
"Kita berangkat sekarang!" Perintah Keenan Lerian kepada anak buahnya yang berada di balik kemudi spit but yang memuat empat orang.
Ken menyiapkan lima spit but untuk mendatangi pulau pribadi Bram yang akan memakan waktu satu jam lebih.
Ken duduk di dekat kemudi dengan Nicko yang selalu setia menemani sahabatnya yang terlihat bingung.
"Kau tidak apa-apa?" Seru Nicko.
"Hm," gumam Ken.
"Hentikan ini kalau kau ragu," ujar Nicko yang mengerti dengan raut wajah Ken.
"Tidak," jawab Ken pendek.
"Kau, akan melukai perasaannya, Ken!" Sambung Nicko geram.
"Terus, aku harus apa, ahk. Apakah aku harus berhenti dan mengorbankan kedua adik dan ibuku? Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi, aku sangat menyayangi mereka," lirih Ken di akhir kalimatnya yang awalnya berteriak dan menatap Nick tajam.
"Terus, kau mengorbankan hubungan mereka? Dan kau harus ingat dengan si kembar 2B(Bryan dan Bryana), mereka juga pasti akan merasa sedih," imbuh Nick yang mencoba menasehati sahabatnya.
"A-aku tidak peduli dan aku akan menjadi daddy mereka, tanpa mengetahui daddy mereka yang sebenarnya," ujar Ken tidak acuh.
"Kau egois Keenan Lerian!" Pekik Nick, lalu meninggalkan Ken yang hanya terdiam dengan tatapan menerawang ke arah lautan lepas.
"Aku berjanji akan menjagamu dan melindungi kalian tanpa pria itu, sweety. Kau hanya bisa menjadi milikku bukan milik siapa-siapa, termasuk pria yang kau cintai," gumam Ken pelan.
Mereka pun membelah lautan lepas di mana matahari mulai sedikit demi sedikit menghilang.
Yang berarti mereka akan melewati lautan lepas dalam kegelapan malam yang akan segera datang.
~
Sedangkan di pulau pribadi Bram.
"Kau menyukai tempat ini?" Bram yang memeluk tubuh Amber dari belakang dengan pandangan mereka berdua terarah ke matahari yang mulai menghilang.
"Hm, sangat," jawab Amber yang dengan jari-jarinya yang mengusap lembut lengan kokoh Bram.
"Benarkah?"
"Ini indah sekali," ujar Amber pelan.
"Kalau begitu kita akan menikmatinya tiap hari," bisik Bram di dekat telinga Amber, dan pria itu memberikan kecupan di pipi wanitanya.
"Hm" gumam Amber yang membalas ciuman Bram saat wajah tampan Bram berada di pundaknya.
"Aku mencintaimu, sayang!" Ucap Bram lirih.
Amber hanya terdiam, ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Jujur ia pun masih sangat mencintai pria yang kini merangkulnya erat di dalam dekapan hangatnya yang mampu membuatnya tenang.
Ingin rasanya Amber mengutuk dirinya sendiri disaat pikiran untuk membunuh Prianya itu terlintas dari pikirannya.
__ADS_1
Niat dan pikiran yang selalu muncul di kala Amber mengingat pengkhianatan Bram dan di saat prianya itu memperlakukan Camelia lembut dan manis.
Tapi rasa cinta itu lebih kuat dari rasa benci yang terkadang datang.
Ayolah ia hanya wanita biasa yang masih menginginkan cinta pertamanya selalu bersama dirinya.
Pria pertama yang mampu mengertakkan hatinya dari kebekuan karena kekecewaan terhadap sang daddy, yang begitu tega mengkhianati mommynya yang sangat mencintai daddynya.
Daddy yang tega menelantarkan dirinya demi istri baru.
Karena rasa kecewanya itu, Amber berjanji menutup hatinya rapat dari seorang pria, yang hanya menjanjikan kesetiaan dan cinta suci.
Hingga pria yang ada di dekatnya ini, datang dan membuat hati Amber bergetar dengan sikap lembut dan manis Bram.
Perlakuan lembut penuh cinta yang bisa membuat perasaan Amber menghangat dan berbunga-bunga.
Lamunan Amber terhenti saat ia merasakan benda hangat dan lembut menyentuh permukaan kulit pundaknya berkali-kali.
Bukan hanya kecupan tapi disertai oleh hisapan lembut yang meninggal jejak merah di kulit putih Amber.
Amber memejamkan matanya dan ia merasakan serangan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya yang menggelitik indah di sana.
"Dear!" Lirih Amber tertahan.
"Panggil aku seperti itu, sayang!" Bisik Bram di balik ceruk leher Amber yang sudah dipenuhi bercak merah.
"Dear," bisik Amber lagi yang tangannya mencengkram kuat lengan Bram.
"Aku merindukanmu, sayang!" Bisik Bram lagi.
Bram menghentikan aktivitasnya di ceruk leher panjang Amber, saat mendengar ucapan wanitanya.
Segera saja Bram membalikkan tubuh Amber dengan pelan, agar ia bisa melihat wajah cantik sang wanita.
"Katakan sekali lagi, kalau kau mencintaiku!" Pinta Bram dengan raut wajah bahagia.
"Aku merindukanmu, dear, sangat merindukanmu," ucap Amber dengan tatapan tulus.
Kini keduanya sudah saling berhadapan dan saling menatap dengan penuh cinta dan kerinduan di mata mereka masing-masing.
Bram mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Amber, mengikis jarak di antara keduanya hingga ujung hidung mereka bertemu dan Bram sengaja menggesekkan hidung mereka.
Bram mencium kening wanitanya penuh perasaan cinta yang tulus, lalu ia memandangi wajah wanitanya yang kini merona indah dengan mata yang terpejam.
Netra abu-abu Bram kini beralih di bibir ranum Amber yang merekah alami.
Segera pria itu meraup bibir indah nan manis Amber dengan tangan kanannya menekan lembut tengkuk Amber.
Bram menyesaap dengan penuh kelembutan bibir manis wanitanya yang sudah menjadi candu buatnya.
Amber sendiri mengalungkan kedua tangannya di leher Bram dan membalas cumbuan pria kesayangannya.
__ADS_1
Keduanya kini saling bercumbu mesra dengan penuh perasaan kasih sayang, di bawah sinar matahari menguning dan mulai menghilang dan berganti langit senja yang menghitam.
Sungguh suasana yang begitu romantis dengan, suara cumbuan mereka, diiringi oleh deburan suara ombak lautan lepas dan juga suara segerombolan burung yang kembali ke sarang mereka.
Bram mengangkat tubuh Amber keatas gendongannya dan berjalan ke arah villa tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Amber hanya bisa mengaitkan kedua kakinya dengan kuat di pinggang keras Prianya dan kedua tangannya mengalung erat di leher panjang nan seksi bram.
"Turunkan aku, dear?" Pinta Amber.
"Aku bisa jalan sendiri," ucapnya ditengah ciuman bibir mereka.
"Tidak, biarkan aku menggendongmu, sayang," tolak Bram yang melepaskan tautan bibir mereka.
"Ini terlalu jauh, dear!" Ucap Amber.
"Tidak masalah," sahut Bram.
"Dasar keras kepala," cibir Amber, yang langsung mendapatkan gigitan kecil di lehernya, yang membuat Amber tertawa geli.
Keduanya pun berjalan ke arah villa dengan canda tawa menemani langkah mereka, pun suasana romantis keduanya masih berlangsung.
Mereka tidak menyadari bahaya kini datang mengusik kebahagiaan mereka, yang pernah terpisahkan oleh keegoisan seseorang.
Amber menyerah dengan rasa cintanya yang begitu besar dan berat ia lepaskan begitu saja.
Ia mengubur dalam-dalam rasa bencinya demi hatinya dan juga buah hatinya hasil buah dari cinta mereka.
Ia tidak memperdulikan perasaan seseorang, Amber ingin egois, ia ingin mempertahankan cintanya dan juga kebahagiaan kedua anak kembarnya.
Masa bodoh dengan status Prianya yang masih suami orang, ia ingin merebut lagi cintanya yang direbut paksa darinya.
Mulai sekarang ia berjanji akan memperjuangkan cintanya dan juga masa depan anak-anaknya, ia tidak akan pernah membiarkan si kembar tumbuh tanpa sosok ayah kandungnya.
"Ini demi kebahagiaanku, dan juga kebahagiaan si kembar." Monolog Amber dalam hati.
"Aku mencintaimu, dear," bisiknya lirih.
"Aku lebih mencintaimu, sayang," balas Bram tak kalah lembutnya.
Keduanya pun kembali berciuman sambil masuk kedalam villa yang nampak gelap.
"Bugh"
"DEAR"
Bram. ganti visual soalnya banyak yang nggak suka yang sebelumnya. semoga suka yang ini.
astaga tatapan mu bang, bikin meleleh π
__ADS_1
mampir yuk di karya bestie Uma: mama Reni βΊοΈπ