
Hari ini hari pertama Hana masuk kerja, pekerjaannya hanya sebagai Juru Rawat Seorang Nenek yang sudah lansia. Pekerjaan yang baru saja akan Ia lakoni, belum tahu seperti apa dan bagaimana menghadapi Orang Tua, tetapi didalam hati nya yang terdalam Dia berharap bisa menjalaninya dengan baik, dan berharap bahwa Nenek itu akan menjadi Teman baiknya.
Hana mengetuk pintu ruangan di Rumah Sakit Z di depan pintu tertulis nama Rubelino, Hana merasa tidak asing dengan nama itu tapi dimana dia mendengar nama itu.. Lamunan nya buyar saat Asisten dokter Rubelino menyapanya.
" Ada yang bisa saya bantu ? " tanyanya pada Hana.
" Ehm, maaf saya mau bertemu dokter Rubelino, saya diminta Ibu Lidya untuk menjadi Juru Rawat Nyai nya dokter Rubelino." Jawab Hana menjelaskan.
Ibu lidya adalah teman Ibunya Hana, Dia seorang dokter, kebetulan saat ini Dia membantu dokter Rubel untuk mencari Seorang juru rawat yang bisa merawat Nyai nya, Latar belakang Hana bukanlah Seorang Perawat, Hana sudah 6 tahun lulus SMU, tapi sangat susah mendapatkan pekerjaan. apalagi dengan latar belakangnya yang rendah.
Ayah Hana Seorang Tukang Bangunan dan Ibu Hana Seorang Penjual Kue yang dititip di warung-warung Kopi.
Asisten dokter Rubel mempersilakan Hana masuk.
" Mbak Hana silahkan duduk dulu yah, dokter Rubel sedang ada jadwal bedah. "
Sambil menunggu Si dokter, dari pada bengong dia membaca majalah. waktu pun berlalu sangat cepat tak terasa sudah 1 jam dia menunggu nya, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan dokter Rubel.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki masuk keruangan, Hana tersentak kaget dan menjatuhkan majalah yang sedang di bacanya.
" Siapa kamu? " Tanya dokter itu agak sinis dan tanpa senyuman.
" Maaf dokter saya diminta dokter Lidya untuk ....." Belum selesai Hana menjelaskan. dokter itu langsung menimpali.
" Oh iya, apa Kamu bisa menjadi Perawat? Memangnya Kamu lulusan apa? " Deg jantungnya agak berdenyut mendengar pertanyaan itu.
" Aku Cuma tamat SMU dok.." Jawab Hana singkat sambil mengambil majalah yang dia jatuhkan tadi. dokter itu menatap Hana sinis.
" Tamat SMU mau jadi Perawat????"
Hana tersentak.. Memandang kearah Rubel dengan wajah kecut.
" Tapi dokter Lidya bilang aku bisa menjadi Perawat Nyai Anda tanpa harus jadi Seorang Perawat." Jawab Hana membela.
Hana menatap Rubel sedikit sinis, dia hanya diam tak membalas ucapan Rubel. Hana melihat ke arah Rubel sangat teliti, dia merasa wajah Itu tak asing bagi nya, tapi Hana bingung, kapan, dan dimana dia melihatnya.
" Baiklah, Aku hanya kasih Kamu waktu 3 hari untuk menyesuaikan Diri, jika Nyaiku tidak mau denganmu maka Kamu silahkan pergi. "
ujar Rubel Acuh tanpa memikirkan mimik wajah Hana, dan menyodorkan secarik kertas kecil tertulis sebuah alamat yang akan Hana datangi.
Jantung Hana berdegup kencang, ingin sekali memaki dokter itu.
Tapi Dia hanya bisa diam.
" Beginilah nasib Orang gak punya." ujarnya dalam hati.
Tiba-tiba ada yg mengalir di ujung matanya, Hana pun berlalu meninggalkan ruangan itu, mengambil secarik kertas yang disodorkan tadi.
Jam sudah menunjukan jam 11 siang, Hana segera berangkat ke rumah yg dituju.
Mengetuk pintu Dan melihat kesegala penjuru, halaman Yang luas, begitu asri, dan sangat nyaman. Tiba-tiba lamunannya buyar saat seseorang menghampirinya
" Mbak Hana yah? "
Tanya nya pada Hana. Seorang wanita paruh baya bertanya begitu sopan padanya.
"Iya." jawab Hana agak sedikit gugup. Ini hari pertama kerjanya, ada rasa khawatir mengingat ucapan nanar dokter Rubel pada nya tadi.
" Silahkan masuk Mbak, udh ditungguin Nyai dikamar." Ujarnya sopan
" Terimakasih Bu." Jawab Hana.
" Jangan memanggil Saya Ibu, panggil aja Bibi jawabnya lembut.
" Saya Pembantu disini Mbak. " Jawabnya menjelaskan.
Hana hanya tertegun, dan menjawab Bibi dengan suara pelan.
" Sama Bi Hana juga cuma juru rawat." jawab Hana merendah.
Bibi hanya tersenyum dan mengantarkan Hana ke sebuah kamar, kamar yang rapi dan cantik ruangan Itu berasa dingin, yah ruangan itu ada ac nya..
Hana Merasa sedikit kedinginan.
Tanda -tanda alergi menyergapnya. Karena sejak tadi Dia berada diruang ber AC.
" Ah payah. " dumel Hana dalam hati.
" Gak Bisa jadi Orang Kaya." Sambil tersenyum lirih. Sibibi melirik ke arah Hana.
" Mbak Hana demam??" Tanya Bibi pada Hana.
" Ehm Tidak bi?"
" Hana hanya alergi dingin." ujar Hana pada Bibi. Nyai yang Mendengar Hana berbicara, menyambut Perawatnya nya itu dengan ramah.
" Kalo, sakit jangan kerja dulu, istirahat aja biar kamu sehat.
Hana melihat ke arah suara. Wajah yg begitu teduh dan menyejukkan, wajah yang begitu tak asing dimatanya, tapi dia lupa dimana melihatnya.
" Oh gak apa apa Nyai, Hana hanya alergi. Nanti Hana pake masker aja. Biar bisa kerja."
sambil memeriksa tas kecil nya, berharap mendapatkan yang dia butuhkan, tapi tidak ada.
Dan bersin bersin itu pun berlanjut..
"Hadeuh baru aja mau kerja, kalo kek gini gak nunggu 3 hari aku akan dipecat sama si dokter jutek itu." ujarnya pelan.
Si Nyai tersenyum, Dan terus melihat wajah Hana.
sepertinya dia sangat mengenal wajah itu.
" Nama kamu siapa? "
" Kamu tinggal dimana? " Dan sepertinya wajahmu tak asing.." tanya Nyai panjang.
" Saya Hana Nyai, tinggal dikampung K." Nyai trus memandangi Hana..
" Sepertinya wajahmu tak asing, tapi Nyai lupa dimana pernah melihat Mu." Ungkap Nyai mengingat ingat.
Hari menunjukkan jam makan siang, Nyai mengajak Hana makan.
" Hana ikut makan bersama Nyai yah?" Pinta Nyai lembut.
Hana merasa malu, baru saja bekerja tapi sudah di ajak makan bersama.
__ADS_1
" Jangan Nyai Hana temani Nyai saja." Ujarnya menolak dengan halus.
"Hana, gak enak." sambil menunjukkan mulutnya yang dari tadi bersin.
" Ngak apa-apa, Nyai udah meminta Bibi untuk mengabari Rubel membawa obat alergi untuk Mu." Jawab Nyai.
Hana pun menuruti keinginan Nyai. makan bersama di meja makan. Setelah selesai makan Hana membereskan piringnya dan hendak membawa kebelakang.
Tiba-tiba Rubel datang dan mencium pipi Nyainya sambil menyodorkan bungkusan obat, dan bertanya.
"Siapa yang alergi Nyai?"
" Nyai kan gak ada riwayat alergi? " tanya Rubel kepada Nyai.
" Hana yang alergi..."
" Sepertinya dia alergi dingin. "
" Saat masuk ke kamar Nyai dia bersin bersin trus." Terang Nyai begitu perhatian.
" Hana sayang, ambil obatnya dan minum yah!!" Ujar Nyai pada Hana begitu lembut.
Rubel terkejut, Dia tak percaya Nyai nya memanggil Hana dengan embel-embel sayang.
Dia tidak menyangka Nyainya begitu cepat akrab dengan Hana, karena beberapa hari yang lalu perawat-perawat Nyai sebelumnya tidak ada yang bertahan 1 haripun, tapi tidak untuk gadis didepannya itu.
Hana membawa piring kotornya kearah dapur sambil membawa obatnya.
Rubel merasa aneh melihat pemandangan yg tidak biasa.
Dia mengikuti Hana dan menarik lengan gadis itu saat Hana selesai menaruh piring kotornya di dalam wastafel.
" Hei, kamu apain Nyaiku?"
" Kenapa Nyai begitu akrab dan sayang padamu?"
" Jangan – jangan Kamu mengguna - gunai Nyai ku yah biar Nyai sayang sama Kamu?" Tatap nya tajam.
"Enggak." jawab Hana pendek.
" Hachim." Belum lagi dia menjawab, bersin - bersin nya kambuh dihadapan Rubel..
" Kalo masih bersin-bersin sebaiknya Kamu berhenti hari ini!! " Ancamnya pada Hana.
"Bukan Kamu yang merawat Nyaiku, tapi Nyai yang akan merawat Kamu!!" ujar Rubel sinis.
Hana diam, dia sudah memikirkan hal ini tadi, mendengar ucapan Rubel hatinya sangat perih, Rubel berlalu meninggalkan Hana.
Hana kembali keruang makan.
"Nyai Hana mau pergi keluar sebentar yah." Izinnya kepada Nyai.
"Mau kemana sayang?"
"Hana mau membeli masker." Jawabnya menjelaskan.
" Gak usah pergi, coba Kamu ke ruangan Rubel."
" Diruangan itu ada peralatan P3K, Biasanya Rubel selalu menyimpan masker didalam kotak itu. Ambil lah sesuai kebutuhanmu." Ujar Nyai panjang.
" Tolong antarin Nyai ke kamar yah, Nyai mau sholat dulu." ujar Nyai menjelaskan.
Rumah ini begitu luas walaupun hanya 1 lantai, dia merasa kebingungan mencari ruangan Rubel, dan mata nya tertuju pada suatu pintu dengan tulisan.
"Orang luar dilarang masuk!!"
Hana hanya diam memandangi pintu ruangan itu, Bibi yang melihatnya segera menghampiri nya.
" Ada yang bisa Bibi bantu? " Tanya si Bibi pada Hana.
Hana menjelaskan bahwa Dia disuruh Nyai untuk mengambil masker diruangan Rubel.
" Iya Mbak ini ruangan den Rubel, Mbak ketuk pintu dulu biasanya Den Rubel selalu didalam sepulangnya dari Rumah Sakit." ujar Bibi pada Hana.
"Tapi bila gak ada yang menyahut, Mbak Hana masuk aja... " Jelas nya dan berlalu meninggal kan Hana sendiri di depan pintu ruangan Rubel.
Dengan ragu-ragu Hana pun mengetuk pintu. Dia takut Si Dokter dingin akan menyemprotnya saat Dia tahu dirinya yang mengetuk pintu ruangan. Namun tidak ada yang menyahut dari arah dalam.
Hana berinisiatif untuk segera masuk mengambil masker dan bergegas keluar.. Tapi matanya tertuju pada foto yg ada di atas meja. Foto besar berukuran 40 x 30 nampak jelas foto itu dokter rubel mengenakan baju toganya. Dan tiba2 tangan nya reflek menarik sebuah foto kecil, Dia mengernyitkan pandangan pada foto itu.
Kenapa ada foto diri nya di meja Rubel. Dia ingat foto itu diambil saat Dia dan Ino Masih kecil.
Tiba-tiba lamunannya buyar saat seseorang menepuk pundaknya dengan kasar.
"Hei, letakkan foto itu.!!" Jangan seenaknya pegang barang orang." Ujar Rubel membentak.
Hana berbalik menghadap orang yang menepuknya. Tiba-tiba Jantungnya berdegup sangat kuat.
dan Hana pun ambruk dihadapan Rubel.
Rubel terlihat panik Tapi masih ngedumel kesal.
" Aduh sialan kok malah Dia yang pingsan. seharusnya dia kesini untuk jadi Perawat, bukan yang di rawat." ujarnya kesal.
Rubel menggendong Hana kekamar nya, hanya kamar itu yang paling dekat dengan ruang kerjanya.
Bibi terlihat bingung, Dia menghampiri Dokter Rubel.
"Mbak Hana kenapa Den? Tanya Bibi cemas.
" Gak apa apa Bi mungkin tekanan darahnya rendah." Jelas Rubel agar Bibi tak panik.
Tak berapa lama Bibi membawa Nyai menghampiri Hana dan Rubel di kamar.
Hana terlihat bingung, kepalanya masih terasa pusing.
Dia melihat sekelilingnya. ada Nyai bersama Bibi dan Si Dokter dingin.
Hana hanya memejamkan matanya tak sanggup melihat.
"Hana sayang apa kamu baik-baik aja? Tanya Nyai kepada Hana begitu perhatian.
__ADS_1
Hana hanya mengangguk tanpa bersuara.
" Ino, coba kamu periksa kondisi Hana..." Pinta Nyai pada Rubel.
Hana tersentak saat Nyai memanggil nama kecil Ino. Jantungnya berdegup begitu kencang dan tak karuan. Matanya masih tak sanggup dia buka.
Rubel mengambil stateskop memeriksa nadi dan dada Hana..
" Kok jantungmu berdebar kencang seperti orang ketakutan dikejar setan? Tanya rubel asal. dan mengambil tensi digitalnya.
Nyai dan Bibi hanya tertawa, Hana hanya tersenyum dan matanya masih terpejam. Lagi2 tekanan darah Hana hanya 70/40 mmhg. Rubel terbelalak melihat tensi digitalnya.
"Kamu manusia atau bukan sih? Tanya rubel asal.
"Manusia super." jawab Hana asal.
Sontak Nyai dan Bibi tertawa, mendengar mereka berdua Begitu lucu.
Rubel mendengus kesal.
" Super apanya? "
" Seharusnya hari ini Kamu yang merawat Nyai. Bukan aku yang harus merawat mu." Dengus Rubel kesal.
Hana tersenyum kecil, dia begitu rindu masa kecilnya bersama Rubel.
Rubel meliriknya heran, dia melihat wajah gadis yang ada didepannya begitu lekat, dia merasa tak asing dengan wajah itu. Tapi dia tak ingat siapa, dan dimana pernah melihat wajah itu, dan terasa begitu dekat.
" Ah, sialan rasa apalagi ini." Dengusnya kesal.
Hari telah menunjukkan jam 6 sore, hari ini Dokter Rubel tidak ada jadwal bedah.
Hana menoleh ke arah Nyai yang masih setia menunggunya.
" Nyai Hana mau pulang yah hari sudah sore.."
" Hana minta maaf yah Nyai sudah menyusahkan Nyai dan dokter Rubel. Ujarnya ingin pamit.
" Tapi Hana kan belum sehat betul? Jawab Nyai perhatian. Hana gak apa -apa Nyai nanti juga sembuh. Tiba tiba Rubel muncul dan menyela.
" Kamu memang sangat menyusahkan. "
" Seharusnya kamu yang bekerja, bukan kami yang bekerja untuk mu." Ujarnya nya kesal.
"Jangan gitu dong Ino, Hana kan belum sehat. Nanti kalo udah sehat dia pasti bisa menjaga Nyai." Bela Nyai nya. membuat Rubel semakin jengkel.
" Kenapa Nyai begitu perduli, dia bukan siapa siapa Nyai!! Tukasnya kesal..
" Nyai maafin Hana yah."Wajahnya terlihat sendu.
" Ino anterin Hana yah sayang!! Pinta Nyai Pada Rubel.
" haaaaa? " Tanya Rubel tak percaya.
" Gak apa apa Nyai. Hana pulang naik ojek aja." Jawab Hana tak ingin merepotkan..
" Huft, kenapa Rubel sih Nyai?" Dengan nada kesal.
"Jadi si Bibi yang antar?" Tanya Nyai meyakinkan.
Rubel sadar hanya Dia yg bisa membawa kendaraan dirumah ini tak ada supir. Si Bibi juga gak bisa bawa motor apalagi mobil.
Rubel mendengus kesal menyodorkan vitamin kepada Hana.
" Cepat kalo Kamu mau pulang?" Ujarnya terburu-buru.
Bibi dan Nyai hanya tersenyum. Ini kali pertama Rubel menerima permintaan Nyainya untuk mengantar Seorang Perawat.
Dulu pernah Nyainya meminta dia mengantar Seorang Perawat, tapi Dia malas walaupun Nyai dekat dengan Perawat itu tapi rubel Tidak suka.
Perawat itu nampak genit, dandanannya pun menor. Kenangnya dan berlalu.
Hana di bopong oleh Bibi, menuju mobil. Badannya terasa begitu lemah.
Sudah lama dia tidak singedrop ini dulu pernah waktu Masih SMU. Hana masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang.
" Lah kok duduk dibelakang? Aku bukan sopirmu loh." Tukas Rubel kesal.
" Maaf, Ino." jawab Hana lembut. Rubel terheran dan kesal dengan panggilan Hana kepadanya.
"Jangan, sok akrab denganku!" tegasnya. Hana tak sengaja memanggil sebutan itu.
Dia ingin sekali memberitahukan Rubel bahwa dia Ana kecilnya, Ana yg selalu merindukankan pertemuan ini.
Menelangsa Hana pada masa kecilnya saat dia Bermain dengan Ino, ketika mereka masih TK.
Ino kecil membawa setangkai bunga, berpura- pura menjadi Seorang Pangeran. Dihadapannya berdiri Ana kecil yang berpura-pura Menjadi Seorang Cinderella.
"Maukah Kamu jadi istriku?" tanya Rubel kala itu. dan mereka pun tertawa, mereka mengaitkan jari kelingkingnya, dan berjanji.
" Nanti, kalo kita besar kita akan menikah." ujar Ino, pada Ana, dan dibalas anggukan kecil. Hana mengikuti kemana langkah Ino dan mereka berlari berkejar-kejaran.
Lamunannya buyar seketika, saat Dokter Rubel menariknya dan memegangnya masuk Kedalam mobil.
Hana begitu pucat dan lemah. Rubel melihatnya iba.
" Kamu, nggak apa-apa?" Tanya Rubel tiba-tiba perhatian.
Hana hanya mengangguk. Rubel sadar perlakuannya pada Hana sangat kasar, dia juga tau Kondisi Hana tidak baik baik saja.
Dengan kondisi Hana seperti itu seharusnya Hana segera dirawat inap dan di infus.
" Hana rumahmu dimana?" Tanya Rubel.
" Di kampung K dok dekat plaza N. Jawab Hana.
Rubel diam, mencoba mengingat alamat itu. Karena selama ini dia tinggal Di Australia, baru 2 tahun Dia kembali kesini dan sangat-sangat lupa nama-nama jalan dan Kampung Dikota ini, Walaupun Dia lahir disini Rubel kecil hanya tinggal hingga Kelas 3 SD, Bayangkan sudah sangat lama Dia pergi.
Hana menunjukkan arah jalan kerumahnya, dan tiba lah mereka di sebuah Rumah kecil Rumah itu terlihat sangat bersih.
Bangunan itu belum siap dibangun, batu bata merah tanpa diplaster.. Dengan teras Rumah asal jadi, terlihat bahwa Rumah ini sudah lama dibangun.
Tapi karena okonomi Orang Tua Hana, belum bisa melanjutkan untuk membangun rumah ini hingga selesai.
Rubel membukakan pintu dan memegang Hana begitu perhatian. Dia tidak mau menjadi Seorang dokter yang egois walau sebenarnya Dia kesal karena hari ini semua rencana mencarikan Perawat untuk Nyainya buyar.
__ADS_1
Ibu keluar rumah menghampiri mereka. Dokter rubel menyalami Ibu. Ibu mengucapkan terimakasih. Rubel bergegas pamit. Berlalu meninggalkan Rumah itu.
" Hai namaku Resty, ini adalah novel perdana ku. Masih banyak kekurangan dalam hal kata-kata yang aku buat. tolong dimaklumi yah. bantu vote dan like yah dan komen, semoga bisa makin semangat berkarya, terimakasih"