
Masih terlihat ketengan di sebuah ruangan yang merupakan singgasana king dan ratu di kerajaan Alexander.
Semua orang yang hadir di sana masih tercengang dan terkejut dengan perkataan Bram.
Belum lagi ultimatum yang di titah kan sang pangeran mahkota, yang membuat mereka semua terloncat kaget.
Jangan tanyakan bagaimana wajah dan perasaan ratu Rosella. Tentu saja wanita berusia 55 tahun itu merasa terancam dengan amarah pun yang menguasainya, mendengar ucapan remeh Bram.
"Tapi– anda tetap harus membicarakannya terlebih dahulu kepada ratu Rosella," seru pengawal Martin.
"Aku, punya kekuasaan sendiri disini, jad aku punya aturan sendiri, jadi– kalau kalian tidak suka silahkan, angkat kaki dari sini," seloroh Bram yang masih berdiri tempatnya dengan telapak tangannya menggenggam telapak tangan Amber, yang tiba-tiba terdiam.
"Pangeran!" Sentak ratu Rosella.
Bram kembali menghadap depan dan memberikan senyum sinis kepada ratu Rosella.
"Kau, menentangku? Kau ingin aku menurunkan dari tahta?" Ancam Bram.
"Ini, semua tidak benar, Griffin!?
"Kita tidak boleh membawa wanita hina masuk kedalam istana ini!" Cibir putri Sisilia.
"Tutup mulutmu, bedebah!" Bentak Bram.
Semua orang kembali tercengang dengan suara Bram yang menggelegar di seluruh ruangan tersebut.
"Pangeran! Jaga sikapmu," hardik ratu Rosella.
__ADS_1
"Apa, wanita ini yang menghilangkan sikap wibawamu seorang pangeran?" Ucap ratu Rosella dengan nada mendesis ia arahkan kepada Amber.
"Iya, mungkin saja wanita ini menjebak pangeran Griffin, sehingga dia hamil anak HARAM," hina putri Sisilia dengan tertawa mengejek. Dan sebuah suara,
"Plak"
"Plak"
Dua suara tamparan terdengar nyaring yang membuat putri Sisilia terperanjat kebelakang.
Semua kelopak mata orang yang ada di sana membesar dan manik mereka hampir keluar.
Ketika seorang wanita dari kalangan kasta rendahan, berani menampar seorang tuan putri di istana itu.
Bram hanya bisa tersenyum puas melihat sikap bar-bar sang istri keluar. Siapa yang akan terima kalau sang anak di hina di depan mata sendiri.
Setelah memberikan sebuah tamparan, Amber menarik rambut Sisilia kasar, sehingga Sisilia meringis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, kepada anakku, sialan!" Pekik ibu dari Sisilia.
Amber menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ini yang akan aku berikan kepada, orang-orang yang menghina anak-anakku." Tutur Amber dengan aura menakutkan.
"Meskipun, ia seorang penguasa disini, aku akan menghabiskan," sarkas Amber.
Tatapan Amber dan ratu Rosella saling bertemu dan saling menatap tajam.
__ADS_1
Tersirat senyum sinis dan juga seringai, Amber berikan kepada ratu Rosella.
"Bukankah, aku memiliki hak keamanan dan juga peraturan di istana ini, dear?" Tanya Amber.
"Hum! Kau memiliki kekuasaan sendiri di sini, karena kau Istri dari seorang pewaris, "jawab Bram.
"APA KALIAN DENGAR, KALAU AKU MEMILIKI KEKUASAAN DISINI," ucap Amber dengan suara nyaring.
"Jadi jaga ucapan kalian dan sikap kalian semua," sambung Amber.
"Atau kalian ingin keluar dari Mansion ini? Maka aku akan Kabulkan dengan tangan kosong." Seru Amber.
Ratu Rosella hanya bisa memejamkan matanya, untuk menahan amarahnya.
"Apa-apa ini, mereka ingin menggantikan posisiku? Monolog ratu Rosella.
"Tentu saja itu, tidak akan pernah terjadi," monolognya lagi dalam hati.
"Dasar, wanita murahan, jaalang!" Amuk ibu dari Sisilia.
"Plak"
Kali ini Bram yang mengayungkan tangannya dan melayangkan tamparannya kepada nyonya Liza.
"Berani-beraninya kalian, menghina Istri ku!" Pekik Bram.
"Kalian! Keluarlah dari istana ini," perintah Bram.
__ADS_1
"KALIAN SEMUA HARUS PATUH KEPADA ISTRIKU,"