Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 95


__ADS_3

Pagi pun menyapa para makhluk bumi dengan sinar matahari yang berwarna jingga terlihat sangat indah, memasuki celah-celah rumah, untuk memberikan kesan hangat nan segar keseluruh rumah yang disinari oleh matahari hari pagi.


Namun tidak berlaku untuk kediaman ratu Rosella.


Walaupun sinar matahari tampak begitu cerah.


Tapi perasaan wanita itu begitu hancur lebur.


Kediamannya kini ditutupi oleh gelapnya kesedihan, setelah ditinggal pergi oleh orang terkasih.


Kediaman pribadi ratu Rosella pun terlihat suram.


Meskipun diterpa oleh indahnya sinar jingga kekuning-kuningan di pagi hari.


Kediaman wanita itu hanya ada kesedihan dan kehilangan.


Ratu Rosella tidak menyangka ia akan secepat itu berpisah dengan putra semata wayangnya yang pergi untuk selama-lamanya.


Ratu Rosella kini berada di sebuah ruangan luas, yang memiliki suhu ruangan yang begitu membeku kan badan.


Suhu yang digunakan untuk mengawetkan jenazah, agar tetap utuh.


Ratu Rosella, memandangi anaknya yang berada di dalam sebuah peti kaca transparan.


Memandangi jenazah sang putra dengan derai air mata dalam diam.


"Semoga, kau selalu tenang di alam sana, nak." Ratu Rosella berkata lirih dengan wajah yang terlihat sembab dan menyedihkan.


"Mommy, berjanji, akan membalas perbuatan mereka dan membuat mereka semua hancur," gumam wanita itu dengan mata yang menyalang tajam.


"Ibu, tidak akan pernah membuat mereka bahagia diatas kepergian mu," gumam ratu Rosella dengan pakaian yang serba hitam dikenakan wanita setengah baya itu.


"Mereka harus membayar mahal semua, ini." Monolog ratu Rosella dengan wajah yang penuh dengan sebuah dendam.


Tangan tua wanita itu kini mengepal erat di kedua sisinya.


Matanya menyorot tajam pada peti kaca yang terdapat sang putra di sana.


"Mommy, pergi dulu nak," ujar ratu Rosella yang berpamitan kepada mayat anaknya, seakan sang anak hanya tertidur lelap.


Ratu Rosella pun meninggalkan ruangan itu dengan kedua tangannya yang masih mengepal, antara menahan amarah atau menahan suhu pendingin di ruangan jenazah putranya.


Ratu Rosella ingin mengistirahatkan tubuhnya dan menenangkan pikirannya, agar dapat melancarkan acara pembalasan Dendamnya.


"Jangan, ganggu aku selama dua hari. Dan tempatkan wanita itu di posisiku seperti biasa. Awasi keluarga mereka!" Titah ratu Rosella, sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Baik, yang mulia," sahut Martin patuh.


Tanpa menunggu jawaban dari sang pengawal setianya, ratu Rosella masuk kedalam kamarnya, yang dibiarkan gelap tanpa peng cahaya apapun.


Saat ini biarkan ia berteman dengan pengapnya gelap, yang akan membuat perasaan suramnya semakin dalam.


Biarkan dia menikmati lukanya dan rasa kehilangannya, sebelum dirinya berbuat sesuatu untuk orang-orang yang sudah berani mengusiknya.


~


Di mansion Boy Raymond Cole.


"Hg"


Suara lenguhan serak nan seksi itu, terdengar dari arah ranjang.


Dimana sepasang kekasih masih terbaring dengan saling berpelukan.


Sedikit demi sedikit mata sang pria bergerak untuk menyesuaikan peng cahaya matahari yang kini menerpa wajahnya dari balik celah gorden.


Tidak lama kemudian, kelopak mata dengan manik abu-abu itu terbuka sempurna.


Bram merotasi pandangannya ke setiap ruangan kamar yang ia tempati sekarang.

__ADS_1


"Asing" itulah yang ada di dalam pikiran Bram sekarang.


Pria itu mencoba menggeliatkan badannya dari rasa kaku, namun niatnya terhenti, ketika ia merasakan sesuatu berat menimpa perut dan juga kedua kalinya.


Bram melirik tangan mungil yang memeluknya dengan dahi mengerut.


Lalu pria itu mengalihkan pandangannya ke arah samping, dimana seorang wanita masih terlelap dengan wajah polos menggemaskan.


Sudat bibir Bram tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman indah.


Ia lalu berubah posisinya menghadap sang wanita, yang tidak terusik sama sekali dengan pergerakan tubuhnya.


Bram menjauhkan anak rambut Amber yang menutupi sebagian wajah cantik wanitanya.


Bram menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya, sambil mengusap pipi mulus Amber.


Ia lalu menarik lembut wajah Amber agar lebih dekat ke wajahnya, ia belum merasa puas apabila wajah wanitanya terlalu berjarak dengan wajahnya walaupun hanya sedikit.


Bram mendekatkan bibir lembut dengan warna merah muda alami itu ke kening Amber.


Memberikan kecupan hangat dan lama di kening wanitanya penuh perasaan sayang dan cinta.


"Pagi, my heart," bisik Bram dengan suara lirih di depan wajah Amber.


Pria itu terkekeh pelan, ketika Amber tidak terganggu sedikitpun dengan perbuatannya.


Dengan masih tersenyum manis, Bram menatap dalam pada wajah cantik Amber.


Menatapnya lekat penuh kekaguman tanpa merasa bosan pada wajah wanitanya.


Memainkan jari-jari kokohnya yang lembut di setiap jengkal wajah sang wanita tercinta.


Menyentuh dengan deburan jantung yang kini bergemuruh dan mengalirkan perasaan panas di setiap tubuhnya.


Kini jari-jari Bram bermain-main di sekitaran bibir ranum nan menggoda Amber.


Jari-jari Bram mengikuti jejak bentuk bibir ranum Amber, yang terlihat berisi di bagian bawahnya.


Bram sengaja bermain-main di sekitaran bibir Amber, ia ingin menggoda wanitanya itu dengan kecupannya di setiap sudut bibirnya.


Pertama-tama Bram mengecup terlebih dahulu sudut bibir Amber, lalu berpindah ke sudut satunya.


Bram kini mengecup bagian atas bibir Amber yang terlihat terbuka sedikit. Bram bahkan menyesapnya sebentar, lalu berpindah pada bagian bibir bawah Amber yang berisi dengan rasa manis nan lembut.


Bram masih enggan menyudahi kegiatan menyenangkannya ini, ia mengecup berkali-kali bibir wanita yang sekali-kali ia menyesapnya lembut secara bergantian, bibir bagian atas dan bawah Amber.


Bram yang gemas dengan wajah tenang kekasihnya itu, dia pun menggigit pelan bibir bagian bawah Amber dan sedikit **********.


"Hg"


Dan akhirnya suara lembut nan serak khas bangun tidur terdengar dari mulut sang wanita.


"Cup"


"Pagi, sayang!" Ucap Bram lembut yang masih mencium bibir Amber berkali-kali.


Amber terlihat menggeliatkan badannya dengan kedua tangannya ia angkat ke atas kepalanya.


Dengan kaki yang sengaja ia tarik ke bawah, untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Setelahnya Amber membuka kelopak matanya dengan sempurna menampakkan manik coklat terang yang sangat indah.


Amber tersenyum hangat pada Bram yang masih setia menatap dirinya.


"Cup"


"Selamat pagi juga, dear," balas Amber, lalu mengecup kening Bram dan juga bibir prianya.


Amber terkesiap saat mengingat keadaan Bram semalam.

__ADS_1


Ia lalu beranjak dari tidurnya dan segera bangkit dan duduk dengan melipat lututnya ke belakang.


Bram mengernyit heran dengan tingkah Amber. Ia juga mengikuti kekasihnya bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan Amber yang sedang menggulung rambutnya ke atas yang memperlihatkan leher panjangnya yang seksi.


Amber mengarahkan kedua telapak tangannya ke wajah Bram dan memindai wajah dan juga kepala prianya.


Bram hanya bisa terdiam dalam kebingungan plus menikmati sentuhan lembut nafas dan juga telapak tangan kekasihnya.


Amber lalu memandangi wajah Bram yang masih terlihat bingung dengan intens.


"Apa, ini masih sakit?" Amber menunjuk kepala Bram sambil bertanya lembut pada prianya.


Bram terlihat menggeleng pelan dan meriah telapak tangan Amber yang berada di kepalanya dan membawanya ke bibirnya, mengecupnya lama setelah itu di genggamannya lembut.


"Memangnya, apa yang terjadi denganku semalam?" Tanya Bram balik sambil menarik Amber kedalam pelukannya setelah merubah posisi duduknya bersandar pada belakang ranjang.


Amber menjauhkan kepalanya dari dada bidang Bram dan menatap kembali wajah tampan prianya itu.


"Kau kesakitan di sini," jawab Amber yang kembali memegang kepala Bram.


"Apa masih terasa sakit?" Tanya Amber sekali lagi.


"Tidak! Jawab Bram yang kembali meraih telapak tangan Amber dan memainkan jari-jari lembut kekasihnya.


"Apa kau yakin?" Tanya Amber dengan tatapan khawatir.


"Cup"


Bram mendaratkan kecupan di kening Amber yang begitu terlihat khawatir.


"Iya sayang," jawab Bram dengan sangat yakin.


Amber nampak menghela nafas lega dan ia menatap kembali wajah kekasihnya.


"Jangan, membuatku takut seperti semalam," cicit Amber yang kini naik dan duduk di pangkuan pria kesayangannya.


"Maaf," bisik Bram yang kini kening keduanya menempel.


"Aku, maafkan. Tapi berjanjilah, jangan membuatku khawatir lagi," lirih Amber yang menautkan jari-jari mereka dan mengangkatnya ke atas.


"Aku janji," bisik Bram di telinga Amber dan meninggalkan kecupan di sana.


Kini kedua tautan jari-jari mereka terlepas dan kini kedua tangan Amber sudah mengalung di leher panjang Bram dengan sempurna.


Sedangkan kedua tangan Bram sudah melingkar di pinggang ramping Amber dan mendorongnya lebih dekat ke tubuhnya.


Mereka lalu saling bertatapan dengan mata yang penuh cinta dan perasaan hangat yang menjalar ke dalam tubuh mereka.


"Aku mencintaimu, sayang," bisik Bram di atas bibir ranum Amber yang kini sudah saling bersentuhan.


"Aku lebih mencintaimu, dear," balas Amber dengan mata yang terpejam.


Bram mengecup kembali bibir Amber dan ********** dengan lembut bibir Amber.


Amber pun menyambut ciuman bibir kekasihnya dengan perasaan rindu dan cinta.


Kini sepasang kekasih itu, kembali saling bercumbu dengan disaksikan cahaya jingga, sinar matahari pagi yang masuk dalam celah-celah gorden yang seakan mengintip kegiatan indah mereka dengan malu-malu.


Saat lidah bram ingin mengabsen setiap barisan gigi Amber, terhenti, ketika sebuah gebrakan pintu di luar mengganggu aktivitas menyenangkan keduanya.


Bram yang merasa kesal menghentikan cumbuannya dan bersiap berteriak, namun teriakan di luar membuatnya terkesiap dan membeku di tempatnya.


"Mommy!!


"Mommy!!


"Brak"


"Brak"

__ADS_1


"Mommy, … buka pintunya!?


"Mommy?! Batin Bram.


__ADS_2