Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 105


__ADS_3

Ketegangan dan juga suara kesakitan dari seorang wanita, dengan penampilan glamor itu kini, berlutut di depan Amber dalam keadaan lutut dan lengannya yang mendapatkan timah panas.


Cairan merah berbau amis itu, kini mengotori lantai yang ada di koridor sekolah.


Perkumpulan wanita sosialita itu, hanya bisa menganga dan menelan ludah mereka, dengan raut wajah yang berubah ketakutan.


Bagaimana tidak ketakutan, kalau tanpa aba-aba, wanita yang adalah, mommy dari anak kembar yang mereka hina, mengeluarkan timah panas kepada ketua geng sosialita mereka.


Sementara Amber, masih dengan raut wajah merah karena emosi dan amarah yang membuatnya gelap mata.


Amber tidak akan mentolerir seseorang yang sudah menghina kedua anak kembarnya yang begitu berharga.


Kenapa Amber memberikan timah panas pada lengan sang pembuat masalah? Itu karena wanita tersebut mendorong sang putra dengan kasar dan tak perikemanusiaan.


Membuat kening Bryan terbentur lantai yang membuat kening putranya terluka.


Belum lagi wanita itu dengan teganya, menendang tubuh sang putri yang berusaha membela sang adik.


Sekarang ini lah yang didapatkan oleh wanita sombong dan Arogan itu, sebuah peluru yang bersarang di lengan kanannya dan juga di lutut kirinya.


Amber mengetahui semua perbuatan mereka dari, cctv yang ada di sekitar sekolah dimana anak kembarnya menuntut ilmu.


Jangan heran kalau Amber bisa melihat cctv sekolah. Karena wanita itu ahli dalam meretas keamanan.


Amber hanya bisa mengerang dengan rahangnya yang mengeras mengerikan.


Hatinya begitu sakit dan juga panas. Ibu mana yang bisa terima, anaknya diperlakukan kasar oleh orang asing.


Tentu saja dia tidak akan terima, kalau sang anak di hina dan di perlakukan kasar, siapapun tidak ada yang boleh menghina dan menyakiti anak-anaknya meskipun itu daddy mereka sendiri,. Amber tentu tidak akan pernah terima.


~


"Apa yang anda lakukan, nona!" Sela seorang wanita dari kelompok mereka.


Meskipun dengan gugup dan dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri untuk bertanya.


Karena mereka semua sudah dibayar mahal, oleh seseorang, untuk mempermalukan Amber dan anak-anaknya.


Amber melemparkan tatapan membunuh ke arah wanita itu, yang mana membuat sang wanita dengan usia sekitar 33 tahun itu seketika bungkam dan wajahnya pucat.


Ketika Amber lagi-lagi, mengarahkan senjata api miliknya ke arah wanita tersebut.


"A-apa yang kau, lakukan! T-turunkan, senjatamu," ujar wanita itu dengan gugup dan wajah ketakutan.


Amber masih diam dengan pandangan yang begitu menggelap.


"Kami, bisa menuntutmu wanita, jaalang," ujar wanita itu dengan wajah yang masih ketakutan

__ADS_1


Amber tidak menjawab, ia malah menarik pelatuknya dan kembali mengarahkan pada wanita itu.


"Maaf, nyonya! Anda tidak boleh melakukan kekerasan di area sekolahan, itu bisa membuat anak-anak menjadi, ketakutan. Coba lihat, anak anda, terlihat ketakutan," imbuh kepala sekolah dari sekolah tersebut.


Mata tajam Amber kini ia arahkan kepada pria paruh baya di sampingnya. Ia membalikkan badannya kesamping dan menghunus pandangannya kepada kepala sekolah tersebut.


"Dor"


"Dor"


"Dor"


"Akhh"


Semua orang memekik nyaring, mendengar suara tembakan yang amber keluar dan mengarahkannya ke atas langit.


Si kembar kini berada di pelukan putra Boy dan Ruby, Gie. Yang juga mengeluar tatapan tajam kepada semua orang yang ada di sana.


"Bisakah, anda mengulangi ucapan, anda? Agar semua wanita ini mendengarnya dengan telinga terbuka," sarkas Amber dingin.


Para pihak sekolah hanya bisa terdiam dengan tubuh mereka yang tiba-tiba kaku.


Jangan tanyakan para wanita sosialita itu yang kini makin terlihat ketakutan dan juga wanita yang mendapatkan timah panas dari Amber, kini sudah tak sadarkan diri.


"CEPAT KATAKAN KEPADA MEREKA!" Bentak Amber lantang.


Mereka semua kembali terkejut dengan bentakan, Amber.


"APA KALIAN TULI!?" Bentak Amber kembali.


"Apa kalian tahu? Mereka melakukan apa kepada anak-anakku? Apa kalian lihat, kening putraku terluka dan lengan putriku, memar? APA KALIAN LIHAT INI." Amber berteriak lantang sambil menunjukkan luka pada tubuh anak-anaknya.


"APA BEGINI PERATURAN KALIAN, … AKH! Membiarkan seseorang melukai anak-anakku! Dan kalian diam saja."


"Lalu kenapa, Kalian melarangku membunuh mereka? KATAKAN KENAPA." Amber yang sudah di tutupi oleh amarah kini melampiaskannya kepada para pihak sekolah. Memaki dan juga menghancurkan apa saja yang bisa Amber hancurkan yang ada di dekatnya sekarang ini.


"T-tapi, ini tindak kejahatan, nyonya? Dan ini masih di area sekolahan," tegur seorang wanita dari pihak sekolah dengan wajah sok berwibawa.


Langsung saja Amber menghunus wanita itu dengan tajam, seakan ingin mencabik-cabik kulit wanita yang sudah lancang menegurnya.


Dengan langkah perlahan dan juga tatapan mematikan, Amber mendekati wanita yang masih muda tersebut.


Sontak saja wanita itu memundurkan tubuhnya dengan gemetar.


Semua orang kembali menahan nafas mereka, saat Amber lagi-lagi, mengarahkan senjata apinya kepada sekelompok wanita sosialita itu.


Para pihak sekolah pun mulai terlihat panik plus ketakutan.

__ADS_1


"Jadi, menurut kamu yang wanita itu lakukan pada anak-anakku, apa?" Tanya Amber sambil menunjuk wanita yang sudah menjadi korbannya.


" Mungkin, ini semua hanya salah paham," sahut wanita itu dengan wajah terangkat, sebisa mungkin ia menahan rasa takutnya.


"Jadi, kalau aku membunuhmu, sekarang, anggap saja salah paham," seloroh Amber dengan aura menakutkan.


Jangan lupa senjata api nya kini sudah berada di kening, wanita sok berani itu.


Membuatnya lemas seketika dan wajah yang Arogan berubah pucat pasi.


"Jangan lakukan itu, nyonya. Lepaskan dia, atau tidak, kami akan melaporkan anda kepada pihak, kepolisian," ancam pimpinan sekolah tersebut.


"Aku, tidak peduli, dan aku bisa keluar dengan mudah, apa kalian lupa? Anak-anak siapa yang kalian hina?" Ujar Amber dengan wajah datar.


"Aku bahkan, tidak takut membunuh kalian semua," sambung Amber.


"Maka, anak anda akan menjadi, anak seorang pembunuh," sela seorang wanita lagi.


Amber terdiam, membenarkan ucapan wanita tersebut. Ia lantas menoleh ke belakang, dimana kedua anaknya masih saling berpelukan.


"Kali ini, kalian selamat. Tapi, tidak lain waktu, kalau kalian melakukan Kekerasan kepada anak-anakku, bukan hanya gedung ini yang akan hancur, tapi kalian semua juga akan aku habisi dan membuat kalian hancur." Dengan tatapan mengerikan dan suara intonasi yang begitu mengintimidasi semua orang yang ada disana, agar tidak perbuatan kasar kepada kedua anaknya.


"Kami janji, tidak akan ada lagi, tindakan kekerasan yang akan dialami anak anda," sahut pimpinan sekolah tersebut dengan perasaan lega.


Amber menatap pimpinan itu dan tersenyum sinis. " Apa kau yakin?" Tanya Amber dengan wajah datarnya.


"Kami yakin, nyonya," jawab pimpinan itu.


"Apa, karena kau takut kehilangan dia?" Amber kembali melemparkan bertanya kepada pimpinan sekolah dengan lirikan mata yang ia arahkan kepada wanita sombong tersebut.


"A-apa maksud anda, nyonya?" Tanya balik pria setengah baya itu dengan gugup.


"Dia jalaang mu," bisik Amber.


"Jaga, dia. Atau aku tidak mengampuninya," ancam Amber.


"Kami berjanji, kejadian ini tidak akan terulang lagi," pungkas sang pimpinan sekolah.


Amber tidak menjawab, ia sibuk menelisik setiap wajah wanita yang ada di hadapannya dengan intens.


Ia seakan mengabsen dan menyimpan wajah para wanita sosialita di depannya, yang masih terdiam dengan mulut yang tiba-tiba membisu.


"Ayo, sayang! Kita pulang," ajak Amber kepada ketiga bocah di belakangnya.


"Kau, pak tua. Tunggu titah dari daddy ku," ucap Gie dengan arogannya.


"Tidak semudah, itu kalian bisa lepas dariku!" Pekik Boy dari arah samping.

__ADS_1


"Daddy!"



__ADS_2