
Mobil Lamborghini hitam pekat milik pangeran Carlos kini terparkir mewah di parkiran salah satu restoran sederhana.
Amber merotasi pandangannya ke arah restoran sederhana itu dengan wajah bingung.
Ia menoleh pada pria tampan di sebelahnya yang sedang membuka seat belt miliknya.
Amber salah tingkah di saat dirinya ketahui memandangi wajah rupawan pria di sampingnya.
Amber membolakan netra nya saat Carlos mengisi jarak di antara mereka. Amber hanya bisa menahan nafasnya di saat wajah tampan Carlos begitu dekat dengannya.
Amber bisa merasakan nafas hangat Carlos dan juga nafas segar nan maskulin pria di depannya.
"A-aku bisa sendiri," cicit Amber dengan gugup, saat Carlos membantunya melepaskan sabuk pengamannya.
Carlos hanya tersenyum indah di depan wajah Amber yang mulai merona. Ayolah siapa yang akan menolak pesona pria di depannya ini.
"Sudah," bisik Carlos yang nafas kini menyapa wajah merona Amber.
"Terima Kasih," cicitnya dengan tersenyum canggung.
"Kau, menggemaskan sekali," ujar Carlos sambil mengusap lembut rambut Amber.
"Tunggu disini," pinta Carlos. Pria itu pun segera keluar dari mobil dan mengitari mobil mewahnya untuk membukakan pintu mobil untuk Amber.
Carlos meletakkan telapak tangannya di atas kepala Amber disaat wanita itu turun dari mobil.
Sikap manis Carlos tidak lupa dari perhatian semua orang yang ada di sekitar restoran. Para wanita menyerit dalam hati mengagumkan wajah tampan Carlos dan juga sikap manis pria yang terkenal arogan.
Amber hanya bisa tersenyum canggung dengan perilaku Carlos. " Tidak seharusnya, yang mulia melakukan itu. Aku bisa membuka pintu mobil sendiri," gerutu Amber yang mendahului Carlos memasuki restoran.
Carlos tersenyum menawan melihat tingkah menggemaskan Amber yang membuat debaran jantung Carlos berdetang kencang.
Pria tinggi menjulang itu pun menyusul Amber memasuki restoran dengan langkah panjang.
"Pangeran Carlos lepaskan," bisik Amber dengan melototkan matanya kepada Carlos.
Carlos tidak mengindahkan penolakan Amber yang sedang menggenggam tangannya.
"Duduklah," pinta Carlos dengan nada suara berat nan lembut mendayu.
"Kau, ingin makan sesuatu,?" Tanya pria yang memiliki tulang wajah yang begitu tegas dengan ditumbuhi jambang halus di sekitar wajahnya.
"Apa yang pangeran ingin," Amber melayang pertanyaan kepada Carlos tanpa menyahuti pertanyaan pria itu.
Carlos yang fokus mengamati ponselnya kini netra tajamnya menatap lekat pada wajah cantik Amber.
"Menginginkanmu," sahut Carlos singkat.
"Apa maksud pangeran," tanya Amber bingung.
"Tidak lupakan," sela Carlos.
__ADS_1
"Tapi sikap anda membuatku tidak nyaman," lirih Amber.
"Jadi kau ingin aku menjadi orang biasa? Kalau iya maka akan aku lakukan," pungkas pria itu sambil membuka jas mahalnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Carlos menggulung lengan kemeja hitam yang ia kenakan hingga siku, memperlihatkan lengan kekar Carlos yang dihiasi tato.
Amber menganga melihat pemandangan menakjubkan di hadapannya. Astaga Amber adalah seorang wanita normal yang akan terpesona apabila dihadapkan oleh pemandangan yang begitu menawan.
"Ehem! Amber berdehem untuk menetralisir perasaan kagumnya.
"Kau terpesona, honey,?" Bisik Carlos yang kini duduk di sebelah Amber.
"Aku hanyalah wanita normal pangeran," jawab Amber dengan nada ketus.
"Kau, sungguh wanita yang menggemaskan," ujar Carlos sambil terkekeh.
"Kembalilah ke tempat anda pangeran," pinta Amber dengan kalimat penuh penekanan.
"Tidak. Aku akan tetap di sisimu, honey," bisik Carlos dengan suara berat nan seksinya.
"Bisakah anda sedikit menjauh. Ah tidak maksud aku banyak jauh," celetuk Amber dengan wajah merengut kesal.
Carlos tertawa lepas mendengar ucapan Amber dan juga wajah wanita yang begitu ia kagumi merengut kesal.
"Cih! Satu lagi berhentilah memanggilku honey. Itu sangat menggelikan," pungkas Amber yang masih terlihat kesal.
"Tidak! Kau akan menjadi milikku selamanya," gumam Carlos.
"Cih, anda terlalu percaya diri, yang mulai," degus Amber.
"Kakak?" Amber membeo.
"Hm! Bukankah dulu kau suka memanggilku, baba.?" Ucap Carlos dengan tatapan teduh.
Amber mengamati wajah Carlos dengan lekat sqmbil mengingat-ingat sesuatu.
"Aku tidak mengingat apapun," jawab Amber dengan rasa penasaran.
"Yah, kau terlalu kecil untuk mengingatnya," jawab Carlos lembut dengan senyum hangat yang Carlos berikan kepada Amber.
"Kalau tidak salah umurmu baru 7 tahun dan saat itu aku berumur 15 tahun." Carlos terlihat tersenyum dengan tatapan menerawang mengingat kebersamaannya dengan Amber kecil yang begitu ceria dan cerewet.
"Kau dulu gadis kecil yang sangat cerewet dan ceria," pungkas Carlos.
"Kau sering mendatangi ku dan mengajakku bermain bersama. Kalau aku menolak kau akan menangis." Carlos tak hentinya tersenyum mengingat masa kecilnya bersama Amber kecil.
"Wajahmu dulu sangatlah imut dan menggemaskan,"
"Kenapa aku tidak mengingat apapun,?"
"Entah!
__ADS_1
"Bagaimana kita bisa berteman,?"
"Kau tinggal di samping rumah pengasingan ku. Dulu aku hanyalah seorang anak yang di asingkan dari keluarga kerajaan, ketempat yang menurutku sangatlah asing.
Aku hanya tinggal sendiri waktu itu, sehingga seorang gadis kecil imut mendatangi ku dan menawariku sebuah permen coklat dan juga cemilan. Dia juga sering datang menghiburku di waktu aku sedih dengan celotehannya yang begitu lucu. Hingga suatu saat kami berpisah karena masa hukumanku berakhir,"
"Kau tau aku seperti orang, hilang akal mencari keberadaan mu. Dan saat aku menemukanmu. keadaanmu sangatlah berbeda. Kau bukan lagi gadis kecil periang yang aku kenal, kau bahkan terlihat seperti manusia setengah mati. Dan mulai saat itu aku melindungimu dari jauh," ungkap Carlos dengan wajah begitu lembut dengan tatapan tajam berubah teduh.
"Apa kau pria culun itu,?"
"Pria culun yang selalu mendapatkan makian dan amarah mu,"
"Aku tidak yakin,"
"Percayalah, aku hanya ingin melindungimu, baby,"
"Kenapa berbeda sekali,?" Tanya Amber dengan tatapan lekat kepada Carlos.
"Karena kau hanya sibuk dengan kesedihan mu, dan tidak memperhatikan sekitar mu" sela Carlos.
"Kakak benar," sahut Carlos.
"Aku senang kau memanggilku, kakak,"
"Bukankah aku selalu memanggilmu kakak culun."
"Hm!
"Tapi saat itu kau, menghilang tiba-tiba. kau tau aku kehilangan kakak culun mengesalkan waktu itu." Pungkas Amber sendu.
"Aku terpaksa kembali ke negara ini. Sehingga waktu aku kembali, kau sudah tidak ada," ujar Carlos.
"Apa benar kita sedekat itu,?" tanya Amber untuk menghilangkan rasa bimbang nya.
"kita bisa kembali ke negara Chicago dan ketempat kumuh yang dulu kita tempati," ujar Carlos dengan wajah yang begitu serius dan yakin.
"Aku sudah percaya," balas Amber.
"benarkah?"
"hm! karena kau tahu tempatku dulu yang berada di tempat kumuh,"
"terimakasih, sudah menjagaku dulu dan melindungi ku," tutur Amber dengan perasaan tulus. Amber bahkan memgenggam tangan kekar Carlos.
"itu karena aku menyayangimu, kau gadis kecilku dan sekarang kau adalah wanitaku," batin Carlos. yang membalas tatapan tulus Amber dengan tatapan lembut.
dari jauh seorang pria sejak tadi menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun, siap untuk meledak kapan saja.
Bram menatap tajam pada dua manusia yang sedang bercengkrama dengan hangat.
dadanya terasa panas dingin, ia tidak akan membiarkan Amber terlalu dekat dengan Carlos, kakak tirinya sendiri.
__ADS_1
wajah Bram terlihat merah darah dengan gepalan tangan yang menggenggam erat pada pinggiran meja. sehingga tangannya terluka.
"Aku, tidak akan membiarkan, wanitaku dekat dengan pria lain. Amber hanya milikku dan tidak satupun yang boleh memilikinya," gumam Bram yang berdiri dari duduknya ketika netra abu-abunya melihat Amber berjalan ke arah kamar mandi.