
" Awas Anak kecil di larang baca!!!!!!"
Hari kian malam, Dainan pun bangun menyelesaikan gundahnya yang membendung. kini hatinya merasa lebih tenang dan lebih baik. Dia membalikkan tubuhnya, Dia terkejut melihat Rubel yang telah duduk di belakangnya.
" Kamu sudah lama disitu?" Tanya Dainan pada Rubel.
" Belum lama baru 1 jam." Jawab Rubel asal.
" Waduh, kenapa kamu gak panggil Aku??" Ucap Dainan merasa bersalah.
" Gak apa-apa, Aku lihat Kamu sangat khusuk, jadi Aku ingin kamu bisa mengadukan semuanya sama sama Allah." ucap Rubel membuat Dainan tersipu.
" Thanks Bel, Aku bingung sejak aku kemari hati ini gelisah sekali, dan saat Aku melihat kalian beribadah Aku merasa ingin sekali berada di dekat kalian dan ikut beribadah seperti yang kalian lakukan." Jelasnya. dia menatap Rubel lekat.
" Apa ada yang ingin kamu bicarakan??" tanya Dia penasaran karena Rubel menunggu nya sangat lama.
" Aku ingin tahu tentang transplantasi sumsum tulang belakang." ucap Rubel menjelaskan. dia duduk selonjoran di atas sajadah dan menyandar kan tubuhnya di dinding.
" Untuk apa??"
" Untuk Hana.. dia mengidap Neutropenia Imun." Ucap Rubel lagi.
" Apakah kamu yakin akan melakukan tranplantasi itu??" Ucap Dainan dan melihat Rubel begitu lekat.
" Aku tahu itu tidak mudah, dan aku ingin meyakinkan bahwa kami berdua siap menjalani serangkaian Transplantasi itu." ucap Rubel berusaha tegar.
" Ya tidak semua dilakukan dengan gampang, Operasi juga tidak mudah. apalagi kita harus menemukan gen yang sama dan cocok untuk Hana."
" Itulah yang selama ini membuat Aku khawatir untuk melanjutkan Transplantasi itu."
" Kalo kalian sudah siap aku akan membantu Kalian." Ucap Dainan begitu perhatian.
" Benarkah?" tanya Rubel meyakinkan.
" Aku akan berusaha semampu ku."
" Baiklah, Dainan beristirahat lah. kita kan memikirkan nya lagi nanti."
" Ok, kamu juga beristirahat lah karena besok harus sholat subuh." Ucap Dainan mengingatkan.
" Thanks.." dan Rubel pun berlalu masuk kedalam kamar.
Rubel memandang Hana sangat lama, rasanya dia tidak ingin terpejam, namun rasa kantuk mulai menguasai nya dan diapun tertidur dengan lelapnya.
Hana bangun lebih awal, ia merasakan tubuhnya lebih sehat dari hari kemarin. wajahnya mulai terlihat cerah. Dia memandang wajahnya di cermin kamar mandi.
" Lumayan sudah gak terlalu pucat, apa efek semalem yah?" batin nya bertanya-tanya.
Tiba-tiba pintu di buka Rubel mendekati Hana yang tidak memakai sehelai benang pun ditubuhnya. hasrat nya kembali bergejolak. dia tidak menyia-nyiakan waktu. segera dia memainkan perannya.
Membuat Hana tak bisa menahan hasratnya. ini pertama kalinya mereka bermain di kamar mandi. ada sensasi aneh yang membuat keduanya tak bisa menguasai hasratnya dari gaya a-z di cobanya.
Rasanya sangat berbeda dengan dilakukan di tempat tidur. Rubel tak kuasa, tubuhnya semakin agresif. gerakan yang biasanya lembut dan nyaman seakan memaksanya untuk berbuat lebih. Hana tak menolak perlakuan Rubel dia semakin merasa hatinya bergejolak. dadanya terus bergemuruh merasakan sensasi hebat dibawah sana. entah sudah berapa lama mereka bermain.
Gundukan bukit kembar Hana seakan merekah minta disentuh, Rubel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. menyentuhnya dengan kasar perasaan itu seakan membuat Hana ingin melenguh dengan keras. dan akhirnya mereka mencapai puncak, di sambut suara adzan subuh.
Mereka mandi berdua mensucikan hati dan pikirannya. kemudian bergegas mengambil wudhu dan mereka keluar menuju mushola Rumah. Semua orang telah menanti. Dainan dan Lia ikut bersama. Lia meminjam mukena pada Ibunya Hana.
Rubel dan Hana terperanjat melihat Dainan dan Lia yang begitu antusias ingin ikut sholat berjamaah.
" Inilah HidayahNya, sungguh pemandangan yang sangat luar biasa." Bathin Hana bergemuruh.
Mereka pun sholat bersama. selesai sholat Lia mendekati Hana.
" Na, maukah kamu menemaniku membeli pakaian seperti mu?" Ajak Lia pada Hana.
" Ehm, aku minta izin Rubel dulu yah." Ucap Hana lembut. dia takut menyinggung perasaan Lia, tapi inilah hakekat nya seorang Istri dia harus meminta izin kepada suaminya atas apa yang akan di lakukannya.
Dia tidak ingin melupakan kewajiban nya. Lia tee tertegun, ternyata setiap apapun yang akan dilakukan perempuan muslimah harus seizin suaminya. membuat dia merasa bingung tapi inilah perbedaan perempuan muslimah.
Rubel mendengar kan ucapan mereka berdua dan menghampiri nya.
" Kalian boleh pergi tapi harus ditemani Mama dan Ibu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana." Ucap Rubel tegas.
Lia mengerti maksud Rubel, apalagi kondisi Hana tidak sangat baik.
__ADS_1
" Baiklah, terimakasih." jawabnya begitu senang.
Hana dan Rubel masuk ke ke kamar. mata Mereka saling beradu. Rubel memeluk istrinya dengan lembut.
" Gimana tadi?" Tanya Rubel pada permainan mereka di kamar mandi.
Wajah Hana bersemu merah, dia tidak menjawab pertanyaan Rubel. dia malu mengatakan nya betapa dia sangat bahagia dan menikmati sensasi tadi.
" Kok wajahmu memerah." ledek Rubel yang sadar melihat wajah Hana bersemu merah.
" Ah biasa aja." Jawab Hana asal.
Rubel sadar Hana mengerjainya, dia tahu Hana begitu menikmati permainan nya tadi.
" Ya sudah, besok-besok Ino gak akan bikin kamu kaya tadi." Ucapnya berpura-pura kesal.
Hana memandang lekat mata Rubel, dia tidak ingin menyakiti cintanya atas sikapnya yang cuek.
" Maaf ya sayang, Ana merasa malu untuk mengatakan Yang sebenarnya." Ucap Hana pelan.
Rubel masih memasang wajah juteknya. Dia ingin Hana mengakui yang sesungguhnya. dia ingin Hana merasakan hal yang sama Dia rasakan. Dia ingin Hana merasakan kepuasan yang Dia rasakan. Dia tidak ingin Hana menutupi nya. Baginya membuat Hana senang dan bahagia adalah hal yang luar biasa. Dia ingin Hana jujur. Agar Dia tahu kekurangannya.
" Ino ingin memahami keadaan Ana." ucapnya membuat Hana semakin merasa bersalah.
" Kita membina pernikahan untuk saling percaya, saling mengerti, dan saling memahami."
" Bagaimana Ino tahu jika Ana tidak jujur, bagiamana Ino harus bersikap agar Ana bisa bahagia."
Hana memeluk Rubel, perasaan nya begitu terharu mendengar laki-laki nya begitu bijak dan sangat memahami dirinya. dia merasa sangat malu karena mengabaikan perhatian dan cinta nya Rubel. Sungguh dia perempuan yang ego tanpa paham bahwa Rubel ingin mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
" Ino, Ana puas dengan permainan tadi." ucap nya malu-malu dan terus memeluk Rubel tanpa berani menatap nya.
Rubel menarik dagu Hana. Wajahnya seketika bahagia melihat perempuan nya merasa bahagia.
" Tolong, jujur lah setiap apa yang Ana rasakan, mau kecewa, marah, dan sakit sekalipun agar Ino tahu kesalahan ino, agar Ino bisa memperbaikinya."
" Pernikahan bukan untuk sesat sayang, kita ingin melangsungkan nya hingga kita berdua menua, mempunyai anak dan juga cucu." Ucap Rubel begitu lembut. membuat jantung Hana tersentak kuat. bagaimana tidak tingkah Hana yang masih kekanak-kanakan terkadang mengabaikan kebaikan dan perhatian Rubel padanya.
Rubel yang terkenal dingin, dan jutek terhapus dengan mudahnya karena sikap bijaksana nya. Hana sadar karena kebodohannya bisa saja Rubel meninggalkan nya.
" Ada apa ini?" tanya mereka bingung. mereka pun segera keluar kamar. Om Purnawan terlihat panik. dia tidak tahu harus berbuat apa.
" Kenapa Om?" tanya Rubel bingung.
" Maria di Culik, tolong hubungi Andre. om tidak punya nomor ponsel nya. Rubel dan Hana terkejut.
" Om tahu siapa penculiknya, tapi om tidak berani bertindak gegabah karena dia mengancam akan menyakiti Maria." Ucap Om Purnawan begitu panik.
" Siapa Om?" tanya Hana begitu ingin tahu. mereka semua duduk di ruang tengah.
" Om tenang dulu yah, Rubel akan menghubungi dokter Andre." Ucap Rubel menenangkan.
Rubel segera menghubungi dokter Andre. dan memberitahukan kondisi Maria. Dokter Andre terkejut, dia sangat shock. Rubel meminta nya untuk tenang. Rubel juga segera memberi tahu Dion agar berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
" Om, izin Hana membantu." ucap Hana begitu cepat.
" Jangan Ino gak mau Ana terlibat apapun dengan Mereka.
" Sayang Ana mohon sekali ini saja izinin Hana membantu Maria dan Om Purnawan."
Rubel tahu bagaimana Hana, dia tidak akan menghentikan niatnya jika dia ingin membantu orang lain.
" Tolong, jangan hentikan Hana!!!" Ucapnya keras. dia benar-benar tersulut api ingin membantu sepupu nya itu. bagaimana pun Maria adalah saudaranya.
Semua orang terdiam mereka belum pernah melihat, kondisi Hana yang keras seperti itu. mereka juga tidak tahu bahwa Hana sering melawan penjahat dengan tangannya.
Rubel segera meminta izin dari Rumah Sakit. hari ini dia ingin menemani Hana menemui Maria di Rumah Renzi dan Ihsan. Dainan dan Lia merasa tertantang untuk ikut bersama mereka. Dainan adalah pelatih bela diri sedang kan Lia atlet judo di Australia.
Tibalah mereka di Rumah Renzi, kondisi Rumah itu. Dijaga ketat dengan para bodyguard Renzi. Hana meminta masuk kedalam secara baik-baik.
Renzi melihat Hana dari CCTV nya, mengizinkan Hana untuk masuk. tapi tidak untuk yang lainnya.
Hana berjalan dengan cepat, pakaian muslimah tidak menghalanginya untuk melangkah. Rubel, Dainan dan Lia begitu khawatir mereka takut Hana diperlakukan tidak baik oleh Renzi dan Ihsan.
Tibalah Hana di sebuah Ruangan, Maria yang duduk dengan tangan terikat dibelakang. Hana menghampiri nya dan berusaha membuka ikatan di tangan Maria.
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan Renzi?" ucap Hana begitu berang. Renzi menatap Hana dengan senyuman puas. karena dia berhasil menangkap 2 sekaligus keturunan Agiawan.
Perasaan dendam telah membutakan mata hatinya. tidak ada lagi rasa iba, yang ada hanya kebencian yang mendalam.
Hana memegang tangan Maria, mengajak nya untuk keluar.
" Hahaha, tidak semudah itu sayang." Ucap Ihsan dengan liciknya. dia mendekati Hana dan ingin membuka cadar Hana. tapi Hana segera menepis tangan itu dengan keras.
Hana hanya berserah kepada Allah, hidup dan matinya hanya karena Allah. sekarang dia hanya ingin membawa Maria segera keluar dari Tempat itu.
" Renzi bukankah kamu mencintai Maria? bukan kah kamu berjanji akan melepaskan kami berdua? kenapa sekarang Kamu mengingkari nya?" ucap Hana begitu berapi-api.
" PLAK!!!!"
Ihsan memukul wajah Hana dengan keras. hatinya begitu membenci Hana. perasaan yang begitu lama telah menumpuk dihatinya.
cadar Hana berdarah, Hana tetap bertahan walau bibirnya terasa sangat perih. Maria melihat Hana begitu iba.
" Na jangan dilawan, kondisimu juga sedang tidak baik." Ucap Maria terbata-bata. mata Maria mulai berkaca-kaca. dia tidak tahu harus berkata apa melihat sepupunya berusaha untuk membantu nya keluar dari sini.
Hana mendekati Ihsan, berjalan dengan pelan. tapi tidak disangka oleh Ihsan Hana membalasnya dengan sangat keras.
" PLAK!!!!" sudut bibir Ihsan pun berdarah.
Ihsan tidak terima perlakuan Hana. dia membabi-buta mendorong Hana dengan keras. walau kepalanya terasa pusing Hana tetap bangun. entah dari mana keberanian itu datang Hana mendorong Ihsan hingga terjungkal. semua bodyguard langsung menahan Hana.
Ihsan bangun, matanya begitu tajam. dia mengambil Pisau di sakunya. menghunuskan pisaunya dengan kejam ke arah Hana.
Maria berlari sekuatnya menjadi tameng untuk Hana.
" Crash!!!! darah itu mengucur tepat di perut Maria.
Hana berteriak segila-gilanya. memaki Ihsan dengan luar biasa. Renzi berlari memeluk Maria dia tidak menyangka Ihsan menusuk nya.
Renzi memeluk Maria dan menggendong Maria, Hana mengikuti mereka. Ihsan tersadar dia telah menghujamkan pisaunya kepada Maria.
Tubuhnya seketika lemas, tertunduk lesu. sungguh semua diluar kendalinya. Hana membuka pintu mobil dengan sangat keras, membuyarkan Rubel dan yang lainnya di dalam mobil.
Mereka terkejut melihat Maria terluka. Renzi tanpa sadar meminta mereka untuk membawa Maria ke Rumah Sakit.
Rubel segera menstarter mobilnya, Hana masuk kedalam mobil dan mereka bergegas ke Rumah Sakit. Polisi telah mengawasi Rumah itu dan segera meringkus Ihsan yang telah terduduk lemas tak berdaya. Om Purnawan mengikuti Mobil yang di bawa Rubel menuju Rumah Sakit.
Rubel dan Dainan segera masuk keruang Operasi. Rubel meminta nya untuk membantu proses bedah Maria.
Diluar Ruang Operasi semua harap cemas menunggu Maria.
" BUG!!!!
Om Purnawan memukul Renzi dengan keras. Dia sangat kesal karena ulahnya Maria terluka.
" Sudah Om." Ucap Hana menenangkan.
Renzi sadar dia telah menyebabkan Maria terluka. Ide gilanya menculik Maria membuat Maria celaka.
" BUG!!!
Dokter Andre menghampiri mereka dia ikut memukuli Renzi. Dia sangat menyesal tidak bisa berada disamping Maria.
Rubel dan Dainan berusaha menolong Maria, Alhamdulillah. kandungan Maria tidak terkena pisau itu. hanya luka itu begitu dalam membuat Maria kehabisan darah. suster berlari ke arah luar mengatakan bahwa pasien butuh darah.
" Nona Maria kehabisan banyak darah. tolong segera mendapatkan golongan Dara O negatif Resus." ucap Suster itu terburu-buru. semua orang terbelalak siapa yang akan mendonor kan darah yang begitu langkah.
Renzi tersadar. golongan darah nya sama.
" Tolong segera Ambil darah saya."
" Saya gak Sudi kamu mendonorkan darahmu untuk Maria."
" Om, kita tidak punya Punya pilihan lain selain menerima donor darah dari Renzi, ayolah Om melunak lah untuk kali ini." ucap Hana sangat sedih.
Hana begitu gelisah, 10 menit telah berlalu tapi Om Purnawan tidak juga melunak hatinya.
" Suster segera ambil darah saya, jika tidak Istri dan anak saya tidak akan tertolong." ucap nya begitu lirih." Semua orang terperanjat mendengar Renzi bersuara. tidak ada lagi makian yang keluar dari mulut Om Purnawan dan dokter Andre. mereka berdua telah pasrah karena semua bank darah kosong dari Golongan Darah O Negatif Resus.
" Maafkan Author yah yang khilaf buat cerita nya agak sensi 😂, dan sedikit kejam hari ini. efek galau lock down... Vote, Like, dan komennya yah terimakasih "
__ADS_1