Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 88


__ADS_3

Matahari telah terbit di ufuk timur, langit begitu cerah, terdengar kicauan burung dari halaman belakang Rumah Alan, Rubel dan Hana telah bersiap-siap untuk pulang ke rumah karena dari kemarin mereka tidak membawa baju ganti. tapi sebelum itu bibi asisten rumah tangga Alan telah menyiapkan sarapan untuk mereka. Rubel dan Hana keluar dari kamar, mereka melihat Alan begitu gelisah, wajah nya terlihat murung karena kejadian semalam. Alan berjalan mondar-mandir di ruang makan dia benar-benar terlihat gelisah.


" Ino, apa Alan enggak tidur dari semalam?" tanya Hana.


" Menurut mu?"


" Ih, orang tanya malah balik tanya." guman Hana gesal sambil melotot ke arah Rubel.


" ha-ha-ha, Ana makin cantik deh." ucapnya menggoda.


" Orang melotot gini dibilang cantik, dasar rayuan pulau kelapa, gak mempan." ucap Hana dan melengos.


" Jangan cemberut terus dong, entar sikecil hobinya cemberut kaya miminya."


" Heuh yang waras ngalah ajalah." ledek Hana tak mau kalah.


" Hadeuh, iya deh yang lebih waras juga ngalah."


" Berisik!!!" teriak Alan tiba-tiba membuat Rubel dan Hana terkejut.


" Udah tua masih aja berantem." gerutu nya kesal.


" Enak aja tua, beda kita cuma lima taon lagian gigi kakak masih utuh gak cocok dipanggil tua." jawab Rubel asal.


" Kakak, diem dong Alan lagi mikir gimana caranya ngomong kebibi soal semalam." ucap Alan merasa bersalah.


" Maksudmu?" tanya Rubel bingung.


" Alan mau jelasin kalo semalem gara-gara Alan Mia jadi pingsan di kamar mandi." ucapnya menjelaskan.


" Apa? Mia Pingsan? kok bisa? terus gimana ke adaan nya? apa dia luka parah? gadis yang malang, padahal niat aku pengen jodohin dia sama Alan, eh belum apa-apa udah dibuat modar sama Alan gimana kalo mereka jadian yah?" Tanya Hana panjang kali lebar, Rubel dan Alan menghela nafas panjang menghadapi Hana.


" Heuh nasib-nasib punya kakak ipar kelewat pintar, udah kaya paparazi, lagian siapa juga yang mau di jodohin Alan gak suka gadis jutek kaya dia." ucap Alan kesal.


" Dek, jangan gitu entar beneran bucin loh." sindir Hana tak henti-hentinya dan duduk di dekat meja makan, di ikuti Rubel.


" Ya ampun Mbak gak mungkin Alan Hamid bisa bucin sama gadis jutek kaya dia."


" Beneran? gak akan bucin?" tanya Hana menggoda.


" Iya gak akan, suwer!!" ucap Alan.


" Hust, hati-hati loh entar kemakan sumpah sendiri." ledek Hana lagi.


" Kita lihat aja kalo kakak gak percaya Alan akan buktikan Alan gak akan jatuh cinta dengan gadis jutek itu, dan lihat sebulan lagi Alan akan bawa gadis pujaan Alan kehadapan kalian berdua." ucapnya dengan pede.


" Kakak percaya pasti adek kakak bisa dapatin cewek pujaan yang baik, lembut, dan bisa memenangkan hati orang banyak." ucap Rubel memberikan semangat.


" Kakak makasih banyak yah, Mbak Hana mulai sekarang kita berbeda kubu, mbak kubu sayang Mia, sedangkan Alan sama kakak kubu anti Mia." ucap Alan asal.


" hei, jangan bawa-bawa nama kakak, masak jadi kubu anti Mia, lebih baik kakak kubu sendiri aja deh, kubu netral jadi gak musuhan sama kalian berdua." ucap Rubel dengan bangganya.


" Oke, siapa takut pokoknya siapa yang kalah harus traktir makan di restoran paling mahal di sini, gimana?" ucapnya dengan bangga.


" Oke siapa takuuuut!" jawab Hana tak gentar.


Rubel hanya manggut-manggut melihat orang kesayangan nya saling adu kubu. pemandangan ini adalah pemandangan pertama sejak mereka kenal, Alan benar-benar terlihat sangat akrab dari pada awal jumpa.


" Kak jangan diam aja, dukung Alan dong!" ucapnya penuh semangat.


" Kakak dukung dua-dua yah." ucap Rubel mencoba netral.


" Ah gak asik ah, masak Alan dibiarin sendiri." ucapnya kesal.


" Udah-udah pokoknya jalan masing-masing kita lihat bulan depan Siapa yang akan Alan jadikan pasangan?" ucap Hana menengahi.


" Siap, pokoknya siapa kalah harus bayar yang menang makan sepuasnya, terus buat yang netral bayar separoh." Sindir Alan dengan tatapan menyeringai.


" Ih curang, masak disuruh bayar separoh nego dong!" ucap Rubel sedikit memohon.


Alan dan Hana terkekeh, hari ini mereka sangat bahagia, makanan yang tersaji segera lenyap hanya sekejap mata. tiba-tiba bibi muncul membuat semua orang panik.


" Den dokter tolong anak saya, dia tiba-tiba demam tinggi." ucap Bibi begitu khawatir.


" Kok bisa? jangan-jangan kepalanya bener-benar bermasalah gara-gara jatuh dikamar mandi." ucap Rubel berasumsi.


Alan yang sedang minum tersedak dengan ucapan sang kakak.

__ADS_1


" Aduh den minumnya pelan-pelan, cukup anak saya yang sakit Aden jangan ikutan sakit." ucap bibi perhatian.


Alan menggigit bibir bawahnya, perasaan bersalah menyergap hingga ketulangnya. awalnya dia ingin menceritakan hal yang terjadi sebenarnya pada sang bibi tapi, melihat ketulusan hati bibi dia jadi tidak tega mengatakan nya, Alan benar-benar merasa sangat menyesal akan kejadian tadi malam.


" Kakak, sembuhin Mia." ucapnya begitu lirih.


" Kakak, gak bisa janji tapi insyaAllah kita usahakan sebisa mungkin." ucap Rubel meyakinkan.


Hana tersenyum, dia merasa Alan begitu khawatir, dan dia yakin perasaan Alan akan berbeda nantinya setelah dia merawat Mia.


" Mudah-mudahan perasaan Alan dari kesal segera berganti menjadi rasa sayang." gumannya pelan.


Rubel melirik Hana, dia paham betul apa yang difikirkan sang isteri.


" Kak, apa yang harus kita buat sekarang." ucap Alan dan segera bangun dari duduknya. meja makan segera dibersihkan oleh asisten rumah tangga yang lain sedangkan bibi mengurus Mia dikamarnya, sambil mengompres Mia agar panas nya segera turun.


" Kamu bawa Mia kerumah sakit." ucap Rubel cepat.


Rubel dan Hana segera masuk ke kamar Mia, Alan masuk perlahan, dia benar-benar merasa sedikit khawatir dengan ke adaan Mia. wajah Mia terlihat sangat pucat.


" Bibi tolong bopong Mia ke mobil yah saya sama kakak akan bawa Mia ke Rumah Sakit." ucap Alan.


" Iya den." jawab bibi, dan segera mengangkat sang buah hati tapi kondisi Mia sangat lemah sehingga bibi tidak bisa sendiri untuk membopong Mia.


" Alan, buruan gendong kalo tidak akan terlambat ditangani." ucap Rubel menakuti.


Dengan berat hati Alan menggendong musuhnya, wajah nya terlihat tidak bersemangat, Rubel dan Hana hanya tersenyum. mereka benar-benar merasa ini adalah awal dari kebahagiaan Alan.


" Huft kaya nya ada yang lagi mensabotase keadaan deh." ucapnya sambil melirik kepada kedua kakaknya.


" Lagian siapa suruh jahilin anak orang, kalo kenapa-kenapa ya harus tanggung jawab dong." balas Hana tak mau kalah.


" Ssssstttttt, mbak pelanin dikit dong kalo kedengaran sama Bibi Alan jadi gak enak." ucapnya memohon.


" Ops, keceplosan maklum mulutnya kaya gerbong kereta api." ucap Hana asal.


Alan benar-benar sedih, sang kakak ipar benar-benar menjadi kubu lawan yang gak bisa ditolerir lagi. dia menggendong Mia ke mobil, Rubel dana Hana masuk dalam mobil mereka sendiri. Bibi ikut memegangi Mia duduk dibelakang kemudi. Alan duduk sebelah supir.


Sesekali dia melirik dari arah kaca, wajah Mia terlihat sangat cantik dimatanya.


Tak berapa lama mereka tiba di Rumah Sakit RH. Mia dibawa ke ruang IDG dan dan segera ditangani oleh dokter laki-laki yang bertugas. Rubel dan Hana lebih dulu pulang kerumah untuk berganti pakaian setelah itu menyusul ke Rumah Sakit, kurang lebih 45 menit mereka tiba di Rumah Sakit.


Alan terlihat mondar-mandir dia benar-benar gelisah. tak berapa lama dokter keluar.


" Gimana dok?" tanya Alan.


" Maaf Anda siapa nya pasien?" tanya dokter itu pada Alan.


" Saya... ." Alan bingung mau menjawab apa bagaiman pun kan dia harus menjaga imagenya masa orang seperti dia membawa anak asisten rumah tangga nya ke Rumah Sakit, dia melirik pada Bibi.


" Maaf dok, itu anak saya." jawab bibi cepat.


" Oh, baiklah tolong daftar kan pasien dan mengurus administrasi nya setelah itu kembali kemari." ucap si dokter jaga.


" Bibi, disini aja biar saya yang urus administrasi nya Mia." ucap Alan cepat.


" Syukurlah, kalo tidak bakal ditinggal berdua sama ular betina itu." batinnya.


Alan segera bergegas mengurus keperluan Mia, dari kejauhan dia melihat dokter itu sedang berbicara dengan sang kakak. Alan pun menghampiri mereka.


” Kakak, Alan mau balik." ucap nya cepat.


" Kok buru-buru?" tanya Rubel.


" Maaf dok, ini adiknya dokter Rubel?" tanya dokter itu pada Rubel.


" Iya dia adikku." jawab Rubel.


" Maaf, tadi saya meminta dia untuk mengurus administrasi seorang gadis yang dibawa nya." ucap dokter itu merasa tak enak.


" Enggak apa-apa dok, walaupun saya adiknya dokter Rubel saya juga harus melewati prosedur Rumah Sakit ini mana bisa saya sewenang-wenang." ucap Alan.


" Aduh saya bener-benar minta maaf, saya tidak bermaksud..."


" Enggak apa-apa dok biar gak manja, yah gak kak." ucap Alan dan melirik kearah Rubel.


" Wah saya jadi gak enak." ucap dokter itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Gimana keadaan pasien dok?" tanya Alan tiba-tiba.


" Dokter sudah bilang sama kakak, Mia harus dirawat secara intensif dan dia harus menjalani serangkaian periksaan, dan ST scan." sela Rubel cepat.


Dokter Anwar hanya diam, perasaan dia tidak mengatakan apapun pada Rubel soal pasien yang dibawa oleh Alan. dia melirik kearah Rubel barulah dia tahu bahwa itu hanya kerjaan Bosnya Rubel.


" Tapi Kak Alan mau ke kantor sebentar." ucapnya terburu-buru.


" Kalo, Mia kenapa-kenapa gimana? terus kan kasihan bibi dia gak tahu apa-apa soal rumah sakit." ucap Rubel memulai ekting nya lagi.


Alan termenung sesaat, sebenarnya dia enggan bertemu dengan Mia, dan beralasan pergi ke kantor, padahal semua pekerjaan kantor sudah di urus oleh manager nya.


" Tapi kak.."


" Apakah kamu mau lepaskan tanggung jawab begitu aja?" tanya Rubel pada Alan.


" Ti-tidak bukan itu Alan hanya tidak terbiasa mendampingi gadis itu apalagi Alan Tidak begitu akrab dengan dia." ucap Alan menjelaskan.


" Nanti juga kamu akan terbiasa." jawab Rubel. dan menepuk pundak Alan, dokter Anwar tersenyum melihat kakak dan adik itu.


" Baiklah, Alan akan balik keruangan Mia."


Alan kembali keruangan Mia, tapi bibi sudah tidak ada di ruangan itu. Alan pun bertanya pada perawat yang berjaga.


" Maaf ibu yang di dalam Ruangan ini kemana?" tanya Alan bingung.


" Barusan, dia diminta ibu Hana untuk pulang ke rumah, karena harus mengurus kebutuhan tahlilan nanti malam." ucap perawat itu menjelaskan.


" Argh... Mbak kenapa kamu tega sama aku." batinnya berteriak. Alan benar-benar merasa kesal, sang kakak ipar benar-benar membiarkan dia sendiri yang mengurus Mia.


" Duh kapan sih gadis jutek ini akan bangun " ucap nya dengan kesal. perawat itu hanya tersenyum dia sudah diberitahu sebelumnya, agar Alan mengurus semua keperluan Mia.


dua jam berlalu Mia sudah di pindahkan keruang VVIP. Alan sedikit lega dia bisa mengerjakan apapun yang dia mau di dalam kamar itu. sesekali dia memandang Mia dia benar-benar merasa lucu karena telah mengerjai gadis itu tadi malam, dia tidak menyangka bahwa Mia pobia akan gelap.


Waktu makan siang tiba, Mia sudah mulai sadar, panasnya juga sudah turun. Alan hanya diam tanpa menegur gadis itu.


" Dimana ini?" tanya Mia senantiasa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dia dirawat.


" Udah puas tidurnya?" tanya Alan dengan nada jutek.


" Aduk kebelet pipis." guman Mia pelan. tangannya masih di infus. Mia meraih infus itu dan segera berjalan ke arah kamar mandi. Alan hanya memandangnya kearahnya dengan sinis. tak berapa lama dia pun keluar dari kamar mandi.


" Maaf den ini dimana?" tanya Mia lagi.


" Lihat aja tanganmu, apa kamu tidak bisa berfikir jernih karena pingsan semalaman." ucap Alan ketus.


" Hadeuh, maksud aku di Rumah Sakit Mana?" tanya Mia lagi.


" Rumah Sakit kakak ku." jawab Alan cepat.


" Aduh, aku baru ingat aku belum izin sama dokter Lisa." ucap Mia tiba-tiba.


" Hei, tunggu seenaknya saja main pergi-pergi aku yang membawa mu pergi apa kamu tidak tahu malu sedikit pun."


" Aduh maaf den, sebentar saja aku asisten dokter Lisa dari pagi aku tidak kasih kabar pasti beliau bingung." jawab Mia buru-buru. tapi Alan menahannya.


" Tunggu sini biar aku bilangin sama dokter Rubel." sela Alan. dan segera menghubungi sang kakak.


" Udah beres jadi sekarang, kembali ketempat tidurmu dan beristirahat lah, kamu gak akan absen."


" Tapi---."


" Apa kamu kurang jelas dengan apa yang aku bilang?" tanya Alan dengan keras.


" Huft membosankan, kenapa aku bisa sakit seperti ini." gerutu Mia sangat kesal.


" Kamu seperti itu karena aku." batin Alan.


Dengan berat hati Mia, kembali ketempat tidur wajahnya sangat pucat membuat Alan sangat khawatir. tapi dia tidak ingin Mia tahu bahwa Alan sangat menghawatirkan nya. tak berapa lama pintu diketuk dari arah luar, seorang OB mengantarkan nampan berisi nasi khusus pasien. Menu yang di sajikan membuat Mia berselera, karena infus yang dipasang sebelah kanan Mia terlihat sangat kesusahan untuk menyuap kan makanannya. Alan yang melihat hanya bisa menghela nafas panjang. Dengan berat hati diapun meraih nampan itu dan menyuapkan nya pada Mia.


"


"


"


" Hai sahabat Dokter Cool terimakasih untuk suport nya selalu, jangan lupa bantu Vote like dan komennya untuk Author yah, mampir juga ke Novel Author yang satu lagi dengan judul " Manusia Batu Cintaku" terimakasih 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2