Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 117


__ADS_3

Carlos menghentikan mobil mewah miliknya di depan, sebuah rumah sederhana dua tingkat.


Keadaan rumah sederhana itu sendiri, terlihat tidak layak ditempati.


Terlihat bagaikan gudang tua atau rumah hantu.


Ketika manusia yang ada di dalam mobil, masih menelisik sekeliling rumah itu.


Amber yang sudah dikuasai rasa penasaran, pun turun dari mobil.


"Sayang!" Seru Bram memanggil sang istri dan menyusulnya turun, begitupun dengan Carlos, yang mengikuti pasangan suami-istri itu turun dari mobil.


"Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan," ucap Carlos dengan kepala yang menengadah ke atas menatap langit yang sudah berbentuk gumpalan berwarna hitam keabu-abuan.


Amber dan Bram mengikuti Carlos menengok ke atas langit, dan benar saja, sementara lagi hujan akan turun.


Bram menarik tangan istrinya dan berjalan ke arah rumah tua di hadapan mereka.


Carlos pun kembali mengikuti Bram dan Amber menuju rumah tua yang tampak terlihat teebangkalai.


Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan begitu derasnya.


Ketiganya kini berdiri di teras rumah tua itu, yang tampak tak terawat, itu karena ketiganya bisa melihat tebalnya debu dilantai dan juga beberapa kotoran binatang ada di sana.


Membuat Bram mengedikkan badannya jijik. Amber masih merotasi mata tajamnya ke segala arah.


Jiwa pekanya kini memberikan sebuah tanda waspada. Amber melirik Carlos yang juga melirik ke arahnya.


Amber memberikan tanda waspada kepada Carlos, begitupun juga dengan Carlos yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres di rumah tua tersebut.


"Kalian, kenapa?" Tanya Bram dengan wajah yang tidak suka.


"Dear, berhati-hatilah!" Bisik Amber memberi peringatan kepada suaminya.


"Pegang ini," ujar Amber sambil menyelipkan senjata api dibalik kemeja suaminya.


Amber mengangguk saat suaminya hanya menatap dirinya dengan bingung dan heran.

__ADS_1


"Tetaplah, berada di sekitar, kami,"lirih Carlos yang berpura-pura menyalakan sebatang rokok.


"Sejak kapan benda itu berada padamu?" Tanya Bram dengan konyolnya.


"Sh*it!" Carlos hanya bisa mengumpat adik bodohnya ini.


"Sejak kapan kau merokok?" Tanyanya lagi.


"Oh Tuhan!" Geram Carlos dan membuang sebatang rokok yang ada di tangannya.


Amber hanya bisa tertunduk lesu melihat tingkah konyol sang suami.


"Dear!" Panggil Amber.


"Hm? Sahutnya lembut sambil menoleh ke samping.


"Tetaplah, bersamaku," pinta Amber.


"Baiklah," jawab Bram patuh.


Amber menggakuk halus kepada Carlos. Sedangkan Bram tetap berada di sisi sang istri.


Carlos maju mendekati pintu usang yang sudah dipenuhi debu.


Telapak Tangan kekar Carlos mendekati gagang pintu yang sudah terlihat karatan.


Dengan hati-hati, Carlos membuka pintu kayu yang, ternyata tidak terkunci.


Bunyi pintu itu terdengar sangat menakutkan di telinga Bram, membuat suami Amber itu dengan refleks meraih tangan mungil sang istri.


"Kau kenapa, dear?" Bisik Amber yang mengikuti Carlos memasuki rumah tua.


"Kenapa kita masuk, sayang. Ini sangat menyeramkan," adu Bram.


"Tenanglah, dan tetaplah di sisiku," suruhnya.


"Hm"

__ADS_1


Carlos masih melangkah dengan begitu hati-hati, sehingga suara derap sepatu yang ia kenakan tidak terdengar, begitu juga dengan Amber.


Sedangkan Bram masih setia memegang tangan istrinya.


Dengan manik mata yang berkeliaran kesana-kemari, Carlos dan Amber terus mencari sesuatu yang keduanya merasakan ada sebuah bahaya di dalam rumah ini.


Carlos mengeluarkan senjata api miliknya dan bersembunyi di balik dinding, di ikuti oleh Amber sambil menarik tangan suaminya.


"Ada apa?" Gumam Amber.


"Mereka datang," jawab Carlos sambil memeriksa senjata api miliknya.


Amber hanya mengeluarkan sesuatu di balik saku celananya, sebuah belati kecil yang sangat terlihat berkilau.


"Apa itu aman?" 


"Hm. Apa kau ingin merasakannya," 


"Ck!


Bram terlihat kesal dengan kedekatan istrinya dan sang kakak.


Pria itu lantas menarik sang istri ke sisinya dan menatap sengit kepada Carlos.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!" Ujar Bram penuh peringatan.


"Cih!' Carlos hanya berdecak melihat tingkah sang adik.


"Apa, kau siap?" Tanya Carlos tanpa melihat kedua orang di sampingnya.


"Siap apa?" Sahut Bram heran.


"Siap –"


"Dor"


"Dor"

__ADS_1


__ADS_2