
"Tok, tok, tok"
Seorang wanita setengah baya mengetuk pintu kamar Amber.
Tidak lama kemudian pintu kamar Amber pun terbuka, memperlihatkan wajah Amber yang terlihat baru bangun.
"Bibi,?" Seru Amber yang raut wajahnya terlihat terkejut.
Pelayan senior itu hanya tersenyum melihat wajah terkejut Amber.
"Bersiaplah, putri Camelia akan pergi ke istana ratu," ujar sang pelayan.
"Istana ratu,?" Tanya Amber dengan penasaran.
"Iya, kediaman ibu ratu. Dulu pangeran Griffin dan putri Camelia menetap di sana, tapi karena pangeran Griffin dan putri Camelia ingin hidup sendiri, maka pangeran Griffin membawa anak dan istrinya kesini," pungkas bibi Ana.
"Kelihatannya, pangeran mahkota sangat menyayangi keluarganya," sahut Amber.
"Iya. Pangeran Griffin memang sangat mencintai istri dan anaknya. Mereka dikenal pasangan yang selalu bahagia dan romantis." Bibi menceritakan kisah cinta pangeran Griffin dan putri Camelia.
Entah mengapa hari Amber perih mendengar kisah cinta pangeran Griffin dan putri Camelia.
"Perasaan aneh," batin Amber.
"Apa, mereka sudah lama menikah, bi,?" Tanya Amber lagi, ia juga bingung dengan pertanyaan.
"Sudah tujuh tahun," sahut bibi Ana.
"Hm! Mereka pasti saling mencintai," Amber menimpali sahutan bibi Ana.
"Hm! Yang kau katakan benar. Itu terlihat putri Camelia hamil duluan sebelum menikah dengan pangeran Griffin," bisik bibi Ana. Ia takut ada yang mendengar ucapannya.
"Benarkah,?"
"Hm!
"Sudahlah. Cepatlah bersiap dan temui putri Camelia," suruh bibi Ana.
"Oke, Bi." Amber pun menutup pintu kamarnya saat bibi Ana sudah menjauh dari kamarnya.
Amber terduduk di ranjang dengan perasaan begitu aneh, entah mengapa ia merasa terluka mendengar perkataan bibi Ana tentang pangeran Griffin dan keluarga kecilnya.
"Perasaan apa ini," gumam Amber.
Amber pun menggeleng pelan dan melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan dan berjalan ke arah kamar mandi.
*
*
*
"Jadi kamu langsung ke tempat ratu,?" Tanya Camelia dengan nada manja.
"Iya sayang," sahut Bram di seberang sana.
"Kau, jahat sekali," cebik Camelia dengan wajah cemberut.
Terdengar kekehan Bram di seberang sana, "maaf sayang," ucap Bram.
"Baiklah, tunggu aku," ujar Camelia dengan tersenyum sendiri.
"Selalu, sayang," balas Bram.
"Love you," ucap Camelia dan hanya suara tawa renyah terdengar di seberang sana.
"Menyebalkan," lirih Camelia dan mematikan panggilannya. Camelia meneruskan merapikan penampilannya yang terjeda dengan dibantu oleh Amber.
Amber hanya bisa membeku saat mendengar suara pangeran Griffin di ponsel Camelia yang dalam mode loudspeaker aktif.
Tiba-tiba perasaannya terasa ngilu dan sesak. Suara itu. Suara yang sangat Amber kenali.
Amber menggeleng pelan untuk menghilangkan pikirannya, "tidak mungkin dia," batin Amber.
Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
Dan ia merasa gugup saat ini.
__ADS_1
"Perasaan konyol apa ini," monolognya dalam hati.
"Kau kenapa,?" Tanya Camelia dengan alis terangkat.
"Maaf, tuan putri," Amber memohon maaf dan membungkukkan badannya.
"Hm! Bekerjalah dengan baik, karena aku sangat tidak suka kelalaian," sarkas Camelia dengan tatapan sinis ke arah Amber.
Malam ini Camelia berdandan dengan sangat wow, yang biasanya berdandan natural, malam ini ia berdandan sedikit berani.
Dia juga memakai gaun yang terlihat glamor. Jauh berbeda dengan yang biasa dipakai yang selalu sederhana.
Camelia sangat iri dengan kecantikan Amber yang terlihat alami yang hanya dihiasi make-up tipis. Ia juga sangat iri dengan tubuh Amber yang sangat indah layaknya seorang model papan atas terkenal.
Camelia mencebikkan mulutnya diam-diam ke arah Amber yang berdiri di belakangnya, seperti seorang patung cantik.
"Cih! Dia hanya seorang gadis dari kasta rendahan," hina Camelia dalam hati.
Amber hanya tersenyum dalam hati melihat ketidak sukaan Camelia padanya.
"Apakah, aku juga perlu menghabisi wanita ini,?" Monolog Amber dalam hati.
"Dasar wanita rubah," gumam Amber.
Menatap tajam punggung Camelia, ingin rasanya Amber membungkam mulut Camelia sekarang juga. Tapi ia harus bersabar, Amber akan menghabisi nyawa sang pangeran Griffin setelah itu istrinya yang sombong ini.
"Ayo, berangkat. Aku tidak ingin suamiku menunggu terlalu lama," ujar Camelia sombong.
"Siap tuan putri," Seru para pelayan setia Camelia dan juga Amber.
Camelia terlihat melangkah dan dengan sigap Amber membukakan pintu dengan menundukkan kepalanya.
Setelah Camelia berjalan keluar dari kamar gantinya, Amber menutup pintu kembali dan mengikuti langkah tuan putri sombong itu.
"Apa pangeran Robert sudah siap," tanya Camelia sambil melangkah.
"Sudah tuan putri," sahut pelayan yang selalu mengikuti Camelia kemanapun.
Sementara Amber mengikuti langkah mereka di belakang, untuk menjaga keamanan tuan putri.
*
*
*
Mereka sedang berkumpul di ruangan santai dengan beberapa anggota kerajaan.
"Semuanya lancar," sahut Bram yang juga menyesap minuman yang tuangkan seorang pelayan istana.
"Hm! Gumam ratu Rosella.
"Apa, kakak ipar belum tiba,?" Tanya pangeran Mateo yang tiba-tiba menyela obrolan para tetua.
"Pangeran Mateo, jaga sikapmu," ujar sang ibu dengan lembut.
"Ada apa,?" Tanya Bram.
"Apa kau tau kak,?"
"Tidak."
"Dengarkan aku dulu," cibir Mateo.
Bram tersenyum dan ia mengacak rambut pangeran termuda di istana ini. Ia memang terkenal sedikit konyol dan semaunya. Tapi Mateo sangat di sayangi oleh para keluarga kerajaan.
"Katakan,"
"Kakak ipar, memiliki seorang bodyguard yang sangat cantik. Dia seperti Dewi, … eh bukan, dia seperti boneka yang di dunia dongeng, cantik, imut dan sangat manis. Tapi sayang wajahnya sangat datar dan dingin," keluh Mateo di akhir perkataannya.
Bram membeku di tempatnya. Ia tiba-tiba merasa mengenali ciri-ciri yang dikatakan oleh Mateo.
Bram menggeleng untuk menghilangkan pikirannya yang tidak mungkin.
"Kau, menyukainya, son,?" Tanya sang ibu dengan lembut.
"Hm! Sangat," jawab Mateo malu-malu.
__ADS_1
"Aku langsung jatuh hati padanya, mom," adu nya dengan raut wajah merona.
"Baiklah, kenalkan kepada mommy nanti," jawab mommy Mateo.
"Cih! Kau tertarik dengan seorang kasta rendahan, dude,? Seorang pria dengan wajah tampan menimpali obrolan anak dan ibu itu.
"Aku, tidak masalah. Yang terpenting aku menyukainya dan aku akan memperjuangkannya," sahut Mateo berapi-api.
"Ck! Cebik pangeran William.
Bram lagi-lagi membeku mendengar ungkapan Mateo. Ia merasa tertampar.
Seharusnya dia memperjuangkan cintanya, hingga akhir hidup, bukannya malah berbahagia dengan wanita lain.
Bram terlihat tersenyum miris, ia teringat wajah sedih dan terluka Amber dan juga wajah Amber yang kemarin ia lihat terlihat begitu baik-baik saja.
"Selamat malam, semua," sapa Camelia mengagetkan semua orang.
"Selamat malam, yang mulia ratu,?" Sapa Camelia kepada ratu Rosella dengan membungkukkan badannya.
Ratu Rosella hanya tersenyum tipis dan mengakuk.
Camelia tersenyum kepada anggota keluarga kerajaan dan senyumnya makin lebar saat melihat suami bangkit dari duduknya dan mendekat kepadanya.
Camelia memeluk tubuh Bram sangat erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang Bram.
Bram memberikan kecupan hangat di kening Camelia dan juga di bibir sang istri.
"Aku merindukan suamiku," bisik Camelia.
"Hm! Aku juga," sahut Bram yang masih memeluk erat tubuh sang istri.
Amber bergeming di tempatnya saat menatap punggung yang begitu ia kenali dari jarak dekat .
Ia dapat melihat perlakuan manis pangeran Griffin kepada sang istri dan juga ia mendengar ungkapan sayang Griffin pada Camelia.
Amber menggeleng untuk membuang jauh-jauh pikirannya dan juga mencoba mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba sesak dan berdetak sangat cepat.
Amber yang sedang memegang tangan pangeran Robert Atas perintah Camelia untuk menjaga sang anak. Karena ia akan menghabiskan waktu dengan suaminya.
Tapi pangeran Robert menolak dan meronta ingin menemui putri Camelia.
"Ini tidak mungkin, pasti bukan dia," batin Amber sambil menundukkan kepalanya.
"Daddy," teriak pangeran Robert.
Membuat Bram menoleh dan memutar badannya ke belakang dengan tersenyum.
Namun tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan seluruh tubuhnya membeku ketika melihat sosok di dekat sang anak yang sedang menunduk.
"Sayang," gumamnya tanpa suara.
Bram masih membeku dan terhenyak. wanita itu. wanita yang selalu ada dalam hatinya dan selalu ia rindukan, kini berada di depannya.
tanpa sadar Bram melepaskan genggaman tangan istrinya dan melangkah sedikit demi sedikit ke arah Amber.
tapi tiba-tiba pangeran Robert berlari kearah dan memeluk kaki panjang Bram.
Bram langsung tersadar dan maniknya masih menatap sosok yang kini menatapnya dengan kebencian dan juga kekecewaan.
"Hay, bodyguard cantik," tegur Mateo yang membuat Amber mendongak dan ia pun membeku saat maniknya dan manik Bram saling bertemu.
Seluruh tubuh Amber tiba-tiba lemas dan dadanya terasa sesak dan ngilu.
Amber menatap nyalang pada sosok pria yang juga menatapnya dengan wajah terkejut.
Amber mengepalkan kedua tangannya dan berusaha menahan gejolak di dada yang begitu menyiksa dan terasa sakit.
Matanya pun terasa berat dan gatal. Maniknya sudah berkaca-kaca dan dadanya begitu nyeri. Amber membuang pandangannya ke samping, ia menarik nafas dan membuangnya perlahan. Ia menghapus air matanya yang lolos dari ujung matanya.
Ia mencoba mengontrol perasaan sakit di hatinya dan tersenyum saat pangeran Mateo menghampirinya.
Tapi yang menjadi perhatiannya kini ada pada seorang anak yang berada dalam gendongan seorang pria brengsek yang ia kenal. Hati Amber lagi-lagi berdenyit nyeri, ngilu dan sesak ketika melihat perlakuan Bram kepada anaknya begitu penuh kasih sayang. Ia dapat melihat sebuah keluarga bahagia di sana di mana Bram terlihat memeluk anaknya dan Camelia memeluk suaminya.
"Tuhan, ini sungguh sakit," batin Amber dan ia pun segera memutar badannya dan berjalan entah kemana.
Mateo hanya menatap punggung Amber dengan wajah bingung.
__ADS_1
Sedangkan Bram hanya bisa menahan gejolaknya untuk mengejar Amber dan membawa Amber ke dalam pelukannya. Ia ingin mengatakan betapa rindunya ia pada Amber.