
Pagi-pagi sekali dion dan beberapa personil kepolisian dengan bukti keterangan hana. Dan penulusuran alat bukti penganiayaan di besment X. Mereka akan mendatangi rumah Kirana sebagai Pelaku penganiayaan. Mereka membuat konsep selidik Terlebih dahulu agar tersangka tidak kabur saat mereka datangi.
Dengan dibantu beberapa tim security di lingkungan Villa Buana A.
Dion mengetuk pintu, Rumah Kirana.
“Maaf kirananya ada?” tanya nya pada seseorang yang bingung melihat kedatangannya.
“Mbak kirana nya di dalam. Ujarnya menjelaskan.
Seseorang berteriak dari arah dalam.
“Siapa bik, tanyakan padanya ada keperluan apa?” ujar suara didalam seperti sedang berhati-hati.
“oh saya teman sekolahnya kirana.” Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Ujar Dion bersandiwara.
“non, katanya temen non waktu sekolah.” Teriak bibi kepada kirana. Karena penasaran dia menghampiri bibi, namun tetap berdiri di belakang pintu dan kepalanya mengintip kearah luar...
Dia terpana melihat pemandangan didepannya, seorang laki-laki tampan, dengan badan tegap, berpakaian kemeja Casual berwarna abu-abu, dengan lengan yang dilipat. model rambut Buzz Cut dan berkaca mata hitam menambah nilai plus tersendiri baginya.
Dia Menatap tamu nya tanpa berkedip..
“Maaf, bibi bilang kamu teman sekolahku.” Tanya kirana merasa bingung karena Dion sedikitpun tidak mirip seseorang.
“boleh aku masuk?” tanya dion mengalihkan pertanyaan kirana.
“oh, tentu saja maaf sampai lupa mempersilahkan kamu masuk.” Ujar kirana dengan sopan dan mempersilahkan dion masuk Kedalam ruang tamu yang berukuran luas, dengan round sofa berwarna cream dipadu gorden warna silver terlihat begitu mewah.
Kirana mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Kirana melihat dion dari ujung rambut dan ujung kaki.
“perfect.” Ujarnya dalam hati.
“apakah aku menganggumu?” tanya dion membuka percakapan.
“enggak, kebetulan aku sedang tidak sibuk.”jawabnya pada dion.
“kamu kenal rubel?” tanya dion lagi..
“oh dia tetangga rumahku, tinggalnya disebelah kiri rumah ini.” Jawab kirana dengan wajah terlihat aneh.
“ngapain tanya-tanya rubel sih. Ujarnya kesal..
“Laki-laki yang gak tahu diri itu sudah meninggalkan aku sendiri di resto ayam Keprek.
Gara-gara gadis kampungan bernama hana. Ujarnya mengingat perlakuan rubel beberapa hari yang lalu.
“apa kamu kenal dengan hana?” tanya dion cepat agar kirana terjebak dengan ucapannya.
“tentu saja, gadis kampungan itu sudah membuat aku sakit hati. Dua laki-laki yang menyukai ku, sekarang membenci dan menjauhiku.” Ucapnya kesal tanpa bertele-tele.
“Eit, tunggu.” Kenapa kamu menanyakan mereka padaku.” tanya Kirana mulai penasaran.
Dia bangun dan mencoba meyakinkan apa yang ada dibenaknya.
“kamu siapa sebenarnya.” Jika tidak ada keperluan. Silahkan keluar. Mencoba mengusir dion dengan kasar.
“tenang dulu tidak ada yang akan menyakitimu.” Ujar Dion tetap bersikap baik.
“apa aku bisa bertanya sesuatu padamu.?” Jika kamu menjawab Jujur tanpa Bertele-tele Kamu berhak membela diri dan Menghubungi pengacaramu. Ujar dion tegas.
Kirana menatap dion sangat tajam, Entah apa yang ada dibenaknya. Dia mengambil semua barang yang ada didekatnya dan melempar ke arah Dion dengan membabi buta..
Upaya bijak dion tidak ditanggapi dengan baik, kirana Malah menambah masalah, dia Kena pasal 212 KUHP karena melawan petugas yang sedang melakukan pekerjaan sesuai prosedur tanpa mengintimidasi tersangka.
Karena kondisi tidak efisien Dion memberi instruksi untuk menangkap kirana agar tidak melakukan hal yang lebih berat lagi. Para personel polisi itu masuk dan membekuk kirana.
Agar gadis itu tidak memberontak. Tapi kirana semakin parah dia malah berteriak-teriak memaki-maki dion.
“kurang ajar, Berani-beraninya kamu menangkapku.. Karena membela Gadis kampungan bernama hana itu.” Kalian semua sama.
“aku puas sudah menyiksa Gadis itu, dia merebut semua apa yang ku mau.!!!” Ujarnya tak karuan.
Tanpa disadari seseorang dari mereka merekam. Ucapan kirana, sebagai bukti dialah pelaku penganiayaan hana.
Bibi ketakutan melihat kirana berteriak-teriak dengan tangan diborgol. Bibi bingung mau menghubungi siapa, karena mama kirana sedang ada diluar negeri dengan papa kirana mereka sedang berlibur.
“Aduh pak, non kirana jangan ditangkap.” Nanti saya bilang apa sama orang tuanya non kirana.
Dia semakin bingung, karena Tuan nya adalah manusia yang keras bahkan bisa berlaku semena-mena kepada siapapun.
“aduh Pak bisa dipecat bibi sama tuan.” Tolong Pak jangan tangkap non kirana..
Dion, menggenggam tangan bibi. Bibi tenang saja lakukan apa yang saya katakan. Silahkan menghubungi nyonya atau tuan untuk menyewa pengacara demi pembelaan nona kirana.
Dan apabila Bibi di ancam dengan tuan silahkan menghubungi aku di polsek K. Ujar dion memastikan bibi menerima tugasnya untuk menangkap kirana.
Di Perumahan Villa Buana A, orang-orang Melihat kearah kirana dengan tangan terborgol dibelakang. Tidak ada satu pun diantara mereka yang mencoba mendekati kirana. Bahkan mereka terlihat Biasa saja tanpa ada rasa iba.
Dion dan personel polisi yang bertugas pun berlalu, mereka membawa kirana ke rutan K.
******
__ADS_1
Dirumah sakit, Hari ini hana sudah lebih baik dan sehat. Penjagaan Didepan ruangannya masih berlangsung.
Karena Rubel dan dion takut akan ada orang yang dendam dengan hana, setelah penangkapan kirana. Mereka tidak ingin hal yang sama terulang lagi.
“Dion, hari ini kirana sudah bisa pulang. Kondisinya sudah Lebih baik.” Ujar Rubel pada Dion dengan wajah penuh kecemasan.
“Jangan khawatir kita akan tetap mengawasi Hana, dari jarak dekat, aku akan meminta dua orang untuk menjaga Hana tanpa orang lain tahu keberadaan mereka, untuk menghindari hal-hal yang mungkin bisa terjadi.” Jelas Dion, sambil memandangi wajah sahabatnya yang terlihat khawatir.
“Aku percaya dengan mu dion, lakukan sebisanya..” jawab Rubel lega mendengar penjelasan sahabatnya itu.
Setelah semua berkemas, Rubel mengantarkan hana, diperjalanan pulang kerumahnya hana.
Tiba-tiba Rubel menghentikan mobilnya di deretan pertokoan hape.. dia turun tanpa mengajak hana, tanpa menunggu lama Rubel kembali dengan membawa sebuah hape merek Sam G A30. Dia menyodorkan hape itu kepada Hana, Hana bingung pemberian itu.
“Kok kasih ke ana??” ana kan nggak butuh hape jawab Hana polos.
“Ya ampun, ana jangan kolot deh sekarang zaman udah canggih, semua kegiatan apapun pasti pake hape... Kecuali kamu tinggal di hutan kaya orang-orang suku pedalaman gak butuh hape.”ujar Rubel nyolot.
Hana terkekeh mendengar Rubel berbicara.. dia tak ingin membalas nya karena raut wajah Rubel terlihat sangat kesal...
******
Setelah beberapa hari di rumah. Hana merasa bosan dia ingin sekali bertemu dengan Nyai Rubel.. dia memandangi hapenya, sedikit – sedikit hana sudah bisa menggunakan hape layar sentuh itu, secara selama ini dia belum pernah sama sekali punya hape canggih seperti ini.
Tiba-tiba hapenya masuk sebuah chat. Dibuka chat nya dengan nama pengirim ino.
“Gimana kabar kamu hari ini?” tanya Rubel.
“ana baik-baik aja hari ini.” Jawabnya dengan
mengetik hape itu pakai 1 jari telunjuk.
“Syukurlah, nanti balik dari rumah sakit, ino jemput ana yah kita kerumah ino nemuin nyai pasti Hana sudah kangen sama nyai.”
“Kok ino tahu ana kangen nyai?”
“Iya iyalah ana kan belahan jiwa ino, tentu saja ino tahu apa yang ana fikirkan.” Ujar Rubel dengan sok.. dia tertawa membalas chatingan itu..
“kebetulan” gumannya pelan.
“ah terserah ino deh ana gak ngerti.”jawab Hana bingung.
“ya udah gak usah dipikirin, nanti selesai praktek ino jemput ana yah. Jangan lupa dandan yang cantikya.” balasnya menggoda.
Waktu menunjukkan jam 12 siang.. sebuah mobil X berwarna silver berhenti dimuka rumah Hana.
Emak – Emak lagi nongkrong sambil ngerumpi di teras rumah Hana. Ada yang lagi cari kutu, ada yang saling pijit kaki, romantika itu masih tercipta pada zaman secanggih ini, kalo emak-emak modern pasti mereka ngumpulnya di sosmed.
Rubel tersenyum dengan emak-emak itu. Mereka juga sudah tidak asing lagi dengan wajah Rubel yang tempo hari beberapa kali datang kerumahnya Hana.
Hana mengintip dari jendela, dia belum siap-siap lagi, dia tidak menyangka Rubel akan datang lebih awal dari perkiraan nya. Dia masih menggunakan tank top dan celana hot pant.
Dia berlari kearah kamar, Rubel melihat Hana berlari. Hana sangat seksi ujarnya dalam hati. Karena selama ini dia tidak pernah melihat Hana berpakaian seperti itu, selalu berpakaian sopan dan tertutup.
Setelah selesai Hana menghampiri Rubel. Mereka pun bergegas masuk ke mobil.
Hari itu suasana sangat cerah, Hana menggunakan baju favoritnya baju kaos berwarna hitam dengan panjang selutut di depannya bertulis “baby”. Dipadu celana pensil berwarna cream. Hana terlihat sangat imut. Dan menggemaskan.
Rubel tak berhenti memandang wajah Hana dengan riasan tipis dan bibir dioles lipstik berwarna baby pink. Hana nampak sangat cantik, segar dan lebih sehat.
Hana tersipu, melihat Rubel memandanginya tanpa berkedip.
“Duh cantiknya cewek ino.” Puji Rubel menggoda Hana.
“Ah, gak usah gombal deh nanti ana jadi besar kepala.”
Jawab Hana asal.
“kalo ana besar kepala nanti ino kempesin kepalanya.” Jadi gak besar kepala lagi. Jawabnya nyeleneh.
Hana diam dia memilih tidak memperpanjang candaan Rubel. Dengan wajah cemberutnya .. Rubel melajukan mobilnya. Fokus kedepan tanpa berbicara.
Hana risih karena Rubel ikut terbawa arus diamnya.
“ah ino gak asik, ana diam Ino ikut diam.” Ujarnya luluh.
“Ana kalah.” Segitu aja didiemin aja udah susah, coba kalo sebulan ino diemin..
“Kalo sebulan ino diemin ana cari lain.” Jawabnya membalas Rubel.
“wah curang, masa gara-gara diam, ana sampek cari lain?” jawabnya gak mau kalah.
Rubel memandangi gadisnya itu dengan tatapan lekat.
“iya deh ana nyerah.”ino fokus nyetirnya biar gak nabrak orang.”
“Ino, tersentak. Ucapan Hana menyadarkan nya yang hampir menyerempet pejalan kaki.
Besok-besok kalo didalam mobil kita fokus kedepan aja gak usah ngobrol.. ujar Rubel tegas di ikuti anggukan Hana.
“Maafin ana yah.” Ujar Hana memelas.
Tibalah mereka di pekarangan rumah. Ternyata nyai telah menunggu mereka sejak tadi.
__ADS_1
“wajah Hana terlihat lebih segar walau di mukanya masih ada bekas cakar.”
Hana menghampiri nyai, dipeluknya nyai untuk melepas rindu.
“Nyai sehat?”tanya Hana pada nyai. Yang sepertinya sudah sedikit kurusan.
“Nyai sehat, tapi nyai kepikiran Hana terus karena Hana gak pernah mengunjungi nyai lagi.”ujar nyai menjelaskan.
Nyai melihat wajah Hana dengan tatapan heran.
“Kenapa dengan wajah Hana sayang?” tanya nya heran.
Hana melihat ke arah Rubel, Rubel mengedipkan mata kearah Hana. Memberikan kode bahwa nyai tidak tahu kejadian yang menimpaku Hana.
“oh ini, kemarin Hana jatuh dari pohon gegara manjat jambu kelutuk punya tetangga dibelakang rumah, ini kena ranting-ranting?” ujarnya bohong.
Dia tidak bermaksud mengatakan kebohongan itu, tapi karena dirinya nyai sampai kepikiran. Demi nyai mudah-mudahan nyai bisa lebih sehat.
Rubel mengalihkan pembicaraan.
“Nyai masak apa sama bibi hari ini?” Tanya rubel dengan semangat, agar nyai bisa melupakan kebingungan nya.
“Nyai minta bibi masakin cumi saus Padang makanan kesukaan ino.” Ujar nyai menjelaskan.
“Wah nyai memang paling tahu apa yang ino suka?” sambil memeluk nyai nya.
“Makasih nyai.”
“Lihat ana, ino dari kecil gak pernah berubah.. manja nya gak hilang-hilang kadang nyai gak enak Sama orang?”jelas nyai pada hana.
“Hehehe.” Hana terkekeh mendengar penjelasan nyai.
Mereka pun bersama-sama makan di meja makan. Setelah selesai makan seperti biasanya, Hana membantu bibi membersihkan meja makan.dan membawa piring kotor itu kedapur.
Tanpa Hana sadari Rubel mengekor dirinya dari belakang. Saat dia hendak berbalik dia tidak menyangka bibir Rubel telah menempel di pipinya.
“aih pake ngejut segala.” Untuk gak jantungan. Lagian ngapain itu bibir pake nyosor kepipi sih. Ujarnya kesal. padahal didalam hatinya dia begitu gelisah jantungnya berdetak sangat kencang. Tangannya mulai dingin..dia tidak ingin Rubel tahu. Kegelisahannya.
“Ah, gitu aja marah.. kan Cuma dikit.” Ujar nya sambil memonyongkan bibirnya pertanda merajuk. Dia pun berlalu meninggalkan Hana.
Hana hapal sudah kelakuan Rubel kalo cemberut, dia diam dan berlalu begitu aja. Hana mengikutinya dia masuk ke ruang kerja Rubel.
“hey, siapa yang suruh kamu masuk?” tiba-tiba Rubel bersuara.
“Enggak liat apa tulisan diluar?”tanya rubel dengan nada kesal.
“liat, tulisannya “Orang Luar Dilarang Masuk!” jawab Hana polos.
“Ya udah kamu kan orang luar jadi jangan masuk.”ujarnya dengan wajah masih marah.
“ya udah deh ana ngalah sama yang gak waras.” Jawab Hana seenaknya.
Hana berjalan kearah pintu hendak keluar. Rubel menarik tangannya menghentikan langkah Hana. Hana terkejut Rubel memeluknya. Jantungnya hampir mau copot. Rubel menatap gadis nya itu.
“ana gak rindu sama ino?” Tanya rubel.
Dengan kedua bola matanya menatap hana.
Hana diam, dia tidak sanggup mengatakan hatinya.. dia hanya mengangguk pelan.. dan mencoba membalas pelukan Rubel.
“Temani ino di sini, ino kangen waktu kita kecil!” Dia mengajak Hana duduk disofa, tiba-tiba Rubel merebahkan kepalanya kepangkuan hana. Ini kali pertama dia sangat dekat dengan laki-laki dan orang itu adalah sahabat kecilnya.
“Ana ingat di dalam rumah-rumahan ikan?” kita berdua masuk ketrowongan ikan itu, duduk dipinggir beton kecil. Ino kasih bunga buat ana. Dan memasangkannya ditelinga ana. Ujarnya bercerita.
Hana hanya mengangguk, dia masih berdebar-debar ingin rasanya dia keluar. Tapi dia masih ingin bersama ino. Rubel terus bercerita dan Hana hanya mengangguk tanpa membalas percakapan itu.
Rubel mulai risih dengan jawaban Hana yang hanya mengangguk, tanpa menyambut percakapan itu. Dia memegang tangan gadis itu. Tangan Hana sangat dingin tahulah dia bahwa Hana sedang gelisah. Dia bangun dan menatap wajah Hana begitu lekat.
“kenapa sayang?” ana takut?”tanya Rubel.
“Enggak, ana Cuma dingin.” Ujarnya mengalihkan percakapan. Dan dia membalas tatapan ino.
“Sini biar ino peluk.”sambil menarik Hana kedekapannya.
“maafin ana yah ino, Hana takut kebablasan. Ujarnya dalam hati.
Rubel memandangi Hana, dia memandangi hana dengan tatapan sayang. Dan mencium bibir Hana tanpa izin. Hana yang dari tadi gelisah tak tahu harus berbuat apa. Tapi ciuman itu seakan menenangkan perasaannya yang gelisah dari tadi.
Ciuman Rubel tidak memburu nafsu, hanya ciuman sesaat.. seorang kekasih yang lepaskan kerinduannya.
Rubel melepaskan ciumannya, dia memeluk Hana makin erat.
“gimana udah gak takut lagi?” Seakan tahu kegelisahan Hana.
“Perasaan hana Cuma bilang dingin bukan takut.” Jawab Hana mengelak.
Rubel mencubit hidung Hana.
“Jangan ngeles lagi, Ino gak akan berbuat nekad sama ana.”
“Ino, Akan menjaga ana dengan baik.”
“gak mungkinlah ino menghancurkan masa depan ana.” Jelasnya.
__ADS_1
Hana ingin menangis, buru-buru diseka air matanya. Rubel membelai rambut Hana dengan lembut dan mencium pucuk kepala Hana berulang-ulang.