
"Istirahatlah." Ken menuntut Amber naik keatas ranjang.
Ken juga menyelimuti tubuh Amber yang nampak terlihat pucat itu.
Amber yang pagi ini kembali merasakan mual yang menyiksa dan berakhir memuntahkan sarapannya yang baru mengisi perutnya.
"Apa kau masih mual.?" Dengan lembut Ken bertanya kepada Amber sambil membenahi letak selimut Amber.
"Hm,!"Gumam Amber dengan mata terpejam. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang.
"Apa masih pusing,?" Kembali Ken bertanya dengan tangannya terulur memijat kening Amber.
"Sedikit,! Cicit Amber.
"Aku akan memanggil, Nicko kalau begitu."
"Tidak perlu." Amber menahan telapak tangan Ken.
"Kau terlihat pucat dan lemas," ujar Ken dengan wajah cemas.
"Aku, hanya butuh istirahat," Balas Amber.
"Kalau begitu, istirahatlah." Ken membenahi kembali selimut Amber.
"Hm. Terima Kasih,!" Ucap Amber dengan suara pelan.
"Hm! Aku akan membangunkanmu, jam makan siang."
"Kau ingin makan sesuatu,?"
"Tidak. Terimakasih, maaf aku terlalu merepotkan mu,"
"Apa yang kau katakan, sweety. Kau adalah tanggung jawabku sekarang, dan bukankah aku daddy dari bayi mu ini,?" Ujar Ken, yang telapak tangannya kini mengusap perut Amber.
"Hu' um, daddy Ken," Seru Amber dengan tersenyum lemah.
"Aku, suka kau memanggilku, daddy," Sahut Ken.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggil, daddy. Apa kau puas, sekarang keluarlah aku ingin istirahat," usir Amber.
" istirahatlah, sweety." Setelah mengecup kening Amber, Ken pun meninggalkan kamar wanita pujaannya.
Pria ini akan melakukan misi rahasianya dan ia perlu menyusun rencana untuk melancarkan aksinya.
Ken membuka pintu ruangan rahasia miliknya dan sudah ada Glenn disana menunggu dirinya.
"Kau, sudah disini.?" Ken mendekati Glenn dan duduk samping sahabatnya.
"Hm," Gumam Glenn.
"Bagaimana dengan Amber.?"
"Yah, seperti biasa dia akan memuntahkan isi perutnya."
"Tapi, aku salut padamu, sobat. Kau mampu merawatnya meskipun dia bukan siapa-siapa kamu."
"Dia wanita yang aku cintai. Jadi aku harus melakukan ini."
"Ck! Bucin."
"Aku hanya tidak rela melihatnya bersedih."
__ADS_1
"Kau, benar-benar mencintainya, dude."
"Sangat,"
"Aku yakin sesuatu saat dia akan menjadi milikku dan dia akan membalas perasaan ku."
"Ck! Sungguh kisah cinta mu sangatlah menyedihkan."
"Sialan kau,"
"Berhentilah, mengejekku dan mari kita menyusun strategi untuk target kita."
"Baiklah!
*
*
*
Sementara Amber selepas Ken keluar dari kamarnya. Ia bangkit dan duduk bersandar di belakang ranjang.
Ia menatap perutnya yang masih rata itu dan mengusapnya lembut.
Entah mengapa ia tiba-tiba, sangat merindukan pria yang sangat dibencinya itu.
Air matanya bahkan sudah meluruh membanjiri pipinya. Dan isakan mulai terdengar rendah.
Amber membungkam mulutnya sendiri dengan menggunakan telapak tangannya.
Ia tidak ingin Ken mendengarnya menangis lagi. Karena ia sudah berjanji tidak akan bersedih lagi.
Berkali-kali Amber mencoba membuang jauh perasaannya ini, tapi entah mengapa semakin ia berusaha semakin dalam ia merindukan Bram.
Amber merasa penderitaannya berkali-kali lipat. Setelah melalui masa-masa kehamilan yang membuatnya tersiksa, sekarang ia harus kembali tersiksa oleh rasa rindu yang begitu besar kepada pria masa lalunya.
Amber masih menangis dan terisak dengan suara tertahan yang sangat menyakitkan.
"Aku, merindukanmu. Sangat merindukanmu," lirihnya di tengah isakan tertahan Amber.
"Oh Tuhan. Kuatkan aku," Keluhnya sambil memukuli dadanya. Ia ingin menganti rasa rindunya dengan kesakitan, mungkin dengan begitu pikirnya akan teralihkan.
"Ini sangat menyiksaku, aku mohon hilangkan rasa rindu ini," Lirihnya lagi.
Dengan tangisan dan isakan yang makin menjadi.
Tangan Amber yang tadi membungkam mulutnya, kini ia arahkan di atas perutnya.
Amber mengusap-usap perutnya lembut dan mengajak calon bayinya itu bicara.
"Baby. Mommy tau kau sangat merindukan daddy, tapi mommy mohon jangan menyiksa mommy sayang, dengan merindukan pria itu. Mommy tidak kuat. Mommy tidak sanggup, baby,!" Monolog Amber sambil membelai perutnya.
"Bantu mommy melupakannya, sayang."
"Bantu mommy berjuang, agar kelak kita bisa bahagia."
"Mari kita sama-sama berjuang, baby. Berjuang demi kebahagian kita, berjuang demi masa depan kita dan berjuang untuk melupakan daddy mu. Mungkin dia sudah bahagia disana. Jadi mari kita bangkit nak." Bisik Amber yang masih setia mengusap perutnya.
"Mulai sekarang, jangan menyiksa mommy dengan merindukannya, oke."
"Mommy, rela muntah-muntah seharian asal jangan menyiksa mommy dengan merindukan dirinya, baby."
__ADS_1
"Sekarang izinkan, mommy bangkit, nak."
"Bangkit dari keterpurukan dan luka, mommy."
"Kau, hanya milik, mommy dan juga daddy Ken. Jangan pernah mencari pria itu lagi, oke." Akhirnya Amber menghabiskan waktunya seharian mengajak bayi yang ada di dalam rahimnya bicara. Ia bahkan tertawa dan terkikik sendiri.
Amber baru menyadari, kalau mengajak janinnya bicara sangatlah menyenangkan. Dan membuat dirinya merasa bahagia.
"terimakasih, malaikat kecil ku," bisik Amber.
"Sehat-sehat selalu sayang, mommy menyayangi mu."
*
*
*
"sayang!
Bram berteriak dan terbangun dari tidurnya.
ia mengatur nafasnya yang begitu sesak.
Bram memijit keningnya yang terasa mendenyut sakit.
belum lagi rasa mual yang beberapa hari ini yang ia rasakan dan berakhir di kamar mandi
memuntahkan semua isi perutnya.
Entah penyakit apa yang ia menyiksanya ini.
sehingga dia harus di rawat di rumah sakit, akibat yang tidak mampu lagi menahan perasaan yang menyiksanya ini.
Belum lagi rasa rindunya pada wanita yang ia cintai begitu menggebu.
Bram merasa ingin melewati laut untuk menuju sang wanita tercinta.
Bram juga merasa aneh dengan dirinya. ia tidak di vonis penyakit apa-apa pun, tapi entah mengapa tubuhnya terasa lemas.
Dokter hanya mengatakan ini hanya bawaan sang istri yang sedang hamil.
dan Bram hanya menanggapi perkataan dokter dengan degusan. sejak kapan ayah pengganti merasakan bawaan Istrinya yang sedang hamil.
"omong kosong," cibir Bram.
"kau, sudah sadar.?"
Camelia yang baru tiba dan mendapati suaminya yang sudah tersadar.
Bram hanya terdiam dengan tatapan menerawang ke arah jendela.
"kau menginginkan sesuatu, Griffin.?"
"tidak!
"biar aku panggilkan dokter."
Bram tidak menyahuti perkataan Camelia. ia hanya tetap pada posisinya.
"sayang."
__ADS_1