah, kita kedatangan tamu, mom?" Tanya gie penasaran, pun dengan Bryana.


Ruby hanya tersenyum dan ia pun mengangguk.


"Siapa?" Tanya bocah tampan itu.


"Rahasia," sela Boy dengan tersenyum miring.


"Daddy tidak asyik," cetus Gie dengan membuang pandangannya ke arah lain.


"Daddy, akan asyik bila bersama, mommy kalian," ucap Boy pelan dengan tatapan mesum ke arah Ruby.


"Dad!" Geram Ruby dengan tatapan marah.


"Aku mencintaimu, sayang," sahut Boy dengan cengiran khasnya.


"Daddy, sok tampan," cibir Gie yang mana kedua anak dan daddy itu tidak pernah akur.

__ADS_1


"Memang, daddy tampan," jawab Boy pongah.


"Memangnya, wajah tampan kamu berasal dari mana?"


"Dari daddy dan mommy,"


"Nah, itu artinya daddy sangatlah, tampan. Sehingga para wanita dulu tergila-gila pada, daddy," sahut Boy pongah.


Ia tidak memperhatikan wajah merah Ruby yang terbakar api cemburu mendengar ucapan suaminya.


"Gie, menyeringai saat menangkap wajah kesal mommynya.


"Itukan dulu, daddy, waktu daddy masih muda," ujar Gie mencoba memancing sang daddy.


"Apa katamu, … dulu? Asal kau tahu, son. Sampai sekarang wanita masih tergila-gila pada, daddy." Sahut Boy bangga.


"Mereka bahkan, ingin menjadi ist, …." Ungkapan Boy terputus tiba-tiba, ketika sebuah suara piring yang di letak secara kasar di atas meja makan.


Boy membelalak matanya, saat ia tersadar dengan ucapan pongahnya sendiri.


Pria itu kini menghunus anaknya dengan tatapan tajam, yang sang anak nampak tersenyum puas.


"Gie!! Geram Boy dalam hati.


"Oh, jadi daddy masih digilai oleh wanita lain dan rela menjadi istri kedua?" Tanya Ruby penuh penekanan.


"B-bukan seperti itu, sayang," elak Boy yang kini mendekati sang istri.


"Sh*it! Umpat Boy, ketika Ruby menipis tangannya dan sang istri terlihat merajuk, berjalan ke arah kamar mereka.


"Gie!!!! Geram Boy, yang meremas kedua telapak tangannya di depan wajahnya sendiri.


"Selamat berjuang, daddy," balas gie dengan tersenyum licik.


"Dasar bocah licik!" Pekik Boy dan segera menyusul sang istri yang sedang dalam mode merajuk plus cemburu.


"Kakak jahat, membuat, Mommy dan daddy marahan," ketus Bryana dengan wajah tidak suka ia berikan kepada Gie di sebelahnya.


"Tenanglah, 10 menit lagi, mereka pasti baikan," jawab Gie.


Karena kenyataannya seperti itu, kedua orangtuanya akan marahan dan tidak beberapa lama, keduanya pasti akan berbaikan lagi.


"Tetap saja, itu tidak baik,"


"Diamlah."


"Omong-omong, siapa tamu rahasia yang di maksud, daddy?"


"Entah," sahut Bryana dengan mengedikkan pundak mungilnya.


"Selamat pagi, …."


Sapaan dari arah ruang tengah membuat ketiga anak kecil itu menoleh.


Dan seketika mata si kembar membola dengan binar kebahagiaan.


"Daddy!" Cicit si kembar bersamaan.


"Daddy!!!" Teriak si kembar dengan wajah bahagia.


Bram hanya bisa membeku di tempatnya dengan wajah yang sulit diartikan.


"Apa kalian, pernah bertemu?"


"T-tidak,"


"Kenapa, mereka langsung mengenali mu?"


"T-tidak tahu,"


Bram hanya tergugup dengan melihat reaksi si kembar saat melihatnya.


Apalagi mereka memanggil dirinya daddy, yang mana membuat perasaan haru pada dirinya.


"Daddy. Yah mereka anak-anakku." Batin Bram dengan menitikkan air mata.


Ia pun merentangkan kedua tangannya untuk menyambut si kembar yang berlari ke arahnya dengan wajah anak-anaknya terlihat bahagia.

__ADS_1



__ADS_2