Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 96


__ADS_3

Rubel dan Hana membiarkan Alan dan Mia menyelesaikan urusan mereka. sedangkan mereka kembali ke Rumah, sejak peresmian Rumah Sakit RH, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Sakit.


Tibalah keduanya di Kediaman Agiawan, Hana terlihat sangat pucat.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Rubel khawatir. dilihat Hana begitu pucat dan lemas.


" Enggak apa-apa." jawab Hana pelan. Rubel terus memperhatikan Hana. tanpa Hana sadari Rubel segera menggendong Hana, membuat Hana sedikit malu.


" Sayang, turunin Hana yah gak enak dilihat Ibu sama ayah." bisik Hana pelan dengan wajah tersipu malu.


" Enggak, pokoknya kamu harus Ino gendong sampe kamar." ucap Rubel cepat tanpa memperdulikan raut wajah Hana yang memerah.


Ibu dan ayah panik melihat Rubel yang tiba dengan menggendong Hana.


" Kenapa Nak?" tanya ibu khawatir.


" Enggak apa-apa Bu Rubel lagi pengen gendong Hana." jawab Rubel santai, agar Ibu dan Ayah tidak khawatir dengan kondisi Hana.


" Alhamdulillah, Ibu pikir Hana sakit." ucap ibu sedikit cemas.


" Bu, ayok kita ke kamar biarkan Rubel dan Hana beristirahat mungkin mereka lagi butuh waktu berdua." timpal ayah dengan begitu bijak. Ibu pun tersenyum di raih tangan laki-laki yang sangat dicintainya itu dan berlalu membiarkan kedua anak dan menantunya masuk kedalam kamar.


Rubel menurunkan Hana di atas ranjang.


" Kamu kenapa sebenarnya kok gak bersemangat? tanya Rubel pada Hana.


" Ehm, gak ada pengen manja aja." jawab Hana sambil tersenyum mesra memandangi Rubel.


" Kayanya ada sesuatu deh?" tanya Rubel tak yakin. sambil perlahan-lahan membuka cadar dan jilbab Hana.


" Sayang, apa Ana bisa melahirkan secara normal?" tanya Hana sambil menatap Rubel dengan serius.


" Sayang, Ino gak mau maksain kamu tapi kalo badan kamu sehat dan kamu merasa mampu Ino juga gak melarang, tapi untuk kondisi sekarang Ino gak yakin." ucap Rubel lembut sambil membelai pucuk kepala Hana.


Hana terdiam, dia merasa tubuhnya memang tidak seperti orang pada umumnya, matanya menerawang jauh berharap tubuhnya sehat tanpa ada masalah.


" Jangan banyak ngelamun ah, kita sholat yuk!" ajak Rubel dan mereka bersama-sama mengambil wudhu dan sholat.


Selesai sholat Rubel segera bangun menuju dapur, Hana mengganti pakaiannya dengan baju daster kebanggan nya. tidak berapa lama Rubel datang dengan segelas susu hangat dan sepiring roti isi.


" Ehm, emang suami idaman." goda Hana pada Rubel. Rubel tersenyum genit. sambil menyodorkan gelas pada Hana.


" Habisin, kalo gak habis gak boleh tidur." ancamnya sedikit keras.


" Duh, lihat tuh dek Papa mu kejam." celutuk Hana sambil mengelus perutnya.


" Hey, enak aja orang baik gini dibilang kejam." celutuk Rubel sedikit kesal dan secepat kilat mencubit hidung Hana.


" Udah-udah jangan kuat-kuat nanti mimisan." ujar Hana mencoba membela diri.


Rubel segera melepaskan cubitannya dan mencium pucuk kepala Hana.


" Ya, Udah Ana tidur dulu yah sayang Ino ada sedikit kerjaan nanti sepertiga malam Ino kerjain kamu." bisik Rubel pelan dengan tatapan menggoda.


" Ih, maunya Ana mau tidur yang nyenyak gak mau di ganggu." ucap Hana dan membalikkan badannya membelakangi Rubel.


" Ya udah, malam ini Ino bobo di sofa aja." ucap Rubel dan berlalu keluar kamar.


" Jangan-jangan dia ngambek?" ucap Hana dalam hati. dia menarik selimut menutupi wajahnya.


Hana meraih ponselnya di atas nakas dan mengirimkan pesan.


" Ino marah yah?" tanya Hana.


Tiba-tiba ponsel Rubel berbunyi, tapi letak ponsel itu di atas tempat tidur.


" Ya Ampun, gak ada kerjaan banget ah, ngabisin kuota aja." ucap Hana sambil cekikikan sendiri di kamar. tiba-tiba Rubel kembali dengan wajah serius sambil mencari sesuatu. Hana hanya diam tanpa mencoba bertanya apa yang sedang Rubel cari. Hana pun berusaha tersenyum sesumringah mungkin agar Rubel tersenyum.


Rubel berusaha mempertahankan imagenya, dia berpura-pura tetap diam tanpa membalas senyuman maut Hana.


" Beneran nih ngambek???" tanya Hana dengan pertanyaan menggoda.


" Iya ngambek." jawab Rubel tanpa ekspresi. dan mengambil ponselnya di atas tempat tidur.


Karena isengnya Hana mendekati wajahnya ke wajah Rubel.

__ADS_1


" Beneran ngambek yah?? tanya Hana sambil mencium hidung Rubel. dan melingkarkan tangannya di leher Rubel.


" Bawel banget sih." ucap Rubel ketus.


" Duh, beneran ngambek rupanya." pelukan Hana semakin kuat dan mencium wajah Rubel bertubi-tubi.


" Hey, stop-stop kan Ino udah bilang lagi ngambek kenapa malah mancing-mancing sih, entar kalo udah keluar taringnya gimana?" ucap Rubel dengan nada masih serius.


" Ya udah deh Ana ngalah aja deh, yok dek kita bobo." ucap Hana tak mau kalah. Rubel pun beranjak pergi ikut membalas keisengan Hana.


Tiba-tiba Hana mengerang kesakitan, entah mengapa dia merasakan perutnya sakit dia mencoba berteriak tapi tubuhnya merasa sangat lemas. dia mencoba meraih gelas di atas meja dan menjatuhkannya hingga terdengar sangat riuh.


Rubel merasa Hana hanya kesal sehingga menjatuhkan gelas nya agar dia mengalah. tapi suara serak Hana terdengar sangat lemah.


" Sayang, tolongin Ana." panggil Hana. Rubel pun tersadar, bahwa kali ini Hana benar-benar serius bukan sedang mencandai nya. Rubel pun bergegas masuk ke kamar.


" Sayang, Hana gak kuat lagi." ucap Hana lemah.


" Sayang, jangan bercanda dong." ucap Rubel mencoba meyakinkan. sambil mengelus lembut perut Hana.


" Sayang, perutnya sakit banget." ucap Hana pelan.


" Tenang, kamu jangan panik yah, ambil nafas pelan-pelan terus hembuskan." ucap Rubel berusaha tenang.


Rubel terus mengusap perut Hana, dengan lembut. dan duduk disebelah Hana.


" Maafin Ino yah sayang." ucap Rubel dengan nada menyesal.


Perlahan-lahan Hana merasa baikkan. dia mencoba tidak marah atas sikap Rubel tadi. Hana mencoba tersenyum walau terlihat sedikit memaksa.


" Maafin Papa yah sayang." ucap Rubel pelan dan mendekatkan wajahnya ke perut Hana dia pun mencium perut itu dan terus berbisik lembut.


" Jagoan Papa jangan marah yah, Papa gak akan bikin Mama sedih lagi, kamu juga gak boleh bikin Mama sakit." ucap Rubel pelan.


" Maafin Ino yah sayang." ucap Rubel sambil mencium kening Hana.


" Gak apa-apa sayang maafin Ana juga yah." Ucap Hana pelan. sambil membalas mencium kening Rubel.


Rubel terdiam, menatap Hana dalam.


" Tidurlah sayang, Ino disini." ucap Rubel lembut sambil membelai rambut Hana.


Awalnya Rubel mau mengobrol dengan Dainan masalah Hana. Dia tidak ingin Hana terlalu banyak berfikir jadi dia berinisiatif untuk mengobrol di luar kamar, dan berpura-pura marah. tapi dia tidak menyangka kondisi ibu hamil yang sensitif bisa memicu hal-hal yang bisa membahayakan Hana dan kandungannya.


" Sayang, jangan pergi tinggalin Ana lagi yah!!" ucap Hana didalam tidurnya.


Rubel merasa sangat menyesal karena membuat Hana sedih. Dia pun berjaga di samping Hana takut Hana merasakan sakit, karena his palsu bisa saja terjadi kapanpun.


Rubel mencari tahu masalah his palsu, usia kandungan Hana bisa dibilang masih sangat mudah, dan rentan.


" Padahal kandungan nya masih muda tapi kenapa bisa terjadi his yah?" ucap Rubel bingung sambil browsing sesuatu di ponselnya. karena kelelahan Rubel pun tertidur hingga subuh.


" Sayang bangun dong sudah subuh." panggil Hana sambil mengelus pipi Rubel dengan lembut.


" Kamu sudah sehat?" ucap Rubel serak dan berusaha bangun. sambil memandang Hana dengan tatapan penuh cinta, sambil mengelus lembut perut Hana.


" Alhamdulillah udah baikan, kita sholat yuk!" ajak Hana lagi. dijawab dengan anggukan lembut oleh Rubel.


Mereka pun melanjutkan sholat subuh, setelah selesai sholat Hana berjalan menuju dapur, pagi ini dia ingin sekali masak buat Rubel. tanpa dia sadari Rubel mengikuti dia dari belakang dan memeluk Hana dengan mesra.


" Duh gimana masaknya kalo di gangguin terus." ucap Hana sedikit kesal.


" Hari ini biar Ino yang masak yah, kamu cukup jadi juru tunjuk aja." ucap Rubel perhatian. Hana membalikkan tubuhnya.


" Jangan kamu mandi aja, biar sarapan Bibi sama Ana yang buat." ucap Hana mencoba menolak.


" Sayang dengerin Ino yah, hari ini Ino bakalan bantuin kamu masak, jadi sekarang kamu duduk yang manis cukup kasih tahu apa aja, dan mau masak apa." jawab Rubel bersikeras.


" Ya sudah bumil ngalah aja, tapi entar kamu telat?!" ucap Hana lagi.


" Ibu direktur, emangnya kamu berani mecat Ino." goda Rubel membuat Hana tersipu.


" Bukan gitu, kita kan harus buat contoh yang baik." ucap Hana membela diri sambil mesem-mesem sendiri tidak menyangka ucapannya akan terus di bantah oleh Rubel.


" Sekali-kali telat kan gak apa-apa yang punya rumah sakit kan yang lagi Ino servise emangnya kamu gak mau kasih dispensasi gitu??" ucap Rubel membuat Hana semakin tersipu.

__ADS_1


" Oke deh dokter ganteng, sekarang buatin Hana susu dulu yah, laper bener." ucap Hana tanpa ragu dengan terus menyunggingkan senyuman pada Rubel.


" Jangan banyak senyum dong, nanti galfok nih mikirin kamu terus gak jadi masak." ucap Rubel menggoda. dan segera membuat susu hangat untuk Hana dan memberikan nya pada Hana.


" Sekarang ibu cantik mau makan apa?" tanya Rubel bagai seorang waiters restoran.


" Saya mau kebab Turki yang banyak saos sambelnya, terus banyak mayonaise nya terus kejunya dan daging nya yang banyak terus......!!!!"


" Stop! semalem kamu sakit perut sekarang malah minta sambel sama mayonaise nya yang banyak, kamu mau sarapan apa mau challenge sih." gerutu Rubel dengan wajah sedikit kesel.


" Hehehe permintaan baby nih,turutin dong nanti ngeces dedeknya." jawab Hana tanpa merasa bersalah.


" Hadeuh banyak banget jawabannya yang jelas itu bukan moodnya si baby tapi mood nya kamu, kasian dong gak ada istilah ngeces-ngeces itu bukan pamali tapi emaknya gak bisa jaga kesehatan sendiri." ucap Rubel panjang kali lebar.


" Tapi pengen loh sayang." bujuk Hana pelan dengan mimik wajah seperti seekor kucing yang imut.


" Sayang, Ino buat yang original aja gak ada challenge-challenge nan kalo badan kamu sehat Ino bikinin yang porsi jumbo sekalian sama piringnya bisa kamu makan." celutuk Rubel dengan nada sedikit kesal.


Hana hanya tersenyum, dia tidak ingin membuat Rubel terus kesal cukup lah kejadian semalem bikin dia merasa sakit.


" Ok deh pak dokter terganteng, terjutek, termanis, pasien nurut aja apa yang pak dokter bilang." ucap Hana sambil mengangkat dua jarinya.


" Nah gitu dong nurut, jadinya kan semangat buat makanan nya." ucap Rubel semangat dan melanjutkan membuat sarapan.


Tiba-tiba si Bibi muncul, dia memperhatikan Rubel kemudian melihat ke arah Hana, hingga berulang-ulang. Ibu tertawa melihat bibi yang bingung melihat tuannya sibuk menyiapkan sarapan.


" Kenapa bi?" tanya ibu membuat bibi tersadar.


" Enggak nyangka aja, den Rubel bisa seperhatian ini dan seromantis ini seandainya nanti Bibi kawin pengen dapetin suami kaya den Rubel." ucap bibi memuji Rubel.


" Hehehe bibi bisa aja." jawab Rubel malu-malu.


" Itu namanya suami siaga dan sayang istri." jawab ibu menambahkan dan berjalan ke arah Hana.


" Tapi Bibi heran banget dulu seinget Bibi den Rubel itu orang nya cuek, jutek, dan gak perduli dengan orang sekitar." ucap bibi dengan amblasnya.


" Bibi!!" ucap Rubel sedikit kesal.


" Ampun den, habis den Rubel ..."


" Bibi sekali lagi bocorin itu mulut Rubel kasih lakban yang gede terus pake lem setan biar lengket gak lepas lagi." ancam Rubel dengan nada pelan.


" Ampun den, Bibi kabur dulu yah Ibu." ucap Bibi terburu-buru dan berlalu meninggalkan Hana, Rubel dan Ibu.


" Ibu ikut makan yok." ajak Hana.


" Ibu sama ayah udah janjian buat makan lontong pecel di tempat Haikal sekalian mau ketemu om Purwanto dan om Purnawan." jawab ibu dengan lembut.


" Emangnya ada apa Bu?" tanya Hana sedikit penasaran.


" Kita mau ngadain syukuran tujuh bulanan buat Maria." ucap ibu sambil menatap Hana lembut.


" MasyaAllah gak terasa yah Bu." ucap Hana bahagia.


" Kamu juga yang sehat, biar si kecil sehat, dan dengerin yang Rubel bilang jangan membantah, jangan melawan, dia sedikit ngatur itu wajar semua nya buat kebaikan kamu." ucap ibu perhatian.


" Iya ibu sayang, janji gak akan ngelawan dokter." ucap Hana menggoda Rubel.


" Ya sudah ibu sama ayah pergi dulu yah." Ucap ibu lembut dan beranjak meninggalkan Rubel dan Hana berdua.


" Cie-cie mantu kesayangan nih, ibu bener-bener niat ngebelain kamu." ucap Hana menggoda.


" Sama tuh dengan Mama, selalu sayang kamu banyak-banyak dan kalo ada mama disini pasti ngizinin kamu makan yang kamu mau." ledek Rubel tak mau kalah.


" Cemburu nih ye." ledek Hana lagi.


Rubel tersenyum, dia mengusap kepala Hana dengan lembut.


" Makan yang banyak yah sayang, kalo udah sehat nanti Ino masakin makanan yang enak-enak buat kamu,tapi untuk sekarang kita harus jagain makanan kamu dengan makanan yang bergizi agar kamu dengan si kecil bisa sehat, dan kandungan kamu bisa kuat, maafin Ino agak protektif karena Ino sayang banget sama kamu dan sikecil." ucap Rubel lembut dan membuat Hana semakin merasa bersalah.


" Siap bos, makasih yah sayang... ana makin cinta deh sama kamu, sayang Ino banyak-banyak." ucap Hana bersemangat sambil memeluk Rubel erat. mereka berdua pun menyelesaikan sarapan, setelah itu pergi mandi dan berlanjut ke Rumah Sakit.


"


"

__ADS_1


"


#Sesuai janji Author pelan-pelan author akan selesaikan novel ini. do'akan biar terus dapat inspirasi biar novel ini bisa kelar tanpa ada yang kegantung. terimakasih banyak buat suport nya yah 😍🤗


__ADS_2