
"Sial, sial, sial."
"Prang"
"Prang"
"Akhh"
Wanita setengah baya itu, begitu frustasi dengan apa yang ia saksikan di ruangan pertemuan.
Ia diremehkan, direndahkan, dihina dan dipermalukan, didepan semua orang yang ada di istana.
Dadanya bergemuruh dengan amarah yang begitu membuncah hingga ke ubun-ubun.
Ia tidak akan terima diperlakukan seperti ini, ia akan berbuat sesuatu, agar tamengnya kembali lagi kepadanya.
Tameng dan alat untuk tetap mendukung posisinya, agar tetap menjadi seorang ratu.
Rosella akan berbuat sesuatu agar pangeran Griffin dapat lagi dikendalikan.
Pertama-tama, Rosella ingin menyingkirkan Amber terlebih dahulu.
Ia harus dapat menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Bram.
"Ini semua karena wanita itu. Aku harus menyingkirkan wanita sialan itu dari sini," monolog ratu Rosella.
"Kau harus hancur di tanganku, sialan," geram ratu Rosella dengan geraman.
__ADS_1
"Pangeran Griffin, kau harus bisa aku kendalikan lagi. Kau harus tetap menjadi bonekaku dan aku akan menghancurkanmu secara perlahan demi membalaskan dendam putraku," monolognya kembali.
"KALIAN HARUS HANCUR!"
"AKH!"
Kembali ratu Rosella berteriak histeris. Wanita dengan obsesi tinggi itu begitu frustasi dan kacau.
Semua rencananya gagal, belum lagi orang-orang yang menjadi tameng dan bonekanya sudah tiada satu persatu.
Yang tersisa adalah Bram sendiri. Ia berencana akan kembali menjodohkan, Bram dengan seorang wanita konglomerat terpandang di kotanya.
Seorang gadis yang dari keluarga yang sangat berpengaruh di kota Chicago.
Namun rencananya itu kini menjadi angan-angan semu semata.
"Aku, harus bisa menyingkirkan wanita itu terlebih dahulu, baru aku menjodohkan mereka," gumam ratu Rosella.
Dengan melipat kedua tangannya di depan dada, dan bersandar di daun pintu kokoh balkon kamar ratu Rosella, wanita itu memandang wanita setengah baya itu dengan penuh arti.
"Apa, kau yakin bisa memisahkanku dengan suamiku, ratu Rosella!? Sentak wanita tersebut yang ternyata adalah Amber.
"K—kau?" Ucap ratu Rosella gugup.
"Hm, ini aku," jawab Amber santai.
Amber mulai mendekati ratu Rosella, dengan sebuah benda yang begitu berkilau berada di tangannya.
__ADS_1
Ratu Rosella yang melihat raut wajah Amber dan tatapannya kini beralih beralih pada benda tajam yang ada di tangan Amber.
Wanita itu pun memundurkan tubuhnya dengan wajah yang mulai terlihat waspada.
"A—apa yang ingin kau la—lakukan?" Tanya ratu Rosella terbata karena ketakutan.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu," timpal Amber sambil memainkan benda itu di atas meja rias ratu Rosella.
"Wow, ternyata benda ini tajam juga? Apa benda ini juga dapat melukai kulit manusia sampai ke organ vitalnya?" Gumam Amber dengan nada menakutkan.
"M—menjauhlah!" Suruhnya dengan wajah semakin pias.
"Kenapa, anda begitu ketakutan? Oh, ayolah. Aku hanya ingin menemui anda ratu Rosella. Mana keberanian dan ketegasan anda? Juga keangkuhan, keanggunan yang selama ini Anda jaga? Mana keberanian anda, ratu Rosella?" Dengan nada berbisik namun tersirat nada ancaman yang keluar dari mulut Amber, membuat ratu Rosella tetap waspada, dengan memundurkan tubuhnya, hingga kini ia sudah berada di sudut ruangan.
Dengan senyum miring mengerikan, Amber tetap mendekati ratu Rosella, dengan benda tajam itu berputar-putar di tangannya.
"Menjauhlah, bedebah. Martin!" Ratu Rosella begitu ketakutan dan wanita itu pun memanggil pengawal setianya.
"Martin!!"
"Martin!!"
"Hus, diamlah! Dia tidak akan kesini, karena pengawal pribadi kesayanganmu itu, sedang bersenang-senang dengan jaalang peliharaannya." Bisik Amber, yang kini sudah berada di depan ratu Rosella.
"Kenapa, anda terlihat ketakutan?"
"Aku, hanya ingin mengenal anda lebih dekat, dan beginilah caraku, berkenalan dengan wanita seperti anda," jleb."
__ADS_1
"Akhhh, Jangan,!"