
Di rumah Haikal, dia mencoba menghubungi ponsel papanya. Tapi nomor itu tidak aktif. Hari semakin larut. Hatinya sangat gelisah,dia tidak menyangka papa nya bisa menyimpan semua rahasia ini dari nya selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
“Pantas saja aku bisa begitu menyukai Kirana ternyata gadis itu adik ku.” Tapi sifat Kirana yang tempramen itu menurun dari siapa?” Bukan kah papa Purwanto Agiawan tidak punya sifat kasar dan tempramen seperti itu..bahkan papa sangat bijaksana.” Ujarnya berbicara sendiri.
Haikal mencari mamanya dikamar, tapi dia tidak menemukan mamanya. Dia pun berjalan ke arah teras belakang. Dilihat mamanya sedang termenung seorang diri.
“mama kok sendiri.” Sambil mencium kening wanita kesayangan nya itu.
“Bibi lagi beres-beres. Jawab wanita itu.
“Ma, papa ada dimana?” tanya Haikal.
“Kan Haikal udah tahu papa lagi keluar negeri.” Jelas mama.
“mama lagi mikirin apa sampai termenung seperti itu.” Desak Haikal.
“Gak ada sayang. Mama gak apa-apa mama Cuma mikirin kamu kapan nikahnya, biar mama ada mantu dan juga cucu, mama bosen seperti ini terus mama pengen rumah ini rame dengan cucu-cucu mama.” Jawabnya dengan tatapan sedih.
“Haikal janji akan bawa mantu kerumah mama secepatnya.”jawab Haikal meyakinkan.
“serius kamu nak?”tanya mama tak percaya.
“ Haikal serius ma , bahkan 2 rius.” Ujarnya melucu agar mama nya bisa tersenyum.
“ah kamu bisa aja.” Mama mencubit pipi anak semata wayangnya itu.
“ma Haikal boleh tanya sesuatu?” Tanya Haikal dengan tatapan sangat serius.
“kok nanya nya kaya orang lagi mengintimidasi pelaku kriminal sih.? Tanya mama yang bingung menatap anak kesayangan nya sedang menatap nya tanpa berkedip.
“Apa papa punya istri lain?” tanya Haikal seperti melepaskan busur panah tepat di dada mamanya.
“Ah ngaco kamu.” Jawab mamanya mengeles.
“mana mungkin papa punya istri lain.” Jawab nya lirih seperti ada beban berat berada di pundaknya.
“mama tidak sedang merahasiakan sesuatu dari Haikal kan?” tanya Haikal makin mendesak.
Mama menggelengkan kepalanya. Walaupun batinnya bergemuruh ingin menangis. Tapi dia menahan tangisnya di depan anak semata wayangnya itu.
“Mama sayang Haikal kan?” tanya Haikal lagi.
“tentu saja sayang, Haikal adalah cinta mama, buah hati mama dan papa seorang. Ujarnya berbesar hati.
Haikal memeluk mamanya.
“Tolong mama jangan sembunyi kan hal apapun dari Haikal, Haikal sudah dewasa ma, sudah mengerti dan memahami keadaan kita sedang tidak baik-baik saja.” Terangnya pada mama.
“Mama gak apa-apa sayang” jawab mama berusaha kuat. Tapi mata yang berkaca-kaca itu tidak bisa menutupi kebohongan yang dia sembunyikan. Air mata yang dia tahan setiap melihat anak laki-laki nya itu ketika bersama dengannya. Dari Haikal kecil sampai haikal sudah dewasa seperti sekarang ini.
“maafin mama sayang.” Tangis itu pun meledak bagai bom yang tak bisa ditunda.
“Mama, ceritakan semua nya yang mengganjal di hati mama. Haikal akan menjadi pendengar yang Budiman.” Ujarnya sambil tersenyum menghibur hati mama yang lara.
“Papa lagi dirumah istri mudanya.” Jawab mama pelan. Takut Haikal memberontak.
“Trus!!”tanya Haikal. Penasaran.
"Ini berawal saat mama divonis kanker rahim. Papa tidak bermaksud menyakiti mama sedikitpun kala itu, pada saat itu papa mengambil keputusan yang harus segera dilakukan, operasi pengangkatan kanker rahim.
Tidak ada pilihan lain kecuali operasi. Setelah operasi kanker rahim itu,mama meminta papamu segera menikah lagi saat itu usia Haikal masih sangat kecil." kenang mama bercerita.
" Papa menikah dengan sahabat mama. Mereka dikarunia anak perempuan. Tapi papa tidak ingin semua orang tahu bahwa papa punya keluarga lain. Selama ini keluarga yang disana juga berusaha menyembunyikan indentitas mereka.
Tidak ada yang berubah dari papa tapi entah mengapa sejak anak dari istri kedua itu mulai beranjak dewasa papa sering kesana. Dan kurang perduli dengan mama. Dan terjadilah cekcok antara mama dan papa.
Saat marah papa selalu menyalahkan mama.
“Siapa yang menyuruh aku menikah lagi??” pertanyaan itu berulang-ulang di ucapkan papa.. dan mama selalu mengalah agar papa bisa meredam amarahnya." Ujar mama dengan air mata yang terus mengalir.
“Maafin mama yah nak.” Ucapnya.
“Ma, maafin Haikal, Haikal tidak pernah tahu keadaan mama. Haikal tidak pernah tahu kondisi hati mama selama ini. Maafin Haikal terlalu sibuk dengan bisnis Haikal. Haikal janji sama mama secepatnya Haikal akan perkenalkan calon istri Haikal sama mama. Biar mama gak sendiri lagi.” Ujarnya sambil memeluk mamanya.
Hati Haikal sangat sakit mendengar semua cerita mamanya, tapi dia tidak ingin berlarut-larut dalam keterpurukan. Dia harus membahagiakan wanita pertama yang dia cintai itu.
*****
Pagi ini Hana tidak ada kegiatan di luar rumah, dia membantu bibi dan nyai dirumah, setelah selesai pekerjaan nya. Dia mengajak nyai untuk keluar rumah mereka duduk di saung di halaman belakang.
Hana memanggil Diko di pos jaga, seseorang menggantikan Diko selama membantu Hana latihan.
“Mbak Hana, tadinya saya mau ajarin mbak Hana bela diri. Tapi kata pak Dion dan Bu Lila mereka meminta saya untuk mengajarkan mbak Latihan Chikung, katanya mbak Hana sering alergi, dan kondisi tubuh mbak sering lemah.” Ujarnya panjang.
“Chikunguya?” tanya Hana bingung.
“Bukan chikunguya itu virus flu tulang. Tapi Chi-Kung latihan pernafasan. Ujar Diko menjelaskan.sambil menekankan intonasinya.
“cikung...kucing... cikungua.. ngomongnya mirip semua yah.” Ucap Hana sambil mengulang kata-kata itu.
__ADS_1
Nyai tersenyum melihat kepolosan Hana.
“Trus belajarnya gimana.” Tanya Hana penasaran.
“Pertama-tama mbak harus belajar meditasi. Jawab Diko.
“Apaan tuh meditasi sejenis hewan apa tuh?” Ujar Hana benar-benar polos. Secara orang kampung Cuma tamatan SMU gak pernah bergaul dengan orang-orang pinter.
Nyai dan Diko tak sanggup menahan tawa mereka.
“Bukan hewan mbak tapi latihan pernapasan dengan kondisi duduk bersila tanpa melakukan aktifitas lain selain bernafas pelan dari hidung dan perlahan dikeluarkan melalui hidung.” Jawab Diko.
Hana memperaktekkan apa yang dikatakan Diko. Tahap demi tahap dia ikuti.
“Yang kedua latihan postur tubuh
“dan terakhir cooling down. Jelas Diko.
Begitu banyak istilah-istilah yang Diko sebutkan pada Hana, sekarang dia mulai mengerti.
Setelah hampir 2 jam dia mengikuti instruksi Diko Hana pun beristirahat. Nyai juga mencoba untuk ikut latihan.
“Diko besok nyai ikut latihan yah,biar badan nyai ikut sehat.” Ujar nyai pada diko.
“Tentu saja nyai,latihan ini banyak manfaatnya, menstabilkan sistem pencernaan, pernapasan, sendi dan peredaran darah, sehingga stamina tubuh pun bisa kembali optimal meski sudah lansia seperti nyai.” Jelas diko panjang.
“Masa??” tanya Hana tak percaya.
“Iya mbak.” jawab Diko lagi
“Wah kayanya nyai bisa awet muda lagi nih.” Goda Hana .
“Ah bisa aja.” Jawab nyai tersipu.
seseorang menghampiri mereka.
“Pak diko ada ada tamu mencari mbak Hana. Ujar Leo security pengganti.
“Siapa?” Tanya Diko pada Leo.
“Namanya den Haikal.”jawab leo lagi.
“Oh, suruh masuk aja mas Leo.” Ujar Hana.
Tak berapa lama Haikal menghampiri mereka. Dia menyalami nyai Rubel dengan sopan. Dan dipersilahkan nyai duduk di Saung. Hana bergeser duduk di ujung Saung. Sebelah kanan dekat nyai. Sedangkan Diko masih berdiri. Bibi yang melihat mengambilkan kursi plastik dan memberikan kepada Diko.
“mas diko jangan berdiri aja ntar makin langsing.” Goda bibi.
“kamu ada perlu apa kemari?” tanya Hana penasaran.
“Aku mau kerumah Kirana. Selama ini kalo ketemuan kita sering diluar. Jadi aku belum pernah kerumahnya.” Jawab Haikal.”
“Oh, itu sih gampang den.” Sambung bibi cepat. Nyai melihat kearah bibi memberi kode untuk diam.
“Maaf nyai keceplosan.” Jawab bibi salah tingkah.
“Gak apa-apa nyai.” ucap Haikal.
“Tumben si bibi nimbrung biasanya diem-diem Bae.” Jawab hana menimpali.
“biasa non jiwa muda bibi bergejolak liat brondong nih pade.” Sambil melihat kearah Haikal dan Diko.
Nyai yang dari tadi gemes gak jadi marah liat asisten rumah tangganya itu berceloteh.
“Maklum den selama ini kami kesepian, yang tiap hari bibi liat Cuma nyai sama den Rubel. Nah ini ada brondong di depan mata ya sekalian cuci mata. Jawab bibi panjang.
Semua tertawa melihat bibi.
“Maafin yah den, bibi Cuma bercanda, sesekali jiwa muda bibi berontak, maaf nyai ya.. sekali aja.” Ujarnya pada nyai sambil menangkupkan kedua tangannya.
“Sering-sering juga gak apa-apa bi. Biar gak pada tegang.” jawab Haikal.
Haikal pun pamit kerumah Kirana dia ingin segera bertemu dengan papanya. Tak berapa lama, Diko mengantarkan Haikal ke depan pos.
“Rumah nya sebelah sini mas. Ujar Diko pada Haikal.”
“Ok mas makasih banyak yah.” Ujarnya pada diko.
“Sama-sama mas diko kalo ada apa-apa langsung kasih tahu yah.” Jawab Diko mengingatkan.
“Ok.”
Diko telah berdiri di depan Rumah Kirana, yang notabene adalah adiknya, dia mencoba menenangkan diri agar tidak melakukan kesalahan, bagaimanapun papanya adalah orang tuanya. Dan tidak pernah marah kepadanya sejak dia kecil hingga dia dewasa.
Dia mengetuk pintu rumah itu dengan hati-hati. Bermacam perasaan berkecamuk di dadanya. Tapi dia harus ketemu dengan Papanya.
Seseorang membuka pintu..
“anda cari siapa mas?” tanya seseorang pada Haikal.
__ADS_1
“bapaknya ada?” tanya haikal.
“maaf aden siapa yah kok cari bapak?” tanya bibi hati-hati teringat kejadian tempo hari. Apalagi bapak tidak punya kenalan bapak yang datang kerumah itu.”
“Bibi gak usah takut, bilang aja Haikal yang datang.” Jawab Haikal, yang membaca raut wajah bibi yang heran bercampur khawatir.
“Tunggu disini dulu yah den.” Pinta bibi halus.
“Pak ada tamu cari bapak.” Ucap bibi pelan takut bapak marah.
“siapa?” tanya pak Agiawan heran. Karena tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.
“Aden itu bilang namanya Haikal.” Jawab bibi menjelaskan. Pak Agiawan mengerutkan dahinya, pertanda heran. Kenapa anak laki-laki semata wayangnya itu ada disini.
Dia menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Dia belum siap mengatakan yang sebenarnya kepada Haikal tapi sepertinya Haikal telah lebih dulu mencari tahu.
Diapun keluar dan berfikir baik, lambat laun Haikal juga akan mengetahui semua ini.
“Ada apa nak?” tanya nya dengan canggung.
“Gimana kabar papa?” tanya Haikal datar.
Tiba-tiba mama dan Kirana keluar.
Kirana memaki maki Haikal.
“Hei, cecunguk ngapain kamu kesini.?” Tanya Kirana kasar. Haikal diam dia tidak membalas ucapan saudarinya itu.
“Jaga mulut mu Kirana!” ujar Pak Agiawan kesal pada anak perempuannya.
“Jangan bilang papa ikutan ngebela cecunguk itu yah... Ucapnya semakin keras.
Mama menarik Kirana...
“Tenang dulu sayang.”ucap mama pelan.
“Gimana mau tenang, gara-gara dia suka sama Hana aku dihina nya,dibilang wanita ja****.” Jawab Kirana semakin kasar.
“Cukup.” Teriak pak Agiawan membuat Kirana terdiam. Dia memandang Haikal dengan tatapan penuh kebencian.
“Kamu tidak berhak mengatakan Abang mu seperti itu.” Jelas pak Agiawan keras.
Kiran terperangah mendengar ucapan papanya. Dia tertunduk malu wajahnya memerah. Dia tak berani menatap Haikal lagi. Laki-laki itu pernah menjalin kasih dengannya.
Laki-laki itu pernah dicampakkannya karena Haikal tidak kaya. Perasaan malu, bersalah bercampur jadi satu. Dia takut bahwa papa akan membenci nya.
Haikal tertunduk lesu dia dihadapkan masalah yang sangat rumit. Tapi dia harus menceritakan semua kepada papanya.
“Papa tolong dengerin Haikal. Haikal akan jelaskan semuanya.” Ucap Haikal tanpa melihat ke arah Kirana.
Sebelum ini, Haikal sempat pacaran dengan Kirana tapi kami hanya sebatas pacaran biasa tanpa melakukan hal di luar batas. Kirana hanya ingin uang Haikal, saat itu Haikal tidak pernah bercerita bahwa Haikal punya usaha. Haikal bilang Haikal gak punya harta berlimpah dan mobil itu punya orang. Kirana mencampakkan Haikal dan mengatakan Haikal cecunguk.” Jelas Haikal.
Wajah Pak Agiawan memerah, hatinya sangat panas, selama ini dia tidak tahu kelakuan anak perempuannya.
Tibalah Haikal jalan dengan Hana teman Haikal waktu SMP, kami makan di restoran ayam Keprek. Tiba-tiba Kirana memaki Hana dan Haikal dengan sebutan cecunguk dan bilang Haikal telah kehabisan Stok perempuan karena memilih Hana yang kampungan.
Saat itu Kirana pergi dengan Rubel teman kecil Hana. Hari itu juga Rubel meninggalkan Kirana karena Kirana cemburu dengan Rubel dan menghina Hana lagi di depan Rubel. Ternyata Kirana dendam dan membalas semua sakit hatinya dia merencanakan penculikan dan penganiayaan terhadap Hana. Jelas Haikal Panjang.
Pak Agiawan berang, ternyata dia telah membela anaknya yang salah, dan juga ikut tersulut api kebencian dan merencanakan pembunuhan Hana.
Dia hendak memukul, anak perempuannya itu. Tapi Haikal menahannya.
“Dasar anak gak tahu diri, begitu banyak hal yang kamu sembunyikan dari papa. Dan papa dengan mudahnya percaya padamu. Demi membelamu papa melakukan tindak kriminal, demi membebaskan mu papa memberi jaminan. Sampai meninggal kan pekerjaan papa. Dan asal kamu Tahu Haikal bukan orang miskin.” ujarnya berapi-api.
“Dan satu Hal lagi, seharusnya kamu bersyukur karena Mama Haikal yang Baik Hati, Papa menikahi mama mu!” ujarnya kesal. Dia teringat akan perlakuannya terhadap istri pertamanya sejak Kirana dewasa. Dia lebih perduli Kirana dari pada wanita yang telah bersedia menikahinya dari dia tidak punya apa-apa hingga dia sesukses ini.
“Maafin papa nak.. ujarnya pada Haikal. tak sanggup lagi.
“Udah pa.”sebaiknya kita serahkan kepada yang berwajib untuk menyelesaikan kasus ini. Tak perlu papa merusak reputasi papa untuk membalas perlakuan Kirana bagaimanapun dia anak papa.” Jawab Haikal menenangkan. Mereka berpelukan.
“Haikal ini mama mudamu.”ujar papa mengenalkan mama Kirana.
“Panggil mama aja sayang.” Jawab mama haru melihat kebahagian di depan matanya. Karena selama ini dia tidak pernah tahu seperti apa anak sahabatnya itu.
“Ma.” Jawab nya pendek sambil menyalami istri kedua papanya itu.
Kirana menangis sejadi-jadinya, perasaan malu, sedih bercampur aduk jadi satu. Papa memeluk anak perempuannya itu.
“Maafin papa yah nak.” Selama ini papa hanya memberikan apa yang Kirana mau bukan apa yang Kirana butuhkan. Karena Ego papa kalian juga tersiksa karena papa menyembunyikan identitas kalian dari publik. Semua salah papa karena tidak bisa mendidik Kirana menjadi perempuan yang bijak.” Ujar papa menyesal.
Haikal memeluk adik nya itu dia tidak menyangka gadis yang pernah dia cintai itu adalah adiknya..
“Maafin Abang Haikal yah dek, seandainya papa bercerita tentang Kirana Abang juga tidak mungkin cinta sama adek. Dan gak akan terjadi kasus ini.Ucapnya dengan penyesalan.
“Sudah lah kita perbaiki semuanya lagi.” Papa janji akan berikan yang terbaik untuk kalian semua.” Ujar papa.
“Dan kirana, besok kita ke rutan.biar pihak yang berwajib menyelesaikan masalah ini. Haikal tolong papa bersihkan rumah kita yang di Ponorogo Residen. Nanti setelah Kirana bebas mama dan Kirana akan tinggal di situ.” ujar papa.
“Tapi pa,apa tidak sebaiknya mama tinggal dengan kita dulu di Raharja Kencana dari pada sendiri disini.” Pasti orang-orang disini...Haikal menghentikan ucapannya dia takut menyinggung perasaan mama mudanya. Mama tersenyum melihatnya.
__ADS_1
“Mama bisa tinggal dimana aja sayang, lagi pula Mamamu sahabat mama dari kecil. Ujarnya meyakinkan.
Bantu Vote Like dan come nya terimakasih