
🌹 Flashback off 🌹
"Dear!
Bram yang masih terbaring di lantai dengan tatapan menerawang ke atas langit-langit, terloncat kaget saat suara yang ia rindukan menyapa indera pendengarannya. Bram menoleh ke arah suara. Ia berbinar bahagia melihat sosok Amber di sudut ruangan sedang merentangkan kedua tangannya. Bram bangkit, lantas berlari ke arah wanitanya. Bram memeluk tubuh wanita yang begitu dicintai itu. Memeluknya erat seakan ia tidak akan pernah memeluknya lagi. Ia menghirup wangi menenangkan wanita yang amat dicintainya itu.
Tapi tiba-tiba, Amber mengeluar sebuah belati kecil yang ia sembunyikan di dalam lengan baju panjang yang Amber kenakan. Amber mengarahkan belati itu kearah punggung kokoh Bram. Dalam diam dan tidak terbaca, Amber menusukkan belati itu ke arah punggung Bram dan menekannya kuat.
"Akhh! Teriak Bram dengan tatapan kecewa ke arah Amber.
"S-sayang.!
Tanpa mengindahkan panggilan Bram. Amber berjalan ke arah dinding dan sejenak sosok Amber menghilang.
"SAYANG.!!
Bram bangun dan bagkit dari lantai dengan nafas ngos-ngosan. Teriaknya bahkan menggema di seluruh ruangan rahasia miliknya. Ia bermimpi buruk itu, lagi. Kekasihnya, Amber menikamnya dari belakang. Bram mengusap keringat dingin yang menempel di wajahnya. Ia masih mengatur nafasnya yang berat itu. Dadanya bahkan terlihat naik-turun dengan kencangnya.
"Sayang." Lirih pria dengan wajah menyedihkan.
"Maaf." Lirihnya lagi, yang disertai air mata.
__ADS_1
"Semoga, kau tidak membenciku."
Bram kembali melihat seluruh foto-foto, Amber. Ia akan melakukan aktifitas barunya ini setiap pagi. Sebelum dirinya melakukan seluruh kegiatan yang tidak pernah ia sukai.
Bram mengalihkan perhatian kearah pintu, yang sedang di ketuk. Ia hanya bisa mendengus kesal. Pria itu sudah tahu siapa yang sudah menggangu dirinya.
Bram menulikan ketuk pintu tersebut, yang ketukannya semakin keras. Tanpa menyahuti suara di luar sana, Bram melangkah ke arah kamar mandi, ia melepaskan bawahnya dan berdiri dibawah shower yang mengalirkan air hangat untuk menyegarkan tubuh tinggi Bram.
"Clek!
"Griffin!
Bram yang baru keluar dari ruangan rahasianya disambut senyum hangat dan cerah, seorang wanita cantik yang sudah rapi dengan gaun sederhana tapi terlihat elegan dan berkelas.
Camelia mencekal pergelangan tangan kekar Bram yang terdapat beberapa luka sobek. Camelia menatap lekat telapak tangan suaminya.
"Lepaskan! Sentak Bram dingin.
"Aku harap kau tidak melupakan ucapanku."
"Jangan pernah menyentuhku!! Ujar Bram dengan tatapan tidak bersahabat.
__ADS_1
"Kau melukai dirimu lagi, Griffin.!" Camelia tidak memperdulikan peringatan Bram, ia hanya memperhatikan telapak tangan suaminya yang terluka.
"Biarkan aku mengobati lukamu." Tawar Camelia.
"Tidak perlu." Sahut Bram dingin.
"Griffin. Biarkan aku mengobati lukamu." Camelia bersikeras ingin mengobati luka sobek yang ada di telapak tangan suaminya.
"JANGAN MENYENTUHKU.! Hardik Bram, membuat wanita dengan wajah lembut dan teduh itu tersedak kaget.
"Why. Griffin, Aku Istri mu dan aku berhak atas dirimu." Sahut Camelia dengan mata berkaca-kaca.
Bram terdengar terkekeh pilu mendengar perkataan Camelia. Ia bahkan mengeluarkan air mata di sudut mata tajamnya.
"Ingatlah. Aku hanyalah boneka kalian. Aku hanya biduk catur kalian yang sesuka hati kalian atur. Aku hanya tumbal dari keegoisan kalian. Kalian sudah membuat kami menderita dan terluka oleh keegoisan kalian semua. Kalian memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai dengan cara paksa dengan kekuasaan kalian. Kenapa harus aku … kenapa harus aku dan wanita ku menjadi korban perbuatan kalian," KATAKAN KENAPA HARUS KAMI," bagaimana perasaanmu, bila kau berada di posisi wanitaku. Di hari pernikahan kau harus kehilangan calon suamimu. "KATAKAN BAGAIMANA PERASAANMU,! Kau tau, luka di telapak tangan ku ini tidak sebanding oleh luka sakit hati yang aku dan wanita ku alami, " INI SEMUA KARENA KALIAN. KARENA KETAMAKAN KALIAN.!! Setelah mengeluarkan semua isi hati dan perasaan luka di dadanya, Bram meninggalkan Camelia yang bergeming di tempatnya.
"Brakk! Bram menutup pintu ruangan ganti dengan kasar. Membuat Camelia terkesiap dan tersadar dari rasa bersalahnya.
"Maafkan aku." Gumam Camelia.
"Maaf. Kalau aku menginginkan dirimu."
__ADS_1
"Salahkah aku bila menyukaimu dan hanya menginginkanmu."
"Aku, tau ini akan sangat menyakitkan, tapi aku yakin suatu saat kau pasti akan melihat ku dan menerima aku, sebagai istrimu pun menerima benih orang lain di dalam rahim ku.